Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 2


__ADS_3

Empat puluh hari hah? ahaha... bukankah itu waktu yang singkat? bagaimana caraku menyelesaikan semua check list ku? apa yang harus aku lakukan disaat seperti ini? semua pertanyaan itu terngiang didalam kepalaku, semua aku pikirkan ketika aku sudah sampai rumah. Aku termenung sembari duduk di kusen jendela yang aku buka agar angin malam itu dapat masuk ke dalam kamarku yang terasa begitu pengap, aku tidak bisa berhenti menangis malam itu.


Sampai tengah malam pun aku tidak bisa menjawab pertanyaanku sendiri yang terus terngiang didalam kepalaku, aku merindukan sosok kak Justin yang selalu hadir untuk menyelesaikan semua permasalahan hanya dengan keluhanku saja. Tapi aku tidak bisa terus bergantung padanya, aku harus menyelesaikannya sendiri dengan caraku.


Seharusnya ketika aku memutuskan untuk kembali ke kota ini dan menemui dokter lamaku, aku sudah siap dengan semua hal buruk yang harus aku dengar bukan? Tapi entah mengapa rasanya aku mengabaikan hal itu, apa mungkin karena semangatku terlalu membara untuk kembali bertemu dengan pangeranku? Aku hanya berharap tubuhku mampu membantuku mewujudkan impian terakhirku yang tersisa. Sudah sejauh ini, harusnya aku bisa dan aku memang harus bisa membawa tubuhku untuk bekerja sama dengan baik.


Pagi hari di keesokan harinya, aku membeli sebuah note kecil untuk menuliskan keinginanku yang harus aku selesaikan dalam waktu empat puluh hari ke depan. Mungkin memang tidak akan selesai semua, namun dengan tujuan yang jelas aku mungkin tidak akan membuang - buang waktu lagi. Dimeja belajarku pagi itu, aku menuliskan semua keinginanku pada note kecil berwarna merah muda yang baru saja aku beli. Warna yang senada dengan buku harian yang kak Jester pilihkan :)


Aku menulis kata pertamaku didalam note kecil itu dengan judul "My Last Dream"


***Last Dreams***




Minta maaf sama kak Jester




Menyatukan kak Jester dengan Selena




Berkunjung ke festival square




Masuk kedalam taman labirin dan mengucapkan janji yang pernah terucap baik bersama maupun tanpa kak Jester




Merayakan ulang tahun kak Jester




Liburan ke Paris berdua dengan kak Jester sesuai janji yang pernah terucap


__ADS_1



Menonton bioskop terbuka seperti yang kak Jester ceritakan




Mengunjungi cafe - cafe populer yang pernah kak Jester ceritakan




Berlayar di sungai Seine




mengunjungi museum Modern Art Museum, Victor-Hugo and Balzac Houses, Bourdelle Museum, Carnavalet Museum, Cernuschi Museum, Marechal Leclerc Memorial, Petit Palais, Zadkine Museum, dan the Museum of Romantic Life




************************




Aku tersenyum sendiri ketika menuliskan semua keinginanku itu "Kamu bermimpi terlalu jauh, Luna" gumamku dengan sedikit suara tawa yang terlontar dari bibirku. Tapi aku tidak ingin terlalu mempedulikannya, aku hanya ingin fokus pada tujuanku agar aku tidak lagi membuang waktu dengan sia - sia. Setelah selesai menuliskan impian terakhirku, aku segera berjalan keluar kamar untuk mencari ayah. Aku membutuhkan handphonenya untuk menelepon rumah keluarga Parker, namun ketika aku hendak mengetuk pintu kamar ayah dan ibu... aku mendengar suara tangisan ibu.


Dari balik pintu samar - samar aku dapat mendengar pembicaraan mereka berdua, aku tidak bisa menuliskannya secara pasti apa yang mereka bicarakan... namun aku dapat memahami jika ibu dan ayah kecewa dengan semua keputusanku, keputusanku untuk meninggalkan dokter Ellie kemarin tanpa mau menerima permintaannya.


Benar... siang kemarin aku mengatakan pada dokter Ellie jika aku tidak masalah dengan umurku yang sudah tinggal empat puluh hari lagi itu, aku akan hidup menikmati sisa - sisa hariku tanpa mau lagi memikirkan tentang penyakitku.


Tapi semua keputusanku sepertinya membuat ayah dan ibu terluka... aku kembali dengan keegoisanku tanpa memikirkan perasaan ayah dan ibu, "Kenapa aku... sekeras kepala ini?" gumamku... aku berbalik untuk kembali masuk kedalam kamarku, didalam kamar aku duduk bersandar pada pintu kamar menunggu ayah dan ibu keluar dari kamar untuk meminta maaf pada mereka.


Meminta maaf pada ayah dan ibu yang selalu menuruti semua keegoisanku, aku menyesali diriku yang tidak berguna dan juga menjadi beban di kehidupan orangtuaku. Setidaknya diakhir hidupku... aku tidak ingin orangtuaku kecewa padaku, setidaknya... aku meninggalkan mereka dalam keadaan mereka tidak marah padaku... ditengah lamunanku saat itu, aku mendengar pintu kamar ayah dan ibu terbuka.


Aku segera berdiri dari dudukku lalu aku membuka pintu kamar dan benar saja aku langsung dapat melihat ayah dan ibu yang baru keluar dari kamar mereka, aku menatap wajah ayah dan ibu yang tanpa aku sadari selama ini sudah semakin menua. Meski sorot mata mereka kaget melihatku yang tiba - tiba membuka pintu, namun dari sorot mata mereka juga aku merasakan jika mereka berdua pun lelah atas semuanya tapi berusaha tetap tegar untuk menjadi penyangga semangat hidupku.


"Ayah... ibu... maafkan keegoisanku..." ucapku dengan suara bergetar, aku benar - benar tulus meminta maaf pada keduanya.


"Luna..." gumam ibu yang semakin kaget aku tiba - tiba meminta maaf pada mereka


"Aku tahu aku egois, aku selalu memaksakan kehendak ku tanpa memikirkan bagaimana perasaan ayah dan ibu! aku tahu!! aku tahu itu.... maafkan aku... aku minta maaf...." ucapku dengan tangisanku yang sudah tidak terbendung lagi

__ADS_1


Ibu segera berlari untuk memeluk tubuh kurus ku ketika itu, ibu mendekap ku begitu kuat sembari mencium pipiku berkali - kali. Ibu mengatakan dia memaafkan semua keegoisanku tanpa terkecuali, hanya satu permintaan ibu saat itu padaku. Ibu ingin aku untuk menuruti apa kata dokter Richard dan dokter Ellie tanpa terkecuali, meski berat hati aku mengangguk menerima permintaan ibu.


Aku hanya berharap menerima permintaan ibu tidak akan membuatku kehilangan waktu untuk mengejar keinginanku, demi itu juga aku segera meminjam handphone ayah untuk menelepon rumah keluarga Parker. Siang itu aku membawa handphone ayah ke teras depan rumahku, tanganku segera mengoperasikan handphone ayah untuk menelepon rumah keluarga Parker.


Agak lama aku menunggu seseorang mengangkat teleponku, sampai suara sapaan seorang wanita terdengar di telingaku dan aku sangat berharap itu adalah Selena


***


"Halo, keluarga Parker disini" ucap ibu Selena terdengar begitu ramah


"Halo nyonya Parker" jawabku ramah, meski saat itu aku sedikit kecewa ternyata bukan Selena yang mengangkat telepon itu, namun aku sangat hafal suara ini... suara ibu Selena.


"Loh loh? lama suara ini tidak terdengar, bagaimana keadaanmu?" tanya ibu Selena padaku, ternyata nyonya Parker masih hafal dengan suaraku. Yaah... aku menghabiskan masa kecilku berada di rumah keluarga Parker, jadi aku tidak terlalu heran mengetahui nyonya Parker masih mengingat suaraku.


"Baik kok nyonya Parker, bisa aku bicara dengan Selena? aku kehilangan nomor handphonenya" pintaku


"Selena sedang.... aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi sepertinya Selena sedang patah hati gitu dan sekarang dia mengurung diri didalam kamar" jawab nyonya Parker, seketika itu aku terkejut mendengar perkataan nyonya Parker.


Apa yang terjadi pada kak Jester dan Selena? apa mereka baik - baik saja? apa Selena melakukan kesalahan atau malah kak Jester yang melakukan kesalahan? duuh... Selena, bertahanlah... aku yakin kalian bisa cocok satu sama lain.


"Begitu? duuh ini salahku, baiklah nyonya Parker... mungkin beberapa hari ke depan aku ini aku akan berkunjung. Maaf mungkin akan kembali merepotkan tuan Parker, apa tidak apa?" tanyaku


"Tidak pernah akan merepotkan, aku akan tunggu kedatanganmu. Jangan lama - lama ya, aku kangen sama kamu" jawab nyonya Parker dengan sedikit suara tawa yang terdengar.


"Baik, sampai jumpa lagi nyonya Parker" ucapku lalu menutup sambungan telepon kami.


***


Aku menatap handphone ayah yang memantulkan wajahku, aku khawatir akan hubungan Selena dengan kak Jester. Bagaimana pun Selena tidak memiliki ketertarikan pada pria, mungkin karena sikap Selena yang tidak pernah lembut itu membuat marah kak Jester yang selalu menuntut wanitanya bersikap anggun. "Duuh... semoga hubungan kalian baik - baik saja" gumamku


"Ada apa, Luna?" tanya ayah padaku, aku menoleh menatap ayah yang berdiri di belakangku dengan penampilan yang sudah siap untuk pergi.


"Selena..." jawabku menggantung


"Ada apa sama nona Parker?" tanya ayah lagi


"Selena sepertinya bertengkar sama kak Jester.... sekarang dia sangat sedih dan mengurung diri didalam kamar, aku ingin menemuinya hari ini dan memberinya semangat" jawabku, lalu ayah menghela nafasnya.


"Hari ini kamu punya jadwal untuk kemoterapi, dokter Ellie dan dokter Richard sudah menunggu kedatanganmu di rumah sakit Scott" ucap ayah


"Aku mengerti ayah... aku tidak sedang merajuk kok..." jawabku


Tidak lama ibu keluar dari dalam rumah dan aku melihatnya sudah siap untuk berangkat mengantarku menuju rumah sakit Scott, aku harus kembali mengikuti kemoterapi dan menuruti permintaan ayah dan ibu atas saran dokter Richard dan dokter Ellie. Semua harus aku lakukan agar tidak ada lagi penyesalan didalam hidupku ini, semua demi menyempurnakan kehidupanku yang singkat ini.


Hari itu aku mengikuti kemoterapi, tidak banyak yang bisa aku tulis dua hari setelahnya karena tubuhku terasa begitu lemas dan aku tidak banyak melakukan aktifitas selama dua hari itu. Aku menghabiskan dua hari dengan rebahan dan... kembali muntah - muntah darah, apa keadaanku memburuk sejak ikut kemoterapi? bukan... aku hanya stres ketika harus kembali melakukan kebiasaanku yang mengerikan itu, memang selalu seperti ini ketika pertama kali aku melakukannya dan pada akhirnya aku akan kembali terbiasa.


Hari kedua setelah kemo aku pun memotong habis rambutku lagi, begitu pula ayah yang memotong rambutnya juga sampai sama sepertiku. Ayah melakukannya untuk mendukungku dan tidak membiarkan aku botak sendiri didalam keluarga. Sebenarnya ibu juga ingin melakukannya, tapi aku dan ayah kompak menolak permintaan ibu.


Di hari kedua itu aku sudah dapat beraktifitas kembali, aku meminta ayah untuk mengantarkan aku menuju rumah keluarga Parker. Ketika itu tidak lupa aku merias wajahku senatural mungkin untuk menutupi wajah pucat ku, tidak lupa aku kembali mengenakan wig dengan model rambut yang sama seperti rambutku ketika aku masih SMA. Rambut yang berhasil menarik hati pangeranku, semua demi impian terakhirku.

__ADS_1


__ADS_2