
Kami kembali menikmati film itu dengan canda tawa, perlahan aku melepaskan semua pemikiran berlebihan ku padanya dan membiarkan semua pikiran buruk itu melebur dengan suara tawaku dan tawa Luna malam itu. Senyum kami merekah dan ditengah film kami pun mengabadikan momen kebersamaan kami dengan berfoto bersama menggunakan kamera ponselku, beberapa kali kami mengambil foto dan Luna memintaku untuk menghapusnya karena dia merasa dirinya terlihat jelek.
Aku tertawa dan berpura - pura menghapus foto itu, aku sengaja tidak menghapusnya karena aku ingin memiliki banyak kenangan disaat ini bersamanya. Setelah puas berfoto saat itu Luna mengambil note kecil berwarna merah muda dari sela kursi dan pahanya, dia memberikan centang pada salah satu check list nya lalu menunjukkan padaku sisa apa yang harus kami lakukan setelah ini.
"Tidak ada masalah, kita tidak akan pulang sampai semua ini selesai" ucapku meyakinkannya, Luna pun terlihat begitu senang mendengarnya.
Dua jam pun berlalu dan film telah usai, aku berdiri lalu hendak mendorong kursi roda Luna untuk kembali kerumah sakit. Ditengah perjalanan ketika itu aku merasakan jika Luna tertidur, dia tidak mengatakan apapun dan tiba - tiba suasana menjadi begitu hening antara aku dengan dirinya. Sempat merasa cemas akan keadaan Luna, aku mencoba untuk memastikan kesadarannya.
"Luna, kamu baik - baik saja?" tanyaku sambil terus aku dorong kursi roda itu.
"Aku baik - baik saja, kenapa kak?" tanya balik Luna terdengar tenang
"Kamu... lebih diam dari biasanya, ada apa?" tanyaku khawatir, samar - samar aku mendengar suara tawa Luna.
"Aku ngantuk... maaf ya kak, aku merepotkan mu" jawab Luna, mendengar jawabannya hatiku pun terasa lega.
"Tidak apa, tidurlah.." dengan lembut aku mengatakannya
Sepanjang perjalanan Luna pun tertidur, sesekali aku mendengar suara dengkurannya. Aku pun berusaha mendorong kursi roda itu dengan sangat hati - hati agar Luna tidak terbangun karena guncangan yang mungkin timbul dari rusaknya trotoar, semua berhasil aku lalui dengan baik sampai kami tiba dirumah sakit. Didepan pintu masuk rumah sakit aku melihat ayah dan ibu Luna menunggu kedatangan kami dengan raut wajah yang cemas, melihat kehadiran kami ketika itu membuat ayah dan ibu Luna pun berlari kecil untuk mendekat.
"Apa Luna baik - baik saja tuan muda Gates?" tanya ayah Luna padaku, suaranya terdengar begitu mencemaskan keadaan Luna.
"Dia baik - baik saja... hanya tertidur sepanjang perjalanan..." jawabku berusaha sangat tenang agar tidak membuat keduanya semakin khawatir.
"Terima kasih tuan muda Gates..." timpal ibu Luna terdengar begitu sedih, ibu Luna pun terlihat meneteskan air matanya dan itu membuatku merasa tak enak hati.
"Tidak apa Nyonya Lincoln, ini adalah bentuk janjiku dengannya. Jadi tidak perlu sungkan" ucapku sedikit panik, aku tidak tega melihat ibu Luna menangis ketika itu. Aku merasakan betapa sedihnya hati nyonya Lincoln melihat anaknya sakit parah seperti ini, jika itu aku... haah, entahlah...
"Anda pria yang baik tuan muda Gates, tidak banyak orang yang akan peduli seperti anda jika dalam posisi seperti ini... Luna sangat mengganggu hubungan anda dengan nona muda Scott, entah jika bukan anda dan nona muda Scott yang Luna ganggu... akan seperti apa hari - hari Luna" ucap ayah Luna terdengar begitu sedih
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan..." timpal ku dengan senyuman, seketika itu aku melihat raut wajah keduanya terlihat begitu lega.
Ayah Luna pun mengambil kursi roda itu dari tanganku dan membawa Luna menuju kamarnya, ketika itu aku hendak berpamitan pada ibu Luna namun sepertinya ada hal yang ingin dia sampaikan padaku.
"Tuan muda Gates.. entah apa aku boleh mengatakan ini pada anda atau tidak..." celetuk ibu Luna ketika itu, ketika itu aku pun penasaran.
"Ada apa nyonya Lincoln?" tanyaku
__ADS_1
"Sejak SMP ketika dia pada akhirnya mengetahui tentang penyakitnya dan memiliki harapan hidup yang tidak lama, Luna selalu mengurung diri didalam kamar dan hanya termenung tanpa semangat sama sekali. Hanya nona muda Parker yang bisa membuat Luna untuk keluar dari kamarnya, namun Luna tidak pernah lagi tersenyum sejak saat itu. Sampai pada akhirnya setelah lulus dari SMP dan di SMA bertemu dengan anda..." jawab ibu Luna dan menggantung kalimatnya sejenak, ibu Luna terlihat mengatur nafasnya yang tidak beraturan itu karena tangisannya semakin deras.
"...Senyum Luna saat pulang sekolah... itu senyum termanis yang pernah aku lihat, senyum yang sudah lama terkubur... Luna mengatakan dia menemukan cintanya dan saat itu dia mulai rajin pergi berobat dan berkonsultasi dengan dokter, namun takdir sungguh kejam padanya... ketika itu dokter mengatakan kondisi tubuh Luna semakin memburuk..." belum selesai ibu Luna berkata, aku memotongnya...
"Apakah itu saat acara perpisahan kelas tiga di sekolah?" tanyaku mencoba menerka
"Benar... malam hari setelah anda mengantar Luna pulang sekolah, Luna kontrol dan dokter mengatakan tubuhnya sudah tidak mampu lagi bertahan... ketika itu senyumnya kembali menghilang, dia hanya bisa menangis dan tidak mau lagi meminum obatnya... dia begitu menyalahkan dirinya sendiri, dia sangat menyesal karena tidak dapat menemanimu selamanya... dia sangat..." aku kembali memotong perkataan ibu Luna karena aku tahu apa yang akan ibu Luna katakan saat itu..
"Aku juga mencintainya... sekarang aku tidak pantas untuk mengatakannya, namun aku rasa aku masih mencintainya... aku sangat menyesal tidak mengetahui kebenaran ini lebih cepat, tapi saat ini yang aku bisa lakukan hanyalah memastikan jika Luna bisa bahagia... dengan apapun yang mungkin bisa aku lakukan dan berikan padanya..." timpal ku sembari tersenyum, ibu Luna pun kembali menangis terisak - isak seraya mengatakan...
"Terima kasih... terima kasih sudah mencintai Luna dan memberikannya kenangan yang indah kepadanya... terima kasih untuk semua senyuman yang pernah anda ciptakan di wajah Luna..." dengan derai air mata yang begitu deras ibu Luna mengatakannya, tidak terasa air mataku pun menetes...
Tapi... saat itu entah dari mana aku mendengar suara.... Luna memanggil namaku...
Aku tidak berbohong... suara Luna mengatakan "kak Jester" begitu terngiang di telingaku...
Ditengah suasana haru antara aku dan ibu Luna, aku melihat keributan dari balik pintu kaca didalam rumah sakit, beberapa perawat terlihat berlarian dari arah kamar Luna berada. Perasaan khawatir pun begitu menguasai hati dan pikiranku, aku berlari meninggalkan ibu Luna didepan rumah sakit untuk masuk kedalam. Didalam aku sengaja mencegat seorang perawat yang tengah berlari - lari menuju ruang dokter, ketika itu aku menghentikan larinya dengan menahan lengannya.
"Ada keributan apa?!" tanyaku yang ikutan panik
"Pasien atas nama nona Luna Lincoln dalam kondisi kritis, akan dilakukan operasi darurat. Apa tuan anggota keluarga pasien?! dokter sedang menunggu untuk menjelaskan detailnya" jawab perawat itu, jawaban itu tentu saja membuatku tersentak dan semangatku pun.... meredup...
"Disana ada ruang dokter, anda tanyalah disana" jawab perawat itu sembari menunjuk sebuah ruangan.
Aku berlari kencang menuju ruang dokter, disana aku sudah melihat ayah Luna duduk bersandar pada tembok dekat pintu masuk ruang dokter dengan derai air mata yang begitu deras. Kepalanya yang tertunduk membuatku melihat betapa banyaknya air mata yang keluar, tubuhnya gemetaran hebat dan tanpa bertanya pun sebenarnya aku tahu seberapa gawat kondisi Luna saat ini.
"Apa... yang terjadi, tuan Lincoln..?" tanyaku dengan nafas yang kini terasa begitu berat
"Pembengkakan limpa Luna sudah tidak dapat ditoleransi... operasi pengangkatannya harus segera dilaksanakan... tapi ini sangat beresiko.." jawab ayah Luna terbata, membantu lah aku disana setelah mendengar apa yang terjadi pada Luna.
Mataku terasa gelap, tubuhku terasa begitu dingin, kakiku terasa lemas dan kepalaku teringat suara Luna. Didalam kepalaku terputar semua kenangan tentang Luna, senyumnya, tawanya, marahnya, manjanya dan semua ekspresi wajah yang pernah dia berikan padaku. "Ngiiiiiing" begitulah suara yang aku dengar memenuhi telingaku, aku tidak tahu apa itu tapi yang pasti aku... syok...
Entah apa yang terjadi, aku cuma merasa tuan Lincoln menuntunku menuju salah satu koridor tepat didepan pintu masuk ruang operasi. Pingsan Kah aku? aku tidak tahu... semua terasa begitu gelap dan otak ini terasa membeku, bahkan menangis pun aku sudah tidak bisa. Perasaan khawatir ini terlalu menguasai hati dan pikiranku, aku hanya membatu disalah satu kursi tunggu.
"Apa yang terjadi, Jess?!!" teriak Naomi tepat didepan wajahku, aku terkejut melihatnya yang sudah sedekat itu denganku.
"Aku tidak tahu... aku hanya dapat kabar kalau Luna harus menjalankan operasi sesegera mungkin..." jawabku terbata, seketika itu baru aku sadari ada Selena, Grece dan ibu Luna yang menangis bersamaan.
__ADS_1
Ketika mataku menoleh ke kanan dan ke kiri saat itu aku juga melihat ada Justin, Luke dan Harry, perlahan aku kembali menundukkan kepalaku. Yang bisa ku lakukan saat ini hanyalah menantikan janji Luna kepadaku, dia sudah mengatakan akan berusaha untuk sembuh dari penyakitnya. Yaa... dia telah berjanji padaku, janji kelingking yang sudah kita ikatkan...
Aku tidak tahu berapa waktu yang diperlukan sampai lampu tanda operasi sedang berlangsung padam, seketika itu aku, Naomi, Selena, Grece, dan kedua orang tua Luna beranjak dari duduk dan berlari kecil mendekati pintu ruang operasi. Harap - harap cemas menguasai hatiku, tanganku terasa begitu dingin dan jantungku berdegup sangat cepat.
Ruangan itu terasa begitu sunyi, sampai suara langkah kaki beberapa orang terdengar dari balik pintu yang tertutup itu. Tidak lama pintu pun terbuka, aku melihat tiga orang dokter dengan masih menggunakan pakaian untuk melakukan operasi keluar bersamaan dari ruang operasi itu. Dua orang dokter terlihat berjalan menjauhi kami dan hanya ada satu dokter yang berjalan mendekati kami, ketika sudah dekat dengan kami mata dokter itu pun menatapku.
"Tuan Gates, kami sangat menyesal dengan apa yang terjadi... operasi nona Luna... gagal..." ucap dokter itu sembari melepaskan masker
"Luna!!!" seketika itu aku mendengar suara jeritan Naomi, tangisan pun kembali pecah di ruangan ini...
Aku kehilangan semua tenagaku sampai membuatku terduduk dilantai, aku sudah tidak tahu apa dan bagaimana dengan teman - teman yang lain. Aku sudah tidak bisa merasakan apapun, hatiku terasa hancur, nafasku terasa begitu sesak, kepalaku juga terasa akan meledak seketika itu. Aku hanya diam tapi air mataku menetes begitu deras yang tetesannya membasahi kedua tanganku, aku melamun ketika itu sampai suara papa terdengar.
"Aku tahu hatimu terasa sangat pedih saat ini, nak. Tapi apa ini yang Luna inginkan? terpuruk dan menangis seperti itu?!" agak membentak papa mengatakannya
"Papa!! biarkan Jester menangis!! hatinya saat ini pasti remuk, papa!! apa papa tidak punya perasaan?!!" bentak Naomi yang nada suaranya terdengar begitu bergetar
"Apa... yang harus aku lakukan... sekarang, papa?" tanyaku
"Kamu harus jadi pria sejati nak, bangkitlah dan sambut Luna dengan senyuman" tegas papa menjawab pertanyaanku.
"Apa... yang harus aku... sambut? dia... sudah tiada... tidak bernyawa... tidak mendengar... tidak merasakan sentuhan... apa yang harus aku sambut... dari dia?" terbata aku menanyakan perkataan papa
Tidak lama aku mendengar bunyi roda brankar dari balik pintu dimana Luna menjalankan operasinya, ketika pintu terbuka aku masih saja mematung di tempatku. Entah kenapa semua janji - janji Luna kepadaku kembali terputar didalam kepala, "Dia tidak pernah menepati janjinya padaku, lalu untuk apa aku bersedih? aku seharusnya marah padanya!" begitu isi didalam kepalaku
Perlahan aku berdiri dan berjalan mendekati jenasah Luna yang berada diatas brankar, tubuhnya ditutupi selimut putih begitu pula dengan wajahnya. Tanganku perlahan membuka kain penutup wajahnya, dari balik kain itu aku melihatnya tersenyum. Matanya sudah tertutup rapat, wajahnya pun pucat pasi namun dia masih... tersenyum...
"Kenapa... kamu masih tersenyum?!" tanyaku padanya dengan bentakan
"Jester!!" bentak Naomi memperingatkan ku
Tapi tidak aku hiraukan peringatan Naomi ketika itu, aku meremas kedua bahunya lalu aku goncang tubuhnya dengan kuat untuk membangunkannya....
"Bangun!!! bohong!! dasar kau pembohong!!! aku tidak bisa terima ini!!! kalau kau pergi lagi, aku tidak akan pernah memaafkan mu!!! Bangunlah.... kembalilah.... jangan pergi kemanapun... jangan tinggalkan aku lagi... aku mohon, Luna...." itu yang aku katakan seraya terus mengguncang tubuhnya
Seketika itu Luke dan Harry menarik ku, lalu Luke mendorongku hingga menabrak tembok dibelakang begitu keras. Dia menahan ku disana...
"Kembali padaku!!! buka matamu, Luna!! Suaramu... biarkan aku mendengarnya sekali lagi... aku mohon... buka matamu..." aku meronta untuk melepaskan kuncian Luke, tapi aku tidak punya tenaga sedikitpun.... air mata ini begitu deras aku rasakan mengalir di pipiku, aku tidak terima dengan perpisahan ini...
__ADS_1
"Bangun Luna!!! kamu sudah berjanji padaku akan sembuh!!" teriakku lagi, ketika itu Luke pun membentak tepat didepan wajahku...
"Jangan bicara seperti pecundang!!! jangan bicara hal tidak berguna seperti itu!!! manusia yang sudah mati, hanya akan kembali ke tanah!! meskipun kau menangisinya, dia tidak akan pernah kembali!!! berhenti menangis meskipun hatimu terasa pedih, mau semenyedihkan apapun atau semenderita apapun dirimu... kau harus tetap tegar!! kau dengar aku, brengsek!!!" bentak Luke padaku