
Ayah dan ibu terdiam dengan ekspresi menahan malu karena pertanyaan ku yang mungkin terlalu pribadi bagi mereka, entah apa yang terjadi diantara ayah dan ibu sampai mereka tersipu malu dengan pertanyaanku. Perlahan ayah dan ibu saling tatap lalu mereka tertawa kecil nyaris bersamaan, aku heran mendengar mereka yang tiba - tiba tertawa lalu ayah mengelus kepalaku dengan lembut.
"Ayah bertemu dengan ibu ketika kami berada di acara musik, ketika itu ayah tiba - tiba saja jatuh cinta pada ibu tanpa alasan. Mungkin itu yang disebut cinta pada pandangan pertama" jawab ayah, aku menunjukkan wajah kesal ku karena jawaban ayah tidak membuatku puas.
"Ayah.. itu jawaban biasa dan bukan itu yang aku inginkan, mungkin dari sepuluh orang yang aku tanya maka sepuluh orang itu juga akan menjawab persis dengan apa yang baru saja ayah katakan" timpal ku kesal, lalu suara tawa ayah dan ibu pecah bersamaan.
"Bukankah kamu sudah tahu jika cinta tumbuh tanpa alasan?" tanya ibu padaku dengan nada yang terdengar menggoda
"Iya iya.. aku tahu, aku juga merasakan itu... tiba - tiba jatuh cinta pada kak Jester... tapi bukan itu yang aku ingin tahu, ini tentang sudut pandang pria yang jatuh cinta. Kak Justin, Alvin teman sekolahku dulu dan sekarang Peter... mereka orang - orang yang tahu kondisi kesehatanku, tapi tanpa alasan yang jelas tiba - tiba mereka... mengatakan jatuh cinta padaku..." jawabku masih dengan nada kesal, kali ini ibu yang mengelus kepalaku dengan lembut.
"Antara pria dan wanita tidak akan ada bedanya ketika jatuh cinta, kita semua akan jatuh cinta pada sesuatu tanpa sebab dan kadang akan membenci sesuatu juga tanpa sebab. Jika cinta kepada seseorang karena alasan, maka sebenarnya kamu tidak sedang jatuh cinta pada orang itu... melainkan kamu jatuh cinta pada alasan itu" ucap ibuku dengan nada yang terdengar lembut
"Cinta karena alasan akan lebih cepat pudar, sayang" timpal ayah
"Hah? benarkah?" tanyaku heran, ayah dan ibu mengangguk beberapa kali.
"Ketika yang menjadi alasanmu mencintai seseorang hilang, maka kamu akan kehilangan rasa cintamu pada orang itu" jawab ayah
"Itulah kenapa cinta orang tua pada anaknya akan kekal, karena kami tidak mempunyai alasan kenapa kami bisa mencintaimu" timpal ibu
"Begitu pula cinta pada pandangan pertama yang begitu misterius itu..." ucap ayah, seketika itu ayah dan ibu saling menoleh menatap mata masing - masing dengan tatapan penuh cinta.
"jika ayah mengingat semua yang telah kami lewati... ayah sampai sekarang tidak menemukan alasan mengapa ayah bisa mencintai ibu" celetuk ayah
"Ibu pun juga seperti itu, hanya ada perasaan senang dan hangat di hati ketika ibu menatap mata ayah..." timpal ibu
"Aaaa~ kalian membuatku iri~" ucapku sembari menendang - nendang kasur, ayah dan ibu pun tertawa.
"Jika Justin, Alvin dan Peter tiba - tiba jatuh cinta padamu... itu bisa jadi karena mereka memang jatuh cinta padamu tanpa sebab" ucap ayah
"Yang perlu kamu lakukan hanya mengatakan baik - baik jika kamu tidak merasakan hal yang sama seperti yang mereka rasakan, jadilah semakin dewasa dengan semua hal yang menimpamu, sayang" ucap ibu
Saat itu ayah dan ibu bergantian mencium keningku dengan lembut, lalu ayah dan ibu beranjak dari kasur untuk keluar dari kamarku. Disaat itu ayah berkata pada ibu jika ayah bangga karena anak gadisnya diperebutkan banyak pria, ibu hanya tertawa kecil menanggapi perkataan ayah. Suara ayah dan ibu tidak aku dengar ketika mereka berdua sudah keluar dari kamarku, di kesunyian kamarku aku bisa berpikir dengan tenang untuk menghadapi masalahku dengan Peter dan Manda.
Hari berlalu dan aku kini harus menghadapi kompetisi hari ketiga, kini peserta hanya tersisa empat belas orang lagi..
Seperti biasa aku berangkat bersama ayah menuju gedung serba guna desa dimana gedung itu menjadi tempatku untuk berkompetisi, ketika itu aku melihat sendiri jika apa yang ayah katakan tentang pengunjung asing ke desa kami itu benar adanya. Gedung serba guna desa yang dua hari kompetisi terlihat sepi, kini sangat ramai oleh pengunjung.
__ADS_1
"Wow! Luna, sepertinya kamu akan benar - benar menjadi bintang dari kompetisi ini. Lihat pengunjung itu, ayah bahkan tidak bisa mencari tempat untuk parkir" celetuk ayah, aku masih bengong karena heran dengan jumlah pengunjung hari itu.
"Luna? apa kamu mendengar ayah?" tanya ayah, suara ayah seketika itu menyadarkan ku dari lamunanku.
"Eeh.. i.. iya ayah, ramai ya..." jawabku terbata, jujur saja keramaian itu membuatku gugup.
"Kamu gugup, sayang?" tanya ayah, aku seketika itu menoleh menatap wajah ayah.
"Ti.. tidak! mana mungkin aku gugup?! aku ini sudah profesional!" timpal ku panik, ayah seketika itu tertawa.
"Gugup itu tanda jika kamu masih menikmati kompetisi ini, ayah senang melihatmu masih bersemangat untuk terus bersaing meski ayah tahu sebenarnya kamu ingin segera ke ibukota" ucap ayah, aku tersenyum seketika itu lalu menghela nafasku.
"Aku memang ingin segera ke ibukota karena aku khawatir pada Selena, tapi ayah benar... aku harus tetap bertanggungjawab atas apa yang sudah menjadi pilihanku" ucapku
"Aku akan segera memenangkan kompetisi ini dan menjadi bintang, setelah itu aku akan segera menemui Selena dan menyelesaikan masalah yang sudah aku perbuat disana. Aku akan menyelesaikan semua kekacauan yang aku buat dan mulai belajar tentang apa arti dari tanggungjawab" ucapku lagi lalu aku pun segera keluar dari mobil
"Luna!! ayah akan bawa kamu sampai dalam!!" teriak ayah ketika itu, aku menutup pintu mobil lalu tersenyum.
"Disini saja ayah, aku bisa jalan menuju gedung. Ayah kembali lah dan bantu ibu berkebun" ucapku lalu melambaikan tangan
Setelah mendapat lambaian tangan ayah, aku segera berlari menuju gedung serba guna desa. Aku masuk lewat pintu belakang dimana saat itu menjadi pintu untuk peserta masuk ke belakang panggung, tidak ada yang berubah saat itu kecuali wajah - wajah peserta lain yang nampak tegang dan gugup. Sepertinya mereka juga tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, "Aaa~ leganya, aku kira hanya aku yang gugup" ucapku dalam hati
"Ooh hai, pagi Peter" aku menyapa balik Peter lalu berjalan meninggalkannya begitu saja, Peter mengejar ku lalu menggenggam lenganku untuk menghentikan langkahku.
"Hei tunggu, kamu marah padaku?" tanya Peter
"Iya, aku marah padamu atas apa yang sudah kamu katakan pada Manda" jawabku, aku saat itu menoleh kanan - kiri mencari keberadaan Manda.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan ku?" tanya Peter padaku, aku menghela nafas sejenak lalu kutarik tanganku agar terlepas dari genggaman tangan Peter.
"Ikut aku" ajak ku, tanpa banyak tanya Peter berjalan mengikuti ku.
Aku berjalan mendekati Manda yang duduk termenung menatap cerahnya langit pagi dari balik kaca jendela, mungkin Manda menyadari jika aku mendekatinya karena tiba - tiba dia berdiri lalu hendak menghindari ku. Aku langsung menggenggam lengannya agar dia berhenti berjalan dan meninggalkanku, Manda memaksa untuk melepaskan genggamanku namun aku terus mempertahankan genggaman tanganku.
"Apa maumu?!" bentak Manda padaku, aku menoleh menatapnya dan berkata...
"Dengarkan aku, ada yang harus kamu dengarkan" ucapku
__ADS_1
"Aku tidak butuh penjelasanmu!" bentak Manda lagi
"Aku tahu, karena itu aku tidak akan menjelaskan apapun. Aku hanya ingin kamu mendengarkan apa yang akan aku katakan pada Peter" timpal ku dengan nada setenang mungkin, ketika itu Manda terkejut menatapku.
"Hah?! kenapa harus ada Manda kalau kamu mau bicara denganku?" tanya Peter heran
"Peter, kamu ingin aku memaafkan mu kan? jadi diam disini dan dengarkan apa yang akan aku katakan padamu" jawabku
"Lunar... apa yang kamu inginkan?" tanya Manda menekan ku
Perlahan aku melepaskan tanganku dari lengan Manda, ketika itu aku mencari posisi agar Peter dan Manda berdampingan dan bisa menatap wajahku dengan jelas. Aku mengatur nafasku sebelum mengatakan apa yang sudah aku siapkan untuk mereka sejak semalam, lalu ku tatap keduanya dengan senyuman dan aku berkata...
"Peter, terima kasih kamu sudah menyatakan perasaanmu padaku tapi maaf aku tidak memiliki perasaan yang sama karena hatiku masih penuh dengan bayang - bayang pangeranku. Lalu Manda... kamu adalah perempuan yang hebat dan juga bebas, jangan hanya karena cinta kamu melupakan tentang arti dari kehidupan bebas mu dan dengan sengaja mengurung diri dalam belenggu bernama cinta.." ucapku, saat itu Peter dan Manda nampak terkejut.
"Kalian tahu... kalian adalah teman pertamaku sejak aku memutuskan untuk keluar dari zona nyamanku, zona dimana aku merasa dapat membohongi diri dan hatiku jika aku sudah melupakan cinta pertamaku... kalian tidak akan pernah paham seberapa senangnya aku bertemu dengan kalian dan... kalian pasti tidak akan pernah paham seberapa sedihnya aku... dengan perkembangan pertemanan kita..." aku melanjutkan perkataanku dengan nada sedihku, aku benar - benar merasa kecewa dengan semua yang terjadi diantara kami.
"Peter... aku benar - benar memikirkan tentang perkataanmu... tentang kematian, aku juga ingin mati dan membekas di hati banyak orang. karena itu aku sudah memutuskannya... hei Peter... Manda, dengarkan aku!" ucapku lalu menunjuk mereka dengan jariku, aku menatap mereka dengan tajam.
"Aku akan memenangkan kompetisi ini dan membekas di hati banyak orang, jika kalian merasa tidak mampu menjadi pesaing ku maka lebih baik kalian menyerah saja sekarang. Penonton kita semakin banyak dan mereka menginginkan hiburan, aku membutuhkan pesaing yang sepadan untuk menjawab keinginan penonton. Jika kalian masih saja bergelut dengan masalah cinta dan melupakan jika kita sedang bersaing, aku sarankan kalian mundur sekarang juga" tantang ku pada mereka, baik Peter dan Manda hanya terdiam menatapku dengan wajah terkejutnya.
Tidak lama mereka berdua tertawa bersama, aku tidak tahu kenapa mereka tiba - tiba tertawa. "Apa aku mengatakan hal yang aneh? atau hal lucu? atau jangan - jangan ada aksesoris ku yang tidak pada tempatnya? jangan - jangan lebih buruk, make up ku luntur?" tanyaku dalam hati, lalu seketika itu aku malu dan memutar tubuhku agar tidak bertatapan dengan mereka.
"Ada apa? kenapa tiba - tiba memunggungi kami? apa kamu sadar kalau kamu baru saja melakukan kesalahan?" tanya Peter padaku
"Ti.. tidak!! kenapa kalian tiba - tiba tertawa? apa kalian menertawakan ku?!" tanyaku dengan bentakan
"Kami memang menertawakan mu" jawab Manda dengan suara tawanya, aku kembali berbalik dan menatap Manda dengan wajah marahku.
"Berhenti menertawakan ku!!" bentak ku padanya
"Hei Lunar.... aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan dengan Peter, tentang kematian, membekas di hati orang, atau apapun itu... tapi kamu benar, aku seharusnya menjadi wanita bebas yang tidak terikat cinta" ucap Manda yang nada suaranya tiba - tiba menjadi sedih, aku terdiam menatapnya.
"Sebagai temanmu dan juga rival mu, aku menerima tantanganmu. Ayo kita buktikan siapa yang terbaik" dengan penuh keyakinan Manda mengatakannya, Manda mengajakku bersalaman dan seketika itu aku menyambut jabat tangannya.
"Jangan menyesal ya sudah membantuku bangkit" celetuk Manda, aku hanya tersenyum menatap matanya. Ketika itu tiba - tiba Peter menggenggam tanganku dan tangan Manda yang masih berjabat tangan, aku dan Manda terkejut dengan respon Peter.
"Aku pasti akan mengalahkan kalian" dengan penuh keyakinan Peter mengatakannya
__ADS_1
Kami pun tertawa bersama, suasana panas api cemburu dan amarah kini mereda. Semua itu hanya dengan bicara dan komunikasi... itu sebenarnya yang aku butuhkan untuk mempertahankan hubunganku dengan kak Jester, aku hanya kurang komunikasi dengannya. Seharusnya aku mempercayai kak Jester... seharusnya....