Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 46


__ADS_3

Bentakan Naomi ketika itu membuat kak Jester terkejut, begitu pun aku dan Selena. Kami sempat terdiam beberapa saat sampai kak Jester terdengar menghela nafasnya, lalu dia berkata...


"Aku cuma gak pingin ada yang salah paham lagi sama sikapku" jawab kak Jester terdengar tenang


"Bukan dengan cara seperti itu! kamu terlalu dingin, tahu?!" bentak Naomi lagi menimpali alasan kak Jester


"Gak ada yang salah sama sikapku, kenapa juga kamu menyuruh aku bersikap manis sama wanita lain?" ucap kak Jester terdengar kesal, sejenak Naomi terdiam lalu terdengar dia menghela nafas.


"Sini! aku mau bicara dulu berdua sama kamu!" masih dengan bentakan Naomi mengatakannya, dengan gestur tangan Naomi memberi perintah agar kak Jester mendekatinya.


Kak Jester terlihat keberatan ketika hendak beranjak dari duduknya, perlahan langkahnya berjalan mendekati Naomi. Agak kasar Naomi menarik lengan kak Jester saat mereka sudah saling berdekatan, Naomi membawa kak Jester keluar dari ruang keluarga dan sepertinya mereka pergi menuju kamar. Ketika itu aku mendengar suara bunyi pintu yang tertutup dari arah kamar, cukup keras bunyi pintu itu karena mungkin seseorang membantingnya. Entah itu Naomi atau kak Jester... aku merasa tidak enak hati... lagi - lagi aku membawa masalah.


"Luna... gimana ini?" tanya Selena tiba - tiba memecah keheningan diantara kami, aku menoleh menatapnya lalu tersenyum.


"Serahkan sama Naomi..." jawabku singkat, namun aku tidak bisa membohongi hatiku jika aku merasa.... sakit hati atas sikap kak Jester... mataku berkaca, tidak lama setelahnya keduanya meneteskan air mata...


"Luna...~" ucap Selena terdengar sedih, aku mengusap air mataku lalu tertawa kecil.


"Ahaha... aah sial... aku menangis lagi... kenapa aku cengeng begini sih?" gumamku sembari terus mengusap setiap air mata yang menetes dan membasahi kedua pipiku, Selena merangkulku sembari menepuk - nepuk pundakku dengan lembut.


"Aku mau ke kamar mandi dulu" celetukku ketika itu, perlahan Selena melepaskan rangkulannya dan kemudian aku berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi.


Aku tidak boleh terlihat menangis dihadapan kak Jester dan Naomi, untuk sementara aku harus dapat menata kembali hatiku yang terasa hancur ini. Dengan apa yang baru saja terjadi pada tubuhku, aku merasa semakin rapuh... seakan kematianku sudah tinggal menghitung jam tanpa bisa aku melakukan apa yang menjadi impian terakhirku, pandangan mataku semakin gelap dari kemarin... kakiku terasa melayang sepanjang hari sampai aku sering tidak dapat mempertahankan keseimbanganku, dan yang begitu terasa adalah... tangan ini...


Tanganku hampir tidak bisa aku gunakan untuk menulis, begitu bergetar dan tidak bertenaga... sejak hari inilah tulisanku semakin... tidak dapat terbaca lagi, bahkan oleh diriku sendiri. Tapi aku yakin... jika suatu saat aku sudah meninggal dan buku ini telah dimiliki oleh kak Jester, dia akan tetap dapat membacanya dengan baik. :)

__ADS_1


Didalam kamar mandi aku menatap wajahku dari pantulan cermin, aku menyentuh pantulan wajahku dibalik cermin yang terasa buram untuk aku pandangi dengan mata ini. Ketika itu hatiku terasa kembali hancur karena dalam benakku bertanya, "Dengan mata seperti ini, apa aku bisa menikmati indahnya kota Paris? apa pada akhirnya aku tidak bisa menyelesaikan semuanya dan mati dalam keadaan penuh penyesalan? kenapa aku dilahirkan dengan nasib seperti ini?".


Seketika itu juga aku mendengar suara dari teman kak Justin yang bernama kak Anthony... Dia pernah berkata padaku "Hidup tidak hanya tentang dirimu, jika kamu hidup hanya untuk dirimu maka kamu tidak pernah memahami arti kehidupan sebenarnya. Kita hidup untuk membekas pada hati setiap orang yang pernah kita temui, entah itu baik, buruk, sedih, senang atau apapun itu..." Kata - kata kak Anthony padaku sangat aku ingat dan tidak akan pernah akan aku lupakan, karena untuk itulah aku hidup dan pandangan itu sudah menjadi tujuanku untuk hidup.


"Kenapa aku ragu?! kenapa aku masih menangisi nasibku?! Kenapa Luna?! Bangkit!! Bangkit lah hatiku!!" ucapku dengan bentakan pada pantulan diriku sendiri dibalik cermin, seketika itu air mataku terhenti.


Aku segera menyeka air mata yang tersisa di pipi dan daguku, membasuh wajah dengan air lalu memperbaiki riasan make up tebal yang menghiasi wajah pucat ku. Ketika aku yakin penampilanku sudah tidak seperti orang sakit dan tidak terlihat baru saja menangis, aku keluar dari kamar mandi menuju ruang keluarga. Belum juga sampai, aku mendengar suara kak Jester, Naomi dan Selena sedang berbicara.


"AAAA!! Naomi!!" teriak kak Jester karena kesakitan, entah apa yang terjadi sampai dia berteriak seperti itu.


"Aku marah sama kamu!! Sungguh!!" bentak Naomi


"Duuh iya.. iya.. maaf. Jangan marah lagi ya..." timpal kak Jester terdengar menyesal, ketika itu aku hampir sampai di pintu masuk ruang keluarga ketika kak Jester berkata...


"Lagian kenapa sih harus melibatkan aku? aku juga punya kehidupan sendiri yang harus aku jalani" terdengar kesal saat kak Jester mengatakannya, aku menghela nafasku lalu masuk kedalam ruang keluarga untuk mengatakan...


"Maaf mengganggu, aku dan Luna pamit" ucap Selena ketus, lalu dia berjalan mendekatiku untuk mengajakku pulang.


Selena menarik lenganku cukup keras sampai aku tidak kuasa untuk menahannya, ditambah rasa melayang yang aku rasakan pada kedua kakiku membuatku tidak dapat menghentikan tarikan Selena. Berpikir jangan sampai membuat Selena mengkhawatirkan ku, aku diam saja dan mengikuti arah tarikan Selena sampai kita didepan mobil miliknya. Didepan mobil barulah Selena melepaskan tangannya dari lenganku, tapi dia hanya diam tanpa berkata apapun dan masih memunggungi ku.


"Selena..." celetukku mencoba menarik perhatiannya.


"Adakah cara lain yang mungkin bisa membuatmu senang tanpa melibatkan kak Jester?" tanya Selena sedikit menekan ku, aku tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Selena... kamu harus paham kalau apa yang dilakukan kak Jester itu sudah benar. Sebagai pria yang sudah memiliki pasangan, dekat dengan wanita lain adalah suatu tindakan yang salah" jawabku, Selena pun terlihat kesal lalu berbalik menatapku.

__ADS_1


"Tapi kamu berbeda!! kamu tidak punya tujuan untuk memisahkan mereka dan kamu hanya ingin.... kamu hanya ingin... menyelesaikan impianmu.... kan" timpal Selena dengan derai air matanya


Yaah... aku tahu dan sangat memahami bagaimana perasaan Selena, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan prinsip kak Jester. Mereka semua benar, aku lah yang salah. Semua karena kebodohanku dulu, aku menyesal untuk itu. Tapi... penyesalan itu tidak akan membuat hatiku melemah lagi, aku sudah menguatkan hatiku dengan tujuan yang lebih penting dari sekedar impian terakhirku. Aku ingin diingat oleh kalian semua, aku ingin hidup dan membekas di hati kalian meski umurku tidaklah panjang.


"Selena, cukup. Jika memang umur ini tidak sampai dititik dimana aku bisa menyelesaikan impianku, aku tidak akan menyesal" ucapku tegas seraya menyentuk kedua bahunya dengan tanganku, Selena terkejut mendengar perkataanku.


"Aku teringat kata teman kak Justin dulu yang sekarang menjadi alasan aku untuk bertahan hidup, memang aku sempat melupakannya tapi... aku sudah ingat itu kembali" ucapku lagi untuk meyakinkannya jika aku memang sudah baik - baik saja


"Apa... itu?" tanya Selena, aku menghela nafasku lalu tersenyum manis padanya.


"Aku hanya ingin hidupku membekas di hati kalian semua" tegas aku menjawab pertanyaan Selena, seketika itu Selena mengerutkan dahinya.


"Apa itu maksudnya? kamu sedang mencoba mengalihkan pembicaraan?!" terdengar kesal saat Selena mengatakannya, aku tertawa lalu berjalan hendak masuk ke dalam mobil di kursi penumpang depan.


"Tidak, itu benar. Aku sudah membekas di hatimu karena kita teman sejak bayi hingga sekarang, aku membekas di hati kak Jester karena masa laluku dengannya, aku membekas di hati kak Luke, kak Harry dan kak Justin karena cerita kami bersama hingga sampai sekarang, aku membekas di hati Grece karena audisi, dan aku pasti membekas di hati Naomi karena aku dan dirinya... memiliki sifat yang mirip..." jawabku seraya membuka pintu mobil, lalu aku alihkan perhatianku menatap Selena yang tertegun memandangku.


"Aku akan terus hidup di hati kalian meski jasad ini telah tiada, dengan seperti itu aku seperti... hidup menemani hidup kalian sepanjang waktu. Itu saja sudah membuatku puas dengan umurku yang pendek ini, karena semua itu adalah.... tujuan manusia untuk hidup" ucapku meneruskan kalimatku sebelumnya


Aku melihat Selena gemetaran, air matanya semakin deras membasahi wajahnya, kemudian dia berlari mendekatiku lalu memelukku dengan erat tanpa berkata apapun. Aku membelai lembut rambutnya lalu membalas pelukannya dengan erat, aku tertawa kecil ketika itu agar dia tidak terus larut dalam kesedihan. Begitu pelan aku mendengarkan suara tawanya, bersamaan dengan lepasnya pelukan Selena padaku.


"Ayuk pulang" ajak ku, Selena mengangguk sembari menyeka air matanya.


Kami pun kembali melakukan perjalanan untuk pulang ke rumahku, aku sudah tidak mau lagi memikirkan tentang impian terakhirku ketika itu... sampai tiba - tiba, suara dering handphone Selena terdengar begitu jelas terdengar. Selena menepikan mobil lalu segera mengambil handphone itu dari dalam tas miliknya, setelah melihat layar handphone itu aku melihat wajah Selena terkejut yang membuatku penasaran.


"Siapa?" tanyaku

__ADS_1


"Kak... Jester...." jawab Selena seraya menunjukkan layar handphone kepadaku


__ADS_2