
"Aku... perlu waktu tuan Paul... aku masih... bimbang.." ucapku ketika seakan aku sudah diburu oleh waktu untuk segera menandatangani dokumen itu
"Ooh tentu... tentu, tapi jangan lama - lama ya. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Lunar" timpal tuan Paul
Setelah itu tuan Paul berpamitan untuk pulang dan menunggu kabar baik dariku, tidak lupa tuan Paul memberikan kartu namanya kepada ayah dan meminta ayah untuk segera meneleponnya jika aku sudah siap untuk menerima kontrak. Ketika ayah dan ibu mengantar tuan Paul sampai teras rumah, aku masih duduk terdiam menatap beberapa lembar kertas berisi kontrakku dengan perusahaan agensi profesional Tamamo Grup.
Aku berpikir tentang apa yang akan terjadi ketika aku bertemu dengan kak Jester dan juga Selena setelah selama dua tahun ini aku menghilang dari mereka, apa aku akan mengganggu hubungan mereka dengan kehadiranku? bagaimana pun aku meyakini jika Selena dan kak Jester kini sudah menjadi sepasang kekasih, aku hanya akan jadi pengganggu bagi mereka.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan? mau berbagi dengan kami?" tanya ibu padaku dengan nada yang terdengar begitu lembut, seketika itu aku tersadar dari lamunan dan langsung aku tatap wajah ibu dan ayah bergantian.
"Ini tentang... kak Jester..." jawabku terbata, ayah dan ibu pun terlihat bingung saat mendengar jawabanku.
"Tentang tuan muda Jester? ada hubungan apa?" tanya ayah terdengar bingung, aku menghela nafasku sejenak.
"Aku dapat informasi dari Grece jika Tamamo Grup adalah anak perusahaan dari Gates Family Grup.... jika aku menerima kontrak ini, aku akan.... bertemu dengan kak Jester kan?" terbata saat aku mengatakannya, ayah dan ibu langsung mengerti apa yang menjadi keresahan bagiku untuk menandatangani kontrak itu.
"Kalau begitu kamu bisa tetap berada disini dan menolak kontrak dari Tamamo Grup, mulailah meniti impianmu dari dasar" timpal ibu, aku kembali menghela nafasku setelah mendengar saran ibu.
"Aku sudah bilang kalau aku gak cara kerja Grece, gimmick yang mereka buat akan berdampak buruk untukku. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan penduduk desa tentangku jika aku mengikuti alur, tapi aku yakin mereka akan lebih membela Manda dari pada aku..." ucapku
"Sayang... mungkin sudah saatnya kamu mengenal penduduk desa" celetuk ayah padaku
__ADS_1
"Hah?! aku gak mau! aku malu untuk bertemu mereka!" timpal ku panik, aku benar - benar tidak nyaman jika berada didekat banyak orang. Mungkin karena aku sudah terbiasa menyendiri selama dua tahun ini, aku jadi anak nolep.
"Tidak apa, ibu dan ayah kenal beberapa orang baik. Ayo kita berangkat!" seru ibu sembari menarik tanganku
Ibu dan ayah menarik ku sampai kedalam mobil, meski aku merasa berat hati namun aku ikuti saja ajakan mereka. Saat itu mobil kami melaju pelan sampai menuju pusat desa. Ayah memarkirkan mobil didekat sebuah taman yang terlihat indah dan asri, aku melihat banyak warga desa yang beraktifitas diarea taman itu. Ayah dan ibu turun dari mobil dan mengajakku untuk keluar, aku enggan untuk menuruti permintaan mereka karena aku sangat malu harus berinteraksi dengan warga desa.
Ayah membuka pintu mobil dan memaksaku untuk turun dengan bujuk rayunya, dengan berat hati aku pun turun lalu ibu langsung menarik ku untuk mendekati warga desa disana. Aku dikenalkan dengan banyak orang yang dikenal oleh ayah dan ibu, sebagian besar dari mereka merasa kaget saat melihatku karena selama dua tahun ini aku tidak pernah terlihat.
Mereka sangat ramah padaku, beberapa dari mereka bahkan memberikanku coklat sebagai ucapan perkenalan. Sebuah kebiasaan yang membuatku tertawa jika mengingatnya, karena di taman itu aku bisa membawa pulang satu tas kresek besar berisikan coklat - coklat pemberian dari orang yang baru berkenalan denganku. Disana aku juga bertemu dengan Peter dan Manda, tidak jarang juga aku bertemu peserta lainnya yang ikut kompetisi bersamaku.
Sambutan hangat mereka berbeda dengan apa yang aku bayangkan selama ini, mereka tetap hangat bahkan ketika aku adalah pesaing anak dari kepala desa dan orang yang dianggap paling kaya di desa ini yaitu tuan Jhonson. Bahkan Manda, iya benar... Manda, aku tidak salah menulisnya.
Manda jauh lebih hangat ketika aku bertemu dengannya di taman ini, aku sempat berpikir dia akan dingin padaku setelah apa yang terjadi diantara kami. Ternyata tidak, Manda menyambut ku hangat meski aku merasa dia tetap saja menyimpan rasa cemburu padaku. Hingga sore menjelang, aku bahkan tidak dapat menghitung sudah berapa banyak orang yang telah aku temui dan berkenalan dengan mereka.
"Kamu bahagia sayang?" tanya ayah padaku, aku menoleh menatap wajah ayah dan mengangguk beberapa kali.
"Apa warga desa seperti yang kamu bayangkan?" tanya ayah lagi dengan nada yang terdengar sedikit menggodaku, aku sebel mendengar nada ayah.
"Iya.. iya.. aku salah... tapi aku mana tahu mereka akan sehangat ini padaku~" timpal ku dengan kesal, ayah dan ibu pun tertawa kecil. Bersamaan dengan itu, seseorang kembali menyapaku dan aku balas mereka dengan lambaian tangan serta sebuah senyum manis.
"Luna... coba perhatikan perkataan ayah baik - baik dan ayah ingin kamu tanamkan ini didalam hatimu yang sudah beku itu" celetuk ayah, seketika itu tatapanku kembali menatap ayah dengan serius.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya ayah yang selalu lembut dan selalu menuruti keinginan egoisku itu tiba - tiba bicara sangat serius kepadaku, aku cukup terkejut mendengar nada bicara ayah saat itu sampai membuatku kini fokus menatap mata ayah. Sejenak ayah terdiam dan menatapku cukup tajam, sepertinya ayah kali ini benar - benar ingin aku mendengarkan apa yang akan dia ucapkan.
"Tidak semua yang kamu pikirkan adalah kebenaran, kadang kala kamu terlalu berpikir buruk terhadap sesuatu yang sebenarnya pemikiranmu itu adalah sebuah kesalahan total. Berhentilah memandang dunia hanya diisi oleh kesedihan dan penderitaan, karena kebahagiaan hanya bisa tercipta dari hati yang mau menerima keadaan" terdengar bijaksana ayah mengatakannya padaku, aku termenung mendengar nasihat ayah.
Aku mencerna satu demi satu kalimat ayah yang membuatku malu untuk mengakui jika itulah aku, aku selalu memandang apapun dari sudut pandangku tanpa mau untuk memandang dari sudut pandang lain. Aku selalu menolak sesuatu yang diucapkan oleh orang lain dan menganggap apa yang aku pikirkan adalah benar, aku memang egois... aku sudah mengorbankan banyak orang demi keegoisanku, ayah, ibu, Selena, kak Justin dan bahkan... orang yang aku cintai... kak Jester...
"Sekarang... ayo kita bahas tentang kontrak dari Tamamo Grup, apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya ayah padaku, aku tersentak dan terdiam sejenak memandang wajah ayah.
"Aku... akan bertemu kak Jester dan dia akan marah padaku lalu memutus kontrakku, aku... juga akan mengganggu hubungan kak Jester dengan Selena, mungkin Selena akan marah padaku karena aku kembali.... dan bertemu dengan... kak Jester" jawabku terbata
"Bisa jadi tuan muda Jester akan senang dengan kehadiranmu, kamu bisa minta maaf padanya dan memberi selamat pada nona Selena atas hubungannya dengan tuan muda Jester. Apa kamu pernah memikirkan ini?" tanya ayah padaku lagi, aku kembali tersentak lalu membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan ayah.
"Lalu... apa yang kini membuatmu berat untuk terus bekerjasama dengan nona Grece?" tanya ibu padaku
"Aku... akan dibenci penduduk desa, mungkin mereka sekarang senang dengan kehadiranku tapi ke depan... siapa yang tahu seiring dengan semakin intensifnya kemelut ku dengan Manda" jawabku, ibu pun tertawa kecil mendengar jawabanku saat itu.
"Apa menurutmu penduduk yang ramah - ramah seperti ini akan mudah terprovokasi dengan apa yang ditampilkan dilayar televisi? sebagian besar dari mereka sangat memahami jika di televisi hanyalah sebuah setingan demi menarik popularitas, sayang" timpal ibu dengan sedikit suara tawa di setiap kalimatnya, aku yang terkejut mendengar perkataan ibu pun seketika menoleh menatap wajahnya.
Saat itu otakku terus berpikir tentang semua perkataan ibu dan ayah, sebuah sudut pandang yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Aku memang selalu hidup atas dasar pemikiran buruk ku sendiri tanpa mencoba untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain, harus aku akui jika aku berada dititik kebimbanganku karena ulahku sendiri. Aku selalu berusaha menyelesaikan sesuatu dengan caraku, namun semua berakhir dengan kesedihan dan kekecewaan.
"Keputusan tetap ada di tanganmu, ayah dan ibu akan selalu menjadi pendukung keputusanmu secara penuh" celetuk ayah ketika aku sedikit melamun saat itu
__ADS_1
"Ibu ingatkan padamu sekali lagi sayang, kami bangga kepadamu entah apapun keputusan yang kamu ambil. bagi kami, kehadiranmu ditengah kami adalah sebuah kebanggaan" timpal ibu
Aku meneteskan air mataku, aku begitu terharu mendengar kalimat ayah dan ibu yang terdengar begitu mencintaiku. Aku selalu saja kecewa pada hidupku tanpa pernah memikirkan tentang seberapa beruntungnya aku memiliki ayah dan ibu, kadang hal yang selalu kita miliki malah membuat kita lupa jika itu adalah hal terindah yang pernah kita miliki dalam hidup. Kita hanya terus menerus memikirkan seberapa menderitanya kita karena tidak mendapatkan apa yang orang lain dapatkan, dan itulah aku... aku akan berusaha merubah cara berpikirku mulai hari ini.