
Semua di mulai ketika aku baru sampai di rumah lamaku dengan perabotan yang terlihat sangat berdebu, jaring laba - laba ada dimana - mana, dan juga lantai yang begitu kotor karena debu. Ketika itu aku, ayah, dan ibu bekerjasama untuk membersihkan rumah dari semua kotoran yang ada. Tentu saja bukan hal yang mudah, apa lagi aku sering merasa lelah akhir - akhir ini yang membuat aku tidak bisa bekerja secara maksimal.
"Sudah, biar ibu dan ayah saja yang bekerja. Kamu carilah tempat untuk istirahat, hindari tempat berdebu dan jangan ke loteng karena kita tidak tahu apa ada kayu yang lapuk atau tidak" celetuk ibu ketika melihatku terduduk dilantai dan bersandar pada tembok
"Iya ibu, aku bisa mengukur sendiri tubuhku sudah tidak kuat atau masih sanggup membantu ibu dan ayah" timpal ku dengan sedikit suara tawa
"Apa kamu sudah menelepon rumah keluarga Parker sayang?" tanya ayah padaku, aku menggelengkan kepala beberapa kali.
"Eem eem... belum aku lakukan, mungkin setelah selesai dengan semua pekerjaan rumah baru aku akan hubungi keluarga Parker" jawabku, lalu ayah memberikan handphone miliknya kepadaku.
"Disana ada nomor telepon rumah keluarga Parker, kamu bisa gunakan handphone ayah" ucap ayah, aku pun menerima handphone itu lalu meletakkannya dilantai sebelahku.
"Terima kasih, ayah" ucapku
Ayah dan ibu melanjutkan untuk membersihkan rumah, sedangkan aku beranjak dari tempatku untuk duduk di teras depan rumah membawa handphone ayah untuk menelpon rumah keluarga Parker. Mataku tertuju pada sebuah rumah yang dulunya ditempati oleh kak Justin bersama keluarganya, namun sekarang tidak lagi. Aku mendengar dari ayah yang diberitahu oleh tetanggaku yang lain yang mengatakan jika keluarga kak Justin pindah sejak ayah kak Justin diterima kerja disebuah perusahaan besar namun mereka tidak tahu perusahaan apa itu.
Aku senang mendengar berita itu, tidak terasa senyumku pun terangkat bersamaan aku melihat rumah kak Justin yang sudah sepi tidak berpenghuni itu. Bersamaan dengan itu, kenangan tentang kak Jester yang mengunjungi rumahku pun kembali terputar dalam kepalaku. Aku ingat ketika kak Jester datang untuk menjemput ku di kencan pertama kami, ketika itu dia datang lebih awal dari jam kita janjian.
Sebuah kenangan yang lucu, kan? apa lagi jika mengingat bagaimana aku mendapatkan baju pertamaku dengan harga mahal ditambah itu adalah pengalaman pertamaku masuk kesebuah toko baju mahal didalam mall, semua demi kencan pertamaku bersama pangeranku. Namun sayang... keseruan itu harus berakhir dengan kisah yang menyedihkan, aku menyesali apa yang terjadi ketika itu.
Sebuah pembelajaran untukku ketika aku akan berhadapan lagi dengan kak Jester nanti, aku cuma berharap Selena mengizinkan aku pinjam kak Jester untuk sementara waktu. Ahaha... lucu sekali kisah cintaku ini, aku harus meminjam seseorang yang sebelumnya aku relakan dia untuk sahabatku. Aku begitu egois saat itu tanpa memikirkan apa dan bagaimana perasaan orang - orang yang menjadi korban keegoisanku.
"Luna, melamun?" tanya ibu sembari menepuk pundakku, aku menoleh kebelakang dan aku dapati wajah khawatir ibu.
"Aaa~ ibu, aku hampir saja gagal jantung karena kaget" godaku, kami pun tertawa ketika itu.
"Kamu gak jadi telepon keluarga Parker? katanya kangen sama nona Selena" tanya ibu, aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan ibu.
"Apa yang kamu pikirkan? dari tadi ibu lihat kamu diam dan menatap rumah Justin" tanya ibu, aku menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan itu sembari kembali menatap rumah kak Justin.
__ADS_1
"Aku... rindu masa - masa dimana kak Justin menemaniku, dia temanku sejak aku masih kecil kan? rasanya tidak ada hari dimana aku tidak bertemu dengannya" jawabku
"Itu benar, kamu dan Justin sudah bersama sejak umurmu masih.... sangat kecil ibu rasa, apa itu saat kamu usia empat tahun ya? ibu agak lupa" timpal ibu terdengar bingung, aku tertawa kecil mendengar kebingungan ibu.
"Sepertinya ada yang sudah bertambah tua nih.... sampai lupa sama hal - hal seperti itu" godaku, ibu pun langsung menjewer ku pelan.
"Heh! gak sopan ya sama ibu" agak membentak ibu mengatakannya
Seketika itu aku dan ibu tertawa bersama, aku pun kembali membantu ibu untuk menyapu rumah sedangkan ayah saat itu memperbaiki genteng kami yang nampak bocor. Kami bekerja sama untuk membersihkan rumah yang sudah ditinggalkan selama dua tahun itu sampai senja tiba, meski belum selesai semua namun rumah kami sudah cukup layak huni.
Aku membantu ibu memasak di dapur untuk makan malam kami, sedangkan ayah masih sibuk dengan aktifitas tukangnya memperbaiki rumah kami yang mulai sedikit.... reyot, Ahahah... tidak, aku tidak sedang menghina rumah seribu kenanganku ini. Tapi memang begitulah keadaannya, dua tahun tanpa perawatan. Mau gimana lagi, yah sudahlah.
"Genteng sudah selesai, jika hujan mungkin tidak akan sampai bocor" celetuk ayah ketika ayah sampai diruang makan, aku dan ibu tertawa hampir bersamaan.
"Perkataanmu sepertinya tidak meyakinkan, John" celetuk ibu dengan sedikit suara tawa
"Ayolah... aku ini seorang akuntan dan bukan seorang tukang, jadi ini usaha paling maksimal yang bisa aku lakukan sebagai satu - satunya pria di rumah ini" timpal ayah, kami tertawa bersama.
"Besok kamu harus bertemu dokter Richard untuk konsultasikan kesehatanmu" celetuk ibu, aku menghela nafas mendengar perkataan ibu.
"Bu... apa ayah dan ibu punya uang untuk memeriksakan ku?" tanyaku
"Itu urusan kami, kamu kan sudah janji sama dokter Alora" jawab ibu
"Iya... aku tahu itu, tapi dokter Alora gak tahu kondisi keuangan kita kan?" ucapku memberi alasan yang menurutku akan masuk akal untuk menolak memeriksakan kesehatanku, ibu menjewer ku sebelum menimpali perkataanku.
"Aaaw aaw... iya iya... aaw" rintih ku, seketika itu ibu berhenti menjewer ku
"Luna.... kamu ingat berapa banyak hal yang sudah ayah dan ibu turuti dari keegoisanmu?" tanya ibu sedikit menekan ku, mendengar jawaban itu aku tersentak lalu menatap wajah ibu yang begitu marah padaku.
__ADS_1
"I..ibu... marah?" tanyaku terbata, ibu menggelengkan kepalanya beberapa kali namun ekspresi marahnya masih ibu tunjukkan di hadapanku.
"Ibu~ berhenti menatapku seperti itu~" rengek ku kepadanya, namun ibu bergeming.
"Banyak... ibu dan ayah sudah banyak menuruti keinginan egoisku, aku mengerti itu" ucapku dengan nada kesal, aku pun membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan ibu.
"Kali ini saja, ibu minta tolong padamu. Tolong turuti permintaan kami, ibu mohon padamu begitu pula dengan ayah" pinta ibu padaku dengan memohon, aku sampai terkejut mendengar permintaan ibu yang seperti itu.
Tidak biasanya ibu memintaku sampai seperti itu, aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan mereka berdua dariku. Tapi melihat ibu yang seperti itu membuat aku.. tidak punya pilihan lagi selain menerima permintaan kedua orangtuaku, aku mengangguk beberapa kali tanpa berkata apapun untuk menerima permintaan ibu.
Malam pun berganti, di pagi hari pada keesokan harinya aku, ayah dan ibu sudah siap untuk berangkat menuju rumah dokter Ellie. Ayah mengatakan jika dokter Richard sedang ada kesibukan jadi dokter Richard menyerahkan pemeriksaan kesehatanku ke dokter Ellie, sebenarnya tidak ada masalah dan aku pun lebih senang bertemu dokter Ellie daripada dokter Richard. Dia lebih mau mengerti keinginanku, aku benarkan?
Perjalanan kami menghabiskan waktu dua puluh lima menit, ketika itu aku langsung dibawa menuju rumah sakit Scott. Sebuah tempat yang sudah sangat akrab bagiku, bau kaporitnya, orang - orang berbaju putih yang lalu lalang di koridornya, dan juga suara - suara dari mesin kesehatan yang hanya mengeluarkan suara "tiit...tiiit... dan tiiitt". Aaah... nostalgia, namun tidak menyenangkan.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung mengikuti beberapa pemeriksaan medis. Setelah rangkaian pemeriksaan medis sudah aku lewati saat itu aku menunggu giliranku untuk bertemu dokter Ellie, aku melihat ada empat pasien lainnya yang juga menunggu gilirannya. Orang - orang di sebelahku sama pucat nya denganku dan ditemani satu sampai dua orang yang menunjukkan wajah khawatirnya, aku mengerti perasaan mereka semua. Mereka tidak jauh sama menderitanya denganku, entah apa yang sudah mereka alami sejauh ini tapi aku yakin mereka pun menderita dengan takdir.
Disaat aku memperhatikan pasien - pasien lain, saat itu tiba - tiba ibu menepuk pundakku. Aku menoleh menatap ibu dan aku melihat ekspresi wajah ibu juga mengkhawatirkan ku, aku mengernyitkan dahiku karena bingung kenapa tiba - tiba ibu menatapku seperti itu. "Apa permintaan semalam ada hubungannya dengan pemeriksaan ku hari ini?" tanyaku dalam hati
Semua rasa penasaranku atas permintaan ibu kemarin malam terjawab lunas ketika giliranku tiba untuk bertemu dokter Ellie, semua terjawab lunas sampai aku tidak dapat berkata - kata lagi ketika dokter Ellie membacakan rekam medis ku yang baru saja aku lakukan.
"Hah... apa... katamu?" tanyaku terbata, aku syok berat ketika itu.
"Maaf, aku tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini lagi... aku harus katakan sejujurnya agar Luna bisa fokus untuk menyembuhkan dirinya..." jawab dokter Ellie dengan nada yang terdengar sedih dan begitu menyesal, ayah dan ibu pun menangis ketika itu.
"Katakan lagi!! kamu pasti bercanda kan!!!" bentak ku pada dokter Ellie, ayah langsung menepuk pundakku berkali - kali untuk menenangkan emosiku yang memuncak.
"Cukup Luna, cukup. Berhenti untuk membantah perkataan dokter, kamu sudah janji sama ibu untuk bekerjasama dengan kami kan?" agak membentak ibu mengatakannya
"Ibu bercanda?! dia mengatakan tentang kematian seseorang dengan sangat ringan!! katakan lagi padaku, apa katamu tadi?!!" bentak ku
__ADS_1
"Luna, dengarkan. Organ tubuhmu sudah banyak yang rusak, aku melihatmu masih sanggup berdiri dan datang kemari saja sudah membuatku terkejut! kali ini dengarkan kami, bekerjasama lah dengan kami!! karena jika tidak, maka umurmu tidak lebih dari empat puluh hari lagi!" bentak dokter Ellie padaku dengan derai air mata yang tiba - tiba mengalir deras membasahi pipinya.