
Otakku membeku, aku tidak bisa berpikir dengan baik. Apakah itu benar - benar boleh dilakukan? membawa Luna ketempat festival bioskop terbuka pada malam hari terasa sangat berbahaya untuk kesehatannya, pikiran manusiaku tidak bisa menerima keputusan dokter yang memberikan Luna izin untuk keluar. Pikiran positif membawa perubahan, itu adalah sebuah pertaruhan yang tidak setara.
"Aku khawatir keadaannya akan semakin... memburuk..." terbata aku mengatakannya
"Semua sudah dipersiapkan sama tim perawat dengan sangat baik, dia akan ketempat tujuan dengan kursi roda khusus yang membawa beberapa infus dan alat - alat medis kecil lainnya" timpal Harry mencoba meyakinkanku jika semua akan baik - baik saja, bersamaan dengan perkataan Harry itu Luke terlihat berjalan mendekatiku lalu menepuk pundakku.
"Luna mempercayakan mimpinya kepadamu, kamu harus bisa menjawab permintaan itu dengan baik" ucap Luke dengan tegas
Aku menghela nafasku lalu berbalik untuk kembali masuk kedalam kamar Luna, didalam kamar itu Luna menatapku ketika dia menyadari aku sudah kembali. Dengan gestur tangan dia memintaku untuk mendekatinya dan berkumpul bersama Naomi, Selena, Justin, Grece, dan kedua orang tua Luna, beberapa diantara mereka terlihat masih berlinang air mata.
Aku tidak benar - benar mendekat saat itu, agak sedikit lebih jauh daripada teman - teman yang berdiri mengelilingi brankar Luna. Tapi dari jarak itu pun aku mendengar Luna berbicara, dia sengaja mengumpulkan kami saat itu untuk mengatakan sesuatu.
"Dengarkan aku~ aku senang kalian datang kesini untuk menjengukku, tapi kalau kalian datang hanya untuk menangisi keadaanku... lebih baik kalian pulang, karena aku disini ingin menikmati hari - hari dengan bahagia. Aku ingin menuntaskan impianku dengan senyuman" terdengar kesal saat Luna mengatakannya, secara bergantian saat itu Luna menatap kami dengan wajah cemberutnya.
Setelah itu aku melihat Naomi, Selena dan Grece mencoba untuk tersenyum, mereka terlihat seperti orang bodoh karena mencoba begitu keras untuk tersenyum. Sedangkan aku tidak bisa memaksakan diri untuk tersenyum sesuai dengan apa yang Luna inginkan, kepalaku terasa mau meledak dan terasa kedutan di setiap urat - urat leher yang menuju ke kepala. Mungkin aku terlalu stres ketika itu, namun ada hal yang akhirnya bisa sedikit membuatku tertawa... yaitu suara tawa Naomi
"Itu senyum terburuk yang pernah aku lihat darimu, Selena" celetuk Naomi dengan suara tawa kecilnya
"Kamu harus ngaca dan melihat senyum palsu mu itu sebelum menyindir seseorang" balas Selena kesal
"Kalian semua harusnya meniru ku, senyum palsuku tetap menawan seperti biasa" timpal Grece
"Itu lebih buruk dari apa yang sudah aku tunjukkan!" ucap Naomi dan Selena bersamaan, Justin pun tertawa mendengar Naomi dan Selena kompak menghina pacarnya itu.
Seketika suasana kamar yang sebelumnya terasa suram penuh kesedihan pun berubah, terasa begitu hangat dengan suara tawa mereka semua. Entah siapa yang memulai, pada akhirnya Naomi, Selena, Grece dan Justin mengajak Luna bercanda dengan cerita mereka masing - masing. Luna tertawa ketika dia mendengarkan canda mereka, dia... tersenyum lebar dengan semua hal konyol yang ditunjukkan oleh Naomi, Selena, Grece dan Justin.
Senyum Luna membuatku tersadar akan sesuatu, yaah... harus aku akui aku memang tidak akan pernah mampu menghadirkan senyum digaris bibir Luna apapun yang aku lakukan disaat seperti ini, seharusnya sejak awal aku mengandalkan teman - temanku dan tidak memaksakan diri untuk melakukan semuanya sendiri. Sesekali ditengah suara tawa itu Luna menoleh menatapku dengan sorot mata yang terlihat sedih, aku tidak tahu apa maksudnya karena itu terjadi dalam waktu yang singkat.
Sebuah kode yang diberikan Luna lagi kepadaku dan aku tidak memahaminya... itulah kebodohanku untuk kesekian kalinya....
Semua dimulai ketika senja, kursi roda Luna pun sudah siap disudut kamar dan beberapa perawat juga siap untuk membantu Luna pindah dari brankar menuju kursi roda itu. Ayah dan ibu Luna sudah berusaha membujuk Luna agar dia menunda keinginannya itu, namun Luna tetaplah Luna... dia begitu keras kepala bahkan ketika Naomi dan Selena juga ikut menahannya, tidak ada satupun yang bisa menahannya.
Tidak butuh waktu lama sampai Luna sudah siap untuk pergi, kini Luna sudah berada diatas kursi rodanya. Aku membawanya hingga kedepan pintu masuk rumah sakit, dibelakang kami saat itu Naomi, Selena, Justin, Grece dan kedua orang tua Luna juga ikut mengantar namun mereka berhenti melangkah tepat didepan pintu masuk rumah sakit. Karena mendengar suara langkah kaki yang berhenti itu, aku pun menoleh kebelakang untuk melihat kenapa mereka semua tidak terus melangkah bersamaku.
"Kalian... gak ikut?" tanyaku keheranan, pertanyaanku itu sepertinya juga menarik perhatian Luna yang membuatnya ikut menoleh kebelakang untuk menatap mereka.
"Hmm... tidak, aku sedikit lelah... aku merasakan jet lag" jawab Naomi terbata, dia pun menoleh menatap teman - teman yang lain seakan sedang mencari dukungan.
"Tidak apa kalau kalian mau ikut, lagian kalian sudah jauh - jauh sampai kesini" timpal Luna
"Aah.. Eeh... itu.." belum selesai Naomi berbicara, Luke menimpali dari kejauhan dan sedikit berteriak.
"Tuan Will mengajak kalian untuk makan malam bersama disalah satu restoran milik temannya, khusus untuk Jester dan Luna... kalian teruskan saja acara kalian" timpal Luke, kami semua menoleh menatap Luke yang entah darimana dia muncul dari belakang Naomi.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita segera temui papa, Jess.. hati - hati ya dan Luna.. kamu jangan memaksakan diri" ucap Naomi lalu dia berbalik untuk berjalan mendekati Luke sembari tangannya menarik lengan Selena dan Grece bersamaan, tidak lama Justin dan kedua orang tua Luna pun mengikuti Naomi.
"Jester, lakukan yang harus kamu lakukan" celetuk Luke sebelum dia berbalik untuk pergi entah kemana mereka semua, tapi karena ada papa aku pun tidak mencemaskan mereka semua.
"Mereka semua... kenapa?" tanya Luna yang terdengar kebingungan dengan sikap teman - teman dan juga kedua orang tuanya, aku tersenyum karena sepertinya aku paham apa yang sedang terjadi.
Mereka membiarkan aku dan Luna berdua seperti apa yang menjadi keinginan Luna, kami diberi ruang agar bisa mewujudkan semua yang Luna inginkan dan itu hanya ada aku dan dirinya saja. Aku menatapnya dan tersenyum, dukungan dari mereka tentu sangat berarti bagi Luna.
"Mereka... memberi waktu untuk kita agar bisa berdua saja menyelesaikan semua impianmu, kita berangkat?" ajak ku, Luna tersenyum lalu dia kembali menatap kedepan.
"Ayo berangkat!!!" seru Luna penuh semangat, aku pun mendorong kursi roda itu membawa Luna menuju tempat diadakannya festival bioskop terbuka.
Aku mencoba untuk mengikuti semangat yang ditunjukkan oleh Luna, langkah kakiku pun begitu mantap ketika melangkah. Awalnya aku berpikir seperti itu... tapi ternyata bukan, aku bisa kuat melangkah karena senyum yang Luna tunjukkan ketika kami menyusuri jalanan Paris malam itu. Mata Luna terlihat berbinar melihat sekeliling yang menampakkan kebahagiaan dan keceriaannya, aku tidak pernah melihatnya begitu antusias seperti itu selama ini bahkan ketika kami masih SMA dulu.
Kami mengobrolkan banyak hal ketika itu disepanjang perjalanan, obrolan yang menyenangkan dan penuh canda tawa. Sesekali dia melontarkan candaan tentang Paris yang membuatku tertawa dan begitu pun sebaliknya, semua canda tawa itu membuat kami lupa jika perjalanan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pada akhirnya kami telah sampai ditempat festival itu diadakan, semakin terlihat senanglah Luna ketika itu. Dia sedikit melompat kan tubuhnya beberapa kali sembari menunjuk dimana dia ingin duduk, namun tempat duduk pilihan Luna membuatnya harus turun dari kursi roda.
Meski ada sedikit perdebatan diantara aku dan dirinya, namun akhirnya Luna menuruti ku. Aku memilih sebuah kursi yang sedikit mojok agar Luna tidak perlu pindah dari kursi rodanya, sedangkan aku duduk tepat disebelah kanan Luna disebuah kursi yang disediakan. Sayangnya kami sedikit terlambat saat itu, film pun sudah dimulai mungkin sudah berjalan lebih dari seperempat dari penayangan.
Aah iya, waktu itu film yang ditampilkan memiliki genre humor. Sesekali Luna tertawa melihat para pemeran yang berkelakuan lucu, meski aku sangat yakin dia tidak bisa memahami sedikitpun apa yang para aktor dan aktris itu katakan. Sedangkan aku tidak fokus pada filmnya, mata ini tertuju pada wajah Luna yang terlihat bahagia dengan film humor itu. Kebahagian Luna membuatku berpikir, "Kenapa kamu bisa tertawa? apa kamu lupa apa yang sedang kamu hadapi? kenapa kamu bisa bersikap seperti tidak ada apapun yang terjadi?".
Mungkin saat itu dia merasa diperhatikan olehku, perlahan Luna menoleh menatapku dan kami pun terdiam saling bertatapan mata.
"Kenapa kak?" tanya Luna memecah keheningan diantara kami, seketika itu aku menundukkan pandanganku.
"Aku tidak mungkin selamat..." celetuknya dan perkataannya itu membuatku marah.
"Luna!! apa - apaan perkataanmu itu?!" dengan bentakan aku menimpali perkataannya, saat itu Luna menatap layar dan perlahan dia menoleh kembali menatapku.
"Aku yang paling tahu tentang tubuhku... aku tidak akan selamat, kak... Tapi, aku ingin terus tersenyum di hadapanmu agar jika saatnya tiba... dan ada kalanya saat kamu mengingatku kelak... kamu hanya akan mengingatku yang selalu tersenyum kepadamu" jawabnya dan aku pun tersentak mendengarnya, seketika itu aku membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengannya.
"Kak Jester..." celetuk Luna saat itu, perlahan aku kembali menoleh untuk menatapnya.
"Kumohon... lupakan saja aku, sejak aku mengetahui penyakit yang aku derita ini, aku sudah menganggap diriku tidak pernah ada di dunia... jadi, lupakanlah aku..." Luna mengatakannya dengan senyuman
"Kamu... ingin pergi lagi dariku dengan cara yang sama?! kamu ingin aku membencimu lagi setelah apa yang baru saja kita lalui?!! kamu anggap aku ini apa?!!" timpal ku dengan bentakan, aku begitu marah namun kemarahan ini tidak melunturkan sedikitpun dari senyuman Luna.
"Tentang hubunganku dengan semua orang selain kedua orang tuaku, semua itu hanya ada dalam bayangan didalam kepalaku. Disukai ataupun dibenci itu semua hanya ada dalam imajinasiku. Aku berencana untuk hidup sendirian sejak aku tahu tentang penyakitku, tapi akhir - akhir ini aku malah tidak bisa hidup sendirian. Aku baru sadar ternyata manusia tidak mampu untuk hidup sendiri disaat aku sudah ada di penghujung usia, aku... merasa menjadi orang paling bodoh karena itu" jawab Luna lalu dia kembali menatap layar didepan
Aku tidak tahu harus berkata apa saat itu, Luna pun sepertinya tidak tahu harus berkata apa lagi. Kami pun saling terdiam untuk beberapa saat, sampai Luna terdengar menghela nafasnya.
"Aku minta maaf sudah memintamu untuk melupakanku... aku hanya sedang bingung bagaimana aku harus bersikap di depanmu, kak..." celetuk Luna terdengar menyesal
"Aku tidak ingin dengar kamu mengatakannya lagi" timpal ku dengan tegas, aku mencoba untuk sedikit mengancamnya dengan tekanan suaraku.
__ADS_1
"Sejenak aku terpikirkan tentang kematian..." celetuk Luna lagi dan perkataan itu kembali membuatku tersentak
"Luna!!" bentak ku, perlahan Luna kembali menatapku dengan senyumannya.
"Menurutku manusia itu mengalami dua kali kematian, kematian pertama ketika nafas sudah berhenti dan kematian kedua ketika manusia sudah terlupakan dan namanya sudah tidak pernah disebut lagi. Aku ingin mati dalam keadaan terus diingat oleh banyak orang, itulah alasan kenapa aku dulu ingin menjadi seorang penyanyi terkenal yang karyanya akan terus didengar oleh banyak orang. Namun sekarang... aku hanya ingin kamu, kedua orang tuaku, Naomi, Selena, kak Justin, kak Luke, kak Harry dan Grece yang akan terus mengingatku..." ucap Luna lalu dia pun meneteskan air mata begitu deras, namun senyumnya tidak juga luntur dari garis bibirnya.
Aku terdiam terpaku menatap wajahnya, sangat aneh ketika seseorang menangis dan suaranya terdengar begitu memilukan namun dia masih bisa tersenyum....
"Kak... apa kamu... akan melupakanku saat aku mati nanti? aku takut... aku takut untuk sendirian... kesepian... apa kalian semua akan segera melupakan aku...?" tanya Luna dengan suara yang terdengar memilukan di telingaku, tubuhku bergetar dan aku tidak tahu harus menjawab apa disaat seperti itu.
Aku seperti orang bodoh yang hanya bisa terdiam ketika seseorang bertanya padaku.... sampai Luna harus bertanya untuk kedua kalinya, dia berkata...
"Kak.. apa kalian akan langsung melupakanku ketika aku sudah terkubur? aku takut... takut untuk sendirian..." tanya Luna lagi dan seketika itu senyumnya lenyap, suaranya kini terdengar serak dan air mata kini semakin membasahi kedua pipinya.
Langit malam yang cerah di langit Paris dengan sinar rembulan tidak mampu untuk membuat suasana kembali ceria seperti saat kami sedang dalam perjalanan menuju tempat ini, jalanan yang ramai dengan pengunjung festival dan juga ramainya disekitaran kami pun terasa begitu sepi. Seakan ditempat ini hanya ada aku dan Luna, tangisan Luna memenuhi telinga dan kepalaku.
"Aku... ingin menikmati film ini, bukankah seharusnya itu yang akan kita lakukan malam ini?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan yang memilukan itu.
Aku membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengannya, dalam hatiku yang terdalam aku masih memiliki keyakinan jika Luna akan sembuh dari sakitnya karena itulah aku tidak mau memikirkan jawaban apa yang akan aku katakan padanya.
"Kak.." belum selesai Luna berkata, aku langsung memotongnya.
"Bukankah kamu yang bilang kalau kita kesini untuk bersenang - senang? kenapa kamu melanggar perkataanmu sendiri? atau kita harus segera pulang dan mengakhiri ini semua sesuai kata - katamu?" timpal ku dengan nada yang sedikit menekannya, ketika itu aku meliriknya dan melihat responnya.
"Kamu benar... kenapa aku malah terbawa suasana tidak menyenangkan seperti ini... maafkan.." ucap Luna dan saat itu aku kembali memotongnya
"Tidak perlu meminta maaf, aku yang salah karena memancing mu dengan pertanyaan - pertanyaanku... aku pun sama sepertimu, aku... takut untuk kehilanganmu... samapi membuatku bingung harus bagaimana bersikap di depanmu. Tapi sekarang aku hanya ingin kamu bahagia, aku akan mewujudkan kebahagiaan mu itu mulai dari detik ini... ayo kita sama - sama menikmati momen kebersamaan kita di Paris" timpal ku dengan tegas, aku segera menatap wajahnya yang tertegun saat mendengar perkataanku.
Aku tersenyum padanya, pada akhirnya aku harus melakukan ini... aku ingin dia juga selalu mengingatku dalam keadaan tersenyum, apapun yang akan terjadi kedepannya...
"Check list impianmu... ayo kita lakukan yang terbaik, aku janji akan terus menemanimu untuk melakukannya" ucapku penuh semangat, perlahan aku dapat melihat garis senyum Luna terangkat dan kembali terlihat.
"Janji kamu akan menemaniku menyelesaikan check list itu?" tanya Luna memastikan perkataanku, ketika itu dia menyodorkan jari kelingkingnya seakan dia menyuruhku untuk berjanji dengan mengikatkan kedua jari kelingking kami.
Aku terdiam menatap jari kelingkingnya, baru aku sadari seberapa kurus tubuh Luna ketika itu. Bahkan jari kelingkingnya saat itu terlihat hanya sebuah tulang berbalut kulit, warna kulitnya terlihat begitu pucat dan terasa sangat rapuh.
"Kenapa? gak berani mengikat janji denganku?" tanya Luna terdengar kesal karena aku hanya terdiam, aku tertawa kecil lalu aku kaitkan jari kelingkingku pada jari kelingkingnya.
"Sejenak aku merasa... kamu memperlakukanku seperti anak kecil" jawabku lalu aku pun tertawa, tawaku saat itu memancing Luna untuk ikut tertawa.
"Mana janjimu? kamu cuma menempelkan kelingkingmu di kelingkingku" ucap Luna terdengar ngambek, wajah juteknya pun terlihat.
"Aku janji... apapun yang terjadi, aku akan menyelesaikan check list mu sampai tuntas. Asalkan kamu juga berjanji untuk berusaha sembuh" tegas aku mengatakan janjiku padanya, kali ini giliran Luna yang tertegun memandang wajahku.
__ADS_1
"Terima kasih kak~ aku berjanji untuk berusaha sembuh" celetuk Luna setelah sebelumnya kamu terdiam beberapa saat