Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 17


__ADS_3

Didepan rumah aku turun dari mobil sedangkan ayah langsung kembali kerumah Selena untuk bekerja, aku pun berlari masuk kedalam rumah dan saat itu ibu melihatku dengan wajah heran. Aku terlalu senang sampai - sampai aku tidak menghiraukan ibu dan terus berlari sampai kedalam kamar, aku membongkar isi lemariku dan memilih - milih baju yang pantas untuk mendampingi kak Jester.


Saat itu aku sadar kalau baju yang kumiliki semuanya terlalu sederhana untuk berdampingan dengan pangeranku itu, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku yakin masih ada baju yang bagus untuk aku kenakan kencan nanti, atau setidaknya tidak akan membuatnya malu.


"Ada apa nih? tumben anak gadis ibu bongkar - bongkar lemari" goda ibu padaku, aku pun mengalihkan pandanganku menatap ibu yang berdiri bersandar pada kusen pintu.


"Aaa~ ibu, aku tegang. jangan menggodaku seperti itu" jawabku, lalu ibu pun tertawa sembari berjalan untuk mendekatiku dan duduk di kasur.


"Siapa pria beruntung itu yang mendapatkan hati anak cantik ibu ini? boleh ibu tahu siapa namanya?" tanya ibuku, sejenak aku menghentikan aktivitasku dan menatap langit - langit kamar sembari menghela nafas.


Apa aku terlalu terlihat berbunga - bunga hingga membuat ibu menggodaku seperti itu? Lucu sekali jatuh cinta itu, tingkahku sangat aneh dibuatnya.


"Namanya... Jester Gates..." jawabku


"Hah? anak keluarga Gates yang kaya raya itu?!!" terkejut lah ibu mendengar jawabanku, aku pun mengalihkan pandanganku menatap wajah ibu yang masih kaget.


Aku tahu ibu pasti akan terkejut dengan nama itu, sejak aku kecil ibu memang selalu mengingatkan dan menanamkan untuk berhati - hati jika berhubungan dengan keluarga kaya raya. Aku selalu mengiyakan permintaan itu tanpa banyak tanya karena bagiku itu wajar, aku tidak pernah memahami alasan ibu karena ada keluarga Parker yang kaya namun tetap baik kepada keluarga kami. Keluarga Parker tidak mampu untuk mengubah pandangan ibu, aku harus tahu alasannya suatu saat nanti!


"Iya... kenapa bu?" tanyaku namun ibu terdiam dan menatapku dengan cukup serius tanpa senyum sedikitpun, aku dibuat heran dengan ekspresi ibu.


"Apa ada yang salah bu? apa aku tidak boleh dekat dengan orang kaya? apa ibu ingin melarang ku?" tanyaku lagi


"Dia orang kaya nak... apa kamu tidak takut dia hanya mempermainkan mu?" tanya ibuku dengan khawatir, aku tersenyum mendengar kekhawatiran ibu.


"Dia.... berbeda... lagian ini juga permintaan nyonya Marrie dan tuan William agar aku menemaninya" jawabku, lagi - lagi ibu terkejut dengan jawabanku.

__ADS_1


"Luna! tidak sopan orang seperti kita menyebut nama keluarga Gates dengan namanya!" ibuku pun memarahiku karena hal itu, namun aku menanggapi kemarahannya dengan suara tawaku.


"Aku tahu ibu akan memarahiku seperti itu, tapi jika aku katakan aku berani untuk menyebut nama karena permintaan langsung tuan dan nyonya Gates, apa ibu akan mempercayaiku?" tanyaku lagi


Wajah terkejut ibu kali ini berubah menjadi ekspresi yang aneh, seakan ibu tidak percaya padaku namun ibu menyadari jika aku tidak pernah membohonginya. Aku tertawa lalu kembali membongkar isi lemariku untuk mencari baju yang akan aku gunakan nanti malam, bersamaan dengan aktivitasku itu aku lihat ibu keluar dari kamarku.


Tidak lama ibu masuk kembali kedalam kamarku lalu menggenggam tanganku sembari meletakkan sejumlah uang di telapak tanganku, bukan sebuah nominal yang sedikit saat itu... aku yakin itu bukanlah uang yang terkumpul dengan cepat. Aku mengalihkan pandanganku menatap wajah ibu, ku dapati senyumnya merekah menatapku dengan mata yang terlihat berkaca - kaca.


"Gunakan uang ini. Beli lah pakaian yang indah juga pantas dan kalau masih ada sisa, gunakan untuk membeli parfum dan alat make up" ucap ibuku


"Hah?! gak, aku gak mau! ibu sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untukku dan ini hanyalah kencan receh yang gak bakal sebanding dengan uang yang ibu berikan ini!" aku pun menolak usulan ibu, namun tangannya kemudian menuntun jari - jemariku untuk menggenggam uang itu.


"Bahkan jika hanya tersisa tulangku saja, asal dapat mendukungmu untuk bahagia... ibu akan tetap memberikannya padamu" ucap ibuku


Aku tidak dapat menahan air mataku... aku menangis lalu memeluk ibuku dengan sangat erat, tanpa berkata apapun hanya ada suara isak tangisku. Aku meluapkan semua penderitaanku selama ini dalam satu tarikan nafasku ketika menangis dalam pelukan ibu, aku bersyukur dilahirkan dalam keluarga ini meski aku harus mengalami pahitnya penyakit dan perundungan.


Hingga pukul enam sore, kami sampai dirumah dan aku dapati sebuah mobil mewah berwarna kuning terparkir tepat didepan rumahku. Aku sudah katakan pada ibu jika kak Jester akan datang menjemput ku pada pukul delapan malam, namun ini baru jam enam sore dan aku yakin itu pasti bukanlah kak Jester.


Begitu aku dan ibu turun dari mobil taksi online, di pelataran rumah saat itu kami melihat kak Justin dan kak Jester sedang duduk di kursi teras yang tersedia di pelataran rumahku terlihat sedang mengobrol. Tentu saja aku terkejut dan segera mengeluarkan handphone dari tasku untuk memastikan jam berapa ini sebenarnya, "Jam enam? kenapa kak Jester sudah datang?" tanyaku dalam hati.


"Dia anak tuan Gates?" tanya ibu berbisik padaku, aku menganggukkan kepala dan bersamaan dengan itu kak Jester pun menatapku lalu berdiri dari duduknya, wajahnya terlihat begitu tegang ketika mata kami saling bertemu.


Dengan setelan kemeja merah maroon polos dan celana kain berwarna hitam lengkap dengan sepatu pantofel, kak Jester terlihat begitu formal seakan kami akan makan malam di sebuah restoran untuk kalangan eksekutif muda. Ayo lah... kita masih anak SMA, mana mungkin aku berfikir akan makan ditempat seperti itu kan. Sepertinya aku melupakan bahwa anak muda ini adalah anak muda dari kalangan atas, sedih sekali.... mengapa tidak terpikirkan hal itu olehku sebelumnya.


"Selamat malam nyonya Lincoln dan Luna" sapa kak Jester ketika aku dan ibu sudah dekat dengan pelataran rumah, ibu ku tersenyum menatap kak Jester dan kak Justin bergantian.

__ADS_1


"Selamat malam tuan muda Gates, senang bisa bertemu denganmu. Apa anda mengenal Justin?" tanya ibuku


"Eeh iya, aku dan dia teman sekelas ketika kami duduk dikelas satu SMA. Jadi kami saling mengenal" jawab kak Jester, kak Justin pun hanya tersenyum dengan jawaban kak Jester.


"Kak Jester, ini masih jam enam. kenapa kamu sudah datang? aku belum bersiap" tanyaku dengan sedikit rasa kesal


"Aku hanya tidak ingin terlambat, ahaha..." jawabnya begitu tegang, aku pun cemberut menatapnya.


"Aah iya sih... sepertinya aku terlalu dini datang, kalau begitu aku akan berkeliling seben..." belum selesai kak Jester berkata, ibu memotong.


"Tidak usah, masuklah kedalam jika tuan muda Gates berkenan" timpal ibuku


"Aaa itu lebih baik, terima kasih tawarannya nyonya Lincoln" ucap kak Jester menerima tawaran ibu


Aku, ibu, kak Jester dan kak Justin pun masuk kedalam rumah, diruang tamu kak Jester seakan bengong melihat rumahku. Mungkin baginya rumah ini tidak lebih dari kamar kak Jester, aku mendeham untuk menarik perhatiannya dan sekejap kak Jester langsung menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah. Aku berjalan meninggalkannya di ruang tamu bersama kak Justin, marah? tidak... aku tersenyum dengan sedikit suara tawa, pangeranku nurut padaku dan tidak berani protes... :)


Aku duduk didepan meja riasku, ku tatap wajahku dari pantulan dalam cermin dan bertanya - tanya "Kenapa kak Jester bisa suka padaku? dibanding kak Natalie... dia lebih cantik dariku". Overthinking lah aku.... takut mengecewakan pangeranku... :(


Aku berusaha dengan keras dan mencari tutorial didalam Ingram cara - cara mempercantik diri, aku ikuti semua tutorialnya dan berharap usahaku tidak sia - sia. Mengenakan mini dress dengan lengan pendek membentuk balon dan rok layer tebal dengan hiasan renda yang manis pada bagian bawahnya, serta warna pink muda nya yang lucu membuatku bersemangat untuk berkencan bersama pangeranku itu.


Make up natural dan sepatu pantofel berwarna senada dengan mini dress juga aku kenakan agar aku terlihat cantik. Tak lupa aku bawa sling bag berwarna fuschia dan sebagai aksesoris tambahan aku kenakan bando renda untuk hiasan di rambutku.


Aku pun merasa sudah siap dan ku langkahkan kaki menuju pintu kamar, dengan tarikan nafas panjang aku membuka pintu dan berjalan keluar. Setelah menutup pintu aku langsung hendak berlari kecil menuju ke ruang tamu, namun aku hampir bertabrakan dengan kak Justin yang baru keluar dari dapur dan kak Justin menumpahkan segelas kopi yang dia pegang saat itu sampai mengenai bajunya.


"Eeh.. maaf kak, aku terburu - buru" ucapku padanya

__ADS_1


Aku pun menatap matanya dengan perasaan menyesal, namun kak Justin terlihat bengong menatapku untuk beberapa saat. Aku memiringkan kepalaku sedikit untuk memberi tanda jika aku menunggu responnya atas permintaan maafku, namun kak Justin hanya tersenyum lalu mengelus rambutku dengan lembut dan meninggalkanku disana untuk kembali ke dapur.


__ADS_2