Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 40


__ADS_3

Setelah pembicaraan penuh tangis antara aku dan kak Jester, kami bersama - sama mencoba untuk menghentikan air mata kami masing - masing. Tidak lama kami kembali masuk ke dalam kelas untuk melaksanakan ujian susulan untuk mata pelajaran yang lain, sembilan puluh menit berlalu dan kami kembali keluar kelas bersamaan saat bel istirahat berdering.


Aku berjalan mengabaikan kak Jester untuk kembali ke dalam kelas, namun ketika itu kak Jester menggenggam lenganku lalu menarik ku hingga sampai di sebuah taman dengan gazebo ditengah kolam ikan. Perlahan kak Jester melepaskan tangannya namun dia tetap tidak berbalik untuk menatap mataku, dia memunggungi ku untuk beberapa saat dalam kebisuan kami.


"Apa... ini akan berakhir? kita bahkan belum memulainya..." ucap kak Jester memecahkan keheningan


"Aku sudah bilang, kamu tidak tahu apa yang akan kamu hadapi ke depannya. Lupakan aku kak! kamu bisa mencari yang lebih baik dari aku!" jawabku dengan sedikit bentakan


"Tapi aku cuma mau kamu!!" agak berteriak kak Jester mengatakannya sembari berbalik dan kini dia menatap mataku, kami sama - sama saling menatap dengan mata yang berkaca - kaca.


Aku hanya menggelengkan kepalaku beberapa kali merespon perkataannya, lalu kak Jester meluapkan emosinya dengan memukul tiang kayu yang menjadi penyangga gazebo. Aku berbalik dan berjalan untuk meninggalkannya disana, dengan derai air mata aku berusaha menguatkan setiap langkahku sambil berkata dalam hati "Kamu harus akhiri ini Luna! jangan libatkan pangeranmu lagi lebih jauh!"


Adakah cara yang membuatnya tidak merasakan sakit dan terluka untuk aku tinggalkan? kalau ada tolong beritahu aku, mengapa sesakit ini rasanya melukai hati orang yang mencintai kita dengan tulus.


Kamu jahat Luna... kamu yang menarik dan melibatkannya dalam hidupmu, memberikan satu ruang nyaman dalam dirimu lalu dengan mudahnya kamu campakkan dia begitu saja. Kenapa kamu sejahat itu Luna? bukankah masih ada satu jalan yaitu jujur dengan keadaan yang sebenarnya?! EGOIS.. SANGAT EGOIS!


Aku terus berlari sampai di depan kelasku, aku pun langsung masuk ke dalam kelas dan duduk dibangku milikku lalu meletakkan kepalaku diatas kedua tangan yang aku lipat diatas meja. Aku tidak mempedulikan siapa yang berada disebelah ku saat itu, aku larut dalam kesedihan dan tangisanku sampai suara yang tidak asing terdengar menarik perhatianku.


"Kamu kenapa?" tanya Alvin padaku, aku tersentak lalu langsung mengarahkan pandanganku menatap Alvin yang ternyata duduk di sebelahku sedang membaca buku.


"Kyaa... kenapa kamu ada disini?!!" bentak ku padanya karena aku terkejut, perlahan dia menolehkan kepalanya menatap wajahku yang masih kaget itu.


"Aku disini karena aku tidak punya teman selain kamu dan Selena. Saat ini Selena sedang ke kantin bersama teman sekelas kita yang lain, ketika aku ingin ikut mereka mengatakan jika aku hanya mengganggu. Jadi aku disini saja sampai jam istirahat sekolah selesai" jawabnya dengan nada yang begitu datar, aku menghela nafas lalu kembali meletakkan kepalaku diatas kedua tangan yang aku lipat diatas meja.


"Apa kamu menangis karena putra keluarga Gates?" tanya Alvin kepadaku, aku menolehkan kepalaku sedikit untuk menatapnya.


"Bukan urusanmu" jawabku

__ADS_1


"Berarti semua karena penyakit yang kamu derita" celetuknya dan seketika aku terkejut sampai aku berdiri dari dudukku dan menatapnya yang masih saja sibuk membaca entah buku apa itu


Petaka apa lagi yang akan aku hadapi kali ini? Manusia menyebalkan ini harusnya tidak tahu keadaanku agar tidak menjadi hal buruk kedepannya.


"Da.. darimana... kamu tahu?" tanyaku terbata, perlahan Alvin menoleh untuk menatap mataku.


"Dari bungkus obat yang tidak sengaja kamu jatuhkan sebelum tiba - tiba kamu tidak masuk selama dua minggu lebih" jawabnya datar, aku sampai kehabisan kata - kata mendengar jawabannya.


"Kamu bimbang antara memberitahu putra keluarga Gates tentang penyakitmu atau tetap menyembunyikannya, pada akhirnya kamu malah memilih pilihan terbodoh yaitu meninggalkan putra keluarga Gates tanpa kejelasan apapun" ucapnya lagi lalu kembali fokus pada buku yang sejak tadi dia baca


"Apa itu benar pilihan bodoh?" tanyaku padanya


"Aku tidak yakin, tapi dari apa yang sudah aku lihat dan amati... aku rasa jawabannya adalah iya" jawabnya datar


"Lalu menurutmu aku harus apa? membiarkan dia cilukba dengan kematianku yang bisa tiba - tiba saja terjadi?" tanyaku lagi dengan suara yang menekan, Alvin pun menghela nafasnya dan kembali menoleh menatapku.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan sampai harus membohongi putra keluarga Gates sejauh ini? apa itu penting untukmu? kenapa akhirnya malah kamu yang memutuskan untuk menghentikan kebohonganmu dan bukan dirinya?" tanyanya padaku, suaranya yang biasanya datar kali ini terasa menekan ku...


Aku termenung menatap matanya, aku tidak tahu harus menjawab apa...


Kenapa aku terus membohonginya tentang penyakitku? apa kak Jester penting untukku? ataukah aku hanya membutuhkan sebuah sentuhan seseorang untuk mewarnai hari - hariku yang selama ini terasa hampa? Kenapa setelah semua kebohongan itu berjalan, malah aku yang menyerah? semua pertanyaan itu menggema didalam kepalaku untuk beberapa saat.


"Aa...aku... tidak bisa... menjawab... semua itu..." celetuk aku terbata, Alvin kembali menatap buku yang dia baca tanpa merespon apapun dari celetuk kan ku.


Aku kembali duduk lalu melipat kedua tanganku diatas meja dan meletakkan kepalaku yang mulai terasa pusing itu diatas kedua tanganku yang terlipat, aku ingin membuang semua pertanyaan Alvin dari dalam pikiranku namun tidak satu pun pertanyaan Alvin yang mampu aku hilangkan. Tidak lama aku mendengar Selena masuk ke dalam kelas dan menyapaku, dia langsung berlari dan mendorong Alvin agar pergi dari bangku miliknya.


Aku dan Selena pun mengobrol dengan santainya, membahas ujian yang baru saja aku lalui dan hal - hal receh lainnya. Bel sekolah pun kembali berdering tanda jam pelajaran sekolah akan kembali diadakan, aku berdiri dan kembali menuju kelas dimana menjadi tempat untuk siswa dan siswi mengikuti ujian susulan.

__ADS_1


Disana aku kembali bertemu dengan kak Jester, kami seperti orang yang tidak saling mengenal. Aku sedih namun aku harus menguatkan tekadku untuk meninggalkannya, aku tetap pada pendirianku bahwa aku tidak boleh membuatnya jatuh terlalu dalam untuk mencintaiku.


Semua aku lalui dengan baik, hingga sampailah pada jam pulang sekolah. Aku menyelesaikan ujianku lalu beranjak pergi menuju kelas untuk menemui Selena, aku sempat berpapasan dengan kak Luke dan kak Harry di koridor namun aku mengabaikan mereka dan terus berjalan cepat menghindari mereka. Aku begitu merasakan kekecewaan mereka dari raut wajah yang sempat aku lihat, mereka menampakkannya begitu jelas ketika mata kami bertemu.


Didepan kelas aku melihat Selena duduk di sebuah kursi sembari memainkan handphone miliknya, aku tahu dia sedang menungguku. Tidak lama aku juga melihat kak Justin keluar dari kelas kami dan mereka berdua terlihat sedang mengobrol, aku begitu penasaran dengan apa yang mereka obrolkan berdua. "Sejak kapan mereka berdua seakrab itu?" dalam hati aku bertanya.


"Hei, apa yang kalian bicarakan?" tanyaku, aku melihat kak Justin dan Selena terkejut lalu serentak menatapku.


"Ada sedikit hal yang tidak baik, jaket yang kamu gunakan untuk menampung darahmu tadi ketahuan petugas kebersihan dan dia membawanya ke penjaga sekolah. Kini sekolah sedikit heboh untuk mencari pemilik jaket itu" jawab kak Justin


"Hah?! duuh terus gimana?!" tanyaku panik


"Itu dia kami berdua mencoba memastikan jika di dalam kelas tidak ada darah yang bercecer, tapi sepertinya kita aman kecuali ada yang sadar jika itu adalah jaket milikku" jawab Selena yang juga terasa dia panik, aku menghela nafasku lalu duduk bersandar untuk mengistirahatkan badan yang mulai kembali terasa ngilu.


"Kamu baik - baik saja?" tanya Selena khawatir, aku menggelengkan kepalaku beberapa kali untuk merespon pertanyaan Selena.


"Selena, ajak pulang Luna. Dia perlu istirahat, urusan disini biar aku saja yang bereskan" timpal kak Justin, lalu Selena pun memapah ku untuk meninggalkan sekolah.


Didepan pagar sekolah aku melihat ayah turun dari mobil lalu berlari mendekati aku yang sedang dipapah oleh Selena, wajahnya nampak begitu mengkhawatirkan aku. Lalu dengan sigap ayah membopongku hendak memasukkan aku kedalam mobil. Ketika itu aku merasa sakit yang teramat sangat pada tubuhku, aku bahkan tidak paham bagian mana yang paling terasa nyeri kala itu.


Aku pun meremas baju ayahku dengan kuat dan berteriak "Aaaaaaa!!!!"


Dan tidak lama aku pun tersedak... saat itu lah aku muntah darah yang membasahi baju ayahku....


Telingaku berdengung kencang...


Tatapan mataku berkunang dan perlahan semakin gelap....

__ADS_1


Aku sempat berfikir jika itu adalah.... hari terakhirku.... melihat dunia ini....


__ADS_2