
Agak lama Selena hanya diam memandangi layar handphone itu, perlahan jarinya menyentuh layar lalu menggeser tombol agar telepon terangkat. Saat itu Selena juga menyentuh tombol agar suara pembicaraan mereka dapat aku dengar juga, "Apa yang akan dikatakan kak Jester? bukankah ini terlalu singkat untuk kembali bicara setelah kejadian tidak menyenangkan tadi?" tanyaku dalam hati
***
"Ya" sapa Selena
"Selena... aku minta maaf atas sikap dinginku tadi, aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan selain kata maaf jadi... semoga kamu dan Luna mau memaafkanku" timpal kak Jester
Ketika itu Selena terdiam dan menatapku tanpa kata, hanya sebuah gestur kepala dan mata yang seakan mengatakan padaku "apa yang harus aku katakan?", aku tersenyum lalu tertawa kecil agar kak Jester tidak mendengarkan suaraku.
"Aku memaafkannya dan aku memahaminya" bisikku pada Selena
"Luna sudah memaafkanmu dan dia tidak bermasalah sama sekali dengan sikapmu tadi" ucap Selena pada kak Jester
"Bagaimana denganmu?" tanya kak Jester
"Aku? kamu tidak perlu kata maaf dariku karena aku tidak akan memaafkanmu!!" bentak Selena menjawab pertanyaan kak Jester, lalu Selena pun memutuskan saluran telepon itu.
***
Aku terkejut mendengar bentakan dari Selena, dia terlihat sangat marah saat ini. Setelah menutup telepon itu, Selena langsung melempar handphone itu ke kursi belakang. Melihatnya begitu marah pada kak Jester membuatku risau, bagaimana pun aku telah susah payah untuk mendamaikan keduanya namun jika hubungan mereka akan kembali hancur... Tidak, tidak boleh. Aku gak boleh biarkan itu terjadi kan?
"Selena, jangan marah seperti itu... kamu harus paham kalau..." belum selesai aku berkata, Selena memotongnya.
"Aku gak mau dengan pembelaanmu buat kak Jester!!" bentak Selena padaku, aku menghela nafasku lalu ku cubit pipinya agak keras.
"Keras kepala ya...." ucapku kesal
"Aaa Aaa... Lunaa~~! sakit looh!" timpalnya merintih kesakitan, perlahan aku lepaskan cubitan ku dari pipinya.
__ADS_1
"Ini seperti ketika aku memintamu untuk memahami Naomi saat kita kecil dulu, kamu juga bersikap yang sama ketika itu. Kamu gak pernah berubah ya~" celetukku dengan tawa kecil, Selena menatapku dengan tajam terlihat begitu kesal sembari mengelus pipi bekas cubitan tanganku.
"Pernah kamu berpikir kalau kamu dan Naomi akan berteman? apa yang kamu pikirkan ketika aku memaksa untuk membuatkan kue coklat sebagai bentuk gencatan senjata untuk kalian? apa pernah kamu berpikir kalau pada akhirnya itu berhasil dan membuat kalian menjadi sahabat yang saling peduli?" tanyaku padanya
"Ini beda, Luna" timpal Selena dengan nada kesal, aku tertawa kecil mendengarkan jawaban kesalnya itu.
"Sama~ bayangkan jika kamu di posisi Naomi, apa perasaanmu kalau punya pasangan yang menjaga hatinya begitu kuat seperti kak Jester?" tanyaku lagi sedikit menekannya
"Kamu tidak akan merebut kak Jester dariku, jadi aku tidak akan ada masalah jika Naomi adalah aku. Nyatanya Naomi juga bersikap sama seperti yang aku pikirkan" jawabnya ketus
"Itu karena kamu mengenalku, bagaimana jika orang itu adalah orang yang sama sekali tidak kamu kenal? masihkah kamu akan bersikap yang sama?" tanyaku lagi, mendengar pertanyaan itu membuat Selena termenung menatapku.
"Naomi mungkin terlalu ceroboh untuk membuka pintunya, beruntungnya dia karena aku memang tidak memiliki niat sedikitpun untuk merebutnya. Tapi bagaimana jika itu bukan aku? menurutmu apa Naomi akan tenang jika kak Jester bersikap terbuka pada wanita lain?" tanyaku lagi semakin menekannya, seketika itu Selena pun kembali kesal padaku.
"Luna~!! kamu di pihak siapa sih?! aku ini mendukungmu loh!! kenapa jadi aku yang kamu hakimi?!" ucapnya terdengar emosi, aku kembali tertawa lalu aku cubit lagi pipinya seraya aku berkata....
"Suatu saat kamu akan memahami apa yang aku katakan, kali ini saja aku minta... hanya untuk kali ini saja, pahami kak Jester" ucapku ketika itu, Selena merintih kesakitan seraya menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Aku terkejut kak Luke bisa memiliki pacar secantik Sarah, tidak hanya cantik tapi Sarah kan juga seorang selebgram terkenal seperti Naomi. Bagaimana mungkin kak Luke bisa mendapatkan keberuntungan seperti itu? apa kak Luke mempunya foto memalukan Sarah lalu mengancamnya dengan foto itu agar Sarah mau menjadi pacar kak Luke? apa dunia ini sudah mulai gila sampai kak Luke bisa berpacaran dengan wanita cantik itu?
Kurang lebih itu yang aku tanyakan tapi hanya suara tawa kak Justin dan amarah Selena yang aku dapatkan, kata mereka aku tidak usah memikirkan hal itu karena rencana kita akan sangat menguras otak dan juga tenaga. Aku kesal mendengar jawaban kak Justin dan Selena ketika itu, rasa penasaranku membuatku tidak bisa fokus kala itu. Meski begitu ternyata tugasku hanyalah mengikuti arus, kak Justin dan Selena lah yang lebih banyak bergerak untuk mengecoh mereka semua.
Diskusi itu berjalan alot karena kak Justin sering kali dapat menemukan celah dari rencana Selena yang membuat semuanya menjadi hancur berantakan, aku hanya diam saja sembari menatap kedua sahabatku itu saling berdebat untukku... untuk kebahagiaanku dan untuk impian terakhirku, betapa beruntungnya aku memiliki mereka berdua didalam hidupku yang singkat ini. Dengan umur yang tidak akan sampai dua puluh tahun, aku merasakan kehangatan dari orang lain yang tidak memiliki hubungan darah denganku sama sekali... :)
Malam pun tiba, aku kembali pingsan entah kenapa.... tapi baik ibu, ayah, kak Justin dan Selena tidak menyadari aku pingsan karena saat itu aku sempat untuk merebahkan tubuhku di kasur. Semua bermula ketika aku tidak bisa tahan dengan rasa sakit yang menyerang tulang belakangku, pinggulku juga seakan dihantam dengan kayu begitu keras. Pada titik tertentu, rasa sakit itu membuatku tidak sadarkan diri. Aku meringkuk di kasur dan mungkin karena itulah ayah, ibu, kak Justin dan Selena tidak menyadarinya....
Terbangun ketika tengah malam, aku melihat sekelilingku dan hanya ada aku didalam kamar ini. Entah jam berapa Selena dan kak Justin pulang, lalu bagaimana hasil diskusinya pun aku tidak tahu. Aku menghela nafasku dan berharap semua sudah terencana dengan baik oleh kak Justin dan Selena, perlahan aku pun beranjak dari kasur untuk kembali meminum obat yang diberikan oleh dokter Richard kepadaku. Setelah meminum obat itu, aku kembali tidur untuk melewati malam.
Pagi hari ketika terbangun, suhu badanku sangat tinggi yang membuat ayah dan ibu panik. Aku katakan pada mereka jika aku baik - baik saja, dan ini hanyalah panas biasa. Tapi ayah dan ibu tetap tidak mau menerima alasanku itu, mereka ingin membawaku periksa di rumah sakit swasta pinggir kota tempat aku dirawat terakhir kali ketika koma belakangan ini. Aku menolak keras keinginan mereka dan pada akhirnya aku kembali memenangkan keegoisanku agar ayah dan ibu tidak membawaku ke rumah sakit, aku benar - benar meminta maaf untuk itu.. ibu.. ayah... :(
__ADS_1
Hari ini aku meminta ayah untuk menelepon Selena dan katakan padanya jika aku membutuhkan istirahat total, Selena memahaminya dan pada hari itu juga dia bilang akan mengurus semua hal yang bersangkutan dengan keberangkatanku ke Paris bersama kak Jester. Jadi aku serahkan saja semuanya pada Selena, aku harus fokus untuk mengistirahatkan tubuh ini yang semakin hari semakin aneh rasanya...
Seharian itu aku benar - benar hanya rebahan di kasurku, makan minum pun di kasur, hanya kebutuhan ke kamar mandi yang membuatku keluar dari kamar. Tapi setelahnya, aku kembali merebahkan tubuh ini di kasur yang menemaniku sudah sangat lama ini. Tidak banyak yang terjadi, hingga hari berganti.
Pagi - pagi Selena berkunjung kerumah ketika aku baru saja membuka mataku, dia perlahan membuka pintu kamar dan mengintip ku dari celah pintu yang terbuka itu. Aku tersenyum padanya lalu perlahan beranjak dari kasur lalu duduk di pinggiran kasur, ketika itu Selena berjalan masuk kedalam kamar dan berdiri tepat di hadapanku. Tangannya terlihat merogoh tas lalu mengambil beberapa tiket pesawat, dia memilih - milih lalu ketika sudah menemukan tiket yang dia inginkan dengan segera Selena memberikannya padaku.
"Maaf tiket ekonomi, aku yakin kamu tidak tahu detail rencananya jadi ikuti saja" celetuk Selena ketika aku menerima tiket itu, aku membaca tiket itu yang menuju ke Paris Prancis.
"Ini... pasti mahal kan? kamu membelikannya untuk semua?" tanyaku
"Iya, kalau aku biarkan mereka beli sendiri - sendiri nanti kak Jester tidak bisa aku jebak, dan mereka pasti akan membuat pesawat delay dengan kuasa mereka. Kak Justin sudah menjelaskannya semua, jadi ini cara terbaik yang bisa kami lakukan untukmu" timpal Selena, aku menghela nafasku lalu ku tatap wajahnya dengan senyuman.
"Aku bukan sedang mengeluh, ini lebih dari apa yang bisa aku bayangkan... kamu menghabiskan banyak uang hanya untukku dan impianku, betapa baiknya kamu..." celetukku, sejenak Selena menatapku dengan wajah heran.
"Ada apa?" tanyaku bingung
"Luna... kamu terlihat.... berbeda, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya Selena terdengar kebingungan, aku pun bingung dengan pertanyaannya.
"Hah? apa ya? tidak ada, aku hanya tidur seharian kemarin" jawabku
"Benarkah? aku merasa... kamu berbeda hari ini..." timpal Selena, kami terdiam beberapa saat meski mata kami tetap saling menatap.
"Sudahlah, lupakan. Aku mau membagikan tiket ini pada kak Jester dan yang lain, kamu istirahatlah" celetuk Selena memecah keheningan diantara kami
"Tunggu, aku ikut!" pintaku padanya, aku segera ingin berdiri namun Selena menahan ku dengan menekan kedua bahuku.
"Tunggu disini dan biarkan aku yang bekerja, kamu harus bugar ketika berangkat ke Paris" tegas Selena mengatakannya, aku tertawa kecil lalu mengangguk beberapa kali.
"Terima kasih, Selena" ucapku
__ADS_1
"Sama- sama, sekarang beristirahatlah" timpal Selena lalu beranjak pergi dari kamarku.