Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 44


__ADS_3

Dua hari berlalu...


Aku terbangun.... dengan pemandangan yang sudah lama tidak pernah aku rasakan dalam beberapa tahun ini, Ya... sebuah atap rumah sakit namun ini bukan lagi di rumah sakit Scott, tapi rumah sakit swasta pinggir kota. Aku berada disini atas saran kawan - kawan ayah yang mengetahui keadaan ekonomi keluarga kami sedang tidak baik - baik saja, tentu saja memaksakan diri masuk ke rumah sakit Scott pasti akan membuat keuangan keluarga kami semakin terpuruk.


Yaah... walau keluarga Parker sudah menawarkan untuk membayar semua biaya rumah sakit ku, tapi ayah dan ibu menolak keras ide itu karena ayah sudah tidak lagi bekerja untuk keluarga Parker. Bagiku? tidak masalah, aku tidak mau memikirkan hal seperti itu. Karena dimana pun aku dirawat pada akhirnya aku tetap tidak akan sembuh, apa gunanya?


Satu - satunya yang membuatku sedih hanyalah karena aku harus lagi dan lagi membuat orang tuaku berkorban materi, berkali - kali pun mereka katakan tidak apa namun tetap saja itu menyakitkan bagiku mengingat memang tubuhku sudah sangat tidak mampu sebenarnya. Tapi memberi mereka kebahagiaan juga harusnya menjadi prioritasku bukan? dan jika ini membuat mereka bahagia.. baiklah aku ikuti dan buktinya saat ini aku berada disini.


Di Suatu sore yang mendung, Selena datang berkunjung. Ketika itu ayah dan ibu sedang menjagaku, jadi keperluan Selena sore ini pasti untuk menceritakan apa saja yang terjadi saat aku jatuh pingsan atau mungkin koma... entahlah, aku tidak tahu dalam kondisi yang mana aku saat itu.


Selena bercerita ketika aku pingsan dan dibawa kerumah sakit ini, Selena langsung menelepon kak Jester dan mengatakan padanya jika aku dan Selena pada saat itu tidak lagi menginap dirumah mereka. Dengan alasan kami sedang ada urusan tanpa memberikan detail urusan apa dan untung saja kak Jester menerima alasan konyol Selena ketika itu, dia jujur mengatakan saat itu dia sangat panik jadi tidak bisa memikirkan ide apapun.


Aku tertawa mendengar ceritanya, namun disisi lain aku juga sedih karena... saat itu adalah hari terakhirku dapat menginap dirumah kak Jester dan Naomi, aku pasti akan merindukan kenangan - kenangan selana aku, Selena, Naomi dan kak Jester tinggal dalam satu atap. Semoga mereka merasakan hal yang sama... aku berharap...


Keesokan harinya aku sudah boleh pulang... ooh tidak, maksudku adalah aku memaksa untuk pulang dan melakukan rawat jalan. Selain menghemat biaya, aku juga sudah memantapkan hatiku untuk membiarkan semuanya terjadi. Jika memang waktuku tiba... aku tidak ingin menghabiskan masa - masa itu diam tidur dikamar rumah sakit, aku tidak ingin itu terjadi.


Sehari setelah aku pulang dari rumah sakit, kak Justin tiba - tiba mendatangi rumahku. Entah dari siapa dia tahu kalau aku tinggal dirumah ini, padahal kak Justin dan keluarganya sudah pindah dan aku juga tidak pernah memberitahu kak Justin bahwa aku kembali kerumah penuh kenangan ini.


Ketika itu Selena juga kebetulan datang mengunjungi ku sepulang dia kuliah, kami mengobrol didalam kamar untuk merencanakan liburan kami ke Paris Prancis. Aku dan Selena memiliki rencana agar hanya aku dan kak Jester saja yang berangkat kesana, semua demi aku dapat menuntaskan impian terakhirku yaitu... jalan - jalan ke Paris bersama kak Jester.


"Luna, ada Justin diruang tamu" ucap ibu ketika ibu membuka pintu kamarku yang tertutup itu, aku dan Selena pun terkejut mendengarnya.


"Ada apa kak Justin kesini?" gumamku

__ADS_1


"Apa ada hubungannya dengan kak Jester?" timpal Selena, aku menggelengkan kepalaku untuk meresponnya.


Perlahan aku beranjak dari kasur dan keluar kamar bersama Selena untuk menemui kak Justin, seperti biasa ketika itu kak Justin menatapku dengan senyuman khasnya namun aku tidak membalas senyum itu. Aku langsung duduk di sofa begitu pula dengan Selena yang duduk tepat di sebelahku berhadapan dengan kak Justin, disaat itulah baru aku membalas senyumnya.


"Ada apa kak?" tanyaku, namun kak Justin hanya diam dan menatapku dengan wajah datar.


"Kamu jauh - jauh kesini hanya untuk menatapku seperti itu?" tanyaku lagi karena kak Justin tetap diam untuk waktu yang cukup lama sebagai seorang tamu yang berkunjung, aku tidak punya ide apapun tentang kehadiran kak Justin hari ini. Ketika itu dia tertawa kecil, lalu berkata...


"Luna... aku benar - benar ingin tahu apa rencanamu pada Jester" jawab kak Justin, senyumku pun menghilang seketika.


Aku pun mulai berpikir yang aneh - aneh saat itu pada kak Justin, "Kenapa dia bertanya seperti itu? Dia ingin aku menghentikan rencanaku? atau dia diminta kak Jester untuk menjauhinya? atau mungkin Naomi tidak ingin aku hadir lagi di hidup mereka namun kak Justin yang diminta untuk menyampaikannya?" semua pemikiran buruk terngiang didalam kepalaku, aku tidak siap jika tiba - tiba kak Jester dan Naomi.... membenciku saat aku sudah tidak bersama mereka lagi...


"Kenapa?" tanyaku singkat


"Aku tidak ingin merebut kak Jester dari Naomi, aku adalah pendukung hubungan mereka" timpal ku dengan tegas, seketika itu kak Justin terdiam dan terus menatapku dalam - dalam. Seakan dia sedang mencoba menggali apa yang aku pikirkan dari sorot mata ini, tapi semua sudah berubah... aku bukan Luna yang dikenal kak Justin lagi, dia tidak mungkin bisa membongkar apa isi dalam kepalaku seperti dulu.


Dari kecil kak Justin memang selalu seperti cenayang yang bisa membaca setiap pikiranku, bahkan tanpa memberitahu padanya pun dia sering mengetahui apa yang aku butuhkan. Persahabatan dan kebersamaan ku dulu bersama kak Justin terasa begitu mudah, namun semua berubah sejak aku cukup lama menghilang meninggalkan kota ini. Saat itu juga Luna yang kak Justin kenal seperti lebih dulu meninggal dibanding raganya.


Kenyataan yang aku ketahui bahwa kak Justin pernah mencintaiku juga menjadi salah satu alasan aku menjadi Luna yang baru, aku ingin kak Justin mengenalku sebagai Luna yang sudah kuat dan mandiri bahkan bisa tanpa bantuannya. Kak Justin... apapun yang terjadi kamu tetaplah sahabat karib terbaikku dan tidak akan ada yang berubah tentang kenyataan itu.


"Kak... kalau kamu memang ingin menolongku, ada satu hal yang aku ingin kamu lakukan" pintaku padanya, wajahnya seakan terkejut namun seketika itu juga kak Justin sedikit memajukan badannya seakan dia siap mendengar permintaanku.


"Luna! aku saja sudah cukup! gak usah libatkan banyak orang" agak menekan Selena mengatakannya

__ADS_1


"Aku akan membantumu apapun dan aku tidak akan ragu, jadi biarkan aku menolong" timpal kak Justin berusaha meyakinkanku, namun Selena sepertinya tidak terima lalu dia menatap kak Justin dengan tajam.


"Kak Justin gak usah ikut campur!! aku bisa atasi ini sendiri" bentak Selena


"Luna bilang dia butuh bantuanku, kamu gak ada hak untuk menghalangiku!" kak Justin membalas bentakan Selena, seketika itu telingaku berdengung sampai membuatku pusing.


"Berhenti!! tolong..." ucapku dengan sedikit teriakan, sesuai harapanku mereka berdua pun terdiam.


Kepalaku terasa mau pecah saat itu, mungkin aku akan kembali mimisan atau bahkan lebih parah... aku akan kembali memuntahkan darah lalu aku... kembali pingsan entah untuk waktu berapa lama. Aku meremas kepalaku dan aku sedikit menjambak rambut pendekku yang bahkan tidak lebih panjang dari anak laki - laki pada umumnya, semua aku lakukan untuk dapat menahan rasa sakit yang tiba - tiba menyerang ku.


"Kalian berdua... aku butuh kalian. Jadi tolong, bekerjasama lah..." pintaku pada mereka, suaraku pun terasa bergetar karena aku sangat kesakitan ketika itu.


Menyedihkan dan menyebalkan sekali ketika harus merasakan sakit dihadapan para sahabatku, aku hanya tidak ingin dikasihani. Aku.. aku ingin mereka tahu kalau aku adalah Luna yang kuat. Pasti hati mereka hancur melihatku seperti ini, jika Selena sudah terbiasa beda dengan kak Justin. Dia jarang melihatku dalam kondisi yang parah, tolong jangan berubah pikiran tentangku kak, percayalah aku akan kuat lalui semua ini.


"Maaf.... aku berpikir bisa melakukannya sendiri" timpal Selena dengan suara yang terdengar menyesal, aku merasakan tangan Selena menepuk punggungku dengan lembut.


"Aku sedikit tidak enak badan, Selena tolong jelaskan pada kak Justin rencana kita.. dan kak Justin, aku benar - benar membutuhkan pertolonganmu. Maaf aku tinggal dulu, aku butuh istirahat" ucapku, lalu aku berdiri untuk kembali ke kamarku.


Aku tidak bisa melihat reaksi mereka, aku memejamkan mata karena sakit yang ku rasakan begitu menyiksa. Aku Pun tidak lagi menunggu jawaban dari Selena dan kak Justin, yang aku pikirkan hanyalah segera beristirahat dan aku yakin mereka berdua akan melalukan perintahku dengan baik.


Didalam kamar aku segera mencari obat yang diberikan dokter Richard kepadaku, kepalaku semakin sakit ketika itu namun aku tetap berusaha untuk mempertahankan kesadaranku. Mataku mulai berkunang - kunang, cairan hangat juga terasa mengalir dari hidungku. "Aku tidak boleh pingsan lagi" gumamku ketika itu sambil terus mencari obat yang dokter Richard berikan padaku sebelumnya, disalah satu tas milikku aku menemukan obat itu.


Aku segera merobek plastiknya lalu mengambil air yang sudah tersedia dimeja belajarku lalu aku mengkonsumsi obat itu dengan tergesa - gesa, ini adalah kali pertama aku mengkonsumsi obat yang dilarang oleh dokter Ellie untuk aku konsumsi. Karena sebelumnya, ketika aku mendapatkan obat ini aku langsung pingsan dan tidak sadarkan diri selama dua hari.

__ADS_1


Setelah meminumnya aku bergegas merebahkan tubuh ini ke kasur, aku meringkuk di kasur karena rasa nyeri kini menjalar ke seluruh tubuhku. Kakiku pun mulai kebas dan kesemutan, tidak ada satupun dari tubuhku yang saat itu tidak merasakan sakit. Aku menderita sampai pada titiknya... aku kembali pingsan...


__ADS_2