Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 6


__ADS_3

Pagi hari di rumahku, aku latihan mengatur nafas didekat kebun ditemani oleh ayah dan ibu yang sibuk memanen dan merawat tanaman. Tidak lama sebuah mobil dengan bak terbuka terparkir didepan rumah, aku tidak pernah mengenali mobil itu tapi semua rasa penasaranku terjawab setelah seseorang turun dari mobil bak terbuka itu.


Peter terlihat turun dari mobil bak terbuka itu dan melambaikan tangannya kepadaku, tentu saja pemandangan itu membuat ayah dan ibu terkejut. Mereka berdua menatapku bersamaan, dari matanya aku dapat memahami jika mereka penasaran sejak kapan aku memiliki teman anak desa disini sedangkan aku tidak pernah keluar rumah. Aku hanya memasang ekspresi wajah bingung untuk menjawab jika aku tidak tahu kenapa Peter datang ke rumahku, bahkan kami tidak pernah janjian untuk bertemu.


"Selamat pagi tuan dan nyonya Lincoln" sapa Peter ketika dia sudah berada dekat dengan kami


"Pagi Peter, ada apa?" tanya ayahku heran


"Aah tidak, hanya ingin bertemu dengan Luna" jawab Peter


"Hah? denganku? kamu ada keperluan apa?" tanyaku heran, namun Peter hanya tertawa mendengar pertanyaanku itu.


"Masuklah, mengobrol didalam" ucap ibu


Aku terkejut dengan perkataan ibu, ketika aku menatap mata ibu aku memahami jika ibu senang melihat seseorang datang untuk menemui ku. Meski aku berat hati, namun tawaran ibu sudah terlanjur terlontar. Aku pun mempersilahkan Peter untuk masuk kedalam rumah, diruang tamu rumah aku dan Peter duduk berhadapan.


"Ada keperluan apa kamu menemui ku?" tanyaku langsung menekannya tanpa basa - basi


"Duh gak pakai basa - basi ya" jawabnya


"Peter, ayolah" timpal ku kesal


"Aku cuma pingin dekat denganmu, gak ada masalahkan? lagian kita ini sama - sama peserta kompetisi, ditambah satu desa juga" ucapnya dengan sedikit tertawa


"Peter, langsung saja. Aku tidak mau dekat denganmu, bukan karena aku benci atau apapun yang mungkin kamu pikirkan tentangku. Tapi ini semua karena Manda, kamu harusnya tahu kalau dia suka sama kamu. Apa yang kamu lakukan hanya akan membuat pertengkaran diantara kami" dengan nada sedikit meninggi aku mengatakannya, aku berharap Peter memahami jika aku ingin menghindari konflik sekecil apapun.


"Tapi aku tidak suka dengannya, kami hanya berte..." belum selesai Peter berkata, aku memotongnya


"Aku tidak peduli karena apapun yang kamu katakan, Manda akan selalu menganggap aku sebagai sebuah gangguan" timpal ku dengan tegas, kami pun sempat terdiam sejenak saling menatap.


"Yah.. kamu ada benarnya meskipun aku bisa mengatasi itu" ucap Peter, aku menarik nafasku dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan agar dapat mengontrol emosiku yang tiba - tiba ingin meledak itu.


Sebagai sesama wanita, aku paham jika cinta kepada seseorang akan membuat kami menjadi egois. Sedikit saja kehadiran seseorang terlihat seperti gangguan, kami akan selalu melakukan perlindungan diri. Kami mungkin bisa berbuat nekat dan tanpa banyak perhitungan untuk mempertahankan orang yang kami cintai meski itu terlihat berlebihan, tapi cinta kadang harus egois kan?


"Kamu mungkin bisa mengatakan seperti itu, tapi tidak untuk Manda. Aku pernah ada di posisinya dan sangat sulit untuk melepaskan orang yang kita cintai begitu saja" ucapku


"Artinya kamu sudah punya pacar?" tanya Peter padaku, aku pun langsung tersentak mendengar pertanyaannya


Sebuah pertanyaan yang juga membuatku bingung harus menjawab apa, untuk sejenak aku baru saja melupakan jika aku telah melepaskan orang yang aku cintai begitu saja kepada sahabatku sendiri. Aku memaksa Selena untuk mencintai kak Jester, begitu pula sebaliknya. Seakan aku mengkhianati perkataanku sendiri, kadang cinta juga harus mengalah... benarkan?


"Kenapa diam? apa ada masalah?" tanyanya lagi menekan ku, aku membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengannya.


"Bukan urusanmu" jawabku singkat, sejenak kami terdiam kembali.

__ADS_1


"Lunar, kalau kamu memang bisa memandang Manda seperti itu... setidaknya kamu pasti juga pernah ada di posisinya kan? apa kamu dicampakkan oleh orang yang kamu suka?" tanya Peter lagi


"Aku bilang itu bukan urusanmu!!" bentak ku padanya


"Jadi begitu ya, kamu punya orang yang kamu sukai. Yaah... kalau begitu aku gak bisa berbuat apa - apa, tapi kalau kamu merasa dicampakkan olehnya... aku bisa menjadi pelipur lara mu" ucap Peter lagi


"Kamu salah... aku lah manusia yang jahat itu... aku yang mencampakkannya dan membuatnya membenciku, lalu dengan seenaknya aku meminta sahabatku untuk menjadi pacar pangeranku itu... aku lah sosok jahat itu!" aku kembali mengatakannya dengan penuh emosi, tidak terasa air mataku pun menetes membasahi pipi.


Kami pun terdiam dan saling menatap, entah apa yang dipikirannya saat itu dan apa yang dia nilai dariku setelah aku ucapkan pengakuan dosaku. Aku tidak peduli... aku cuma mau dia pergi dariku dan tidak mengganggu hidupku yang mulai tenang ini, aku sudah terbiasa dengan kesepianku dan juga hidup dalam pemikiranku sendiri.


"Pulang lah kalau urusanmu sudah selesai" celetukku padanya, aku berusaha mengusirnya secara halus.


"Aku masih ada urusan denganmu, jadi maaf aku belum bisa pulang" timpalnya dan aku pun terkejut


Baru kali ini aku mendapatkan tamu seperti ini, setelah membentaknya, mengusirnya secara halus, dan dia masih juga bertahan. Aku menatapnya dengan heran, dahiku mengernyit seakan tidak percaya dengan jawabannya. Namun semua itu ditanggapi dengan suara tawa darinya, lalu dia merogoh tas yang dia kenakan sejak tadi dan mencari sesuatu didalamnya.


"Hei, apa kamu suka coklat? ada pabrik coklat terkenal disini dan desa kita memang terkenal dengan pengolahan coklatnya, kebetulan pemilik pabrik coklat disini adalah pamanku" ucapnya lalu memberikan aku sekotak coklat yang pernah ayah bawakan untukku, aku menatap kotak coklat itu cukup lama tanpa menerimanya.


"Kamu tidak suka?" tanyanya karena aku tidak juga kunjung menerimanya


"Aku tidak mau menerima apapun darimu, pergilah dan jangan pedulikan aku" jawabku, lalu Peter menaruh kotak coklat itu di atas meja yang menjadi pemisah kami.


"Maaf aku tidak bisa, aku suka padamu jadi aku akan mencoba untuk mengejar cintamu" timpalnya


Aku terus memikirkan apa yang membuat dia tiba - tiba suka padaku, aku dihantui dengan pemikiran itu hingga malam tiba. Ketika itu aku sedang makan malam bersama ayah dan ibu seperti biasa, mereka terus menatapku seakan sedang menungguku untuk bicara. Aku sempat bengong terdiam menatap ayah dan ibu, namun pada akhirnya aku tahu apa yang sedang mereka berdua coba tanyakan padaku meski hanya diam.


"Ayah... ibu... aku tidak punya hubungan apapun dengan Peter" celetukku ditengah kebisuan kami


"Hah? tapi ayah tidak mengatakan apapun" timpal ayah


"Ibu juga hanya diam saja" timpal ibu hampir bersamaan dengan ayah


"Tapi tatapan mata ayah dan ibu mengatakan hal yang berbeda" ucapku dengan kesal


"Dia itu anak kepala desa, anaknya baik, penuh semangat dan sering menjadi penyanyi untuk mengisi acara desa. Mungkin kamu bisa cocok dengannya" ucap ayah


"Dia pesaing ku, mana mungkin aku akrab dengannya" jawabku


"Mungkin kamu bisa berteman diluar kompetisi, tidak ada salahnya kan sayang" ucap ibu


"Tidak, aku hanya butuh ayah dan ibu untuk menemaniku" jawabku


"Kamu bisa bersenang - senang dan mengenal desa ini jika bersamanya" ucap ayah

__ADS_1


"Aku gak butuh, rumah itu tempat yang menyenangkan untukku" jawabku


"Katanya dia keponakan dari pemilik pabrik coklat terbaik di negara ini, mungkin kamu bisa mendapatkan banyak coklat darinya" ucap ibu


"Ayah ibu! aku gak mau~ ayolah.... aku tidak ingin dekat dengan siapapun" jawabku dengan nada yang sangat kesal kepada mereka, namun kekesalanku dibalas dengan suara tawa dari mereka.


Setelah makan malam itu, aku pun beranjak tidur dengan semua pemikiranku. Aku tidak ingin mendapatkan masalah apapun, namun masalahnya terletak pada keesokan harinya. Aku akan bertemu lagi dengan Peter dan Manda di hari pertama kompetisi kami, entah apa yang akan terjadi kedepannya... tapi aku berharap aku tidak mengalami masalah apapun.


Pagi hari... semua harapanku pupus ketika aku bersiap untuk berangkat menuju gedung serbaguna desa bersama ayah, Manda bersama ayahnya Tuan Jhon mendatangi rumah kami. Ayah menerima mereka berdua dengan baik, namun sepertinya ada kesalahpahaman yang terjadi diantara keluarga kami.


"Tuan Lincoln, Manda dan Peter itu sudah saya jodohkan. Mohon untuk Luna tidak mengganggu hubungan keduanya" ucap tuan Jhon dengan tegas


"Maaf tuan Jhon, kami tidak tahu tentang itu" timpal ayah


"Luna! kamu jangan coba - coba goda Peter ya!! aku gak bakal memaafkan mu!!" bentak Manda padaku


"Nona Manda, Luna tidak punya niat untuk menganggu hubungan kalian" timpal ibu berusaha membelaku


"Begini saja, aku minta Luna agar tidak dekat dengan Peter. Dengan begitu semua akan happy ending kan?" ucap tuan Jhonson


"Kalian tenang saja, bahkan pria yang sempurna pun aku sakiti dan aku tinggalkan dia. Jika hanya Peter yang menjadi rebutan, maaf aku katakan dia bukan tipeku dan aku tidak berniat untuk merebutnya darimu" jawabku tegas


"Sombong banget sih kamu, tapi keperluan kami memang hanya untuk itu. Selama kamu menerima persyaratan dari kami, maka kita tidak punya masalah lagi" timpal Manda


Mereka pun berpamitan, setelah mengantar kepergian keduanya saat itu ayah dan ibu duduk di hadapanku dan menungguku untuk bicara. Tapi seharusnya mereka tahu jika aku dan Peter memang tidak memiliki hubungan apapun, jadi aku hanya diam dan menatap keduanya bergantian.


"Iya... ayah tahu kamu tidak memiliki hubungan apapun, tapi ayah bukan mau bertanya itu sayang" celetuk ayah ketika mungkin sadar mengapa aku hanya diam dan menatap mereka dengan tajam.


"Apa~?" tanyaku kesal


"Kamu hampir terlambat untuk kompetisi pertamamu" jawab ayah


Seketika aku panik sembari menatap jam tanganku, aku hendak berlari ke mobil namun ayah dengan sigap membopongku sembari mengatakan jika aku jangan sampai capek. Aku tertawa mendengar perkataan ayah dan perlakuan ayah kepadaku... tidak pernah berubah, aku masih gadis kecilnya meski usiaku sudah menginjak delapan belas tahun.


Setelah berpamitan pada ibu, aku pun berangkat menuju gedung serbaguna desa bersama ayah. Didepan pintu masuk menuju belakang panggung, Grece tiba - tiba muncul entah darimana dan menarik ku kesebuah ruangan yang kecil dan sempit. Dia menutup mulutku agar aku tidak berteriak, tidak lupa dia juga memberikan gestur tangan agar aku diam.


Dia memintaku mengangguk jika aku sudah mulai tenang, jujur saja setelah didatangi keluarga Jhonson saat itu aku takut hal seperti kejadian bersama kak Natalie akan terulang... karena sekarang... tidak akan ada yang melindungi ku seperti pangeranku...


"Apa - apaan Grece?! aku kaget setengah mati tahu!!" bentak ku padanya, namun Grece hanya tertawa menanggapi kemarahanku.


"Semua berjalan sesuai rencana, sebenarnya aku tidak boleh memberitahukan hal ini padamu. Tapi karena kamu pasti menang, aku buka saja sekarang" jawab Grece dengan suara tawa puas yang terdengar, aku memiringkan kepalaku karena aku bingung dengan apa yang Grece katakan.


"Peter berhasil membuat Manda panas dengan cara mendekatimu, konflik mu dengan Manda akan terekspose dan itu akan menaikkan namamu hingga ke langit!!" terdengar antusias dan penuh semangat Grece mengatakannya

__ADS_1


Aku? aku hanya bisa melotot menatapnya dan berusaha untuk tidak mempercayai jika ini semua adalah settingan dari Grece... ya Ampun Grece!!!


__ADS_2