Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 34


__ADS_3

Aku terkejut dengan apa yang aku baca dan lihat dari akun Ingram Naomi yang aku buka menggunakan handphone milik Selena, percakapan antara Naomi dan Daniel membuatku syok. "Pantas saja Naomi begitu putus asa, cowok brengsek ini!!" geram ku dalam hati. Mungkin ekspresi marahku terbaca dengan sangat baik oleh Selena, ditengah kepadatan jalan perkotaan pagi itu Selena memalingkan pandangannya menatapku seraya berkata...


"Kenapa?! apa yang Daniel katakan padanya?!" tanya Selena dengan panik


Aku segera menunjukkan apa yang aku lihat di handphone Selena, sebuah foto yang dikirim oleh Daniel kepada Naomi. Didalam foto itu terlihat Naomi seakan mencium Daniel secara paksa dan terlihat jika mereka sedang berada disebuah kamar rumah sakit, sama sepertiku saat itu Selena juga terlihat kaget namun ekspresi kaget itu tidak berlangsung lama. Dahi Selena terlihat mengkerut dan dia perlahan kembali memperhatikan jalanan didepannya, kami sempat terdiam beberapa saat.


"Itu tidak mungkin, pasti ada trik dibelakang foto ini" tegas Selena mengucapkannya


"Aku tahu itu, tapi inilah senjata cowok brengsek itu untuk menekan Naomi! Ya ampun Naomi~ kenapa kamu gak jujur aja sama kami" timpal ku, aku merasa sedih dengan apa yang menimpa Naomi.


"Daniel memiliki segalanya untuk menekan Naomi, karena itulah aku menyebutnya sebagai pria paling pengecut yang pernah hidup di bumi ini!!" ucap Selena terdengar begitu emosi


"Selena! putar balik!! kita ke kampus dan cari kak Jester!" perintahku padanya


"Hah?! kamu mau melibatkan kak Jester?!! gak mungkin lah kita libatkan dia, kita sendiri yang akan tangani ini!" tolak Selena dengan tegas


"Itu tidak akan menyelesaikan masalah, kalau hanya kita maka Daniel akan terus - terusan menekan Naomi!! Kalau kak Jester tahu rahasia Naomi, maka tidak ada lagi yang dapat mengancam Naomi!" dengan tekanan aku berusaha menjelaskan kenapa kak Jester harus terlibat pada Selena


"Duuuh~ Luna!! Kamu gak paham juga?!" tanya Selena terdengar sangat kesal padaku, seketika itu aku langsung paham kemana arah pembicaraan Selena.


"Iya aku tahu! Naomi sudah pernah melakukannya sama cowok brengsek ini kan?! aku tahu, terus apa masalahnya? cepat atau lambat kak Jester juga akan tahu, lagian jika ini yang akan menjadi senjata Daniel maka..." belum selesai aku berbicara, Selena segera memotong perkataanku.


"Keluarga Gates dan keluarga Scott adalah keluarga terpandang di negara ini!! Kalau sampai kak Jester tahu dan sampai terdengar ke keluarga Gates, maka pernikahan mereka pasti akan dibatalkan!!" agak membentak Selena memotong perkataanku


"Kita tetap harus bilang sama kak Jester!! aku yakin kak Jester akan memahami kondisi Naomi dan mencari cara agar pernikahan mereka tidak akan dibatalkan!!" tegas aku mengatakannya pada Selena


"Kak Jester tidak akan menerima Naomi!! Kehormatan keluarga itu penting bagi orang sekelas kak Jester!" bantah Selena dan dia tetap bersikeras menolak ideku.


"Aku yang lebih memahami kak Jester daripada kamu, ikuti caraku dan semua akan baik - baik saja!" aku pun tetap bersikeras dengan pendapatku, ketika itu Selena tertegun memandangi wajahku.


"Huh!! terserah kamu aja!" ucap Selena dengan helaan nafas berat, seketika itu Selena langsung berpindah jalur untuk mencari cara agar kami dapat berputar balik.

__ADS_1


Ditengah perjalanan kami setelah putar balik hendak menuju ke kampus, aku merasakan handphone Selena bergetar. Dengan sigap aku membuka kunci layar handphone itu dan melihat apa yang membuatnya bergetar, ketika itu aku melihat notifikasi pesan pribadi Daniel kepada Naomi.


"Daniel lagi, dia sedang chatting sama Naomi" celetukku sembari membuka pesan yang masuk itu


"Apa katanya?" tanya Selena penasaran


"Naomi bilang dia sudah di lobby hotel dan Daniel jawab 'Ok', kalau dilihat chatting mereka di atas... Ya, Naomi saat ini ada di hotel Gates cabang kota satelit. Berapa lama waktu buat kesana?" tanyaku


"Duuh jauh amat sih!! kita butuh waktu sampai empat puluh lima menit kalau dari kampus!!" jawab Selena sembari melanjutkan mobil semakin cepat untuk menuju ke kampus.


Kami sempat terdiam kembali dengan ketegangan luar biasa, jujur saja aku takut dengan gaya menyetir Selena yang terburu - buru itu. Dia bagaikan tokoh dalam film Fast Furious, selip sana selip sini dan itu sangat menakutkan bagiku yang tidak menyukai kecepatan. Tapi demi Naomi, aku tidak mempedulikan ketakutanku itu. Aku membiarkan Selena tetap ngebut meski jantung terus berdegup kencang, aku hanya bisa berharap kami selamat sampai tujuan.


"Luna..." celetuk Selena tiba - tiba memecah keheningan


"Apa?" tanyaku singkat, padat dan jelas. Aku terlalu tegang saat itu.


"Jika kita ke tempat Naomi sekarang, aku yakin Naomi akan berhasil kita selamatkan sebelum semuanya terlambat... bagaimana menurutmu?" ucap Selena saat itu, Selena seakan masih berat dengan keputusanku yang menginginkan kak Jester untuk terlibat.


Aku menghela nafasku sejenak dan diam, aku mengatur emosiku sejenak dan mencoba untuk lebih tenang. Dalam benak aku mencoba untuk memposisikan diriku sebagai Naomi, Selena, kak Jester bahkan aku juga membayangkan jika saat SMA dulu aku sudah pernah tidur dengan pria lain, apa yang akan aku lakukan jika masalah Naomi adalah masalahku dikala itu. Agak lama aku berpikir, Selena juga mulai mengendorkan kecepatan mobil dan mungkin dia berpikir jika aku akan merubah perkataanku.


Tanpa berkata apapun lagi, Selena kembali memacu mobil kami begitu cepat menuju ke kampus untuk memberitahu kak Jester tentang apa yang terjadi pada Naomi. Mungkin waktu kami terbuang selama dua puluh menitan, ketika itu aku dan Selena sampai kampus dengan selamat. Parkiran kampus menjadi tempat yang pertama kami datangi, begitu turun dari mobil Selena langsung menuntunku untuk menuju kelas kak Jester pada pagi itu.


Beruntungnya kami, aku melihat kak Jester berdiri di koridor dengan wajah menatap ke jendela untuk melihat kedalam kelas. Dia terlihat tertawa kecil ketika menatap kedalam kelas lewat kaca jendela itu, entah apa yang membuatnya tertawa saat itu. Aku dan Selena terus berlari untuk mendekati posisi berdiri kak Jester, seperti menyadari keberadaan kami ketika itu kak Jester menoleh dan segera berbalik untuk berhadapan dengan kami.


"Ada apa?" tanya kak Jester ketika kita sudah berdekatan, suaranya terdengar keheranan dengan kedatangan kami yang begitu buru - buru.


"Kak, kamu harus tenang dan jangan bertindak gegabah, oke?" ucap Selena dengan nafas yang terengah - engah, begitu pula dengan diriku yang sampai membuatku tidak dapat berbicara.


"Kayaknya kalian deh yang harus tenang" dengan nada yang terdengar kesal kak Jester menimpali perkataan Selena, ingin tertawa saat itu rasanya mendengar kak Jester mengatakan hal yang memang benar adanya. Tapi aku yakin ini bukanlah saat yang tepat, ada hal buruk yang sedang berjalan lebih dari empat puluh menit.


Aku segera menunjukkan handphone milik Selena kepada kak Jester dengan foto ketika Naomi terlihat memaksa Daniel untuk berciuman, seketika itu kak Jester pun terkejut sampai membuatnya tidak dapat berkata - kata. Dengan segera kak Jester merebut handphone milik Selena dari tanganku, matanya sama sekali tidak berkedip ketika membaca isi chating antara Naomi dan Daniel.

__ADS_1


"Naomi diancam Daniel, sekarang aku yakin dia sedang dalam bahaya, kak!" ucapku dengan nada panik dan terengah - engah, aku melihat ekspresi wajah kak Jester pun menjadi begitu marah.


"Photo Shoot! berarti ada Sarah disana! Selena, kamu punya nomor Sarah?!" tanya kak Jester dengan penuh emosi, jantungku kembali berdegup kencang karena melihat langsung kemarahan kak Jester yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Selena segera mengambil handphone miliknya dari tangan kak Jester lalu mencari nomor orang bernama Sarah yang diminta kak Jester, tidak butuh waktu lama bagi Selena untuk menemukan nomor telepon Sarah. Dia langsung memberikannya pada kak Jester, begitu pula kak Jester yang langsung melakukan panggilan kepada seseorang yang bernama Sarah itu. Tidak lama, seseorang terlihat sudah mengangkat telepon kak Jester.


Aku tidak tahu apa yang dibicarakan oleh mereka, namun kak Jester berkata pada orang itu yang kurang lebih terdengar...


"Sarah! aku Jester! apa kamu bersama Daniel melakukan photo shoot di hotel Gates?!" tanya kak Jester penuh emosi, entah apa yang dikatakan orang bernama Sarah itu namun yang pasti hal itu semakin membuat kak Jester semakin emosi.


"Dimana bajingan itu sekarang?!!" bentak kak Jester


"Dia mengancam Naomi dan menyuruh Naomi untuk menemuinya di hotel Gates!!" ucap kak Jester lagi seakan dia sedang menjelaskan tentang apa yang terjadi


"Kamar berapa kalian tadi?!" tanya kak Jester, sepertinya pembicaraan antara mereka akan segera berakhir. Benar saja, mungkin saat mendapatkan jawaban saat itu kak Jester langsung memutus telepon mereka.


Tidak butuh waktu lama, kak Jester kembali akan menelepon seseorang dengan ponselnya itu. Kurang lebih kak Jester mengatakan...


"Aku Jester Gates, apa ada tamu bernama Daniel?!" tanya kak Jester masih dengan emosinya yang meledak itu, aku menduga kak Jester sedang menelepon pihak hotel saat itu.


"Tiga puluh menit lagi aku minta kalian tutup hotel! katakan pada manajer untuk menemui ku di lobby hotel, sekarang!!" tegas kak Jester mengatakannya, lalu dia menutup telepon itu sesegera mungkin.


Tidak berhenti sampai disana, aku melihat kak Jester kembali menelepon seseorang. Ketika orang yang ditelepon kak Jester mengangkat, aku mendengarnya berbicara yang kurang lebih...


"Dia berada dikamar 615! aku yakin posisimu lebih dekat dengan posisinya sekarang!! aku minta kamu untuk mengulur waktu!!" perintah kak Jester dengan bentakannya, entah bagaimana perasaan orang yang di telpon nya saat itu karena yang pasti suara kak Jester membuatku ketakutan.


"Itu urusanmu!! kamu harus bisa mengganggunya selama mungkin dan jika kamu gagal, aku akan putuskan semua kontrak kita!!" ancam kak Jester lalu menutup telepon itu


Seketika itu tanpa berkata apapun, kak Jester berlari menuju ke parkiran kampus meninggalkanku dan Selena disana. Tidak lama aku dan Selena melihat kak Luke dan kak Harry keluar dari kelas dengan wajah keheranan menatap kami, dengan sigap aku menarik lengan keduanya agar mereka ikut denganku.


"Kak Luke, kak Harry!! ikuti kak Jester! cepat!!" ajak ku dengan menarik lengan keduanya, karena aku panik saat itu sampai - sampai aku tidak sempat untuk menjelaskan apa yang terjadi pada mereka.

__ADS_1


"Hah?! apa?? ada apa??!" timpal kak Harry yang ikutan panik namun tanpa sebab, mungkin dia ketularan aku yang sangat panik.


"Ikuti saja, Jester terburu - buru begitu berarti ada hal gawat" celetuk kak Luke, lalu kami pun berlari menuju parkiran mobil kampus bersama - sama.


__ADS_2