
"Kembali lah pada Jester!! Aku mohon padamu" ucap Naomi dengan derai air mata yang membasahi pipinya
Sebuah kalimat yang tidak akan pernah aku bayangkan akan Naomi ucapkan setelah apa yang terjadi diantara kami, setelah aku tahu seberapa besar cinta Naomi untuk kak Jester dan juga sebaliknya, setelah aku tahu apa yang sudah mereka korbankan untuk mempertahankan hubungan mereka, aku tidak pernah membayangkan akan mendengar Naomi mengatakan hal yang pernah aku katakan dulu pada Selena.
Suasana menyenangkan setelah kami melalui pesta ulang tahun kak Jester mendadak berubah menjadi menyedihkan dengan air mata Naomi yang mengalir deras, sejenak kami terdiam dan tetap saling tatap. Disaat terdiam itu aku pun teringat kejadian kemarin malam ketika Naomi pulang dari menjenguk seseorang bernama Becca, iya benar... Semua mungkin dimulai ketika itu, pasti ada hubungannya dengan kejadian kemarin malam.
Aku memang tidak tahu apa yang terjadi pada Naomi, tapi aku yakin itu cukup berat. Permintaannya kepadaku yang sangat mustahil itu buktinya, karena aku juga mengalami hal yang sama dulu. Wajah kesedihan Naomi membuatku juga merasakan kesedihan yang sama. Apa yang sedang terjadi Naomi....?
"Tidak bisa kan? Kamu memang gak ada niat untuk membantuku..." ucap Naomi sembari menundukkan kepalanya, ketika itu aku menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menata pikiranku agar aku tidak terpancing kesedihan Naomi.
"Baik, Aku akan ambil Jester darimu" tegas aku mengatakannya, aku melihatnya tersentak ketika aku menyetujui permintaannya.
Perlahan kepalanya mulai terangkat untuk menatapku, ekspresi wajahnya yang terlihat kaget itu membuatku yakin jika sebenarnya Naomi tidak rela jika aku mengambil kak Jester darinya. Entah apa yang terjadi padanya, namun aku lega ternyata apa yang Naomi lakukan itu karena sebenarnya dia mencintai kak Jester.
Yang benar saja !! mana mungkin aku benar - benar mengambil kak Jester dari Naomi, yang ada aku hanya akan memberikan lagi luka untuk kedua kalinya kepada kak Jester dengan kepergianku. Permintaan Naomi semakin membuktikan sebesar itu cintanya untuk kak Jester dan itu membuatku bahagia.
"Ahahaha.... Sudah aku duga kamu akan terkejut seperti itu saat aku menerima permintaanmu" celetukku ketika itu
"Apa maksudmu?!" agak sedikit emosi saat Naomi bertanya, dia terdengar kesal padaku.
"Naomi~ kamu yang sangat mencintai kak Jester, bagaimana mungkin hatimu akan menerima keputusan bodoh mu itu?" tanyaku dengan sindiran, Naomi menatapku tajam seraya mengernyitkan dahinya.
"Ini demi kebaikannya! Untuk kebahagiaannya... Aku takut membuatnya kecewa..." jawab Naomi lalu dia menundukkan kepalanya lagi, ketika itu aku kembali melihatnya meneteskan air matanya.
Meski saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi aku meyakini satu hal setelah mendengarnya mengucapkan kalimat tadi. "Daniel... Kamu telah merenggut semuanya dari Naomi ya? Pria brengsek seperti apa kamu sebenarnya?" tanyaku dalam hati, aku menghela nafasku sejenak sebelum mengatakan...
"Aku tahu apa yang kamu rasakan... Kamu tahu, sejak pertama aku melihat kak Jester saat itu aku langsung jatuh cinta padanya..." celetukku seraya berjalan menuju salah satu kabinet dapur untuk bersandar padanya, entah kenapa aku merasakan linu pada kedua kakiku saat itu.
"Saat itu... Aku takut untuk jatuh cinta padanya, sampai - sampai aku takut buat dekat dengannya.. Mencintainya membutuhkan banyak keberanian" ucapku, aku pun menatap langit - langit dapur untuk mengingat semua hal yang pernah menjadi kenanganku bersama kak Jester diawal -- awal pertemuan kami.
Semua kenangan aku putar kembali ketika itu, semakin dalam aku mengingatnya semakin merasa bodoh pula aku dibuatnya. Aku seharusnya tahu kak Jester begitu mencintaiku kala itu, namun aku selalu bimbang untuk menerima cintanya dan hanya berpikir tentang diriku saja. Aku dibutakan oleh pemikiran negatif ku sendiri tanpa pernah bertanya padanya, apa aku sudah melakukan hal yang benar. Pada akhirnya, aku hanya bisa menjadi luka dalam untuk kak Jester.
"Tapi yang kita hadapi itu kak Jester loh... Pria terbodoh yang mungkin pernah kamu temui di dunia ini, dia tidak akan segan - segan menunjukkan seberapa cintanya dia padamu. Saat ada didekatnya, kamu akan benar - benar merasakan bahwa ketakutanmu itu hanya ada didalam pikiranmu saja" ucapku lalu mengalihkan pandanganku untuk menatap wajah Naomi, ketika itu mata kami pun bertemu dan aku melihatnya masih terus meneteskan air mata.
"Naomi... Tidak ada satupun diantara kita semua yang akan membantah perkataan bahwa kak Jester sangat mencintaimu, apapun pemikiran buruk mu tentangnya... Percaya padaku, itu hanya pemikiranmu semata. Kak Jester pasti akan memaafkan mu seberapapun kecewanya dia padamu" dengan lembut aku mengucapkannya sembari tersenyum, dengan sisa - sisa kekuatan pada kedua kakiku yang terasa nyeri itu aku berjalan untuk mendekati Naomi lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Sebagai sosok yang pernah saling mencintai dan begitu mengenal kak Jester, aku yakin aku bisa membuat Naomi membuang semua pemikiran buruknya untuk meninggalkan kak Jester. Hanya bermodalkan naluriku saja, aku mencoba untuk menguatkan hatinya agar dia tetap bertahan sampai kak Jester sendiri yang memutuskan apa hubungan ini akan berlanjut atau malah akan berakhir.
"Entah aku benar atau tidak, tapi aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kak Jester dan kamu merasa hal itu akan membuat kak Jester kecewa berat padamu.... Memang berat, aku tahu. Tapi kak Jester tetaplah kak Jester, percayalah... Kamu hanya membuang - buang energimu jika berpikiran buruk tentangnya" aku berusaha mengucapkannya selembut mungkin agar apa yang aku katakan sampai pada hati Naomi
Tangan Naomi perlahan mendekat tubuhku yang masih memeluknya dengan erat, tubuh Naomi semakin bergetar dan air matanya juga semakin tidak mampu dia bendung. Aku membiarkannya terus menangis di bahuku sembari aku belai lembut kepalanya, aku tahu beban berat yang sedang Naomi pikul.
"Aku takut... Takut Jester kecewa padaku dan dia meninggalkanku... Ketika dia kecewa padaku..." terdengar pilu saat Naomi mengatakannya
"Tidak akan, aku yang sangat jahat ini saja bisa dimaafkan olehnya, apa lagi kamu yang dicintai kak Jester..." timpal ku, aku melepaskan pelukanku lalu menggenggam kedua bahunya dan mendorongnya sedikit agar mata kami dapat saling bertatapan.
"Ingat ini baik - baik Naomi! Kita pasti pernah mengecewakan seseorang, tapi yang perlu kita pikirkan itu bukan rasa bersalah kita namun bagaimana cara meminta maaf padanya dan memberikan yang terbaik untuk orang yang sudah pernah kita kecewakan. Paham?" tegas aku mengatakannya, Naomi menganggukkan kepalanya beberapa kali menanggapi perkataanku.
"Aku mengerti" ucap Naomi sembari menyeka air matanya, aku pun melepaskan genggaman tanganku dari kedua bahunya lalu kemudian kembali mencuci piring - piring kotor yang tersisa.
"Terima kasih, Luna... Aku harap kita bisa menjadi teman selamanya..." celetuk Naomi ditengah aktivitasku itu, aku tersentak sampai membuatku membatu sejenak saat mendengar celetukannya.
"KIta akan berteman selamanya, terima kasih mau mengganggap ku sebagai temanmu" timpal ku lalu aku kembali mencuci piring - piring itu, tidak lama Naomi pun kembali membantuku.
Setelah membereskan semua kekacauan itu, kami semua pun memutuskan untuk beristirahat dan membiarkan malam ini berlalu. Tapi ketika itu aku merasakan nyeri yang teramat sangat pada pinggulku tepat pada tengah malam ketika semua sudah tertidur, aku juga sempat mimisan beberapa kali dan untung saja Selena membantuku untuk membereskan semua kekacauan dan juga menyiapkan semua obat - obatan yang aku siapkan di botol - botol bekas skincare milikku.
"Luna, kamu harus periksa" celetuk Selena kepadaku
"Uuughh.. Gak mau.. Nanti ayah sama ibu tidak mengizinkan aku untuk disini lagi..." timpal ku seraya merintih kesakitan
"Luna! Jangan egois! Kamu harus periksakan kesehatanmu! Karena kalau tidak..." belum selesai Selena berkata, aku memotongnya.
"Aku akan mati?" timpal ku
"Luna!!" bentak Selena penuh amarah, kami pun terdiam untuk beberapa saat.
"Luna... Kamu ingin menyelesaikan semua daftar impianmu itu kan?" tanya Selena padaku terdengar lembut, aku tersentak ketika itu.
"Ingat Luna, kamu tidak akan bisa menyelesaikan daftar itu kalau sakit mu diketahui kak Jester atau Naomi.. Mereka pasti akan melarang mu untuk bersikap egois seperti kamu bersikap padaku, mungkin saat itu Naomi akan memaksamu untuk masuk ke rumah sakit Scott milik ayahnya dan tidak mengizinkanmu keluar rumah sakit itu sampai kamu benar - benar sembuh. Apa itu yang kamu inginkan?!" bentak Selena padaku aku hanya bisa diam saat itu.
Tidak lama Selena memberikan ponsel miliknya kepadaku, aku menatap ponsel itu sebentar lalu mengalihkan pandanganku untuk menatap mata Selena.
__ADS_1
"Telpon tuan Lincoln dan minta jadwal untuk periksa, jika tidak... Aku tidak mau lagi membantumu..." ancam Selena ketika itu, aku menghela nafas sembari mengambil ponsel Selena dari tangannya.
Aku menelepon ayah dengan ponsel itu, lama tidak ada yang mengangkat sampai pada percobaan ke empat akhirnya ayah mengangkatnya.
***
"Selamat malam nona Parker, apa Luna baik - baik saja?!" ucap ayah terdengar panik, aku tertawa kecil ketika mendengarnya begitu panik.
"Ayah... Ini aku" jawabku, aku mendengar ayah menghela nafasnya.
"Syukurlah kamu baik - baik saja, kenapa menelepon ayah tengah malam? Kamu ingin di jemput? Apa kamu sudah mau pulang? Apa obat - obatan mu...." belum selesai ayah berkata aku memotongnya
"Ayah... Aku baik - baik saja dan aku masih disini, obat - obatan itu juga rutin aku minum. Aku menelepon ayah karena aku ingin bertemu dokter Richard, apa ayah bisa menjadwalkan konsultasi ku?" pintaku padanya
"Te..tentu... Ayah akan segera kabari dokter Richard, ayah rasa dia sedang piket malam ini. Apa kamu ingin menemuinya sekarang?" ucap ayah
"Tidak... Aku tidak ingin bertemu dengannya di rumah sakit, aku takut kalian akan langsung membawaku untuk rawat inap. Ayah mengerti maksudku kan?" timpal ku, sejenak ayah terdiam lalu menghela nafasnya.
"Ayah mengerti... Baiklah, ayah akan segera kabari jadwal mu bertemu dokter Richard" ucap ayah menyetujui permintaanku
"Baiklah... Terima kasih ayah, selama malam.." ucapku
"Selamat malam, Luna" timpal ayah, lalu telepon pun terputus.
***
Aku mengembalikan ponsel itu pada Selena seraya tersenyum kepadanya, namun Selena tidak membalas senyumku saat itu dan dia menatapku dengan tatapan sedih.
"Sudah aku penuhi permintaanmu, sekarang kamu akan tetap membantuku, kan?" tanyaku padanya, Selena menerima ponsel itu lalu berkata...
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku padamu" timpal Selena ketus, aku tertawa kecil lalu dengan gestur tangan aku memintanya untuk memapah ku kembali kedalam kamar.
"Maaf ya aku merepotkan mu terus - menerus" celetukku ketika Selena mulai membantuku berdiri, dia hanya diam saja dan mulai memapah ku untuk menuju kamar.
Kami berjalan berdampingan untuk keluar dari ruang makan menuju kamar dalam diam, sampai tiba - tiba aku merasakan jika Selena menangis saat itu. Aku menoleh menatapnya dan benar saja ketika itu aku melihatnya menangis, aku menghela nafasku lalu kembali menatap kedepan.
__ADS_1
"Aku... Ingin kamu merepotkan ku sepanjang hidupku..." gumam Selena ketika itu, aku hanya bisa tersenyum mendengar gumaman nya.