Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 50


__ADS_3

Kota Paris pagi itu cerah tapi tidak dengan hatiku, kota yang seharusnya menjadi tempat aku menyelesaikan list impianku dengan penuh kebahagiaan sepertinya akan sulit terjadi. Tatapan mataku kabur karena air mata yang tak mampu aku bendung. Dadaku terasa sesak dan pikiranku kalut tak karuan.


Aku hanya bisa menangis... menangisi semua yang telah terjadi padaku...


Tubuhku gemetaran, air mataku deras menetes dari mataku yang membasahi ubin tepat dimana aku berdiri ketika itu, kepalaku pun terasa begitu berat sampai tidak mampu lagi untuk aku angkat meski aku ingin menatap punggung kak Jester yang pasti sudah jauh dariku... Apa yang bisa aku lakukan lagi disaat seperti ini? aku memang tidak berguna... meski kak Justin dan Selena sudah melakukan banyak pengorbanan dan juga bantuan kepadaku, pada akhirnya aku tidak dapat melakukan apapun jika aku sendirian...


Aku memang hanya gadis penderita leukimia dengan semua kekurangan yang melekat pada diriku... memang seharusnya aku mati sejak awal jika pada akhirnya hanya seperti inilah hidupku... penuh penyesalan....


Setidaknya itulah yang aku pikirkan, sampai tiba - tiba aku melihat sepasang kaki berada dekat di depanku. Tidak lama aku melihat sebuah tangan dengan ponsel yang menyala pada layarnya, perlahan aku mengangkat kepalaku dan di hadapanku ada kak Jester. "Apa ini? kenapa dia kembali?" tanyaku dalam hati, ketika itu aku melihat wajah kak Jester iba kepadaku.


"Ini Naomi... dia ingin bicara denganmu" ucap kak Jester memecah keheningan diantara kami


Perlahan tanganku menerima handphone dari tangan kak Jester, dengan segera aku arahkan handphone itu ke telingaku. "Apa Naomi akan memarahiku? apa dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi? Selena dan kak Justin sudah ketahuan ya?" tanyaku dalam hati, hatiku begitu hancur ketika itu sampai semua hal terasa negatif di mataku.


***


"Halo..." sapaku dengan suara yang serak


"Luna... jangan menangis lagi ya~ Jester hanya terkejut dengan yang terjadi... maafkan dia..." terdengar sedih saat Naomi mengatakannya, aku terkejut dengan apa yang dikatakan Naomi dari balik telepon. Semua tidak seperti yang telah aku bayangkan, dalam hati pun aku bertanya apa yang terjadi disana sampai membuatku tidak mampu untuk menimpali perkataan Naomi.


"Aku... sudah dengar semuanya.... aku tahu alasan kamu sampai seperti ini dan..." ketika itu Naomi menggantung kalimatnya, kini semua sudah jelas kenapa Naomi kini berada di pihakku.


"Apa.... Selena sudah..." belum selesai aku berkata, Naomi memotongnya.


"Kita ganti video call, tunggu sebentar..." timpal Naomi lalu telepon pun terputus.


***


Ketika telepon terputus aku pun menatap layar handphone itu dengan heran, begitu pula dengan kak Jester. Tapi keheranan itu tidak berlangsung lama sampai handphone itu kembali berdering, panggilan video pun masuk dan membuatku dan kak Jester saling tatap sejenak namun kami masih terdiam. Gestur tangan kak Jester ketika itu seakan mengizinkan aku untuk membukanya, sesuai perintahnya aku pun mengangkat panggilan video itu.


***


"Haiii!!" sapa Naomi, kak Luke, kak Harry, kak Justin, Grece, dan Selena serentak ketika layar handphone sudah memperlihatkan gambar ketika mereka semua berkumpul didalam ruang keluarga rumah Naomi dan kak Jester. Mereka terlihat tersenyum dan senang tidak seperti yang aku bayangkan bahkan mungkin kak Jester pun berpikiran yang sama denganku, aku melihat wajah kak Jester yang terkejut dari gambar kecil didalam layar handphone itu.


"Hei, disana lagi musim apa?" tanya kak Luke


"Apa kalian bisa berbahasa perancis? gimana nanti kalau kalian butuh sesuatu?" tanya Grece menimpali pertanyaan kak Luke


"Apa itu di bandara? kalian masih belum berangkat ke hotel?" tanya Naomi dengan ekspresi wajah penasaran


"Hei Jester! jam berapa disana? kenapa masih terlihat terang?" tanya kak Harry


"Luna~ jangan memaksakan diri ya..." celetuk Selena ketika itu


Sedangkan kak Justin hanya tersenyum seraya melambaikan tangan kepadaku dan kak Jester, mereka pun saling bersahutan sendiri disana begitu ributnya sampai aku tidak bisa mendengar apa yang mereka ributkan. Aaah.. bukan, bukan karena mereka berisik aku tidak mendengar mereka. Aku tidak dapat mendengar mereka karena aku dalam keadaan syok, aku kaget dengan respon semuanya. Tentu saja terutama pada Naomi, kak Luke, dan kak Harry yang terkena langsung dampak dari perbuatanku ini, tapi melihat mereka terlihat baik - baik saja membuatku merasa... lega...


"Kalian..." hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saat itu


Bagaimana bisa aku berkata - kata, semua itu terlalu membuatku bahagia. Kalian semua memanglah sahabat terbaik yang aku miliki, meski aku mengerti tawa itu hanya menutupi kesedihan yang kalian rasakan. Diantara raut wajah yang mencoba bahagia itu, ada Selena yang terlihat mencoba tegar dan itu semakin menyesakkan dadaku.

__ADS_1


Selena... terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan, aku tahu ini berat untukmu. Impianku terakhirku sebentar lagi akan terkabul semua berkat bantuanmu, tersenyumlah disana dan lihatlah bagaimana perjuanganmu untukku tidak akan sia - sia. Selena... aku akan mati dengan bahagia.. dan semua ini karena pengorbananmu. Aku menyayangimu sahabatku!!


"Luna~ aku pinjamkan Jester padamu selama tiga hari kedepan, bersenang - senanglah!" penuh semangat Naomi mengatakannya


Ucapan itu... membuatku kembali meneteskan air mata yang sudah berhasil aku tahan, aku begitu merasa bersalah padanya dan aku tidak tahu jika bukan Naomi... apa hal ini akan terjadi padaku? aku sangat berterima kasih pada Naomi, aku ingin sekali mengatakannya namun tangisanku membuatku kesulitan untuk berbicara. Aku sesenggukan ketika itu meski sudah berusaha keras aku mengatur nafasku, tapi tetap saja aku paksakan untuk mengatakan...


"A.. aku... pinjam dia ya... Naomi, ak aku... juga minta maaf... semua adalah rencanaku... kak Luke...kak Harry.. maafkan aku... kalian pasti menderita tadi... dan Grece.. aku minta maaf kamu gagal pergi ke Paris, aku dengar dari kak Justin... kamu sangat ingin kesini beramai - ramai... maafkan aku semua... dan kak Justin juga Selena... terima kasih.. terima kasih atas segalanya..." Terbata aku mengatakannya, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengatakan itu bahkan sampai lupa untuk menyampaikan rasa terima kasihku pada Naomi. Aaa~ maaf Naomi... :(


"Kami memaafkan mu!" dengan sedikit berteriak dan tegas kak Luke, kak Harry dan Grece mengatakannya, lalu mereka semua pun tertawa bersama.


"Kalian berdua, segera ke hotel lalu beristirahatlah... dan Jess, aku minta sekali lagi padamu..." belum selesai Naomi berkata, kak Jester memotongnya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi liburan ini akan aku nikmati sebaik mungkin... aku harap kalian tidak menyesal" timpal kak Jester


Mereka semua tertawa bersama, sedangkan aku masih disibukkan dengan menyeka air mata yang tidak ada henti - hentinya menetes dan membasahi wajahku. Tidak lama mereka pun berpamitan pada kami untuk menutup panggilan video itu, mereka juga memberikan pesan - pesan mereka padaku yang tidak bisa aku jabarkan satu per satu didalam buku diary ini karena terlalu panjang dan membuatku pusing.


Aku tahu kenapa mereka tiba - tiba seperti sangat mengkhawatirkan ku... mereka sudah tahu bagaimana kondisi kesehatanku.... itulah yang membuat mereka semua khawatir padaku sampai terasa mulai berlebihan, tapi berkat itulah aku kembali bisa menuntaskan impianku. Memang benar jika kehidupan adalah serangkaian kejadian, kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Sebaiknya aku memanfaatkan kesempatan ini dan mendapatkan keberuntungan, aku harus menikmati sisa hidupku sebaik mungkin.


Aku mengembalikan handphone itu kepada kak Jester namun tanpa menatap matanya, aku masih menundukkan kepalaku dengan rasa bersalah yang menyelimuti hati. Kak Jester menerima handphone itu lalu segera memasukkannya kedalam saku celana, kami sempat terdiam beberapa saat tanpa saling bertatapan mata. Sampai suara helaan nafas kak Jester terdengar begitu jelas di telingaku, perlahan aku mengangkat kepala untuk menatapnya.


"Aku benar - benar tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, tapi bisa kamu jelaskan apa yang kamu rencanakan?" tanya kak Jester ketika kami saling bertatapan mata, aku merogoh tas sling bag milikku dan mengambil sebuah note kecil didalamnya.


Note kecil berwarna pink yang telah aku tuliskan seluruh daftar impian terakhirku didalamnya, aku serahkan note itu pada kak Jester agar dia membacanya. Aku berusaha menulisnya dengan sangat rapih dengan tinta berwarna hitam, dipojok kanan setiap nomor juga aku telah aku berikan centang dengan tinta berwarna merah jika aku sudah selesai melakukannya. Kak Jester menerima note itu, lalu dia membacanya.


***


Last Dreams :



Menyatukan kak Jester dengan (tertulis Selena dengan coretan yang menutupi) Naomi ✓


Berkunjung ke festival square ✓


Masuk kedalam taman labirin dan mengucapkan janji yang pernah terucap baik bersama maupun tanpa kak Jester ✓


Menjadi teman Naomi ✓


Merayakan ulang tahun kak Jester ✓


Menyatukan Selena dengan teman - teman kak Jester dan Naomi ✓


Liburan ke Paris berdua dengan kak Jester sesuai janji yang pernah terucap


Menonton bioskop terbuka seperti yang kak Jester ceritakan


Mengunjungi cafe - cafe populer yang pernah kak Jester ceritakan


Berlayar di sungai Seine

__ADS_1


mengunjungi museum Modern Art Museum, Victor-Hugo and Balzac Houses, Bourdelle Museum, Carnavalet Museum, Cernuschi Museum, Marechal Leclerc Memorial, Petit Palais, Zadkine Museum, dan the Museum of Romantic Life


Berfoto di Eiffel, Museum Louvre, Arc de Triomphe, Katedral Notre Dame, dan Taman Luxembourg


***



Kak Jester terdiam sejenak entah dia benar - benar sedang membacanya atau hanya menatap note kecil itu dengan semua pemikirannya sendiri, aku pun cuma bisa terdiam menunggu respon kak Jester selesai membaca isi dari note kecil itu. Kembali aku mendengar suara helaan nafas kak Jester bersamaan dia mengalihkan pandangannya menatapku, kami terdiam sejenak sampai kak Jester berkata...


"Baik... berarti datang ke paris bersama Jester bisa kamu centang kan?" tanya kak Jester padaku, aku menganggukkan kepalaku beberapa kali untuk merespon pertanyaannya. Setelah itu kak Jester kembali menatap note kecil itu lalu dia menggaruk dahinya beberapa kali, sepertinya dia keberatan akan sesuatu.


"Disini tertulis kita akan.... menonton bioskop terbuka, mengunjungi cafe - cafe populer, berlayar di sungai Seine, mengunjungi museum Modern Art Museum, Victor-Hugo and Balzac Houses, Bourdelle Museum, Carnavalet Museum, Cernuschi Museum, Marechal Leclerc Memorial, Petit Palais, Zadkine Museum, dan the Museum of Romantic Life... wow kamu semangat banget buat ke museum" terkejut kak Jester mengatakannya seraya menatapku, aksen kak Jester menyebut satu per satu nama museum itu membuatku tertawa.


"Kamu mahir bahasa Perancis kak?" tanyaku dengan tawa kecil


Akhirnya aku bisa tenang setelah mendengar kak Jester bicara dengan nada tidak sedang marah, sepertinya dewi fortuna memang berpihak padaku. Tapi bukankah memang seharusnya berpihak untuk gadis yang sudah mau mati sepertiku ya? xixixixi.... Baiklah Luna pergunakan sisa obat dengan baik dan bersemangat lah meraih impian yang tersisa.


"Ya... aku bisa, lalu.... berfoto di Eiffel, Museum Louvre, Arc de Triomphe, Katedral Notre Dame, dan Taman Luxembourg. Mungkin tiga hari tidak akan cukup, tapi kita akan lakukan yang terbaik" jawab kak Jester seraya menutup note itu lalu mengembalikannya padaku, perlahan tanganku menerima note kecil itu dari tangan kak Jester lalu aku kembali menundukkan kepalaku.


Kak, andai kamu tahu itu adalah list terakhir sebelum aku pergi untuk selamanya. Apakah kamu akan tetap bersikap biasa seperti ini atau akan menahan tangis seperti yang lainnya?. Maafkan aku pangeranku :(:( sebentar lagi aku hanya akan meninggalkan kenangan tentang kematianku dalam hidupmu, kak Jester semoga kamu memaafkan ku. :(:(


"Kak... aku masih punya hutang maaf padamu, aku tahu kamu marah dan sampai sekarang pun aku tahu kamu ingin segera pergi dari sini... maafkan aku..." ucapku penuh penyesalan, seketika itu kak Jester menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskan nafas perlahan seakan dia sedang mencoba untuk meredakan amarahnya.


"Aku terima permintaan maafmu dan untuk sekarang kita fokus untuk menyelesaikan rencanamu disini, aku sudah berjanji pada Naomi akan menemanimu dengan baik. Maka aku akan penuhi janji itu" timpal kak Jester, aku pun mengalihkan pandanganku menatap kak Jester dengan senyuman.


"Terima kasih~" ucapku, lalu kak Jester mengambil koperku.


"Untuk sementara kita harus ke hotel dulu, ayo" ajak kak Jester


Ketika aku lihat kak Jester menarik koperku ditangan kiri dan kopernya ditangan kanan, aku ingin kembali mengambil alihnya. Namun kak Jester menolak seraya terus berjalan untuk mencari taksi, aku pun membiarkannya membawa koperku sambil terus berjalan dibelakangnya.


Tidak lama kami menemukan taksi lalu kami pun berangkat menuju hotel yang sudah dipesankan oleh Selena, posisi hotelnya dekat dengan menara Eiffel jadi pasti akan terasa menyenangkan berada disana. Kak Jester juga menunjukkan kemahirannya berbahasa Perancis serta dia begitu paham dengan jalanan di kota Paris ini, karena disepanjang perjalananku menuju hotel saat itu kak Jester menjelaskan semuanya dengan detail tempat - tempat yang kami lewati. Karena itulah aku tidak segan - segan untuk banyak bertanya padanya, kak Jester selalu menjawab dengan ramah seakan aku tidak pernah melukai hatinya.


Tidak lama kami pun sampai di hotel yang dituju, aku kagum ketika melihat arsitektur hotel itu. "Ini hotel bintang lima kan? Selena kamu menghabiskan berapa banyak uang untuk ini semua?!" ucapku dalam hati, kak Jester pun terlihat masuk kedalam hotel itu dengan santainya tidak seperti aku yang terlihat grogi.


Didepan resepsionis kak Jester berbicara bahasa Perancis dengan sangat lancar dan saling bersahutan, aku kurang paham apa yang mereka katakan namun aku tahu kak Jester meminta satu kamar lainnya dan tidak ingin satu kamar denganku dari gestur tangan dan raut wajahnya. Tidak lama aku tahu jika dugaanku benar karena kak Jester memegang dua kartu kunci akses berbeda ketika dia berbalik untuk menatapku, mataku sempat untuk menatap kamar nomor berapa kak Jester ketika itu dan ternyata kami terpaut satu lantai.


"Kamarmu bisa langsung melihat indahnya menara Eiffel dari jendela, sayangnya aku tidak mendapatkan kamar yang bersebelahan denganmu" ucap kak Jester sembari memberikanku kartu kunci itu, aku tidak mau menerimanya dan aku katakan...


"Kita tukaran kamar aja, aku..." belum selesai aku berkata, kak Jester memotongnya.


"Tidak apa... kamu gunakan saja kamar itu" timpal kak Jester


Aku pun menerima kunci itu lalu kami bersama berjalan menuju lift, didalam lift kami hanya saling diam sampai pintu lift itu terbuka dilantai kamarku berada. Aku berjalan keluar dari lift itu lalu tidak lama kak Jester berkata..


"Kita akan bertemu di lobby satu jam lagi" celetuk kak Jester, aku menganggukkan kepalaku lalu pintu lift kembali tertutup.


Kemudian aku berjalan menuju kamarku, ketika menemukan nomor yang sama dengan kartu akses saat itu aku segera masuk kedalam kamar dan meletakkan seluruh barang - barang ku pada tempatnya. Aku membuka gorden kamar dan aku benar - benar dapat melihat menara Eiffel dari balik jendela kamar, seharusnya aku senang namun aku merasakan pusing ketika itu.

__ADS_1


Aku......


***TULISAN LUNA BERAKHIR DENGAN CORETAN YANG PANJANG KETIKA ITU***


__ADS_2