Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 9


__ADS_3

Setelah musik berhenti dan aku juga selesai menyanyikan lagu yang aku bawakan, Grece dan Yohan langsung memberi tepuk tangannya sembari berdiri. Aku juga mendengar riuh tepuk tangan dari penonton yang hadir sesaat setelah Grece dan Yohan bertepuk tangan, aku menunduk sedikit untuk memberikan rasa terima kasihku pada mereka semua.


Aku rasa saat itu aku tersenyum lebar karena bahagia, lampu sorot itu kini meredup dan lampu - lampu lainnya mulai menyala ke seluruh penjuru panggung. Kini aku bisa menatap Grece, Yohan, dan tuan Jhonson ada di hadapanku dengan jelas, aku kembali menundukkan tubuhku untuk memberi gestur ucapan terima kasih kepada mereka. Aku tertawa kecil dan hatiku terasa bahagia...


Yaa... aku merasa... bahagia...


Sebuah rasa yang sudah lama aku pendam dan aku lupakan, aku larut dalam kesedihan dan kegelapan lebih dari dua tahun. Aku hampir lupa bagaimana cara bahagia dan tertawa, aku sudah lupa semua itu. Hari ini menjadi titik balik dari apa yang sudah aku jalani selama dua tahun lebih itu, sebuah masa dimana kesepian, kesedihan, dan rasa kecewa pada diri sendiri sudah terasa akrab bagiku.


Nafasku terengah - engah... aku merasa bernyanyi dengan cara yang biasa saja tanpa memaksakan diri, tapi entah kenapa aku sampai terengah - engah seperti ini. Tapi jika aku rasakan lebih dalam lagi... aku mungkin terlalu bahagia hari ini, jantungku berdetak cepat, hatiku terasa berbunga - bunga... aku senang :)


"Lunar!! kamu luar biasa, awal aku tahu kamu akan menyanyikan lagu dari Avril Lavigne dengan judul Wish You Were Here, aku merasa kalau kamu sedang meremehkan kompetisi ini. Tapi kamu membawakannya dengan penuh penjiwaan, kami benar - benar merasakan soul dari lagu itu" ucap Yohan memujiku, aku tersenyum menatapnya dan kembali membungkukkan tubuhku sedikit sembari berkata...


"Terima kasih.." jawabku dengan suara yang terengah - engah karena nafasku masih juga belum normal


"Ada yang bilang jika sudah cantik, meski tidak dandan pun akan tetap terlihat cantik. Kata - kata itu benar - benar cocok untuk menggambarkan bagaimana kualitas suaramu, secara resmi aku menjadi penggemar pertamamu di kompetisi ini!" seru Grece memujiku, aku tertawa kecil sembari kembali menunduk dan mengucapkan terima kasih.


"Aah yah Lunar... meski kamu mendapat pujian tapi disini aku ingin mengkritik mu sedikit" celetuk tuan Jhonson padaku, seketika suara "BOOO.." dari para penonton terdengar.


Aku melihat Grece dan Yohan serentak menatap tuan Jhonson bersamaan, tapi sepertinya tuan Jhonson tidak bergeming dan tetap akan memberikan kritik padaku. Yaah... tentu saja aku tidak akan bisa memuaskan semua orang kan? jadi aku menunggu kritik membangunnya dan berharap aku bisa memperbaiki di tantangan selanjutnya.


"Kami disini untuk mengkritik, jadi tidak salahkan jika aku berkata seperti itu" ucap tuan Jhonson ketika suara "BOO" dari penonton mereda


"Apa itu tuan Jhon?" tanya Yohan penasaran


"Pertama benar kata Yohan kalau kamu seakan sedang meremehkan kompetisi ini..." belum selesai Tuan Jhonson berkata, Grece tiba - tiba memotongnya.


"Tidak ada yang salah dari lagunya, Lunar membawakannya dengan sangat baik dan aku rasa kita disini menikmati lagu itu" timpal Grece membelaku, tuan Jhonson pun menoleh menatap Grece


"Nona Grece, ayolah.. kita ini juri jadi harus obyektif" ucap tuan Jhonson, seketika suara "BOO" dari penonton kembali terdengar.


"Sudah... sudah, silahkan tuan Jhonson" ucap Yohan berusaha menengahi, lalu tuan Jhonson pun menatapku kembali.


"Kompetisi itu harus menunjukkan kemampuan terbaik di setiap tantangannya, kamu tidak bisa menunda - nunda untuk menunjukkan kemampuanmu karena belum tentu besok kamu akan tetap bertahan" ucap tuan Jhonson kepadaku

__ADS_1


"Maaf tuan Jhonson, aku akan memperbaikinya di tantangan berikutnya" timpal ku


"Yang kedua, aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan ketika hendak tampil hari ini. Tapi pakaian yang kamu gunakan juga terlalu sederhana, apa mungkin kamu memang berniat untuk meremehkan kompetisi ini?" tanya tuan Jhonson padaku, seketika aku menatap penampilanku dari sepatu sampai baju yang aku kenakan saat itu.


"Tidak ada yang salah dari penampilan Lunar, dia menggunakan pakaian yang cocok untuk lagu yang dia bawakan" timpal Grece


"Nah karena itu nona Grece, aku rasa Lunar terlalu meremehkan kompetisi ini. Mungkin dia merasa jika kompetisi hanyalah permainan belaka" dengan tegas tuan Jhonson mengatakannya, seketika suara "BOO" dari penonton kembali terdengar.


"Tenang... tenang semuanya, kita dengar apa jawaban Lunar" ucap Yohan


"Aaah... hmm, sebenarnya tidak sesederhana yang dikatakan tuan Jhonson. tentang pemilihan lagu, aku memilih lagu itu karena aku merasa dihari perdana untuk kompetisi ini aku harus membaca peluang kemenangan dan kemampuan dari peserta lain" jawabku dengan senyuman dan nada yang seramah mungkin


"Hoo jadi ini strategi kamu ya?" tanya Yohan padaku, aku menganggukkan kepalaku beberapa kali.


"Benar, aku harus membaca situasi dan juga lagu yang baru saja dibawakan oleh lawanku. Jika sebelumnya lawan memainkan lagu dengan beat cepat, aku akan menurunkan beatnya sedikit agar pembawaan lagu yang aku nyanyikan tidak membuat perbedaan besar dan mempengaruhi suasana hati pendengar" jawabku, seketika tepuk tangan dari Grece, Yohan dan para penonton terdengar riuh.


Aku memberikan gestur untuk mengucapkan terima kasih pada mereka, tidak lama Aiko dan tuan West berjalan mendekatiku. Mereka kembali membawakan acara untuk pergantian peserta berikutnya, aku pun diarahkan untuk menuju belakang panggung kembali. Dibelakang panggung yang menjadi tempat untuk para peserta menunggu, aku sudah disambut peserta lainnya yang terlihat antusias menatapku.


"Aaa aku gak bakal menang karena kamu, Lunar.. kamu jahat~"


"Hei, kamu ikut les vokal? bagaimana caramu bernyanyi seperti itu?"


"Meski kita berkompetisi, tapi aku akan menjadi penggemarmu yang nomor dua setelah Grece"


Silih berganti mereka semua melontarkan pujian kepadaku, aku benar - benar tidak tahu mengapa mereka memujiku sampai seperti itu. Respon positif orang - orang padaku terkesan berlebihan, "Apa benar aku bernyanyi sebaik itu? mereka sedang mengejekku atau gimana sih?" tanyaku dalam hati


"Hei, penampilan yang sangat baik. Darimana teknik membawakan lagu penuh penjiwaan seperti itu?" tanya Peter padaku, aku menatapnya dengan heran karena aku tidak mengerti apa yang baru saja dia tanyakan.


"Penuh penjiwaan?" tanyaku


"Iya, kamu membawakan lagu itu seakan kamu sangat memahami jiwa lagu itu dan kamu menyampaikannya kepada pendengar sampai mereka ikut merasakan apa yang kamu pikirkan dan rasakan" jawab Peter


"Duh biasa aja, dia membawakannya sama seperti orang pada umumnya. Kalian ini kenapa sih? berlebihan banget" timpal Manda terdengar sangat kesal, aku tertawa kecil lalu berjalan melewati mereka semua.

__ADS_1


"Terima kasih pujiannya, ayo kita berjuang sampai akhir bersama - sama dan mencoba untuk terus menjadi yang terbaik"celetukku saat berjalan melewati mereka semua.


Aku kembali duduk ditempat awal aku berada disini, dipojok ruangan yang terdapat sebuah jendela kaca. Aku menatap langit cerah siang itu sembari memikirkan tentang apa yang baru saja Peter katakan tentang penjiwaan lagu, seketika aku teringat tentang kak Anthony teman kak Justin... aku belajar darinya untuk membawakan lagu dengan baik dan dapat sampai kehati para pendengar.


"Kak Justin... kamu sedang apa ya selama dua tahun ini?" gumamku, aku teringat semua kenanganku bersamanya mulai dari umurku lima tahun sampai terakhir aku bertemu dengannya di usiaku yang menginjak enam belas tahun.


"Justin hah? apa itu nama pria yang kamu campakkan?" tanya Peter, aku kembali terkejut seketika itu karena aku benar - benar tidak sadar Peter ada di dekatku dan bahkan dia mendengar gumaman ku.


"Peter!! sudah aku bilang jangan kagetin aku gitu!!" bentak ku padanya, aku sangat marah saat itu namun dia menanggapi kemarahanku dengan tawa.


"Iya iya maaf, aku gak niat. Bener deh, kamu aja suka melamun" timpalnya dengan suara tawa terdengar puas, aku langsung memunggunginya tanpa menanggapi apapun perkataannya.


"Hei maaf ya, aku benar gak niat kok. Tadi aku berjalan di belakangmu, tapi kamu gak sadar bahkan ketika aku duduk disebelah mu juga. Apa yang membuatmu sering melamun?" tanya Peter padaku, aku menghela nafasku cukup keras agar dia paham aku marah padanya.


Tiba - tiba dia menyodorkan ku coklat batangan dari belakang, aku terkejut karena tiba - tiba dia memberikanku coklat. Aku menepis tangannya lalu membalik tubuhku untuk menatap wajahnya, dia tersenyum lalu menunjuk belakang dimana peserta lain berkumpul bersama.


"Jangan salah paham, aku juga memberikan coklat yang sama pada mereka semua. Gak peduli wanita atau pria, aku memang suka membagikan coklat pada temanku" celetuknya


Karena merasa ini bukan tindakan yang spesial yang hanya dia khususkan padaku, aku berpikir jika tidak akan jadi masalah antara aku dan Manda kalau aku menerima coklat pemberian Peter. Jadi aku langsung ambil coklat ditangan Peter dengan kasar, aku langsung membuka bungkus coklat itu, lalu memakannya. Seketika suara tawa Peter kembali terdengar, aku pun menoleh menatap wajah Peter sembari terus menikmati coklat pemberiannya.


"Apa?!" tanyaku dengan bentakan


"Kamu ini lucu ya, apa kamu tahu kalau sikapmu itu bisa dengan mudah menarik hati lawan jenismu?" tanya Peter padaku


"Peter!!" bentak ku padanya


Peter terus berusaha menggodaku dan semakin membuatku kesal padanya, aku ingin hari ini segera berakhir karena aku sudah tidak tahan dengan apa yang Peter lakukan. Dia sangat menggangguku dengan candaan dan kata - katanya, meski aku tidak ingin menanggapi dan bersikap cuek tapi itu percuma karena Peter selalu berhasil untuk menarik perhatianku.


Hingga beberapa menit berlalu, semua peserta pun telah tampil untuk menunjukkan kemampuannya. Kami dipanggil semua keatas panggung dan disana para juri yang terdiri dari Grece, Yohan dan tuan Jhonson akan memutuskan siapa yang akan pulang dihari pertama ini.


Pada hari pertama kompetisi ini aku tidak menjadi pemenang karena nilaiku terpaut sepuluh poin dari Manda, aku menjadi juara kedua dan Peter menjadi juara ke lima. Manda terlihat sangat senang saat itu dan aku bahagia untuknya, dia sempat mengejekku dengan menjulurkan lidahnya padaku tapi aku menanggapinya dengan senyum dan tawa kecil.


Jalanku untuk mencapai impian masih panjang, ini masih menjadi hari pertama dan akan ada hari - hari berikutnya yang entah akan terjadi apa. Dua tahun ini aku menjalani hidup datar tanpa memiliki interaksi dan konflik apapun, yaah... itu karena aku menutup diri dari dunia luar, tapi aku tidak menyesali apa yang sudah aku lalui. Aku akan mencoba terus menikmati hidupku dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2