Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 45


__ADS_3

Perlahan aku membuka mataku... hari pun sudah gelap....


Sepertinya tidak ada yang tahu jika aku baru saja pingsan karena posisiku tetap berada di kasur dan tidak berubah sedikitpun sejak terakhir aku ingat, aku menghela nafasku sejenak lalu aku teringat akan rasa sakit yang baru aku derita siang tadi. Jujur saja aku takut untuk mulai bergerak, bahkan hanya sekedar menggerakkan jari pun aku tidak ingin. Namun jika aku terus seperti ini, maka aku tidak bisa melanjutkan apa yang menjadi impianku.


Perlahan aku mencoba untuk menggeser tangan kananku, rasa sakit yang sempat aku derita siang tadi membuatku sedikit trauma untuk menggerakkannya. Tapi ketika tangan kanan ini bergeser, aku tidak merasakan sakit yang berarti. Hanya rasa nyeri karena kebas setelah sebelumnya terlipat dalam waktu yang cukup lama, aku terkejut ketika mengetahui rasa nyeri itu telah hilang. Saat itu aku lebih berani untuk menggerakkan tubuh ini, aku duduk dipinggir kasur dan mencoba untuk merasakan keseluruhan dari tubuh ini.


Ya.. aku tidak merasakan sakit lagi, entah apa yang terjadi ketika itu. "Mungkinkah pengaruh obat yang aku minum sebelumnya?" tanyaku dalam hati, perlahan aku mencoba untuk berdiri. Meski tidak lagi sakit, tapi rasanya kaki ini tidak memiliki tenaga sama sekali untuk menopang berat tubuhku. Benar saja.... ketika aku berdiri, aku hampir terjatuh namun aku berhasil menahannya agar tidak sampai membuatku tersungkur.


"Uuuh... ayolah kaki, bergeraklah..." gumamku ketika itu


Perlahan aku mencoba untuk kembali berdiri dan aku berhasil, aku merasa seperti melayang ketika itu. Tidak terlalu dapat aku rasakan telapak kaki ini menyentuh ubin yang membuatku kehilangan rasa percaya diri untuk berjalan, tapi aku tidak boleh menyerah. Langkah pertama aku lakukan, perlahan dan penuh kehati - hatian. Aku berjalan mendekati saklar untuk menghidupkan lampu kamar, agak lama memang namun aku sangat puas ketika tangan ini berhasil menyentuh saklar lampu itu. Tapi ketika lampu sudah menyala.... ada hal yang membuatku panik....


"Kenapa... tetap terasa gelap...?" gumamku ketika itu


Ada yang aneh dengan pengelihatan ku, seperti ada bayangan hitam yang menyelimutinya. Ruangan ini masih terasa redup meski lampu telah menyala, aku menggosok mataku berkali - kali namun tidak juga ada perubahan. Pandanganku saat ini terasa... kabur...


"Ibu!! Ayah!!!" teriakku dengan panik


Seketika itu aku mendengar suara langkah kaki yang berlari cepat mendekati kamar, tidak lama ayah dan ibu masuk kedalam kamar lalu segera mendekatiku dengan keadaan panik.


"Luna! ada apa?!!" tanya ayahku panik, saat itu ibu langsung menyentuh pipiku dan aku pun segera menatap wajah ayah dan ibu bergantian.


Wajah mereka terlihat buram... aku seperti orang yang menderita rabun namun ini berbeda, ini terasa gelap dan seakan aku kehilangan kemampuan untuk melihat cahaya. Aku memeluk ibu dengan sangat erat, aku menangis sejadi - jadinya dalam pelukan ibu.


"Sayang... kamu kenapa? ada yang sakit?" tanya ibu begitu mengkhawatirkan ku, aku menggelengkan kepalaku berkali - kali untuk merespon pertanyaan ibu.


"Gak... gak ada apa - apa... aku hanya.... hanya rindu pada kalian... aku... aku tidak ingin kalian jauh - jauh dariku.... tolong dekat - dekat lah denganku, ayah... ibu..." jawabku dengan derai air mata yang begitu deras menetes, tubuhku bergetar hebat ketika berusaha untuk menahan air mataku namun usahaku terasa sia - sia.


"Kami tidak akan meninggalkanmu sayang, kami akan terus berada di sisimu kapanpun kamu inginkan... tenang ya, semua akan baik - baik saja.." timpal ayah dengan suara yang terdengar begitu lembut.


"Terima.. kasih..." ucapku


Perlahan aku lepaskan pelukanku begitu pula dengan ibu dan ayah, mereka berdua membelai lembut kepalaku saat aku mengusap air mata yang masih tersisa di wajah. Kami pun makan malam bersama setelahnya, dengan obrolan ringan yang menyenangkan membuatku bisa melupakan apa yang terjadi padaku hari ini. Ketika malam semakin larut kami pun memutuskan untuk tidur, ayah dan ibu mengantarku ke kamar dan menemani sampai aku terlelap tidur.


Aku berharap... besok semua keadaan semakin membaik...

__ADS_1


Tapi harapan hanyalah tinggal harapan... pandangan mataku masih terasa gelap, bayangan hitam yang menyelimuti pengelihatan ku masih begitu terasa meski aku sudah menatap cerahnya hari ini. Dari balik jendela aku menatap halaman samping rumah yang seharusnya terang oleh cahaya matahari, namun bagiku... ini tidak lebih dari cuaca mendung dengan awan yang teramat tebal.


Aku menghela nafasku lalu mencoba untuk membiasakan diri dengan apa yang terjadi pada pengelihatan ku, seharusnya aku tidak banyak mengeluh saat ini. Bisa bergerak seperti ini saja sudah sebuah keajaiban, bagaimanapun aku tidak boleh melupakan siapa aku sebenarnya. Aku hanyalah gadis dengan leukimia akut yang bersarang didalam tubuhku, hanya itu...


"Sayang... ada Selena..." ucap ibu yang entah sejak kapan sudah membuka pintu kamar, aku melamun ketika itu.


"Aah iya... suruh aja masuk, bu" timpal ku seraya membalik badan untuk menatap ibu, tidak lama aku melihat Selena berjalan masuk dan berdiri dibelakang ibu.


"Siang Luna, gimana keadaanmu?" tanya Selena padaku, aku tertawa kecil lalu aku katakan...


"Sangat baik, aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya" jawabku, ibu dan Selena menghela nafas mereka nyaris bersamaan.


"Bohong apa lagi itu?" sindir ibu padaku, aku pun tertawa mendengar sindiran ibu.


Tidak lama ibu pun keluar dari kamarku, tersisa lah aku dan Selena di kamar. Aku berjalan mendekati kasur lalu duduk di kasur itu bersandar pada dipan, sedangkan Selena menarik kursi belajar untuk mendekatiku lalu duduk di kursi itu.


"Gimana rencananya? berjalan dengan baik?" tanyaku


"Mungkin... haah, kak Jester membuatku kesal" jawab Selena terdengar sangat kesal, aku tertawa kecil menanggapi rasa kesalnya.


"Ketika aku sampai dirumah mereka, Naomi langsung mendekatiku dan bertanya dimana kamu... jadi aku jawab saja kamu sibuk buat urus dokumen pindahan mu, dia terlihat sedih mendengar jawabanku" jawab Selena, ketika itu dia menggantung sejenak perkataannya dan menatapku dengan perasaan sedih.


"Oke... lalu apa respon mereka tentang rencana liburan?" tanyaku


"Sebenarnya mereka tidak merespon apapun dari ide itu, tapi menurutku Naomi tidak akan keberatan" jawab Selena


"Tapi..." belum selesai aku berkata, Selena memotong.


"Iya aku tahu, kenapa aku menjawab seperti itu? karena jika Naomi tidak keberatan, kak Jester tidak bisa menolak. Dia kan bucin tingkat dewa, jadi apapun keputusan Naomi maka kak Jester akan menurutinya" timpal Selena, geli rasanya mendengar perkataan Selena tentang kak Jester yang bucin.


Tapi yaah memang seperti itulah dirinya ketika jatuh cinta, aku bersyukur Naomi ada di pihakku meski ini akan sangat merugikannya. Tapi aku berharap Naomi akan memaafkan ku, aku tidak ingin bertengkar dengannya di penghujung umurku.


"Ooh iya, barang - barangmu yang tertinggal dirumah kak Jester ada didalam bagasi mobil. Aku akan mengambilnya dulu" celetuk Selena, lalu dia berjalan untuk mengambil barang - barang milikku.


Hari itu berjalan baik - baik saja hingga waktu terus berlalu terasa begitu cepat, tak terasa hari pun berganti dengan Selena yang menginap di rumahku seharian kemarin. Pagi ini aku akan mengambil pasporku yang kata tuan Parker sudah selesai dikerjakan, tapi jujur saja aku tidak enak hati untuk datang ke kantor itu setelah apa yang terjadi padaku ketika aku mengajukan permohonan pembuatan paspor. Mungkin aku sudah merepotkan para office boy di kantor itu seharian penuh dengan darah yang berceceran dimana - mana, aaa~ maafkan aku... :(

__ADS_1


Dimulai dengan sarapan bersama dengan ayah, ibu dan juga Selena, setelah selesai aku dan Selena bersiap - siap berangkat ke kantor pemerintahan untuk mengambil paspor, lalu kami berdua menuju rumah kak Jester dan Naomi untuk melanjutkan rencana liburan kami ke Paris. Aku berharap semua berjalan dengan baik agar sisa - sisa waktu yang aku punya bisa dimaksimalkan dengan baik, hanya itu harapanku kali ini.


Setelah mendapatkan paspor itu, aku dan Selena pun kembali melakukan perjalanan menuju rumah kak Jester. Tidak butuh waktu yang lama hingga kami sampai didepan rumah kak Jester dan Naomi, ketika Selena sudah memarkirkan mobil dengan sempurna saat itu aku dan Selena turun bersamaan lalu berjalan ke teras depan rumah kak Jester untuk mengetuk pintu. Agak lama menunggu sampai kak Jester membukakan pintu untuk kami, wajahnya terlihat kaget ketika melihatku bersama Selena datang berkunjung


"Pagi kak!" sapaku dengan riang gembira


"Ooh, kamu datang juga. Pagi kalian semua" sapa balik kak Jester terdengar datar, aku menghela nafasku ketika kak Jester membalik badannya untuk mengajak kami masuk kedalam rumah.


Kak Jester masuk kedalam ruang keluarga lalu kami bertiga duduk saling berhadapan disebuah sofa, ketika sudah duduk aku langsung menunjukkan pasporku yang baru saja jadi itu kepada kak Jester.


"Aku punya paspor!!" ucapku memulai obrolan diantara kami


"Lalu kenapa?" tanya kak Jester datar, mendapatkan respon datar seperti itu sedikit membuatku kesal.


Setelah apa yang terjadi diantara kami, aku pikir kak Jester akan lebih bersikap manis di hadapanku. Tapi kak Jester tetaplah kak Jester, aku memahami kenapa dia bersikap dingin padaku seperti ini. Semua karena dia sudah memilih Naomi untuk menjadi pasangannya, memang tidak baik jika seorang pria akrab dengan wanita lain ketika dia sudah memiliki pasangan. Apa lagi hubungan antara aku dan kak Jester yang secara terang - terangan Naomi tahu jika kami dulu saling mencintai, aku harus memaklumi ini...


"Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa memiliki paspor. Aku ingin pergi ke Paris untuk melihat menara Eiffel... jadi aku kesini untuk mengajak kalian semua pergi" jawabku


"Duuh... aku ada kuliah dan ini juga mendekati ujian tengah semester..." tolak kak Jester terdengar sangat keberatan


"Ayolah kak~ mau ya...?" pintaku padanya, namun penolakan kak Jester terlihat tidak goyah sedikitpun.


"Mana Naomi, kak?" tiba - tiba Selena melontarkan pertanyaan ditengah obrolanku dengan kak Jester, nada bicara Selena juga terdengar sedikit menekan dan membuat kak Jester terkejut.


"Dia masih tidur, kenapa?" tanya balik kak Jester


"Naomi pasti ingin pergi, aku bertaruh untuk itu dan jika Naomi yang meminta... kamu tidak akan berani untuk menolaknya kan?" jawab Selena yang terdengar dia sangat memaksa kak Jester, seketika itu tatapan mata kak Jester pun tajam kearah Selena.


"Kenapa kamu memaksaku?" tanya kak Jester terdengar marah, tapi ketika itu Selena tersenyum sinis seraya berkata...


"Kemana kak Jester yang selalu ramah, peka terhadap wanita, dan lembut kepada wanita?" tanya Selena sinis, kak Jester tertawa kecil ketika itu.


"Aku tidak berubah, cuma saat ini aku tidak ingin bersikap seperti itu sampai membuat kalian salah sangka terhadapku. Ada hati yang harus aku jaga, kalian membenciku yang seperti ini juga tidak masalah untukku karena aku sudah punya komitmen" jawab kak Jester, lalu Selena berdiri dan menggebrak meja yang ada didepan kami.


Suasana menjadi terasa panas ketika itu, karena Selena terpancing emosinya dengan kata - kata yang dilontarkan oleh kak Jester. Aku juga tidak menyangka cinta akan membuat kak Jester menjadi dingin seperti ini, sepertinya rencanaku akan hancur berantakan... itulah yang aku pikirkan sampai suara marah Naomi terdengar...

__ADS_1


"Jess!! apa - apaan kamu bersikap seperti itu?! kamu terdengar jahat, tahu gak?!" tanya Naomi dengan sedikit bentakan, ketika itu aku, Selena dan kak Jester pun menatap Naomi yang berdiri di pintu masuk keruang keluarga.


__ADS_2