Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 51


__ADS_3

Tanganku langsung mengarah ke kepala untuk memastikan apa aku masih mengenakan wig atau tidak, aku begitu malu untuk bertemu dengan mereka tanpa wig. Tapi syukurlah... wig itu masih menempel di kepalaku, sejenak aku menoleh menatap seseorang dibelakang pak Mike. Aku melihat ibu bersandar pada pintu memberi gestur jempol kepadaku, saat itu aku tahu siapa yang sudah kembali memasang wig untukku ketika aku masih tertidur pulas.


"Kamu baik - baik saja, Luna?" tanya kak Jester padaku, aku mengalihkan pandanganku menatap kak Jester dengan wajah masih bingung...


Tentu saja aku bingung harus menjawab apa, aku sudah membohonginya sejauh ini dan tiba - tiba kini dia ada tepat di hadapanku dalam keadaan seperti ini. "Apa seseorang sudah memberitahu penyakitku kepada kak Jester? kenapa tiba - tiba aku dijenguk banyak orang seperti ini?" tanyaku dalam hati.


"...Na?! Luna?!" ucap kak Jester dan aku pun tersadar dari lamunanku


"Eeh.. iya.. maaf, obat bius itu membuat aku sedikit... tidak stabil..." ucapku terbata, aku membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan kak Jester.


"Aaah syukur deh kamu terlihat baik - baik saja, pak Mike pikir kamu sakit parah" celetuk pak Mike terdengar lega, aku pun terkejut mendengar celetukan pak Mike saat itu. Lalu aku menatap wajah pak Mike meski aku hanya terdiam, dalam hati aku berpikir ide siapa ini membawa mereka semua kemari.


"Sepertinya dia masih kebingungan" ucap kak Luke


"Hei Luna, kamu sudah sadar atau belum? apa obat bius itu membuatmu mabuk?" tanya kak Harry padaku


"Eeh... ti.. tidak kok, hanya saja aku baru bangun dan kalian... tiba - tiba sudah ada disini..." jawabku terbata


"Maaf Luna, aku gak tahu kamu gak boleh capek - capek... semua gara - gara kita kemarin ke festival square, kamu jadi melewatkan gladi kotor acara sekolah" ucap kak Jester terdengar menyesal


"Tidak usah dipikirkan, Luna. Kamu sudah melebihi bakat yang dimiliki siswa dan siswi lain dalam hal bernyanyi, pak Mike rasa gladi kotor hanya akan membuat pita suaramu terbebani" timpal pak Mike


"Berarti memang lebih baik jika Luna beristirahat seperti ini kan, pak Mike?" tanya kak Luke pada pak Mike, dengan anggukan kepala pak Mike menjawab pertanyaan kak Luke.


"Bagaimana kalau kita biarkan Luna istirahat? setidaknya kita sudah tahu keadaan Luna" ajak pak Mike kepada kak Jester, kak Luke, kak Harry, kak Justin, dan Selena, mereka pun kompak mengangguk menyetujui ajakan pak Mike.


Setelah mendapatkan ucapan semoga cepat sembuh dari mereka, dengan segera mereka meninggalkan aku. Dengan diantar ibu aku kini sendirian di kamarku, aku masih tidak dapat berpikir dengan baik. Bukan... bukan karena obat bius yang aku terima dari infus ini... tapi karena...


"Aku... akan... lumpuh..?" gumamku, aku kembali menangisi nasibku yang entah akan dibawa kemana lagi hidupku yang malang ini...


Tidak lama aku mendengar pintu kamarku kembali terbuka, aku segera mengusap air mataku agar ibu tidak tahu jika aku sempat mendengarkan obrolan antara ayah, ibu, dokter Ricard dan dokter Ellie. Suara helaan nafas ibu terdengar bersamaan suara langkahnya mendekatiku, aku menoleh menatap ibu yang tersenyum kepadaku.

__ADS_1


"Hai sayang, selamat pagi" celetuk ibu ketika sudah berada tepat di sampingku


"Kenapa... mereka semua tahu aku ada disini?" tanyaku pada ibu


"Justin dan Selena terpaksa mengatakan jika kamu dirawat dirumah sakit karena pak Mike yang meminta mereka berdua untuk bicara, ibu sudah mengatakan pada mereka jika kamu sakit ringan... hanya saja... haaah, ibu tidak pandai berbohong.. jadi ibu asal saja mengatakan jika kamu demam tinggi karena kecapean" jawab ibu


"Lalu? apa demam karena kecapean akan membuatku dirawat sampai beberapa minggu ke depan?" tanyaku


"Kamu tidak akan dirawat selama itu sayang, kamu..." belum selesai ibu berkata, aku memotongnya


"Begini ya... rasanya dibohongi..." timpal ku dan ibu pun terlihat tersentak dengan perkataanku


"Sayang, apa maksudmu?" tanya ibu seakan mencoba memastikan apa yang aku katakan, mungkin ibu masih tidak menduga jika aku menguping pembicaraannya kemarin.


"Tidak ada... aku hanya... merasa bersalah pada semua orang yang aku bohongi..." jawabku lalu aku mengalihkan pandanganku menatap langit cerah pagi itu


Seakan ibu takut untuk kembali mengajakku bicara, ibu memilih untuk berjalan menjauhiku dan duduk di sofa yang berada disana. Aku kembali hanya bisa terdiam dan meratapi nasibku, aku sudah kehabisan segala upaya dan cara untuk terus menutupi kebohonganku. "Apa kali ini aku katakan saja pada kak Jester tentang keadaanku?" tanyaku dalam hati


"Tidak akan ada hidup tanpa masalah dan tidak ada perjuangan tanpa rasa lelah, tetaplah semangat sayang... semua pasti akan ada akhirnya..." celetuk ibu ditengah keheningan kamarku


"kamu benar - benar sudah berusaha keras, sayang. ibu hanya minta kedepannya teruslah berjuang, ibu dan ayah akan selalu menjadi tempat sandaranmu ketika kamu sedang lelah..." ucap ibu


Aku sudah tidak mampu menahan air mataku, aku menangis sejadi - jadinya ketika mendengar perkataan ibu. Air mataku tidak terbendung, aku berteriak... berteriak keras... meremas selimut yang menyelimuti tubuhku dengan sangat kuat... aku melampiaskan semuanya dalam tangisan itu dan berharap... hatiku merasa lega...


Ibu berjalan mendekatiku lalu melingkarkan tangannya di kepalaku, membiarkan lengannya yang dulu terasa begitu empuk kini hanya tersisa kulit dan tulang... meski begitu... kehangatan tangan ini masih begitu terasa untukku, pelukan ini yang selalu mampu untuk menenangkan tangisanku... Terima kasih, ibu...


Pada malam hari Selena pun datang untuk menjengukku, sedangkan ayah dan ibu pergi untuk mencari beberapa makanan kesukaanku meskipun aku sudah mengatakan jika aku tidak mau makan apapun. Selena yang saat itu berusaha menghiburku, secara terus - menerus bercerita hal - hal lucu disekolah. Termasuk menceritakan Alvin yang kembali di bully oleh beberapa orang, tiba - tiba aku teringat perkataan Alvin dulu.


"Jadi begitulah, beberapa anak mulai mengerjai Alvin. Aku ingin sekali menolongnya, hanya saja aku malas karena dia sangat nyebelin" ucap Selena di akhir ceritanya


"Huum... Selena, bisa aku minta tolong?" pintaku

__ADS_1


"Tentu, apapun untuk Luna~" jawab Selena menyetujui untuk menolongku, aku tersenyum menatapnya lalu aku berkata...


"Besok saat bertemu Alvin, katakan aku ingin dia menjengukku dirumah sakit ini" pintaku padanya, sesuai dugaan... Selena terdiam dengan wajah kaget.


"Hah? apa tadi permintaanmu?" tanya Selena mencoba memastikan apa yang aku minta, aku tertawa kecil lalu aku menatap langit - langit kamar.


"Ada yang ingin aku tanyakan padanya, dia bisa membantuku untuk mencari jawaban yang mengganggu pikiranku sejak kemarin" jawabku


"Kamu bisa tanyakan itu padaku!! aku gak suka sama dia, terlebih kamu malah mencarinya!!" bentaknya padaku, aku kembali tertawa kecil lalu menatap matanya dengan tatapan melas ku agar permohonanku dia terima.


"Selena~ tolong ya~" pintaku lagi


Dengan wajah yang terlihat sangat kesal akhirnya Selena menerima permintaanku, aku kembali tertawa untuk memadamkan amarah Selena kepadaku. Setelahnya aku kembali mencairkan suasana antara aku dan Selena dengan bertanya dan mengobrolkan hal - hal yang berkaitan dengan sekolah, Selena dengan mudahnya aku alihkan karena memang beginilah sosok Selena.


Dia baik, pemikirannya masih polos, meski penampilannya tomboi seperti itu namun tidak membuat dia kehilangan sisi feminimnya, dia seringkali bersikap manis selayaknya wanita umumnya, hanya saja dia belum menemukan sosok yang tepat untuk melabuhkan hatinya. Mungkinkah aku bisa membantunya mencari sosok yang tepat itu? yah.. mungkin, jika aku... masih memiliki waktu..


Hari berganti, tepat pada sore harinya ketika itu Selena menepati janji. Dia datang menjengukku bersama dengan Alvin, masih dengan wajah datarnya itu Alvin menatapku. Alvin duduk tepat disebelah kasurku, sedangkan Selena duduk di sofa yang agak jauh dariku. Selena terlihat tidak peduli dengan apa yang ingin aku obrolkan dengan Alvin dengan cara dia sibuk dengan handphone miliknya, namun aku tahu dia sudah menyiapkan telinga untuk mendengar pembicaraan kami dengan baik.


"Selena~ apa kamu sudah puas scroll menu handphone itu?" tanyaku dengan sindiran, Selena pun terkejut sampai handphone yang dia pegang sejak tadi terjatuh kelantai.


"Luna~!!" bentaknya padaku, aku tertawa menanggapi kemarahannya.


"Selena... bisa tinggalkan aku berdua?" pintaku padanya, permintaanku kembali membuatnya terkejut sampai dia bengong sejenak menatapku.


"Pliss~" paksaku dengan rayuan yang biasanya selalu bekerja untuk Selena, lalu dia menghela nafasnya dan beranjak pergi dari kamar.


Setelah mendengar suara pintu yang tertutup rapat, kini tatapan mataku menatap Alvin dengan tajam. Namun tidak ada perubahan dari ekspresi Alvin, seakan dia tahu aku akan memanggilnya cepat atau lambat.


"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu kesini?" tanyaku


"Tidak" jawabnya singkat

__ADS_1


"Ekspresi dan jawabanmu seakan bertolak belakang" timpal ku kesal, Alvin hanya terdiam dan terus menatapku.


"Baik, langsung saja... katakan padaku, bagaimana cara aku bisa meninggalkan kak Jester tanpa harus mengakui tentang penyakitku ini tapi juga dia mendapatkan penggantiku yang sayang dan mencintainya sama sepertiku. Jika idemu dapat berkerja dengan baik... aku akan menjadi pacarmu..." ucapku tanpa keraguan sedikitpun, namun Alvin seakan tidak terkejut dengan permintaanku padanya.


__ADS_2