
Ketika itu aku melihat kecemburuan Naomi yang begitu membara, aku tahu dia sedang terjebak dengan perkataannya sendiri yang mengizinkan aku untuk menyembuhkan luka di hati kak Jester yang disebabkan olehku. Aku yang saat itu duduk berhadapan dengan Naomi sempat ingin meredamkan rasa cemburunya, tapi kak Jester dengan segera mengelus rambut Naomi dengan lembut sembari berkata...
"Agak samar tapi sepertinya yang dikatakan Luna ada benarnya, ada yang mengganjal antara aku dan dia disana. Aku meminta izin juga" dengan suara yang terdengar lembut dan menenangkan saat kak Jester mengatakannya
Naomi.... Dia gadis baik dengan kebesaran hati yang luar biasa, dia juga sangat beruntung memiliki kak Jester dihidupnya. Aku tahu mengapa akhirnya kak Jester mencintai Naomi, karena memang hati Naomi itu baik dan dia layak mendapatkan cinta kak Jester yang selalu tulus.
Kami terdiam beberapa saat, aku saat itu terdiam karena terkejut kak Jester juga merasakan sesuatu yang mengganjal antara aku dengan dirinya di festival square. Meski dia lupa tentang hal yang mengganjal itu, tapi setidaknya kak Jester ingat aku dan dirinya pernah melakukan sesuatu di festival square. Sebuah janji yang pernah terucap antara aku dengan kak Jester, janji yang terpatri secara tidak langsung di hati kami masing - masing.
Aku masih mengingat dengan sempurna janji itu, tapi sayangnya... Aku lah orang yang mengingkari janji diantara kami, karena itulah aku yang akan menyelesaikan janji diantara kami agar kak Jester tidak lagi dihantui janji yang pernah kami ucapkan berdua.
"Ya sudah kalau kalian maunya begitu... Biarkan saja aku disini bersama pikiranku yang kemana - mana!" agak tinggi nada bicara Naomi saat mengatakannya, tapi aku tahu dia hanya gengsi untuk menolak permintaan kami.
Untuk Naomi yang tahu tentang mitos ditaman labirin tentu saja hal itu membuat cemburu bukan? tapi seperti yang sudah ku katakan, Naomi memiliki hati yang baik. Maafkan aku ya Naomi... aku pinjam kak Jester sebentar saja.
Ketika itu entah darimana aku terpikirkan tentang hal yang akan membuat Naomi sibuk sampai kehilangan kesempatan untuk berpikir berlebihan tentangku dan kak Jester yang akan jalan berdua ke festival square, impian nomor enam dari daftar impianku yaitu merayakan ulang tahun kak Jester. Aku bisa jadikan itu alasan agar Naomi memiliki kesibukan ekstra dan setidaknya dapat mempererat kembali pertemanan anatar Naomi dan Selena, jadi aku katakan saja padanya...
"Eeh.. Eeh tapi aku punya tugas untukmu dan Selena" timpal ku mengabaikan perkataan Naomi, perkataanku saat itu menarik perhatian kak Jester, Naomi dan Selena bersamaan.
Aku berdiri dan berlari kecil menuju kamar untuk mengambil note kecil berwarna pink dan sebuah ballpoint didalam tasku, dimeja rias aku menulis sebuah daftar belanja untuk mengadakan pesta ulang tahun kecil - kecilan. Setelah aku merasa semua sudah tertulis didalam note aku merobek lembaran note yang berisi daftar belanja itu, aku kembali berlari menuju ruang keluarga untuk menemui kak Jester, Naomi dan Selena lagi disana.
Aku memberikan selembar kertas note berisi daftar belanja itu kepada Naomi, ketika Naomi mengambilnya seketika itu kak Jester dan Selena bergeser tempat duduk untuk membaca isi note itu bersama - sama.
"Apa ini?" tanya Naomi kebingungan, aku tersenyum menatap Naomi.
"Empat puluh dua hari lagi kak Jester ulang tahun" dengan nada sesedih mungkin aku katakan itu, saat itu Naomi terkejut lalu mengalihkan pandangannya menatap kak Jester.
__ADS_1
"Benarkah? Kok aku gak tahu?" tanya Naomi kesal pada kak Jester, seketika itu kak Jester membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan Naomi.
"Ka.. Karena kamu gak tanya, lagian pria itu tidak pernah memamerkan hari ulang tahunnya, karena terdengar gak jantan" jawab kak Jester dengan nada datar, tapi sepertinya jawaban itu tidak memuaskan Naomi.
"Kalau memang seperti itu, kenapa Luna tahu hari ulang tahunmu?!!" tanya Naomi penuh amarah sembari mencubit perut kak Jester bertubi - tubi
"Aaww!! Naomi!! Aku bisa jelaskan!!" teriak kak Jester kesakitan atas cubitan Naomi, aku tertawa melihat tingkah keduanya yang diluar dari bayanganku.
"Ahaha.. Aku tahu hari ulang tahun kak Jester dari biodata di keanggotaan osis dulu saat SMA" timpal ku agar Naomi berhenti menyiksa kak Jester.
Seketika Naomi berhenti untuk mencubit perut kak Jester lalu segera menatapku dengan tajam, tapi dari sorot matanya aku tahu dia kecewa akan sesuatu yang tidak dia sampaikan padaku. Tapi jika aku mencoba untuk membacanya, Naomi mungkin cemburu padaku karena aku banyak tahu tentang kak Jester dibanding dengan dirinya. Bukankah seharusnya ketika kamu jatuh cinta pada seseorang maka kamu akan memperhatikan detail - detail kecil seperti itu? Tapi mungkin Naomi melupakan hal - hal kecil itu, entahlah...
"Karena masih empat puluh dua hari lagi... Aku tidak akan sempat untuk merayakannya bersama kalian, jadi jika kak Jester berkenan... Aku ingin pesta ulang tahunmu dimajukan" ucapku dengan nada sedih dan memelas agar kak Jester tidak menolak permintaanku
"Aku gak peduli sih... Kalau itu bisa membuatmu senang dan memberikan kenangan bersama, aku gak keberatan" timpal kak Jester yang menerima permintaanku tanpa pikir panjang
"Terima kasih" jawabku singkat namun penuh makna
Ku katakan itu dengan tulus disertai senyum semanis mungkin kepada kak Jester dan Naomi, mungkin saat itu aku berlebihan pada kak Jester. Karena aku sempat melihatnya yang berwajah datar tiba - tiba merona pipinya. Saat itulah kecemburuan Naomi kembali membara, aku melihatnya tajam menatapku setelah sebelumnya melihat kak Jester yang sempat terpesona padaku.
"Luna! Jangan menggoda Jester terus!! Kamu mau tebar pesona ya?!!" timpal Naomi dengan bentakan
Aku sebenarnya mau tertawa tapi sepertinya akan lucu jika aku kembali mengerjai Naomi saat itu, jadi yang aku lakukan saat itu adalah tersenyum sinis menatapnya lalu menggelengkan kepalaku beberapa kali seakan aku sedang mengejeknya. Tanpa kata aku yakin Naomi paham dari senyum dan gelengan kepalaku, aku memang seakan mengatakan jika aku masih bisa membuat pacarmu terpesona padaku. Ahahaha... Dan yang terjadi adalah...
Aku dan Naomi kembali saling serang kata - kata, kami seperti anak kecil yang ketika bertengkar maka kami akan melupakan kejadian hari ini di keesokan harinya. Sangat disayangkan aku bertemu dengannya saat usiaku sudah tidak lama lagi, aku menyesali kenapa saat itu aku tidak mau kenal Naomi padahal Selena berkali - kali ingin mengenalkan ku padanya. Entahlah, mungkin takdir memang sudah memutuskan hubunganku dengan Naomi akan seperti ini... :(
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu pertengkaran ku dengan Naomi pun selesai, setelah berpamitan dengan kak Jester saat itu aku, Naomi dan Selena bersama pergi ke kamar untuk istirahat. Di dalam kamar kami bercanda dan mengobrolkan hal - hal lucu yang tidak penting sama sekali, berbagi tips dan juga pengalaman yang kami miliki masing - masing. Sebuah obrolan yang cukup seru sampai tiba - tiba aku mulai merasakan hal tidak beres pada tubuhku...
Aku merasakan kesakitan yang luar biasa pada pinggul atas hingga bawah ketika kami sudah tertidur, aku terbangun dan merintih kesakitan. Namun sebisa mungkin aku tidak bersuara agar Naomi tidak terbangun, perlahan tanganku meremas tangan Selena untuk membangunkannya. Tidak lama Selena terjaga dan saat itu dalam kegelapan kamar mata kami bertemu, aku bergeser sedikit untuk membisikinya.
"Selena... Tolong... Ambilkan obatku..." ucapku dengan rintih kesakitan, mendengar ku merintih saat itu Selena langsung buru - buru bangun dan berlari mengambil obat - obatan yang ada didalam tasku.
Mungkin karena paniknya Selena hampir saja membangunkan Naomi dengan keributan langkah yang dia buat, dengan tenaga yang tersisa saat itu aku membuat suara 'psssstt..' untuk memberi tanda pada Selena agar dia lebih senyap. Selena menangkap kodeku dengan sangat baik, dia pun berjalan pelan untuk mengambilkan aku air di dapur. Tidak lama setelahnya, Selena kembali membawakan aku air dengan obat - obatan ditangannya. Aku segera duduk dan meminum semua obat - obatan itu, lalu segera kembali merebahkan tubuhku kembali karena rasa nyeri semakin menjadi - jadi saat aku duduk.
"Te... Terima kasih..." ucapku bergumam
"Semua baik - baik saja? Kamu harus periksakan diri..." tanya Selana yang juga bergumam, aku hanya mengangguk sembari tersenyum padanya.
Perlahan aku memejamkan mataku berharap obat itu segera bekerja dan membuatku tertidur, aku merasakan tangan hangat Selena menggenggam tanganku. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkan keadaanku, tapi tidak ada yang bisa aku perbuat saat itu agar Selena berhenti mengkhawatirkan ku hingga aku pun terlelap.
Ketika aku terbangun, aku sudah melihat malam pun berganti pagi. Perlahan aku duduk dengan perasaan takut terjadi sesuatu pada kedua kakiku, namun saat itu aku melihat Naomi duduk di meja riasnya dengan botol - botol bekas make up milikku yang aku isi obat - obatan didalamnya. Selena lupa untuk kembali membereskan botol berisi obat itu, aku terdiam sejenak melihat Naomi yang sibuk dengan perawatan wajahnya.
"Pagi Luna, apa aku membangunkan mu?" tanya Naomi ketika mata kami bertemu dari pantulan wajah kami di cermin.
"I..iya.." jawabku singkat dan terbata, aku takut Naomi membuka botol - botol itu dan menemukan berbagai obat didalamnya.
"Make up mu banyak jenisnya, tapi aku tidak pernah melihat kamu memakainya selama kamu tinggal disini. Kapan kamu aplikasikan, Luna?" tanya Naomi sembari membalik tubuhnya untuk langsung menatapku yang masih terduduk di kasur
"Eeh.. Aku.. Aku selalu menggunakannya dikamar mandi sebelum ini..." jawabku terbata
Hanya itu yang aku pikirkan untuk menjawab pertanyaan Naomi, tapi aku tidak bohong. Setelah selesai mandi maka make up yang tebal ini selalu luntur karena air, aku harus terus menutupi wajah pucat ku selama tinggal disini. Namun sepertinya jawabanku tidak membuat Naomi percaya, dia terdiam menatapku dengan wajah datar untuk beberapa saat.
__ADS_1
Seketika itu aku tersadar, mungkin saja Naomi sempat membuka salah satu botol itu setelah memegangnya. Satu saja botol sempat Naomi pegang maka tentu akan ada bunyi tidak wajar dari dalam botol kan? Isi make up yang seharusnya berbentuk cair itu malah aku isi dengan berbagai jenis obat - obatan, suara gemericik ketika botol sedikit saja bergerak tentu akan menarik rasa penasaran siapa pun yang memegangnya. Apa ini akhir dari sandiwaraku? Aku benar - benar sudah tidak memiliki jawaban apapun jika Naomi sudah tahu apa isi dari setiap botol make up ku itu.