
Aku, satu orang pegawai hotel dan satu orang penjaga hotel memiliki luapan emosi yang sama, yaah... tentu saja kami terkejut dengan apa yang kami lihat. Pegawai hotel pun segera mendekati telepon yang ganggangnya dipegang oleh Luna, sedangkan aku segera mendekati Luna dan berusaha membalik badannya kemudian meletakkan kepala diatas pangkuanku. Ketika itu lah aku mendapatkan fakta baru, Luna... memakai rambut palsu... "Apa ini? apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku dalam hati
Tangan, baju dan celanaku ketika itu penuh dengan darah yang seakan terus mengalir baik dari bibir dan hidung Luna, sudah berulang kali aku menyekanya namun tetap saja ada yang menetes.
"Ambulan sebentar lagi akan sampai!" ucap pegawai hotel, aku hanya mengangguk meresponnya.
"Lebih baik kita bawa nona ini ke lobby!" begitu saran penjaga hotel, aku pun menyetujuinya.
Dengan hati - hati aku, penjaga hotel dan pegawai hotel membopong Luna agar tubuhnya tetap lurus. Cukup sulit membawa Luna saat hendak masuk kedalam lift karena tingginya yang mungkin sekitar seratus tujuh puluh sentimeter itu membuat kami harus sedikit menekuk kaki Luna ketika pintu lift terbuka, saat itulah aku tersadar hal lain yang ada pada Luna... tubuhnya, iya tubuh Luna yang membuatku terkejut karena ketika aku menyentuh lengannya saat itu aku hanya merasakan tulang yang berbalut kulit.
Begitu kecil dan kurus... seketika itu aku baru tersadar jika dia selama ini selalu mengenakan pakaian yang kebesaran, aku pikir itulah cara dia berpakaian selama ini tapi ternyata Luna melakukannya untuk menutupi hilangnya lemak yang ada di sekujur tubuhnya. "Ada apa? Ada apa ini?! kenapa jadi seperti ini?!" ucapku dalam hati, aku masih dikuasai rasa panikku yang mungkin berlebihan.
Begitu pintu lift terbuka, kami berlari membawa Luna sampai kedepan lobby. Tidak lama menunggu ketika itu aku melihat ambulan juga baru datang dan berhenti tepat didepan pintu masuk hotel, kami pun segera disambut oleh dua orang petugas dari ambulan dengan brankar yang mereka dorong begitu cepat mendekati kami. Luna segera kami rebahkan diatas brankar itu, lalu salah satu petugas ambulan bertanya...
"Apa anda pihak keluarga dari pasien?" tanya petugas itu dengan panik
"Aku yang bertanggungjawab selama dia ada disini" jawabku tegas
"Ikut kami!" ajaknya
Aku langsung mengikuti petugas ambulan untuk menaiki ambulan bersama Luna yang berada diatas brankar, didalam mobil ambulan itu aku melihat perawat membersihkan wajah Luna dari noda darah dengan alkohol. Bersamaan dengan hilangnya darah di wajah aku juga melihat wajah aslinya yang tersingkap dari make up tebal, sangat tebal sampai membuat perbedaan yang begitu besar antara pipi yang telah dibersihkan dengan alkohol dengan dahinya yang belum tersentuh alkohol.
Wajah putih meronanya ternyata selama ini hanyalah sebuah make up, dibalik itu ada warna kulit putih pucat dan bibir yang pecah - pecah. Kantung matanya menghitam, aku tidak pernah melihat wajah sepucat itu sebelumnya. "Apa yang terjadi padamu, Luna?" tanyaku dalam hati ketika perawat sudah membersihkan semua hal yang tertempel di wajah Luna, kini wajah aslinya terlihat semakin menguatkan dugaanku jika Luna sedang sakit keras.
Beberapa menit berlalu kami pun sampai dirumah sakit, aku mengikuti petugas turun dari mobil ambulan dan mendampingi Luna sampai didepan pintu IGD rumah sakit. Disana seorang perawat memintaku untuk menunggu diluar, dengan perasaan masih syok dan kaget aku hanya mengangguk tanpa menjawab apapun. Terpikirkan saat itu untuk menelepon Naomi dan memberi kabar tidak menyenangkan ini padanya, tapi saat itu sebenarnya tujuanku bukanlah itu... sebenarnya aku ingin dia menenangkan ku, entah kenapa disaat seperti ini aku merasa sangat membutuhkan sosok Naomi di sampingku.
Segera aku operasikan ponselku untuk melakukan panggilan kepada Naomi, agak lama telepon itu memanggil namun Naomi tidak juga kunjung mengangkat. Sampai pada percobaan kedua, akhirnya telepon pun terangkat.
***
"Ya hallo..." sapa Naomi terdengar seperti dia terbangun dari tidurnya
"Na.. Naomi!! Gawat!! Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Luna, tapi ini sungguh gawat!!" begitu kurang lebih apa yang aku katakan pada Naomi ketika aku masih panik, aku tidak tahu harus berkata apa dan hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
"Jess... tenang, aku tahu kamu panik. Tapi bisa kasih tahu aku apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naomi terdengar begitu lembut dan berusaha menenangkan ku, aku menarik nafasku dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Naomi.
"Ini tentang Luna, dia pingsan dengan banyak darah yang terlihat keluar dari mulut dan hidungnya. Aku tidak bisa memahami apa yang terjadi padanya, dia sekarang berada dirumah sakit dan masuk IGD. Aku..." belum selesai aku berbicara, Naomi memotong
"Jess.... tenang, oke? aku harus beritahu kamu sesuatu yang sangat penting, ini berkaitan dengan Luna..." suara Naomi ketika itu terdengar sedih, seketika itu tubuhku terasa begitu dingin entah perasaan apa itu.
__ADS_1
"Apa ada... yang kamu ketahui sedangkan aku tidak?" tanyaku terbata, aku mendengar suara helaan nafas Naomi
"Luna... menderita Leukimia dan dia... memiliki harapan hidup yang mengkhawatirkan..." jawab Naomi, dengan suara seraknya itu yang seakan sedang menahan tangis membuatku merasa ini bukanlah bercandaan.
Aku terdiam mematung dengan tubuh yang tiba - tiba merasakan dingin, aku tidak tahu perasaan apa ini karena hal seperti ini tidak pernah terjadi padaku. Isi dalam otakku meracau, banyak pertanyaan yang entah terdengar darimana begitu berisik di telingaku. Mungkin aku melamun saat itu, sampai suara tarikan nafas Naomi terdengar dan memecah lamunanku.
"Alasan Luna dulu menolakmu karena dia tahu tentang penyakitnya dan harapan hidupnya yang singkat, lalu sekarang pun... dia cuma ingin menuntaskan semua janji - janji kalian yang pernah terucap, agar dia tidak punya rasa sesal didalam hidupnya" Naomi melanjutkan perkataannya, seketika itu rasa dingin yang menyerang tubuhku kini membuatku merasa lemas.
"Kamu... tahu darimana...?" tanyaku terbata
"Orang Tua Luna sudah menceritakan semua padaku ketika kamu terbang ke Paris, Jess... bagaimana keadaan Luna? apa perlu kami kesana untuk menyusul kalian?" ucap Naomi yang semakin jelas terdengar dia sedang menangis dari suaranya
"Tidak perlu... aku akan panggil pilot papa untuk menjemput kami dengan jet pribadi... keadaan Luna sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan" jawabku datar
"Baik, aku mengerti... besok aku ijin untuk kerumah ayah, aku ingin minta ijinnya agar memasukkan Luna ke rumah sakit Scott dengan perawatan terbaik" timpal Naomi
"Aku akan memastikan kondisinya disini... nanti aku kabari lagi" ucapku lalu aku ingin segera menutup sambungan telepon itu.
***
Beberapa kali aku berusaha untuk menyentuh layar ponselku namun aku kesulitan, tangan dan jariku gemetaran sampai Naomi yang ternyata menutup sambungan telepon kami. Ketika itu layar ponselku pun otomatis menghitam dan memantulkan wajahku, aku kembali melamun...
Aku terbayang semua kenangan tentang Luna bahkan sejak kami masih SMA dulu, gerak tubuhnya, suaranya saat berbicara dan tertawa, senyumnya, dan semua sentuhan - sentuhan lembutnya yang pernah aku rasakan... semua itu terputar kembali didalam kepalaku. Tidak terasa air mataku pun menetes, pikiranku kalut dan nafasku terasa sesak bahkan hatiku terasa begitu sakit seakan dia meronta - ronta ketika menyadari Luna akan... pergi dari hidupku untuk selama - lamanya...
"Anda yang bersama pasien bernama Luna Lincoln?" tanya seorang perawat yang entah sejak kapan berada di belakangku, aku terkejut lalu segera berbalik untuk menatapnya.
"I...iya, bagaimana keadaannya?" tanyaku sambil menyeka air mata yang tersisa di pipiku
"Dokter ingin berbicara dengan anda, silahkan ikuti saya" jawab perawat itu, lalu kami pun menuju ruang dokter.
Sebenarnya aku tidak mampu untuk berjalan, langkahku terasa begitu lemas tak bertenaga. Tapi aku harus menguatkan hati karena di Paris ini, Luna hanya memiliki aku yang bisa menjaganya. Selagi aku berjalan ketika itu aku berusaha untuk menguatkan hatiku, dokter pasti akan mengatakan hal yang selama ini Luna sembunyikan dariku.
Disebuah ruangan aku melihat perawat membukakan pintu, lalu mengajakku masuk kedalamnya. Disana aku melihat dua orang dokter sedang berdiskusi terdengar cukup serius, kedatanganku lah yang membuat diskusi mereka selesai. Hampir bersamaan keduanya menatapku dengan raut wajah kesedihan, aku bisa memastikan jika kondisi Luna benar - benar tidak baik hanya dari raut wajah keduanya.
"Selamat siang" sapaku seraya aku duduk di kursi yang tersedia tepat berhadapan dengan dokter
"Dengan tuan...?" tanya salah satu dokter kepadaku
"Jester.... Jester Gates" jawabku
__ADS_1
"Baik tuan Gates, apa hubungan anda dengan pasien?" tanya dokter yang tepat duduk di depanku
"Aku... orang yang bertanggungjawab selama dia ada disini" jawabku, tidak lama dokter yang berdiri saat itu pergi meninggalkan ruangan. Kini hanya ada aku dan dokter di hadapanku, entah kenapa auranya begitu menekan ku dengan semua kesedihan.
"Apa... yang terjadi pada.. temanku?" tanyaku terbata, dokter itu menghela nafasnya lalu mengatakan...
"Nona Lincoln menderita penyakit Leukimia yang akut, kondisi tubuhnya suah tidak dapat bertahan lagi dan mungkin dia akan mengalami kelumpuhan yang disebabkan nyeri tulang yang berlebih. Selema ini nona Lincoln menopang kesehatannya dengan obat - obatan dosis tinggi, akibatnya sekarang membuat tubuh nona Lincoln sudah tidak mampu lagi menahan efek samping obat - obatan itu" jelas dokter kepadaku tentang kondisi Luna, aku pun mendengar hal yang sama dari Naomi... ternyata memang benar - benar terjadi...
"Bisa kalian... menyembuhkannya dan menyelamatkannya..?" pintaku dengan sangat, namun dokter menggelengkan kepalanya.
"Organ dalam tubuhnya sudah sangat rusak efek dari kuatnya obat yang nona Lincoln konsumsi selama ini, langkah pertama yang memungkinkan adalah pengangkatan limpa yang sudah membengkak... tapi itu sangat beresiko, kami juga harus memiliki rekam medis yang jelas dan lengkap dari riwayat pasien" jawab dokter terdengar pesimis, aku membenturkan dahiku diatas meja karena begitu menyesal semua ini terjadi.
"Apa yang sebaiknya aku lakukan disaat seperti ini?" tanyaku dan terasa sekali air mata ini kembali sulit untuk aku bendung
"Tuan Gates... aku tidak tahu apa hubungan anda dengan nona Lincoln, namun sisi saya sebagai orang awam mengatakan bahwa... nona Lincoln memaksakan tubuhnya untuk menggapai sesuatu sebagai hal terakhir yang mungkin sangat dia inginkan.... dan jika saya boleh memberi saran, saat nona Lincoln sadar dari koma... anda dapat bertanya padanya apa yang membuatnya mengambil langkah berbahaya seperti ini" jawab dokter itu memberiku saran, aku pun terdiam beberapa saat karena teringat akan catatan keinginan terakhir Luna.
"Mungkin hanya itu yang bisa saya katakan saat ini" ucap dokter itu menutup pembicaraan
"Terima kasih sarannya" timpal ku sembari aku berdiri dari dudukku lalu berjalan keluar dari ruangan itu.
Di Koridor depan ruang dokter ketika itu aku merasakan lemas pada seluruh tubuhku, aku sandarkan bahu ini ditembok agar tidak sampai membuatku terjatuh. Perlahan aku berbalik lalu duduk dilantai bersandar pada tembok, ketika itulah air mataku deras menetes tak tertahankan. Aku teringat semua kenangan tentang Luna yang selama ini berhasil aku lupakan, semuanya.... semua tentang Luna, aku ingat kembali saat itu.
Penjelasan detail dari dokter semakin membuatku larut dalam kesedihan, dalam hati aku tidak percaya ini akan terjadi... "Luna, akan meninggalkanku untuk selama - lamanya?" tanyaku dalam hati, tapi hatiku berperang saat itu dengan mengatakan "Bukankah ini yang kamu inginkan ketika berhadapan dengan Luna beberapa hari belakangan ini? kenapa menyesal?" pantaskah aku untuk menyesal? pantaskah aku memikirkan Luna ketika aku sudah memiliki Naomi? perasaan apa ini sebenarnya? aku tidak tahu...
Cukup lama aku terduduk disana dengan air mata yang terus mengalir deras, perlahan aku berdiri meski tubuhku terasa lebih berat dari semestinya. Aku berjalan terhuyung sampai keruang tunggu pengunjung pasien, aku memilih kursi paling pojok untuk sekedar mengistirahatkan tubuhku disana. Entah sudah berapa lama aku disana karena aku melamun menatap lantai tepat dibawah kakiku, sesekali air mata ini kembali menetes ketika tiba - tiba suara Luna terdengar didalam otakku.
Tidak terasa waktu berlalu, entah sejak kapan pagi sudah menjelang. Aku bahkan tidak beranjak dari tempatku saat itu, yang aku tahu hanyalah karena seorang pegawai rumah sakit mendatangiku dan berkata...
"Selamat pagi tuan Gates, saya dari bagian administrasi... bisakah anda menandatangani beberapa dokumen?" tanya pegawai rumah sakit itu padaku, aku tersentak dan tatapan mataku langsung tertuju padanya.
"Pagi? dia bilang selamat pagi? apa dia sedang bercanda denganku?" begitulah yang aku katakan dalam hatiku, aku sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa keadaan disekitar. Yaah... dia tidak salah, aku merasakan matahari pagi yang menembus kaca jendela di sekitarku.
"Ya" jawabku singkat
Aku berjalan mengikuti pegawai rumah sakit itu kesebuah ruangan, disana aku menandatangani beberapa dokumen perawatan Luna.
"Baik semua sudah selesai, untuk pertama kami minta deposit senilai empat ratus Euro. Dibayar dengan cara apa?" tanya pegawai rumah sakit itu
"Gunakan ini" jawabku sembari mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompet, itulah kesalahanku ketika itu yang tidak aku sadar. Aku menggunakan kartu kredit hitam milik keluarga yang pasti akan memberikan notifikasi pada email papa, tapi aku tidak berpikiran sejauh itu.
__ADS_1
"Baik.." ucap pegawai itu lalu menerima kartu kredit yang aku berikan, setelah menggeseknya dia segera mengembalikan kartu itu padaku.
"Ini saya kembalikan tuan Gates" ucap petugas itu, aku menerimanya lalu segera keluar dari ruangan itu.