
"Luna" sapa kak Justin ketika itu
Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya disaat seperti ini, aku terkejut karena jujur saja aku belum menyiapkan hatiku saat bertemu dengannya. Dia pernah menyatakan cintanya padaku entah karena dia memang jatuh cinta padaku atau hanya karena dia kasihan melihat keadaanku, keberadaannya dalam hidupku tidak mungkin bisa aku pungkiri jika aku perna merasa... Nyaman bersamanya.
Tapi yang lebih membuatku terkejut adalah sosok wanita yang berada dibelakang kak Justin, saat itu aku melihat sosok Grece dengan sedikit perbedaan dalam penampilannya. Rambut panjang yang mencapai punggung kini dia potong sampai bahu, baju yang dia kenakan juga terlihat lebih sporty daripada biasanya. "Apa mungkin dia patah hati karena keputusanku lalu dia merubah penampilannya seperti ini ya? Bagaimana dengan nasib Aiko dan Yohan?"
"Kak Justin? Lama gak bertemu, kamu gak banyak berubah" ucapku membalas sapaannya, jujur saja aku mungkin sempat terdiam cukup lama sampai membuat Grece menatapku begitu tajam.
Saat itu secara bersamaan aku melihat kak Justin tertegun menatapku sembari tersenyum, mungkin hal itu membuat Grece cemburu. Tunggu... Ya, dia terlihat cemburu... Apa jangan - jangan... "Mereka berpacaran? Bagaimana bisa? Ya ampun kak Justin, beruntung sekali kamu bisa mendapatkan wanita seperti Grece. Selain cantik, dia juga anak orang kaya kan?" ucapku dalam hati, disaat itu cubitan tangan Grece kearah lengan kak Justin membuatnya tersadar dari lamunan.
"Kenapa kamu memandanginya seperti itu?!!" bentak Grece pada kak Justin ketika mereka saling bertatapan, kecemburuannya begitu terasa di telingaku.
Aku tertawa kecil mendengar perkataan Grece, ternyata mereka benar - benar sepasang kekasih. Siapa yang menyangka kak Justin akan mendapatkan pacar seperti Grece sedangkan aku dan dia adalah golongan masyarakat kelas bawah? Aku penasaran bagaimana mereka bisa bertemu, walau aku yakin Grece yang memulai pendekatan diantara mereka :)
"Pacarmu kak? Cantiknya~" pujiku sembari tersenyum pada Grece, sepertinya dia benar - benar tidak ingat siapa aku walau kejadian itu baru berjalan beberapa bulan yang lalu.
Aku memujinya untuk meredam api cemburu yang berkobar begitu panas, selain memang penampilan baru Grece membuatnya lebih segar tapi itu semua aku katakan dengan jujur. Aku tidak menyangka dunia akan sesempit ini, aku harus kembali bertemu dengan Grece setelah semua yang terjadi diantara kami dengan status dia adalah pacar kak Justin.
Benar saja, Grece langsung menoleh menatapku dengan mata berbinar. Dia terlihat senang dengan pujian yang aku lontarkan, Grece tetaplah Grece yang aku kenal.
"Werner Grece! Anak kedua dari Werner Turner pemilik jaringan televisi dan media terbesar di negara ini, kamu bisa memanggilku Grece saja tapi jika ditambah yang cantik juga gapapa! Aku pacar Justin yang paling cantik!" ucap Grece memperkenalkan dirinya sembari menggenggam kedua tanganku, aku tertawa mendengar perkataannya.
"Luna Lincoln... Gak ada yang bisa dijelaskan tentangku, senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik" ucapku
__ADS_1
Ketika itu senyum Grece mendadak hilang lalu dia menatapku dengan sangat tajam, sepertinya saat itu Grece mulai menyadari siapa aku. Tiba - tiba aku pun panik, aku takut Grece dapat mengenaliku saat itu. Aku yakin aku sudah menyamar dengan baik, rambut wig panjangku sudah membuatku berbeda dari apa yang biasa Grece lihat dariku dulu, belum lagi riasan untuk membuatku terlihat lebih muda dan tidak pucat, tentu Grece tidak akan menyadari penampilan masa SMA ku dulu dengan apa yang sudah dia lihat selama ini ketika aku berada di desa.
Ditengah panikku itu, kak Justin tiba - tiba menepuk pundak Grece untuk menarik perhatiannya. Tatapan mata Grece pun kini beralih kepada kak Justin, perlahan genggaman tangan Grece pun terlepas dari tanganku. Untuk sementara sepertinya aku selamat dari rasa curiga Grece, apa aku harus berterima kasih pada kak Justin untuk itu? Tapi sepertinya dia akan bingung kenapa tiba - tiba aku berterima kasih padanya, aku hanya tersenyum memandang kak Justin.
"Grece, aku ingin bicara berdua sama Luna. Bisa tinggalkan kami dulu?" pinta kak Justin pada Grece
Tidak hanya Grece, aku pun terkejut saat itu mendengar permintaan kak Justin. "Kenapa dia tiba - tiba ingin berbicara padaku? Apa dia ingin aku menjauhi kak Jester karena sangat mungkin jika kak Justin membenciku dan mendukung Naomi kan? Cerita Selena tentang kak Jester, Naomi dan semua yang terlibat membuatku tahu diposisi siapa kak Justin saat ini" ucapku dalam hati.
"Apa sih rahasia - rahasia? Aku gak suka ya!" agak membentak Grece mengatakannya
"Ini penting, tolong tinggalkan kami sebentar" tegas kak Justin menjawab perkataan Grece
Tanpa kata apapun Grece sepertinya menerima permintaan kak Justin meski hatinya merasa tidak suka, dia berbalik lalu berjalan meninggalkan kami begitu saja. Kak Justin pun duduk tepat di hadapanku, dia kembali tersenyum ketika mata kami saling bertatapan namun aku tidak membalas senyumnya.
"Tidak, aku yakin kamu salah paham dengan apa yang ingin aku tanyakan. Aku cuma mau bertanya, apa yang merubah pikiranmu sampai melakukan ini?" tanya kak Justin padaku, tatapan matanya kini terlihat iba padaku.
Senyumku pun mendadak berat untuk aku angkat kembali, mendengar suara dan juga tatapan penuh rasa iba dari kak Justin membuatku kembali teringat masa laluku. Aku begitu menyesali kenapa aku baru sadar ketika umurku sudah tinggal menghitung hari, aku mungkin tidak dapat menyelesaikan semua daftar impian terakhirku tepat waktu. Jika saja aku tidak lari dari masalah... Mungkin saat ini aku sudah menyelesaikan semua impian itu, penyesalan selalu muncul dibelakang. Yaah... Hanya kata itu yang bisa mengobati rasa sesalku selama ini, betapa bodohnya aku.
"Aku... Cuma ingin menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan dari dulu.... Lari dari masalah tidak akan membuat hati menjadi damai, namun waktuku juga tidak banyak.... Aku merasa beruntung yang menjadi pacar kak Jester adalah wanita sebaik Naomi, jadi aku bisa berlari untuk mencapai tujuanku" jawabku dengan suara sedikit gemetar karena aku ingin menangis saat itu, suara helaan nafas kak Justin pun terdengar.
"Sebagai orang yang tahu tentangmu sejak awal... Aku tidak menyangka kamu akan mengambil keputusan ini di detik - detik terakhir" timpal kak Justin yang terdengar sedih, seketika itu aku tersadar jika aku malah membuat kak Justin khawatir padaku.
"Maaf membuatmu khawatir kak dan maaf... dulu aku pernah menolak cintamu" timpal ku dengan senyuman
__ADS_1
Ini adalah kesempatan emas untukku mengatakan maaf padanya, aku telah merepotkannya selama ini dengan semua kebimbangan dan kebodohanku. Setidaknya aku berharap permintaan maafku dan juga penyesalanku dapat tersampaikan dengan baik kepadanya, karena kak Justin adalah salah satu orang yang paling berharga didalam hidupku. Aku tidak ingin meninggalkan dunia ini dengan menyisakan luka di hati kak Justin, meski aku tidak tahu alasan apa yang membuatnya jatuh cinta padaku.
"Tidak apa dan tidak usah dipikirkan, aku cuma ingin menemani hari - harimu. Tapi aku terkejut karena kamu juga menolak Jester, aku tidak bisa memahami apa yang kamu pikirkan saat itu. Boleh aku tahu apa pertimbanganmu?" tanya kak Justin terdengar sangat penasaran dengan apa yang terjadi dua tahun lalu ketika aku menolak pernyataan cinta kak Jester, kami pun bertatapan mata dengan ekspresi wajah serius meski kami berdua hanya terdiam tanpa kata.
"Tidak" jawabku singkat lalu aku tertawa memecahkan suasana tegang dan serius diantara kami, mungkin karena merasa dikerjai saat itu kak Justin pun ikut tertawa bersamaku.
"Tidak usah membahas masa lalu, aku sekarang cuma punya waktu tidak lebih dari tiga puluh hari dan tidak akan aku sia - siakan lagi dengan pemikiranku yang bodoh. Maukah menemaniku sampai saatnya aku akan pergi? Aku ingin menciptakan kenangan bersama kalian" pintaku padanya, aku tersenyum setulus mungkin dan berharap kak Justin menerima permintaanku.
"Aku yang akan menyelesaikan masalahmu dengan Luke dan Harry, semoga kamu bisa berbahagia Luna..." ucap kak Justin sembari berdiri dari duduknya, tidak lama saat itu kak Justin berbalik dan meninggalkanku ditempat itu.
Aku menatap punggungnya yang berjalan terus menjauhiku, saat itu aku kembai tersadar tentang betapa ketergantungannya diriku ini pada pundak kak Justin. Jika bukan karena kak Justin... Mungkin sudah bukan hal aneh aku ingin mengakhiri hidupku sejak dulu, dia yang selalu menemaniku selama ini dan tiba - tiba aku menghilang darinya tanpa kabar apapun selama dua tahun. Bahkan ketika kembali pun, kini aku harus merepotkannya kembali atas permasalahan yang tidak aku ketahui namun itu melibatkan kak Luke dan kak Harry seperti yang disampaikan kak Justin.
Setelah aku tidak dapat melihat kak Justin, aku pun kembali menatap buku yang aku bawa. Aku kembali membaca note kecil itu dan berharap aku bisa sampai ke Paris, sesuatu hal yang mungkin tidak pernah aku tulis dalam buku diary ini karena aku tidak pernah berharap aku dan kak Jester bisa sampai disana berdua. Ini adalah obrolan kami ketika kami SMA dulu, tentang seberapa sukanya kak Jester pada Paris. Aku yang saat itu tidak yakin bisa menemaninya, tentu hal seperti ini hanya akan menjadi beban tersendiri untukku ketika aku menulisnya.
Sembilan puluh menit berlalu, aku merasakan seseorang berjalan mendekatiku. Aku menutup note kecil itu lalu mengalihkan pandanganku menatap orang yang mendekat, aku melihat kak Jester saat itu berdiri menatapku dengan wajah datarnya. Tidak ingin terpancing dengan ekspresinya itu, aku membalasnya dengan sebuah senyuman manis kepadanya.
"Aku berpikir keras sepanjang pagi ini mencari tahu... Apa yang sebenarnya mengganjal di hatiku tentang aku... Kamu dan... Festival square" celetuk kak Jester memecahkan keheningan diantara kami
"Kotak pandora yang dikatakan Naomi benar - benar membuatmu lupa ya kak, tidak apakah aku ingin membukanya kembali?" tanyaku penuh penyesalan, suara helaan nafas berat kak Jester pun terdengar ketika itu.
"Jujur saja aku ingin menutupnya rapat - rapat dan jika mampu aku juga ingin membuangnya jauh - jauh... Tapi Naomi menyadarkan ku kalau apa yang aku inginkan hanya sebagai pereda sementara dari rasa sakit hatiku padamu dan tidak menyelesaikan apapun, aku yang sekarang akan berjuang sekuat tenaga untuk melupakanmu sampai ke akar - akarnya" jawab kak Jester lalu dia berbalik dan berjalan meninggalkanku menuju tempat parkir kampus
Aku hanya bisa terdiam ketika mendengar perkataannya, entah apa yang bisa aku katakan disaat seperti ini. Kak Jester benar - benar sudah menunjukkan seberapa bencinya dia kepadaku, meski itu wajar dan aku bisa menerimanya namun tetap saja hal itu membuatku sedih. Aku pun berdiri dan berjalan mengikuti kak Jester dibelakangnya, kami benar - benar menjadi dua orang asing yang terpaksa jalan bersama.
__ADS_1