
Aku menuruti saran Selena untuk beristirahat total, kemarin dan hari ini aku tidak melakukan apapun selain merebahkan tubuh di atas kasur. Malam itu tepat pukul delapan, Selena dan kak Justin datang mengunjungi ku. Seperti biasa, Selena mengintip ku dari celah pintu yang dia buka secara perlahan. Ketika melihatku masih terjaga, dia pun membuka pintu untuk masuk kedalam kamar bersama kak Justin.
"Hai, gimana keadaanmu?" tanya kak Justin membuka obrolan
"Baik, lebih baik dari beberapa hari kemarin bahkan" jawabku dengan suara tawa kecil
"Semua sudah mendapatkan tiketnya, besok kita akan berangkat" timpal Selena
"Ya, terima kasih ya, lalu aku harus melakukan apa?" tanyaku
"Kamu hanya harus ikuti cara Selena, dukung semua ucapannya dan ikuti saja alurnya. Aku yakin kamu akan paham ketika sudah ada ditempat dan semua rencana bekerja, lalu setelahnya... aku harap kamu bisa menikmati perjalananmu" jawab kak Justin
"Luna, bersenang - senang lah. Cuma ini yang bisa aku berikan padamu, jadi... bersenang - senanglah... aku mohon padamu...bersenang - senanglah..." timpal Selena lalu dia menangis ketika itu, aku dan kak Justin tertawa bersama melihat Selena yang tomboi itu tiba - tiba menangis tanpa sebab.
"Jangan menertawakan ku!! Aku serius meminta orang ini untuk bersenang - senang!! cukup sudah penderitaanmu, kali ini tolong kamu bersenang - senanglah!!" bentak Selena begitu emosional
"Iya iya... aku akan mencoba untuk bersenang - senang besok" timpal ku dengan suara tawaku, tiba - tiba Selena menepuk dua pipiku cukup keras lalu menahannya.
"Tidak boleh di coba!! kamu harus!!" bentak Selena lagi dengan air mata yang berlinang, aku langsung merangkulnya dengan erat lalu membiarkan dagunya bersandar pada bahuku.
"Aku mengerti, terima kasih ya... sahabatku..." ucapku
Aku melakukan itu untuk membuat Selena agar menjadi lebih tenang, tapi yang terjadi malah dia semakin menangis. Entah kenapa tangisannya terdengar pilu sampai membuatku tidak bisa lagi untuk menertawakannya, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya atau mungkin apa yang terjadi ketika dia memberikan tiket itu kepada kak Jester dan Naomi. Saat itu juga Selena seakan tidak mau menceritakan tentang kejadian ketika dia memberikan tiket itu pada kak Jester dan Naomi, tapi aku yakin ada sesuatu yang terjadi ketika itu.
Malam itu aku, Selena dan kak Jester mengobrol bersama dengan tema diluar dari rencana kami ke Paris. Kebanyakan membicarakan masa lalu kami ketika kami masih SMA, yang membuatku kesal saat itu adalah ketika kak Justin mengatakan pada Selena jika dia sempat menembak ku. Selena begitu terkejut dengan perkataan kak Justin, bahkan dia sampai menekan ku dan mencari tahu kebenarannya langsung dariku. Selena yang begitu antusias membuatku malu untuk menjawabnya, tapi kak Justin malah terlihat menikmati aku yang dicerca pertanyaan oleh Selena tentang hubungan sebenarnya diantara aku dan kak Justin.
Aku pura - pura tertidur untuk memutuskan obrolan diantara kami, jujur saja aku malu untuk menceritakan kejadian dimana kak Justin yang tiba - tiba memintaku untuk menjadi pacarnya. Jangankan Selena, bahkan diriku saja masih tidak percaya jika dulu kak Justin pernah mengatakan ingin aku jadi pacarnya.
Hari pun berganti, ketika aku pura - pura tidur saat itu malah aku tertidur sungguhan. Ahahaha.... dasar aku... :)
Entah apa yang sudah dikatakan kak Justin dan Selena pada ayah dan ibu, ketika mataku terbuka di pagi hari yang cerah dan hendak bersiap berangkat ke Paris saat itu aku melihat koper - koperku sudah tertata rapih dengan semua keperluanku didalamnya. Aku cukup terkejut ketika itu, "Siapa yang menyiapkannya?" tanyaku dalam hati.
Aku berjalan keluar kamar dan diruang keluarga ketika itu aku melihat ibu dan ayah duduk bersama seraya menonton televisi, mendengar aku membuka pintu ketika itu mereka berdua mengalihkan pandangannya menatapku.
"Pagi ayah... ibu..." sapaku, mereka tersenyum padaku bersamaan lalu berkata...
"Pagi sayang" ucap ayah dan ibu bersamaan, aku memiringkan sedikit kepalaku menatap keduanya dengan heran namun garis bibirku masih dengan senyuman.
__ADS_1
"Ada apa ini? kenapa kalian terlihat senang?" tanyaku penasaran, keduanya saling bertatapan sebentar lalu kembali menatapku
"Karena anak ayah akan pergi keluar negeri untuk pertama kalinya, pasti menyenangkan ya" jawab ayah terdengar senang
"Jangan lupakan oleh - oleh untuk kami ya sayang, katanya di Paris banyak baju, tas, dan aksesoris yang bagus - bagus" timpal ibu dengan suara tawa kecilnya
"Aaa~ aku mana ada uang untuk itu ibu, aku berangkat aja semua biaya dari Selena" ucapku kesal, ayah dan ibu pun tertawa bersamaan.
"Nona Parker menitipkan kartu debit ini pada ayah, terus di kertas ini ada pin dari kartu debit itu" sembari menunjukkan kartu atm ayah mengatakannya, aku terpaku sejenak menatap kartu itu.
"Hah?!! untuk apa Selena melakukan itu!! Aaa~ Selena, awas aja nanti..." belum selesai aku berkata, ibu memotongnya.
"Nona Parker ingin kamu bersenang - senang, dia sampai nangis - nangis saat memberikan kartu ini. Ibu rasa nanti kalau ketemu, kamu jangan membahas tentang ini. Kalau tidak... rencana kalian akan berantakan, bagaimana menurutmu?" timpal ibu, aku terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang dikatakan ibu.
Ibu ada benarnya.... kalau aku marah - marah sama Selena saat kita bertemu nanti karena kartu debit ini, aku yakin akan timbul pertanyaan dari kak Jester, Naomi, kak Luke, kak Harry, maupun dari Sarah. Karena jika kami memang akan pergi bersama, kenapa juga Selena repot - repot menitipkan kartu debit ini padaku? yaah... walau kemungkinan itu masih terbilang kecil, tapi aku tidak ingin mengacau.
"Ibu ada benarnya~" celetukku
"Ibu memang selalu benar, tapi ada hal yang lebih benar sekarang" timpal ayah terdengar begitu serius, aku mengalihkan pandanganku menatap ayah.
"Apa itu...?" tanyaku
Aku pun segera menatap jam dinding dan benar saja, "Aku terlambat!!" teriakku dalam hati, aku segera berlari untuk bersiap - siap namun ibu dan ayah memintaku agar berhati - hati karena aku tidak boleh terlalu capek. Aku mengiyakan saran mereka, jadi aku melakukan persiapan itu dengan tenang meski hatiku gusar dengan waktu yang aku punya.
Akhirnya waktu yang aku impikan tiba, sedikit lagi untuk mencapai semua impianku. Daftar impianku harus aku centang semua, tersisa sedikit lagi Luna. Bersemangat Lah karena hari yang kamu impikan sudah didepan mata. Hari ini juga aku sangat bahagia karena ayah dan ibu terlihat bahagia dengan kepergianku ke Paris, semua harus berjalan sesuai rencana.
Ketika aku sudah selesai dengan semua persiapanku, aku diantar ayah dan ibu menuju ke bandara internasional. Selena berpesan pada ayah untuk menurunkan ku di terminal tiga karena semua akan berkumpul disana, mungkin aku akan menjadi orang terakhir yang akan sampai ditempat itu. Tapi ternyata tidak, ketika aku sudah sampai saat itu aku hanya bertemu dengan kak Jester, Naomi, Selena, kak Justin dan Grece.
Kak Luke, kak Harry dan Sarah terlambat....
"Arrrghh!! kemana sih mereka!!" begitu kesal kak Jester ketika mengatakannya, aku dan Naomi pun tertawa mendengar kekesalan kak Jester
Tidak lama setelahnya aku melihat kak Luke dan kak Harry berada ditengah - tengah kerumunan orang - orang lain yang juga memiliki agendanya di bandara ini, tanpa rasa bersalah saat itu kak Luke dan kak Harry menyapa kami semua. Tentu saja hal itu membuat kak Jester kesal, ketiganya kembali terlibat keributan seperti biasa dan yang sudah pasti adalah kami menjadi bahan tontonan orang lain di bandara itu.
"Haah~ selalu begini" celetuk Naomi, aku tertawa mendengarnya
"Mana Sarah? kamu tidak mengundangnya?" tanya kak Jester pada kak Luke
__ADS_1
"Dia sibuk, katanya kalau sempat dia akan menyusul kita" jawab kak Luke terdengar sedih, kemudian kak Jester pun tertawa terbahak - bahak begitu puas diatas penderitaan kak Luke.
"Kita akan berangkat satu jam empat puluh menit lima menit lagi, apa kalian mau sarapan dulu?" celetuk kak Justin tiba - tiba
Aku heran dengan ide kak Justin, "Bukankah dalam kurun waktu satu jam empat puluh lima menit itu sangat sempit untuk kita makan? bukannya lebih baik kita segera check in untuk mengambil boarding pass? apa rencananya sudah akan segera dimulai?" tanyaku dalam hati, aku hanya diam saja ketika itu karena baik kak Justin maupun Selena terlihat memainkan peran mereka begitu baik.
Ide kak Justin disambut baik oleh Naomi, Grece dan Selena, akhirnya kita semua memutuskan untuk mencari tempat makan yang tidak jauh dari pintu masuk terminal tiga. Disana kami memesan makanan yang kami inginkan masing - masing, ketika menunggu pesanan kami datang saat itu tiba - tiba kak Justin mengatakan....
"Hei, aku mau membeli beberapa souvenir disini. Ada yang mau ikut?" ajak kak Justin sembari menatap kak Jester, kak Luke dan kak Harry bergantian.
Mereka berempat pun pergi dari tempat makan ini untuk melihat - lihat disekitaran bandara, agak sedikit ribut ketika para pria ingin jalan - jalan saat itu karena Naomi juga ingin ikut namun kak Luke mengatakan jika itu adalah saatnya pria menghabiskan waktu bersama tanpa wanita. Ditengah keributan antara Grece, Naomi dan para pria, Selena mendekatiku lalu memberiku kertas kecil yang bertuliskan 'Toilet'.
Ketika membacanya aku sempat bingung dan bengong sejenak, belum juga aku berpikir tiba - tiba Selena meremas kertas kecil itu lalu membuangnya entah kemana secara diam - diam. Aku menatap Selena namun dia malah semakin terdiam seakan tidak ada apapun diantara kami, "Toilet? apa dia menyuruhku ke toilet? tidak bukan itu... ayo Luna, berpikirlah..." ucapku dalam hati dengan mengerutkan dahiku.
"Kami pergi dulu dan kalian jangan sampai pergi semua, biar gak banyak yang berpencar!" celetuk kak Justin ketika itu, seketika itu aku tersadar.
"Bukan, itu bukan perintah buatku. Tapi mereka memintaku untuk memisahkan kami semua, baiklah... aku mengerti kak Justin" ucapku dalam hati, ketika itu aku berdiri dan menatap Naomi, Selena dan Grece bergantian. Lalu aku katakan...
"Ada yang mau ke toilet?" ajak ku pada mereka semua
"Aku ikut deh" jawab Naomi menyambut ajakanku
"Aku juga, aku juga" timpal Grece
Dalam hati aku tertawa kecil, benar kode dari kak Justin kalau Naomi dan Grece adalah wanita yang gak pernah nurut sama pria. Larangan adalah perintah bagi keduanya, dengan segera kami bertiga pun meninggalkan tempat makan itu dan menyisakan Selena disana. Entah apa yang sebenarnya kak Justin dan Selena rencanakan, aku hanya diminta untuk menurut dan mengikuti alurnya. Untung aku gak lemot.... :)
Aku, Naomi dan Grece berjalan menuju toilet terdekat dengan obrolan ringan, ketika itu Grece bertanya padaku tentang namaku. Dia sepertinya mulai menyadari siapa Lunar dan siapa Luna sebenarnya, tapi aku menolak untuk menjawabnya dengan tawaku. Namun Grece tetaplah Grece, semakin ditolak maka dia semakin semangat untuk memaksaku. Aku tetap bersikeras jika aku bukan Lunar, saat itu Grece memintaku menyanyi di toilet.
Aku berlari untuk menghindari permintaannya, namun Grece tidak menyerah dan mengejar ku. Ketika itu Naomi yang menghentikan Grece sembari mengatakan jika itu adalah keputusanku untuk memberitahunya atau tidak, setiap orang pasti punya alasan tersendiri untuk menyembunyikan identitasnya. Grece pun memahami itu, tapi dia tetap mengatakan jika Lunar adalah aku dengan tegas. Aku tertawa saat itu tapi Naomi malah terlihat kesal pada Grece.
Kami kembali ke tempat makan dengan Selena masih terlihat sendiri disana, belum ada tanda - tanda para pria sudah kembali hingga makanan sudah tersaji diatas meja. Kami pun menyantap makanan itu bersamaan dan tidak lama para pria terlihat baru kembali dari jalan - jalannya, mereka berempat kembali duduk di kursi mereka masing - masing lalu bersama - sama menikmati menu pilihan kami.
Semua berjalan normal dengan obrolan ringan diantara kami menjelang keberangkatan kami ke Paris, hingga beberapa menit berlalu lalu kami segera beranjak untuk check in tiket keberangkatan kami. Di pertengahan jalan kami menuju loket check in, tiba - tiba kak Luke dan kak Harry mengatakan jika mereka merasakan mulas yang luar biasa. Keduanya meminta izin untuk ke toilet dengan terburu - buru sampai meninggalkan barang - barang milik mereka, kak Justin yang merasa khawatir pun mengatakan jika dia akan menjaga barang - barang kak Harry dan kak Luke lalu memerintahkan kami untuk check ini terlebih dahulu.
Ketika itu kami pun setuju dengan ide kak Justin karena memang waktu sudah terasa begitu sempit, saat itu aku, Naomi, kak Jester, Selena dan Grece segera menyiapkan tiket yang akan kami tukarkan dengan boarding pass di loket check in. Namun ketika itu Naomi, Selena dan Grece terlihat panik dan mengatakan jika mereka bertiga tidak menemukan tiket didalam tas mereka masing - masing. Aku terkejut dengan apa yang dikatakan Naomi, Selena dan Grece, kepanikan pun menyelimuti kami semua.
Ditengah kepanikan itu Selena mengatakan jika dia sempat membuang beberapa kertas yang berserakan diatas meja beserta beberapa tisu bekas pakai dan mengira itu adalah tiket milik mereka bertiga, pada akhirnya ketiganya meninggalkan aku dan kak Jester didepan pintu masuk terminal tiga bandara. Tidak jauh Naomi berlari, tiba - tiba dia berhenti lalu kembali berbalik untuk menatapku dan kak Jester yang masih mematung disana.
__ADS_1
"Kalian check in duluan aja, katakan pada petugas jika ada penumpang yang terlambat! dengan begitu kita masih bisa menunda keberangkatan!" teriak Naomi dari kejauhan
Meski berat hati, tapi aku dan kak Jester menyetujui ide Naomi. Aku dan kak Jester pun berlari masuk kedalam terminal tiga bandara untuk mengambil boarding pass kami, terpisah lah kami semua menjadi tiga kelompok. Kak Justin, kak Luke dan kak Harry ke toilet, sedangkan Naomi, Selena dan Grece kembali ketempat kami makan tadi, lalu ada aku dan kak Jester yang berdiri mengantri didepan loket penukaran tiket dengan boarding pass. Apa benar ini rencana kak Justin dan Selena? entahlah... aku hanya mengikuti alurnya...