
Pecundang....
Pecundang katanya...? benarkah aku seorang pecundang karena menangisi Luna? dia... dua kali mengingkari janjinya padaku, bukankah wajar jika aku sangat marah padanya? aku memiliki alasan kuat untuk membencinya kan? luapan emosiku ini, sudah sangat wajar jika aku limpahkan padanya. Meski tubuhnya sudah... terasa dingin saat aku genggam bahunya tadi, aku tahu dia tidak akan peduli lagi dengan apa yang aku katakan padanya walau aku berteriak padanya.
Aku menatap mata Luke yang menahan tubuhku ditembok sejak tadi, dia berteriak padaku seolah apa yang aku katakan dan tangisi saat itu adalah hal bodoh. Tapi lihat dirinya, matanya memerah dan terlihat air mata juga sudah menggenang di kantung mata. Dia tidak ubahnya sama sepertiku, gorila bodoh ini... dia mengatakan hal yang tidak masuk akal bagiku, saat itu...
"Kau tidak mengerti!! kau tidak mengerti, Luke... dia sudah berjanji padaku... bahkan dua kali... dua kali juga dia sudah mengingkarinya..." ucapku, tubuhku terasa semakin tidak bertenaga saat itu sampai aku tidak mampu lagi memberontak ketika Luke menahan ku ditembok.
"Bawa jenasah ini" perintah papa pada perawat yang mendorong brankar jenasah Luna
"Baik tuan" timpal perawat menerima perintah papa
Setelah membenarkan posisi selimut yang menutupi tubuh Luna, dua perawat itu segera membawanya pergi dari koridor tepat didepan pintu ruang operasi. Tanganku... ingin meraihnya agar mereka tidak membawa Luna pergi, tapi tekanan tangan Luke yang menekan dadaku dan menempelkannya ditembok membuatku tidak bisa melakukan apapun. Tubuhku pun terasa begitu lemas, tangisanku juga tidak bisa aku hentikan bahkan ketika aku begitu ingin berhenti menangis. Memalukan...
Setelah itu... aku tidak ingat apa yang terjadi, aku hanya merasakan tangan Luke mulai kendor menahan tubuhku di dinding. Telingaku berdengung keras sampai aku tidak bisa mendengar apapun lagi, mataku juga terasa begitu gelap. Aku merasa... sunyi dengan terngiang suara - suara Luna, aku mendengarnya berbicara, tertawa, marah, kesal, dan kadang terdengar begitu manja... "Aaah ya... karena suara itu baru saja aku dengar... itu tidak lebih dari beberapa jam yang lalu... sekarang semua itu.. tidak akan bisa aku dengar lagi..." ucapku dalam hati
Tidak lama aku merasa seseorang menarik lenganku lalu membanting tubuhku ke lantai, aku bahkan tidak bisa bereaksi apapun dan rasa sakit di tubuhku juga tidak membuatku merintih kesakitan. Rasa sakit fisik yang aku terima tidak bisa mengalihkan pikiranku dari rasa sakit yang aku terima di hatiku, semua terasa begitu hampa...
Seseorang saat itu menarik kakiku dan menyeret tubuhku yang masih terbaring dilantai, sejenak aku tersadar dari lamunanku dan aku melihat papa yang melakukan itu semua... dalam keadaan memunggungi ku dan menyeret ku entah mau kemana kita, papa berkata..
"Ayo nak... kamu sudah harus kembali belajar tentang arti kehidupan yang sebenarnya" begitulah yang papa ucapkan
Papa berhenti menyeret ku tepat didepan pintu masuk rumah sakit, papa memintaku berdiri lalu menyuruhku berjalan mengikutinya. Kami berjalan hingga sampai sebuah taman didekat menara Eiffel, disalah satu kursi taman aku dan papa duduk bersamaan namun terdiam ditengah dinginnya udara malam itu. Aku masih disibukkan dengan tangisanku yang tidak juga kunjung bisa berhenti, papa juga sepertinya menungguku berhenti untuk menangis.
"Nak... pahamilah tentang arti kehidupan, tidak akan ada yang abadi di dunia ini dan tidak akan ada satu manusia pun yang mampu mempertahankan janji untuk selamanya. Setiap manusia pasti akan bertemu lalu berpisah, baik itu teman, kekasih, sahabat, orang tua, anak, kerabat... pahamilah kita hanya saling meminjami waktu pada satu manusia ke manusia lainnya" ucap papa memecah keheningan, lalu papa menghela nafasnya.
"Ini pengalaman pertamamu kehilangan seseorang yang mungkin memiliki tempat tersendiri didalam hatimu, tapi memang seperti inilah kehidupan dan kamu harus alami ini baik cepat ataupun lambat" terdengar penuh rasa sesal ketika papa mengatakannya, ketika aku bisa menahan sesenggukan ku saat itu aku segera menanggapi perkataan papa.
"Aku... tidak tahu harus berbuat apa lagi kali ini.. semua terlalu cepat terjadi, dia... pergi begitu mendadak tepat didepan mataku... kehilangannya begitu menyesakkan hatiku.. aku tidak tahu apa ini dan kenapa bisa seperti ini, aku pikir aku sudah membencinya dan tidak menginginkannya berada di dekatku... tapi... tapi.. ini begitu terasa menyakitkan, dadaku terasa sesak..." begitulah yang aku katakan pada papa, setelahnya aku kembali menangis terisak - isak.
Kami kembali terdiam dan tangan besar ayah menepuk - nepuk punggungku begitu lembut seakan papa berusaha untuk menenangkan ku, namun sepertinya cara apapun tidak mampu untukku menguatkan hati agar air mata ini berhenti untuk terus mengalir. Aneh... ini begitu aneh, aku tidak menyangka akan merasa kehilangan setelah apa yang telah Luna lakukan padaku...
"Papa memahami apa yang kamu rasakan, tapi memang tidak ada satupun yang bisa kamu lakukan untuk mengembalikan Luna ke dunia ini.. kali ini hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan, nak" suara papa terdengar begitu lembut seakan berusaha untuk membuatku tenang, perlahan aku menoleh menatap papa yang berada tepat disebelah kananku.
"Apa... itu?" tanyaku penasaran
__ADS_1
"Check list Luna, semua impian - impiannya... kamu harus lanjutkan itu semua, sampaikan perasaanmu padanya bahwa kamu peduli padanya dan juga impian - impiannya" jawab papa dengan tegas
"Aku... tidak akan sanggup..." terbata aku menimpali perkataan papa
Aku tidak paham apa yang ingin papa sampaikan padaku malam itu, mengerjakan impian Luna tanpa Luna itu terkesan tindakan bodoh. Untuk apa juga aku melakukan semua itu dan menunjukkan seberapa pedulinya aku pada orang yang sudah mati? ide papa saat itu terasa begitu bodoh dan tidak berguna...
"Itu benar... tidak akan ada satupun orang yang sanggup, tapi... kamu lah orang yang akan meruntuhkan anggapan bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin dapat dilakukan disaat seperti ini. Tuntaskan janjimu padanya, jadilah pria sejati nak!" penuh semangat papa mengatakannya, aku mengernyitkan dahiku karena begitu heran dengan apa yang papa katakan.
"Apa... ini ada artinya, papa? dia sudah mati... apa dia tahu aku telah menuntaskan semua impian - impiannya?" tanyaku keheranan, ini sudah tidak masuk akal...
"Ada ataupun tidak ada artinya itu bukan pokok masalahnya, nak. Tapi janji seorang pria yang telah terucap maka itu harus dilaksankan meski harus bertaruh nyawa. Tuntaskan janjimu dan penuhi harapan Luna terhadapmu, jadilah pria yang bertanggungjawab dengan kata - katamu sendiri" tegas papa mengatakannya
"Itu... terdengar sangat konyol, papa.." timpal ku sembari menghela nafas, kami pun terdiam beberapa saat sampai suara helaan nafas papa terdengar.
"Apa yang kamu sesali saat ini?" tanya papa menekan ku
"Yang... aku sesali? banyak... aku menyesali banyak hal... dan yang terbesar adalah... ketidakpekaan ku terhadap kondisi Luna, seharusnya aku sadar ada sesuatu yang Luna sembunyikan dariku... seharusnya aku tidak marah padanya dan terus berusaha mengejar cintanya lalu menyakinkan dirinya kalau aku mau berada disisinya apapun yang terjadi... aku terlalu cepat menilai seseorang sampai tidak paham kalau dia... sedang berperang dengan penyakit yang dia idap..." jawabku penuh penyesalan
"Lalu apa kamu akan pulang tanpa memenuhi janjimu padanya? apa kamu ingin menyesal untuk kedua kalinya? bukankah ini kesempatan terbaikmu untuk memenuhi check list Luna yang sudah pernah kamu ikrarkan janji kalau kamu akan menyelesaikannya?" tanya papa menekan ku, seketika itu aku pun tersentak
Papa benar... tidak seharusnya aku melanggar janjiku, biarkan dia saja yang melanggar janjinya padaku... meski dia tidak akan pernah tahu aku sudah menuntaskan janji - janji itu, tapi setidaknya itu akan melepaskan aku dari semua belenggu tanggung jawabku atas semua perkataan yang sudah aku katakan. Mungkin papa benar, ini bukan tentang Luna... tapi ini tentang diriku sendiri, aku bukanlah seorang pembohong yang suka mengingkari janjinya sendiri.
"Aku... masih bisa menuntaskan janjiku... walau dia sudah melanggar janjinya kepadaku untuk kedua kalinya, namun... bukan sikap seorang pria untuk membalas dendam pada seorang wanita... karena sudah menjadi..." ketika itu papa menimpali perkataanku
".... kewajiban bagi seorang pria untuk memaafkan setiap kebohongan wanita..." ucapku dan papa bersamaan, lalu tangan papa pun mengelus kepalaku cukup keras sampai kepalaku bergoyang.
"Kamu seorang pria sejati anakku!! lakukanlah yang sudah seharusnya kamu lakukan!" penuh semangat papa mengatakannya padaku, aku tertawa kecil menanggapi pujiannya.
"Terima kasih.. papa, papa... seorang pria terkeren yang pernah aku temui.." gumamku ketika itu
Kami pun menarik nafas dalam - dalam bersamaan dan menghembuskannya perlahan juga secara bersamaan, aku berusaha untuk menata hatiku dan emosiku dengan cara yang pernah papa ajarkan selama ini. Setelah hati ini terasa lebih baik, kami berdua berjalan bersama untuk kembali ke hotel. Sosok papa selalu berhasil membuatku menjadi pribadi yang lebih kuat dan mampu membuatku bisa mengontrol emosiku dengan baik, hal itu yang membuatku selalu membutuhkan sosok papa di setiap kesempatan.
Tidak lama kami sampai di hotel, aku dan papa berpisah di lift karena kamarku terletak satu lantai lebih rendah dari kamar papa. Aku berjalan menyusuri koridor hotel menuju kamarku dengan semua memoriku bersama Luna, ketika aku sudah sampai didepan pintu kamar aku segera membukanya dengan kunci yang aku miliki. Namun saat pintu itu terbuka aku mendengar suara isak tangis yang terdengar memilukan, tidak lama dari sudut dinding disebelah kamar mandi aku melihat Naomi sedikit berlari untuk melihat siapa yang hendak masuk kedalam kamar.
Masih dengan derai air mata itu Naomi lalu berlari menabrakkan tubuhnya kepadaku, dia memelukku begitu erat dan menangis semakin keras di dekapanku. Suara tangisan Naomi membuatku tidak bisa berkata - kata, aku begitu merasakan kesedihan Naomi atas meninggalnya Luna. Bahkan Naomi saja merasa kehilangan, padahal dia dan Luna baru bertemu tidak lebih dari satu bulan berkumpul... Luna benar - benar membuat dirinya sulit untuk dilupakan, sesuai dengan apa yang dia harapkan ketika dia mengatakan ingin selalu diingat oleh teman - temannya...
__ADS_1
Perlahan aku melepaskan pelukanku dari tubuh Naomi, begitu juga dengan Naomi yang perlahan melepaskan pelukannya. Aku membawa Naomi mendekati kasur dan membiarkan Naomi tidur didalam pelukanku, aku terus membelai rambutnya agar dia semakin terlelap dalam tidurnya. Namun tidak denganku, aku terus terjaga hingga matahari menampakkan sinarnya.
Perlahan aku menggantikan tubuhku dengan bantal untuk menjadi sandaran kepala Naomi yang sedari tadi tidur diatas dadaku, setelah memastikan Naomi masih terlelap dalam tidurnya aku pun beranjak pergi dari kamar untuk menuju ke rumah sakit.
Dirumah sakit pagi itu aku melihat Selena berjalan hendak memasuki rumah sakit dengan membawa sebuah bingkai foto yang sepertinya baru saja dia beli, dengan sedikit berlari aku mencoba untuk mengejar Selena lalu aku tepuk pundaknya agar menghentikan langkah kaki Selena. Tepukan itu menarik perhatian Selena, dia segera berbalik menatapku dengan mata sembab. Dari kantung matanya juga aku dapat memastikan jika dia sama sepertiku, tidak tidur semalaman... tidak, kami tidak bisa tidur semalaman adalah kata yang lebih tepat.
"Apa itu bingkai foto untuk Luna?" tanyaku, Selena hanya mengangguk menjawab pertanyaanku.
"Apa ayah dan ibu Luna sudah ada didalam?" tanyaku lagi dan Selena hanya mengangguk untuk kembali menjawab pertanyaanku.
Dengan gestur tangan aku meminta Selena untuk memandu ku menuju kamar jenasah dimana tubuh Luna ditempatkan sementara, setelah mengangguk kembali saat itu Selena berbalik lalu berjalan untuk memandu ku. Didepan salah satu kamar jenasah yang ada, aku melihat ibu Luna duduk di kursi depan pintu kamar jenasah dan menangis begitu memilukan. Hanya dari suaranya saja sudah dapat aku rasakan seberapa sedihnya ibu Luna pagi itu, kehilangan anak semata wayang tentu tidak akan pernah mudah bagi ibu Luna.
Tepat didepan ibu Luna saat itu aku melihat ayah Luna berdiri bersandar pada dinding dekat pintu masuk kamar jenasah, dengan tangan terlipat dan kepala yang menunduk seakan ayah Luna sudah mengikhlaskan kepergian Luna. Tapi apa benar seperti itu? jika aku saja begitu sedih akan kehilangan Luna... bagaimana dengan perasaan ayahnya? tentu saja tidak bisa aku bayangkan... "Ini kan yang kamu inginkan, Luna? mereka begitu sedih atas kepergianmu untuk selamanya... setidaknya saat ini ada aku, Naomi, Selena, ayah dan ibumu yang tidak mungkin bisa melupakan kehadiranmu dulu" ucapku dalam hati.
"Ini bingkainya, tuan Lincoln..." celetuk Selena ketika kami sudah berdekatan
Ayah Luna tersenyum kepadaku seraya menerima bingkai foto itu dari tangan Selena, setelah mengucapkan terima kasih pada Selena saat itu ayah Luna berjalan mendekati ibu Luna. Tanpa berkata apapun seakan tahu apa yang akan diminta oleh tuan Lincoln, ibu Luna memberikan sebuah amplop berwarna coklat. Dari dalam amplop itu aku melihat ayah Luna mengeluarkan foto yang bergambarkan wajah Luna saat kami masih SMA dulu, seketika tangisan Selena pun pecah melihat foto itu.
Didalam foto itu aku melihat Luna tersenyum... sebuah senyum yang begitu merekah seakan dia sedang sangat bahagia, entah kenapa aku teringat perkataan ibu Luna kemarin malam tepat didepan pintu rumah sakit. "Apa foto itu diambil ketika aku dan kamu bertemu untuk pertama kalinya?" tanyaku dalam hati, aku merasakan sakit pada hatiku dan tentu saja aku memahami kenapa Selena menangis begitu memilukan saat itu.
Aku berjalan mendekati Selena lalu aku mengusap lembut kepalanya, saat itu aku ingin menenangkan Selena yang menangis terisak - isak...
"Tabahlah... aku sama sedihnya denganmu dan aku juga merasa begitu kehilangan dirinya... ayo kita sama - sama meneruskan hidup kita seperti yang Luna inginkan" begitulah yang aku katakan pada Selena, meski tidak bisa membuatnya berhenti menangis tapi setidaknya Selena terlihat lebih tenang.
Aku berjalan mendekati ayah Luna yang masih sibuk memasukkan foto kedalam bingkainya, ketika sudah berdekatan aku mengatakan...
"Tuan Lincoln... jika diizinkan... aku ingin membawa foto Luna untuk menyelesaikan janji - janji kami..." pintaku, ketika itu ayah Luna menatapku dengan mata yang berkaca - kaca.
"Tuan muda Gates... aku sebagai orang tua Luna meminta maaf padamu atas..." belum selesai ayah Luna berkata, aku memotongnya..
"Tidak apa... aku yang sudah bersikap keterlaluan terhadapnya..." timpal ku, aku hampir menangis lagi saat itu jadi aku menggantungkan kalimatku sejenak untuk mengatur nafasku... aku membungkuk dihadapan ayah dan ibu Luna, lalu aku katakan...
"Maafkan aku tidak dapat menyelesaikan semua impian Luna ketika dia masih hidup, ini semua karena kebodohanku dan ketidakpekaan ku terhadapnya. Aku sangat menyesal atas kejadian ini dan berharap tuan dan nyonya Lincoln dapat memaafkan kebodohanku!" tegas aku katakan meski penuh penyesalan, aku tidak bisa menahan air mataku lebih lama dan aku biarkan saja air mata itu menetes membasahi lantai..
Saat itu aku melihat ayah Luna berdiri dari duduknya dan juga membungkuk di hadapanku...
__ADS_1
"Terima kasih sudah memberikan kenangan indah untuk anak semata wayang kami, dia selalu membicarakan tentang anda dan selalu menyesali takdirnya namun berkat anda... dia dapat meninggal dengan senyuman dan tidak pernah lagi menyesali kondisinya... sekali lagi, terima kasih tuan muda Gates!" suara ayah Luna terdengar gemetaran, air matanya juga menetes sama derasnya dengan air mataku...
Aku... terdiam untuk beberapa saat ketika itu masih dalam posisi membungkuk kepada ayah dan ibu Luna...