
"Hai kak, selamat pagi..." ucapku ketika kak Jester sudah sangat dekat dengan tempat aku duduk
"Pagi, Luna. Aku baru saja berencana untuk ke rumahmu setelah gladi bersih selesai, aku pikir kamu masih dirumah sakit" timpal kak Jester, aku tertawa kecil mendengar perkataannya.
Lalu dia duduk di sebelahku sembari memainkan handphone miliknya, aku melihatnya sedang chating dengan seseorang namun sayang aku tidak bisa melihat dengan pasti dengan siapa dia berkirim pesan. Setelah beberapa saat, kini tatapan matanya menatapku dengan senyum yang begitu manis.
"Gimana keadaanmu?" tanya kak Jester
"Baik... aku sudah lebih baik sekarang, terima kasih sudah bertanya" jawabku
"Maaf akhir - akhir ini aku jarang menemui mu, aku masih disibukkan dengan acara dies natalis ini. Membantu Justin karena dia ketua osis sekarang dan juga band ku akan perform sore nanti. Apa kamu akan menontonku perform?" tanya kak Jester, aku kembali tersenyum kepadanya.
"Aku mengerti, kak Justin juga sudah cerita kamu sibuk. Lalu tentang perform mu... aku tidak yakin tapi aku akan usahakan" jawabku, mendengar jawabanku ketika itu aku merasakan ada kekecewaan dari raut wajah kak Jester.
"Tapi aku punya sesuatu untukmu..." gumam kak Jester
"Sesuatu? apa itu?" tanyaku penasaran
"Kalau begitu kita lakukan sekarang, ayo ke auditorium!" ajak kak Jester lalu menarik tanganku
Kuatnya tarikan tangan kak Jester saat itu membuat tubuhku berdiri dan langsung terjatuh, seketika itu aku terjatuh... aku benar - benar tidak dapat merasakan kakiku... kak Jester dan Selena pun langsung panik dan berusaha untuk menolongku, kak Jester meminta maaf padaku dan bertanya kenapa aku seperti tidak bertenaga ketika berdiri.
Ditengah kebingunganku untuk menjawab pertanyaan itu, Selena dengan cekatannya melepaskan tali sepatuku secara diam - diam. Selena pun berkata pada kak Jester jika tali sepatu lah yang membuatku terjatuh, aku langsung menatap wajah Selena namun dia membuang muka.
Selena dan kak Jester pun merangkul ku untuk kembali membawaku duduk di kursi taman yang tadi aku duduki, keringat dinginku bercucuran deras karena kakiku benar - benar tidak dapat aku gerakkan. "Kaki aku mohon.... bekerjasama lah sedikit lagi!!" ucapku dalam hati sembari memukul - mukul kakiku yang aku samarkan seakan aku sedang membersihkan debu - debu yang mengotori rok.
"Maaf Luna, aku akan carikan plaster buat menutupi lukamu ya" ucap kak Jester sembari memperhatikan baret - baret di kedua lututku.
"Tidak usah kak, biarkan saja" timpal ku, seketika itu kak Jester langsung menatap kedua kakiku dengan seksama.
__ADS_1
"Luna, kamu dipukuli siapa?!!" tanya kak Jester padaku, aku kembali dibuat terkejut dengan pertanyaan kak Jester.
Aku benar - benar lupa jika akan selalu muncul memar - memar di kulitku secara tiba - tiba, bodohnya aku membiarkan kak Jester memperhatikan kakiku begitu saja. Ditengah paniknya aku, lagi dan lagi Selena menyelamatkanku...
"Itu efek dari terapi yang sedang dijalani Luna kak, kemarin dia sempat merasakan kebas terus - menerus pada kakinya jadi memang seperti itulah efek sampingnya" Selena menimpali pertanyaan kak Jester, aku dan kak Jester kompak menatap wajah Selena.
"Benarkah?" tanya kak Jester namun sepertinya dia sangat sulit untuk mempercayai perkataan Selena
"Kalau gak percaya, lakukan aja terapi yang dijalani Luna. Cowok kok cerewet" jawab Selena lagi, seketika ekspresi kak Jester menjadi masam menatap Selena.
"Kamu lama - lama ngeselin yak" terdengar kesal kak Jester saat mengatakannya, Selena melipat kedua tangannya dan berwajah sinis menatap kak Jester.
"Hah? aku? tidak, kamu yang ngeselin sebagai cowok. Banyak tanya udah kayak wartawan aja" timpal Selena dengan sinis, aku pun tertawa melihat pertengkaran mereka.
Tawaku menghentikan kak Jester dan Selena saling serang kata - kata, keduanya kompak menatapku dengan wajah herannya.
"Kenapa tertawa?" tanya kak Jester dan Selena bersamaan, tawaku semakin tak dapat terkendali seketika itu.
"Ahahaha... kalian cocok ya~" timpal ku
"Luna!" bentak kak Jester dan Selena bersamaan, aku sampai memegang perutku karena menertawakan kebetulan yang terus berulang itu.
Suasana yang canggung tadi mencair... aku, Selena dan kak Jester bercanda, mengobrol, dan sesekali diantara mereka terlibat saling serang kata - kata. Hingga siang menjelang sore, suara dering handphone kak Jester tiba - tiba berdering. Seseorang meneleponnya lalu setelah menutup telepon itu, kak Jester mengatakan jika dia sudah dipanggil untuk perform.
"Tapi kan belum sore kak, acara juga belum dimulai" ucapku mencari alasan karena setelah berjam - jam berlalu, kakiku masih saja tidak dapat aku gerakkan.
"Aku menjadi band pembuka dan penutup, jadi sekarang aku harus tampil untuk membuka acara! ayo ke auditorium Luna, Selena!" seru kak Jester sembari kembali memegang tangan kananku, seakan dia memaksaku dan aku tidak diberi kesempatan untuk menolaknya.
"Tunggu... beri aku waktu sejenak... kamu bisa tinggalkan aku dan aku janji akan menyusul mu" timpal ku
__ADS_1
"Aku akan menunggumu" ucap kak Jester sembari melepaskan genggaman tangannya dari tanganku
Setelah itu... aku menarik nafasku dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan, aku memejamkan kedua mataku dan mulai berbicara pada tubuhku sendiri dalam hati... aku berkata... "Kakiku... tolong untuk terakhir kali... turuti hatiku, bergeraklah... dan tubuhku, maaf... aku sudah memaksamu untuk terus berbohong jika kamu sehat - sehat saja... aku mohon pada kalian.... tolong aku untuk terakhir kalinya"
Setelah mengucapkannya... aku kembali membuka mata dan aku melihat wajah pangeranku tepat di hadapanku... aku ingin membuatnya senang meski ini adalah untuk yang terakhir kalinya, aku ingin memberinya kebahagiaan meski itu untuk terakhir kalinya. Apapun... akan aku lakukan untukmu...
"Ayo" celetukku pada pangeranku
"Luna!" bentak Selena tiba - tiba dan bentakan itu membuat aku terkejut, aku dan kak Jester pun menoleh menatap Selena.
Wajah khawatir Selena begitu terlihat, namun dia kesulitan untuk mencarikan alasan agar aku bisa menolak permintaan kak Jester. Aku sangat berterimakasih padanya... setelah beberapa kali menyelamatkanku, kali ini aku akan melakukannya sendiri.
"Tidak apa - apa" timpal ku padanya, seketika itu Selena membuang muka menghindari tatapan matak dan senyumanku.
Perlahan aku mencoba untuk berdiri... meski dengan kaki yang terasa kebas itu, aku menumpu berat tubuhku dengan kedua tangan yang aku tumpukan pada sandaran tangan kursi taman. Ketika sudah berdiri aku mencoba melepaskan tangan dari kedua sandaran tangan kursi itu, dan aku... berhasil...
Aku begitu terkejut ketika itu, jujur saja aku merasa tidak akan mungkin hal ini terjadi. Ditengah wajah ku yang terlihat senang itu, ada ekspresi khawatir Selena dan wajah heran kak Jester menatapku. Aku tertawa kecil lalu dengan santainya aku berkata...
"Yuk... aku sudah gak sabar untuk melihat perform mu kak" celetukku pada kak Jester
Kami bertiga berjalan menuju auditorium, meski aku sedikit menyeret kaki namun aku berhasil mengelabui kak Jester tentang cara jalanku. Setelah beberapa saat berjalan yang cukup membuatku tersiksa itu, kini aku melihat pintu auditorium. Aku berpisah dengan kak Jester didepan pintu masuk auditorium karena dia harus masuk lewat pintu panggung, saat kak Jester sudah pergi menjauhi aku dan Selena... aku pun terduduk di lantai karena sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit yang aku rasakan.
Namun Selena kembali menolongku, aku bertumpu pada bahunya dan kami pun memasuki auditorium. Ketika itu aku memilih kursi paling dekat dengan pintu masuk auditorium, namun seorang kakak kelas memintaku dan Selena untuk pindah ke tempat duduk yang lebih dekat dengan panggung. Selena sudah meminta kepada kakak kelas agar kami diizinkan untuk tetap berada di kursi ku sekarang, namun permintaan Selena ditolak.
Kami pindah kursi dengan sangat terpaksa, aku kesulitan untuk terus berjalan meski Selena terus membantuku berjalan. Seakan semua sudah diatur, aku kembali bertemu kakak kelas lainnya yang memintaku untuk duduk semakin mendekati panggung. Hingga di kursi paling depan, aku melihat kursi yang kosong dan terkesan sudah dipersiapkan untukku dan Selena.
Setelah kami berdua duduk, lampu auditorium pun padam. Seketika itu lampu sorot mulai menyorot atas panggung, disana aku melihat kak Jester sedang tampil bersama bandnya. Kak Jester berperan sebagai gitaris, aku juga melihat kak Luke sebagai drummer, kak Harry basis, dan kak Justin sebagai vokalis... tidak lama lagu pertama mereka pun dimulai, namunĀ aku tidak menikmati lagu yang mereka mainkan.
Bukan karena permainan mereka buruk, tapi karena... aku terpesona pada penampilan kak Jester. Aku lebih fokus kepadanya, cara memainkan gitar, petikan - petikan melodi yang yang dia tunjukkan mengiringi lagu yang mereka bawakan, seakan menjadikan kak Jester bintang utama dalam band. Biasanya dalam suatu band, vokalis menjadi bintang utama... namun tidak untuk pangeranku, dia terlalu menawan dan menarik perhatian sampai membuatku terpesona padanya.
__ADS_1
Lagu pertama mereka pun selesai dimainkan, kak Jester langsung menatapku dari atas panggung. Kini aku tahu kenapa aku harus duduk disini, semua karena rencana kak Jester. Aku tersenyum padanya lalu aku mengangkat jempolku untuk memuji penampilannya, tidak lama lagu kedua mereka pun dimainkan... aku kembali dibuat terpesona dengan penampilan pangeranku.