
Aku meneteskan air mataku dengan deras ketika mendengarkan lagu All I Ask dari Adele...
Aku tidak tahu mengapa, ketika itu lagu itu terasa begitu menusuk hatiku.... terutama pada lirik "If this is my last night with you", seketika itu aku dapat melihat dengan jelas senyum kak Jester. Seakan dia benar - benar ada di hadapanku, aku pun bergumam "Aku ingin menghabiskan hariku... bersamamu"
Suara ketukan pintu terdengar ditengah aku masih menikmati lagu dari Adele, aku yang saat itu duduk disebuah kursi berhadapan dengan kaca jendela kamar langsung menoleh menatap pintu kamar. Setelah menyeka air mata, aku beranjak dari dudukku lalu mendekati pintu kamarku untuk membukanya. Aku melihat ayah dan ibu sesudah rapih dan bersiap untuk mengantarkan aku menuju tempat aku akan tampil di final, tempat aku akan meraih salah satu impianku.
"Sayang, kamu gak bersiap?" tanya ibu yang heran melihatku masih mengenakan pakaian rumahanku, aku menghela nafasku sejenak sebelum menjawab pertanyaan ibu.
"Aku... kehilangan semangatku..." jawabku sedih
"Kamu baik - baik saja, sayang? apa kamu sakit?" tanya ayah padaku, aku meresponnya dengan gelengan kepala.
"Aku baik - baik saja, hanya saja...." aku menggantung jawabanku ketika itu
Aku, ayah dan ibu terdiam sejenak, mereka menungguku untuk bicara tentang apa yang aku pikirkan malam itu. Tapi sepertinya aku tidak ingin mereka tahu jika yang sedang aku rasakan adalah... kerinduanku yang mendalam kepada pangeranku, kepada kak Jester.... hatiku sudah meronta - ronta ingin bertemu dengannya, itu adalah alasan yang konyol jika aku mengatakannya pada ayah dan ibu.
"Luna, ada apa?" tanya ibuku sedikit memaksa namun suaranya terdengar lembut, aku kembali menggelengkan kepalaku beberapa kali.
"Tidak ada, aku baik - baik saja bu..." jawabku
"Ayah dan ibu tahu kamu sedang tidak baik - baik saja, kamu boleh katakan apapun itu pada kami. Jangan ragu" timpal ayah
"Ini tentang... permintaan Grece padaku, dia memintaku untuk menyanyikan lagu dari Adele all i ask..." ucapku sedikit terbata
"Bukankah itu lagu yang bagus? ayah yakin kamu bisa menyanyikannya dengan sangat baik" ucap ayah dengan penuh keyakinan, kemudian aku membuang muka menghindari bertatapan mata dengan ayah.
"Masalahnya adalah arti lagu itu, aku tiba - tiba.... rindu pada kak Jester"aku menimpali perkataan ayah dengan sedih, saat itu ayah dan ibu mulai memahami apa yang terjadi pada anak gadisnya yang memang sering galau ini.
"Ooh iya iya... ayah paham..." celetuk ayah dengan suara nafas berat yang terdengar
"Sayang, ini adalah penampilanmu yang terakhir. Setelah ini selesai kamu bisa kembali ke ibukota dan menemui tuan muda Jester" timpal ibu sembari menepuk pundakku, aku menoleh menatap mata ibu lalu aku berkata...
"Apa menurut ibu kak Jester akan mau melihatku lagi setelah apa yang aku lakukan padanya?" tanyaku dengan nada menekan, ayah dan ibu pun terdiam.
"Aku akan bersiap" celetukku ketika kami terdiam beberapa saat, aku lalu menutup pintu kamar dan segera melakukan persiapan.
Mengenakan pakaian terbaikku yang sudah aku persiapkan sejak pagi tadi, beserta aksesoris - aksesorisnya, tidak lupa aku merias wajahku tipis - tipis agar tidak terlalu tampak pucat. Setelah merasa aku sudah siap, ketika itu aku ingin segera berangkat lalu menyelesaikan kompetisi ini. Namun ketika aku hendak mematikan saklar lampu, disebuah meja dekat saklar itu aku melihat handphone pemberian Selena tiba - tiba menyala.
Entah apa yang terjadi, aku melihat proses handphone itu sedang memulai untuk beroperasi walau aku tidak menyentuhnya sama sekali. Setelah selesai dengan prosesnya, aku langsung dapat memandang wajah Selena yang menjadi wallpaper handphone itu. Aku menyadari aku dan Selena memiliki aksesoris yang sama ketika itu, sebuah kalung silver.... aku pun teringat jika aku masih menyimpannya di kota kenang - kenanganku.
Aku melangkahkan kakiku menuju kasur dan mengambil kotak kenang - kenanganku yang aku letakkan dibawah kasur, didalam kota itu aku mencari - cari aksesoris kalung silver yang ingin aku gunakan hari ini. Ketika aku membongkar isi kotak itu aku melihat buku diary ini, perlahan tanganku mengambil buku ini dan mulai membuka lembar pertama... aku melihat sebuah fotoku bersama kak Jester ketika kami berada di taman tengah labirin, senyumku dan senyumnya terlihat merekah menandakan kami bahagia saat itu.
Pada lembar kedua... aku membaca tulisan pertamaku, betapa bingungnya aku ketika harus menulis atas permintaan egois pangeranku itu... aku tertawa kecil membaca hasil tulisanku sendiri namun bersamaan dengan itu, air mataku menetes membasahi buku diary. Aku menutup buku itu perlahan karena aku tidak kuat lagi untuk membacanya, tapi ada sesuatu yang mengganjal buku dairy.
Aku membuka buku diary itu lalu aku melihat sebuah note kecil yang menjadi pengganjal, aku sempat bingung dengan keberadaan note itu. "Apa ini? tulisan siapa?" gumamku, aku memperhatikan dengan baik apa saja yang ada didalam note itu lalu aku pun tersadar akan sesuatu.
Yah... sesuatu yang tidak sempat aku tuliskan pada diary, keinginan kak Jester yang mengatakan jika dia ingin pergi ke Prancis Paris dan mengunjungi banyak tempat. Kak Jester bercerita tentang indahnya kota Paris padaku, seketika itu aku mencatat semua keindahan Paris dari kata - kata kak Jester pada sebuah note kecil ini. Aku merangkumnya dalam satu keinginan yang akan aku kerjakan suatu saat nanti bersama kak Jester, aku kembali membaca list itu yang tertulis...
__ADS_1
***Isi dalam note kecil Luna***
Liburan ke Paris berdua dengan kak Jester sesuai janji yang pernah terucap
Menonton bioskop terbuka seperti yang kak Jester ceritakan
Mengunjungi cafe - cafe populer yang pernah kak Jester ceritakan
Berlayar di sungai Seine
Berfoto di Eiffel, Museum Louvre, Arc de Triomphe, Katedral Notre Dame, dan Taman Luxembourg
***Isi note berakhir***
Suara dari cerita kak Jester seakan berputar dalam kepalaku, aku mendengar setiap perkataannya dan ceritanya lalu aku menuangkannya dalam sebuah note kecil ini. Saat itu aku juga teringat tentang janjiku kepada kak Jester untuk menemaninya kesana, "Tapi sekarang... tinggal kenangan...." gumamku lagi dengan air mata yang kembali berderai
Suara ketukan pintu terdengar dan membuatku sedikit terkejut, aku segera menyeka setiap air mata yang tersisa di wajahku. Tidak lupa aku kembali merapihkan riasanku, ketika sudah siap aku pun keluar dari kamar. Didepan kamar, ayah dan ibu sudah menungguku dengan wajah yang terlihat begitu mengkhawatirkan ku. Aku tersenyum menatap mereka lalu mengatakan....
"Aku siap, ayo kita selesaikan ini" ucapku dengan senyum di wajahku, ayah dan ibu membalas senyumku lalu menggandengku selayaknya anak kecil.
__ADS_1
Yaa... mereka masih memperlakukanku seperti anak kecil, mereka bahkan menggandengku di kanan dan di kiri lalu membawaku mendekati mobil. Ayah membukakan pintu untukku, sedangkan ibu menuntunku untuk masuk kedalamnya. Aku kembali tersenyum kepada mereka sembari mengucapkan "Terima kasih" lalu pintu mobil pun tertutup, ketika itu senyum palsuku pun terlepas seketika...
Kepalaku terasa kacau, mood ku pun rusak, dan emosiku bergejolak seakan hati ini meronta - ronta tidak ingin beranjak pergi. Entah apa yang terjadi, "Apa ini ada hubungannya dengan lagu yang akan aku bawakan?" tanyaku dalam hati, ditengah lamunanku itu ayah tiba - tiba berkata...
"Sudah siap?" tanya ayah, suaranya memecah lamunanku.
"Aku siap ayah" jawabku
"Baiklah, ayo kita selesaikan ini dan segera bersiap untuk ke ibukota!" penuh semangat ayah mengatakannya
"Yeey, anak kita akan menjadi bintang" seru ibu menimpali perkataan ayah, sedangkan aku hanya tertawa menanggapi semangat mereka berdua.
Beberapa menit berlalu dan kami berdua kesulitan untuk masuk kedalam area gedung serba guna desa karena ramainya pengunjung malam itu, ayah dan ibu sampai terkejut dengan membludaknya penonton. Ketika kami disibukkan mencari tempat parkir, saat itu ada beberapa orang dari penduduk desa yang mengetahui aku sudah datang. Mereka menuntun ayah untuk menuju tempat parkir khusus bagi para penduduk desa, ketika aku hendak turun beberapa orang itu mengatakan jika aku tidak boleh sembarang turun.
Ayah bertanya mengapa dan mereka menjawab jika banyak kerumunan disini yang ingin bertemu denganku, mereka mengaku sebagai fansku dan kadang tingkah mereka agak tidak terkontrol. Beberapa penduduk desa memintaku untuk ikut dengan mereka agar aku sampai di ruang tunggu peserta dengan aman, tanpa pikir panjang aku segera menerima tawaran mereka.
DItengah kerumunan itu, aku dilindungi penduduk desa agar jalanku menuju belakang panggung bisa berjalan mulus. Disana aku bertemu dengan Peter dan Manda yang menjadi pesaing terakhirku dalam kompetisi ini, mereka senang melihatku yang datang terlambat karena mereka berpikir jika aku bermasalah dengan kesehatanku.
"Aku tidak menyangka akan sampai final dan memperebutkan juara kedua" ucap Manda ketika itu
"Bukankah seharusnya memperebutkan juara satu?" tanyaku heran
"Itu sudah jadi milikmu, point kita terpaut jauh... mana mungkin aku bisa mengejar mu" jawab Manda kesal, aku tertawa kecil saat mendengarnya.
"Hei Lunar, bagaimana perasaanmu?" tanya Peter, aku terdiam sejenak lalu aku pandang mata Peter dengan tajam.
"Aku.... senang, tentu saja aku senang" jawabku
"Kamu tidak bertanya balik padaku?" tanya Peter lagi menyindirku, lalu sikut Manda menyenggol lengan Peter dengan cukup keras.
"Dia tidak akan peduli padamu, dasar!" bentak Manda pada Peter, aku tertawa kecil lalu aku pun bertanya...
"Kalian sendiri, bagaimana perasaan kalian?" tanyaku
"Aku tetap mencintaimu seperti dulu, tapi kini aku tidak masalah bagaimana denganmu dan siapa yang kamu sukai. Aku tidak meminta apa - apa darimu, walau tentu saja aku ingin kamu menyukaiku suatu saat nanti. Tapi sekarang, aku sudah cukup dengan seperti ini" jawab Peter dengan senyuman kepadaku
"Apa - apaan itu? kenapa malah jadi menyatakan perasaan?!" bentak Manda ketika itu, aku pun tertawa menanggapi jawaban Peter.
"Gawat... sepertinya aku paham apa yang kamu rasakan" timpal ku dengan suara tawaku, sejenak kami tertawa bersama.
"Lalu kamu bagaimana, Manda?" tanyaku
"Aku... entahlah, padahal tahu segalanya tapi aku tidak dapat merubah apapun. Sedih ya..." jawab Manda
"Tidak, aku paham tentang perasaanmu. Nyatanya semakin lama kita hidup maka kita akan semakin memahami jika hidup itu tentang penerimaan atas kenyataan" timpal ku dengan senyum beratku
"Luna..." celetuk Manda padaku, lalu aku tersenyum menatap mereka bergantian.
__ADS_1
"Sebenarnya... aku yang dulu benci dengan diriku sendiri, tiap hari aku menangis dan menangis.... Tapi sekarang sudah tidak apa - apa, karena aku sudah berteman dengan orang yang sangat ingin aku jadikan teman... Yaitu diriku sendiri" ucapku