Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 2


__ADS_3

Ayah dan ibu menjadi lebih sibuk sejak aku memutuskan untuk ikut audisi, mereka berdua menyiapkan semua keperluan untukku. Tapi jujur saja beberapa yang disiapkan oleh ayah dan ibu tidak aku butuhkan. Hanya baju, aksesoris sederhana, sepatu yang serasi dengan baju dan aksesoris ku, dan kursi roda yang aku butuhkan, sedangkan ayah dan ibu menyiapkan berbagai jenis make up, berbagai jenis sepatu dan sandal, dan berbagai hal kecil - kecil lainnya yang malah membuatku bingung.


Tapi aku biarkan saja ayah dan ibu dengan kesibukan barunya, lagian... Mereka melakukan itu karena ingin aku bisa menikmati hidupku. Kesibukan yang berlebihan itu membuat satu minggu terasa singkat, hari dimana audisi akan dimulai.


Aku, ayah, dan ibu berangkat pagi - pagi sekali menuju sebuah gedung serba guna milik desa kami, sebuah gedung sederhana yang biasanya digunakan sebagai tempat warga desa rapat jika ada masalah di desa.


Namun mungkin karena audisi ini di sponsori oleh sebuah perusahaan media televisi terkenal, gedung sederhana itu mendadak menjadi sebuah gedung yang terlihat megah dengan berbagai aksesoris yang menghiasinya. Umbul - umbul, spanduk, dan berbagai jenis stand tenant berjejer meramaikan acara.


Aku terkejut dengan ramainya acara audisi itu, "Apa mungkin penduduk desa lain juga ikut meramaikan tempat ini ya?" tanyaku dalam hati


Setelah menemukan tempat parkir, ayah segera turun dari mobil dan mengambil kursi rodaku yang ayah letakkan di bagasi mobil. Menyiapkan kursi rodaku yang terlipat itu, lalu membukakan pintu penumpang depan agar aku bisa turun dari mobil. Aku pun segera berjalan mendekati kursi roda itu, lalu duduk disana.


Ayah mendorong kursi rodaku hingga menuju tempat pendaftaran, sedangkan ibu berjalan dibelakang ayah mengikuti kami. Aku mendengar ayah dan ibu begitu bersemangat dan antusias dengan semua kehebohan ditempat ini, tapi tidak denganku... Aku merasa kesepian meskipun tempat ini begitu meriah.


"Apa kamu senang sayang? Ini pertama kalinya kamu berada diluar rumah sejak dua tahun lalu" celetuk ibu padaku


"Aaa...I.. Iya.... Aku senang.." jawabku


"Ada apa? Apa kamu tertekan? mau pulang saja?" tanya ayah, mungkin memang aku tidak pandai berbohong sampai ayah tahu jika aku tidak suka berada ditempat ini.


"Eeh... Gak, tidak usah. Aku sudah memutuskan untuk ikut audisi... Tapi..." aku menggantung kalimatku lalu menghela nafas, aku menatap langit cerah pagi itu dan terdiam.


"Tapi apa, Luna?" tanya ayahku


"Kalau ini disiarkan di televisi... Apa kak Jester akan menemukanku?" ucapku


Aku tiba - tiba teringat jika ini akan disiarkan di televisi, dengan kuatnya media Werner yang menjadi sponsor utama.... Tentu saja seluruh penjuru negeri akan menontonnya, tidak terkecuali pangeranku kan

__ADS_1


"Ka... Kalau begitu, kita mundur saja. Bisa bahaya jika keluarga Gates menemukan Luna, entah apa yang akan mereka lakukan pada keluarga kita. Meski sudah berlalu dua tahun, bisa saja keluarga mereka masih dendam dengan apa yang luna lakukan pada anak mereka" dengan panik ibu mengatakannya, ayah sampai berhenti mendorongku seakan ayah menyetujui perkataan ibu.


"Be.. Benar juga..." celetuk ayah, aku menoleh kebelakang untuk menatap wajah ayah dan ibu yang panik itu.


"Ayah... Ibu.. Jika mereka memang menyimpan dendam padaku, sudah dari dulu mereka bisa menemukanku dengan semua koneksinya. Itu tanda jika keluarga Gates tidak serius mencariku" celetukku dengan nada kesal, seketika wajah panik ayah dan ibu menghilang lalu tertawa kecil karena malu.


"Kalau memang seperti itu, berarti tidak masalahkan kalau kamu ikut audisi meski ada kemungkinan tuan muda Jester melihatmu?" tanya ibu, aku menghela nafas lalu kembali menatap depan dimana banyak orang terlihat mengantri untuk mendaftar ikut audisi.


"Itu masalahnya... Aku tidak ingin kak Jester menemukanku, bukan karena takut dia akan balas dendam padaku, tapi karena... Mungkin saat ini Selena sudah menjadi pacar kak Jester dan mereka sudah bahagia bersama, kehadiranku mungkin akan mengganggu hubungan mereka" jawabku, lalu ibu memelukku dari belakang.


"Menurut ibu, nona Selena tidak akan marah jika kamu tiba - tiba muncul. Mungkin dia malah akan senang, lagian kamu sudah dua tahun ini mematikan handphone pemberian nona Selena yang jadi satu - satunya cara biar nona Selena bisa menghubungimu... Bisa jadi ini akan menjadi awal baru bagi nona Selena bisa berhubungan lagi denganmu setelah sekian lama" ucap ibu dengan lembut


"Benarkah?" tanyaku


"Ibu yakin itu benar, yuk kita daftar!" seru ibu


Ayah tertawa lalu kembali mendorongku mendekati antrian, namun tidak lama menunggu tiba - tiba aku melihat dokter Alora keluar dari antrian paling depan. Sepertinya dokter Alora juga mendaftar... Aku baru tahu hal itu...


"Ooh benar, itu dokter Alora..." celetuk ayah terdengar heran


"Apa dokter Alora juga ikut audisi? Kertas itu nomor urut peserta bukan sih?" timpal ibu


Tidak lama handphone ayah berdering, ayah segera mengeluarkan handphone dari saku celananya.


"Dokter Alora..." gumam ayah, lalu segera mengangkat telepon itu.


Ayah mengatakan di telepon itu jika dia melihat dokter Alora dari antrian pendaftaran, tidak lama aku melihat dokter Alora menatap kanan - kiri sampai akhirnya lambaian tangan ayah menjadi penanda bagi dokter Alora untuk menemukan kami.

__ADS_1


Dengan penuh semangat dokter Alora berjalan cepat mendekatiku, gestur tangannya memberi kode jika aku harus keluar dari antrian tanpa memberi tahu kenapa. Namun ayah dan ibu percaya saja dengan perintah dokter Alora saat itu, kami keluar dari antrian dan menjauh sedikit dari tempat itu.


Dokter Alora menunjukkan aku kertas bertuliskan nomor 0001 yang merupakan sebuah kertas yang harus aku gunakan sebagai peserta audisi ketika tampil, lalu tanpa kata dokter Alora meletakkan kertas itu di tanganku.


"Itu nomor urutmu, aku menunggu disini dari pagi buta dan nomor urut 1 akan membuatmu tidak terlalu capek menunggu giliran" serunya terdengar senang, aku terbelalak menatap wajahnya yang memang terlihat kusam seperti kurang tidur.


"Dokter sudah disini sejak pagi buta?!" tanyaku dengan sedikit teriakan karena aku terkejut dengan perkataannya itu


"Dokter tidak perlu melakukan itu, ya ampun" timpal ibu yang mungkin merasa tidak enak hati


"Dokter Alora, terima kasih atas perhatiannya pada anak kami" timpal ayah yang terdengar memiliki perasaan sama dengan ibu


"Tidak usah dipikirkan, aku melakukan ini karena aku juga ingin membuat Luna bahagia. Dengan begitu mungkin terapinya akan bisa lebih efektif" ucap dokter Alora, lalu dia membungkuk sedikit agar bisa menatap wajahku dengan sejajar.


"Luna... Kamu sebenarnya sudah sembuh, rasa sakit yang muncul setiap kali kamu berdiri itu cuma ada dalam pikiranmu. Jika kamu memiliki tujuan untuk bisa berdiri lagi, dokter Alora yakin kamu akan bisa berjalan normal kembali" dengan lembut dokter Alora mengatakannya, aku termenung mendengar apa yang dokter Alora katakan.


"Jadi... Luna sebenarnya sudah bisa... Berjalan kembali?" tanya ibu terbata, dokter Alora menghela nafasnya kemudian kembali berdiri tegak menatap ibu dengan senyuman.


"Luna sudah sembuh, hanya saja... Leukimia yang dia derita masih menjadi masalah utama, masa dua tahun istirahat total sepertinya berdampak baik pada beberapa penyakit yang menjadi komplikasi Leukimia yang Luna derita" jawab dokter Alora


Aku pun perlahan mencoba berdiri dari dudukku di atas kursi roda, ayah dan ibu mencoba untuk membantuku namun aku menolaknya dengan gestur tangan. Aku masih merasakan sakit dibeberapa sendi namun aku berusaha untuk mengabaikannya, hingga akhirnya aku bisa berdiri secara sempurna meski tubuhku bergetar menahan sakit.


"Bagaimana Luna? Apa aku benar?" tanya dokter Alora dengan senyum yang mereka menatapku berdiri tegak tanpa bantuan siapapun, aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya.


"Mungkin dokter benar, aku akan mencoba mulai dari sini untuk percaya kembali pada tubuhku... Aku siap untuk mengikuti audisi pertamaku" jawabku lalu memutar badan untuk menatap ayah dan ibu, ketika itu aku melihat ayah dan ibu menangis terharu sembari berpelukan namun tatapan mereka tertuju padaku.


"Ayah... ibu... Maaf merepotkan kalian selama dua tahun ini, aku ingin membuat kalian bangga... Izinkan aku memulainya mulai hari ini dan seterusnya..." ucapku, air mataku pun menetes melihat kedua orangtuaku menangis untukku.

__ADS_1


Anggukan kepala ayah dan ibu seakan menjadi penyemangatku untuk memulai mimpi baruku, aku melangkahkan kaki selayaknya orang normal yang menjadi langkah pertamaku tanpa bantuan dari siapapun untuk mendekati ayah dan ibu. Aku memeluk mereka dengan erat, begitu juga mereka kepadaku.


Hari ini aku akan melakukannya dengan baik, Luna Lincoln akan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih mimpinya.


__ADS_2