Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 21


__ADS_3

Naomi terus menatapku dalam diam, otak ku pun aku putar dengan keras agar dia memunculkan alasan kalau - kalau Naomi bertanya tentang obat apa yang ada didalam setiap botol make up itu. Bagaimana pun jujur pada Naomi saat ini akan merusak semua hal yang sudah berjalan baik sejauh ini, entah apa yang akan terjadi ketika Naomi dan kak Jester tahu tentang kebenaran yang menimpaku selama ini.


"Kamu... Mau menggoda Jester hari ini? apa ini semua untuk mempercantik dirimu saat kalian berdua pergi ke festival square?!!" tiba - tiba Naomi membentak ku penuh amarah


Wajah curiga dan cemburu Naomi menjadi lebih sering aku lihat, kasihan sekali Naomi.. Tetapi sekeras apapun dia cemburu pada akhirnya Naomi selalu mengiyakan apapun yang aku jelaskan. Sabar ya Naomi.. tidak lama lagi semua akan berakhir. Dan kamu pasti akan bahagia bersama kak Jester.


Mendengar pertanyaannya membuatku lega ternyata Naomi sama sekali tidak menyentuh botol - botol itu, aku merespon amarah Naomi dengan suara tawa kecil dan gelengan kepala. Sejenak aku menghela nafasku dan merangkak mendekati Naomi, aku duduk di pinggir kasur yang langsung berhadapan dengan Naomi di kursi riasnya.


"Tidak, hari ini aku tidak berniat untuk menggodanya atau apapun itu. Kami memiliki hal yang harus kami selesaikan agar sesuatu hal itu tidak akan pernah mengganggu hubunganmu dengan kak Jester, izinkan aku untuk semakin memuluskan hubunganmu dengannya" jawabku untuk menenangkan api cemburunya


Bagaimana pun aku akan membawa orang yang Naomi cintai untuk jalan berdua saja, wanita mana yang akan rela melihat pacarnya jalan dengan seseorang yang pernah saling mencintai dimasa lalu? Aku pun belum tentu akan sekuat Naomi jika ada di posisinya, jadi membuatnya merasa tenang adalah satu - satunya cara yang bisa aku lakukan saat ini.


"Huh... Ya sudahlah, aku percaya padamu.." celetuk Naomi


Aku tertawa mendengar perkataan Naomi, tidak lama Selena terbangun dan aku melihat ekspresi wajahnya terkejut setelah menatap botol - botol makeup milikku yang berisi obat - obatan yang lupa dia bereskan kembali setelah sebelumnya mengambilkan ku obat - obatan itu. Perlahan tatapan mata Selena menatapku dengan wajah khawatir, tapi aku segera memberinya gestur mata agar dia tidak menimbulkan rasa curiga Naomi atas botol - botol itu.


Setelah merapihkan penampilan kami didepan kaca rias, kami pun keluar kamar untuk menyiapkan sarapan. Ketika itu aku teringat jika kami sudah tidak memiliki bahan apapun untuk diolah menjadi sarapan untuk kami, tapi sepertinya Naomi benar - benar sudah siap untuk mengurus pekerjaan rumah tangganya. Dia sudah memesan belanjaan secara online yang sudah datang tidak lama setelah kami keluar dari kamar, Naomi menunjukkan bahan - bahan yang kami punya untuk diolah pagi ini.

__ADS_1


Semangat memasak kami pun meningkat melihat kualitas dari bahan - bahan yang Naomi pilih, namun semangat itu langsung menurun setelah kami masuk ke ruang makan yang menjadi satu dengan dapur. Kami lupa jika disana kekacauan yang sempat kami lakukan belum kami bereskan sedikit pun, semua masih terlihat berantakan dan tentu saja memunculkan bau - bau yang tidak sedap. Dengan berat hari kami mulai membersihkan ruang makan dan dapur, tidak jarang aku, Naomi dan Selena saling menyalahkan ketika membersihkan ruangan itu.


Tapi itulah cara kami menunjukkan seberapa akrabnya kami saat ini, tidak ada tembok pembatas antara aku, Naomi dan Selena. Kami tidak segan - segan untuk saling balas candaan, tapi ketika kami sedih.. Kami akan saling menguatkan satu sama lain dengan kelembutan kami masing - masing.


Berkumpul diruang makan berempat bersama kak Jester di ruangan yang sudah bersih, saat itu aku dan Naomi kembali berebut membuatkan sarapan untuk kak Jester. Ditengah pertengkaran kami saat itu, Selena lagi - lagi mencuri kesempatan dengan memberikan menu sarapannya kepada kak Jester. Aku dan Naomi menatap Selena dengan amarah, sembari berkata...


"Selena!! Kenapa kamu mencuri kesempatan lagi?!!"


Namun hanya juluran lidah yang Selena berikan kepada kami dan terjadi lagi hal yang mulai menjadi kebiasaan kami bertiga, yaitu bertengkar saling balas kata - kata ejekan. Aku melihat kak Jester hanya diam saja dengan wajah datar menyaksikan pertengkaran kami bertiga, mungkin dia merasa sudah terbiasa melihat kami bertengkar seperti ini karena semuanya akan baik - baik saja pada akhirnya. Ahahaha... Ini seperti pertemanan kak Jester, kak Luke dan kak Harry bukan? :)


Setelah selesai dengan sarapan dan juga pemandangan dari pertengkaran tiga wanita dihadapannya, kak Jester sepertinya bersiap untuk berangkat ke kampus, melihatnya akan pergi aku pun berlari untuk menahannya dan meninggalkan pertengkaran ku dengan Naomi dan Selena. Ketika aku menahan langkah kak Jester dengan menarik lengannya, dia menoleh menatapku dengan wajah heran.


"Kalau begitu aku dan Selena akan bersiap ke mall, tapi..." celetuk Naomi


Aku menoleh menatap Naomi yang berada di belakangku, wajahnya terlihat sedih dan berat melihatku dan kak Jester akan jalan berdua. Tidak lama aku mendengar suara helaan nafas kak Jester, aku kembali menoleh menatap wajahnya dan aku melihat kak Jester tersenyum begitu hangat kepada Naomi.


"Tidak perlu khawatir, aku hanya akan selesaikan hal yang mengganjal di hatiku dengannya. Cintaku tetap milikmu dan selamanya akan tetap seperti itu" ucap kak Jester untuk menenangkan rasa cemburu dan khawatir Naomi

__ADS_1


Aku terkejut betapa manisnya sikap kak Jester, sepertinya penilaianku tentang kak Jester yang masih belum berubah selama dua tahun ini tidak sepenuhnya benar. Ada hal - hal kecil yang dilakukannya untuk menunjukkan seberapa besar cinta yang dimiliki kak Jester kepada Naomi, hal yang dulu selalu membuat kak Jester salah tingkah jika dia mau menunjukkannya dihadapan ku.


"Aah... Eeh.. Aa.. Was.. Aja kalau bohong... Aku tidak akan memaafkan mu...!" terbata Naomi mengatakannya karena tersipu malu mendengar perkataan kak Jester, Naomi membalik tubuhnya untuk menghindari bertatapan mata dengan kak Jester.


Kak Jester pun tertawa lalu kembali berbalik untuk berangkat menuju kampus, aku berjalan mengikutinya dan sampai di lorong aku mengatakan jika aku akan bersiap lalu memintanya untuk menungguku di mobil. Kak Jester hanya mengangguk merespon permintaanku, dengan segera aku berbalik menuju kamar untuk bersiap.


Setelah aku bersiap, aku pun segera berlari untuk berangkat bersama kak Jester menuju kampus. Di depan pintu utama rumah aku melihat Naomi dan Selena seakan menungguku, aku tersenyum kepada keduanya lalu berpamitan pada mereka. Aku memeluk tubuh Naomi dengan erat sembari berkata jika aku tetap tidak berniat merebut kak Jester darinya, Naomi hanya merespon perkataanku saat itu dengan anggukan kepala.


Perlahan aku melepaskan pelukanku dan aku berlari masuk kedalam mobil milik kak Jester, aku duduk bersebelahan dengannya dan kami sempat bertatapan mata untuk beberapa saat. Namun wajahnya terlihat datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun meski aku tersenyum kepadanya, sampai dia kembali menatap ke depan dan melajukan mobilnya.


Diperjalanan itu kami hanya terdiam saja, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan disaat seperti ini. Kak Jester juga sepertinya tidak ingin berbicara padaku, beberapa kali ketika aku menoleh menatap wajahnya, dia membuang muka dan terkesan menghindari ku. Hingga sampailah kami di kampus, kak Jester mengarahkan mobil ke parkiran kampus lalu kami berpisah disana tanpa kata apapun dari kak Jester. Dia berjalan menuju kelasnya setelah melihatku keluar dari dalam mobil, aku teru menatap punggungnya yang semakin menjauh dari pandangan mataku.


Dengan perasaan sedih dan helaan nafas, aku berjalan untuk mecari tempatku menunggu kak Jester selesai dengan kuliahnya. Sebuah taman dengan empat kursi terbuat dari kayu menjadi pilihanku saat itu. Selain karena tidak jauh dari parkiran mobil, tempat itu juga sepertinya akan mudah bagi kak Jester jika dia mencariku setelah selesai dengan kelasnya. Aku mengambil sebuah note kecil berisi tentang impianku dan mencentang beberapa item yang sudah berhasil aku lakukan, namun tanganku mendadak ragu ketika akan mencentang akan ke festival square bersama kak Jester.


Saat itu aku berpikir jika kak Jester bisa saja membatalkan rencanaku untuk ke festival square ditengah perjalanan, mungkin impian ini tidak akan berjalan dengan lancar. Aku pun memutuskan untuk tidak memberi centang pada impianku satu itu, aku harus menunggu apa impian itu bisa berjalan dengan baik apa tidak. Ditengah lamunanku itu, tidak lama aku mendengar suara pria yang tidak asing bagiku...


"Luna" ucap pria itu

__ADS_1


Suara itu menyadarkan ku dari lamunan, aku menoleh menatap sumber suara itu dan betapa terkejutnya aku melihat kak Justin berdiri tepat di hadapanku. Tapi ada hal yang lebih mengejutkan ketika aku menyadari seorang wanita yang berdiri tepat dibelakang kak Justin... Dia menatapku dengan tajam dan penuh curiga, seakan dia sedang menguliti ku dan aku tidak asing dengan wanita dibelakang kak Justin ini.


"Kenapa dia ada disini? Kenapa dia bersama kak Justin? Kenapa dunia sesempit ini?!! Grece?! Apa kamu akan mengenaliku?!!!" ucapku dalam hati yang panik dengan kehadiran keduanya yang tidak aku sangka - sangka akan terjadi.


__ADS_2