Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 16


__ADS_3

Apa yang lucu setelahnya? Tuan Gates.... aah maksudku tuan William memintaku agar selalu melaporkan semua kegiatan kak Jester disekolah sepanjang waktu, nyonya Marrie juga memintaku secara khusus untuk menemani kak Jester selama kami berada disekolah. Seakan menjadi penjaga pribadi untuk kak Jester, aku tanpa ragu menerima permintaan ayah dan ibu kak Jester.


Senyum hangat dan tangan yang terbuka lebar, tuan William dan nyonya Marrie menerimaku dengan baik bahkan ketika ayah mengatakan jika dia bekerja untuk keluarga Parker sebagai supir pribadi Selena. Pengakuan ayah seakan tidak mengubah apapun dari sikap tuan William dan nyonya Marrie, aku senang.... :)


Kak Jester... jika aku ingat ekspresi wajahnya ketika itu, aku tidak akan bisa berhenti ketawa. Mulutnya terbuka dengan mata yang melotot menatap kedua orang tuanya, setelahnya dia meminta kepada tuan William dan nyonya Marrie untuk membatalkan permintaan mereka kepadaku dengan teriakan seakan kak Jester benar - benar tidak menginginkannya. Tapi... sesekali lirikan matanya menatapku, dengan wajahnya yang memerah... "Aku tahu kamu malu - malu kak Jester" ucapku dalam hati


Ternyata tidak semua keluarga kaya raya itu arogan yah... aku pikir hanya keluarga Selena satu - satunya keluarga kaya yang baik hati. Apakah perjalanan cintaku bersama pangeran impianku ini akan terjadi? aku sangat berharap, dialah semangat hidupku saat ini. Karena dia bahkan aku sering melupakan bahwa aku hanyalah gadis malang dengan leukimia yang bersarang di tubuhku.


"Ciiiee... sahabatku ini jatuh cinta~" ucap Selena menggodaku


Tepat di hari minggu pagi pada keesokan harinya, aku dan ayah datang ke rumah keluarga Parker. Ayah bekerja sedangkan aku menemani Selena di dalam kamarnya, tepat sehari setelah kami bersama - sama mengunjungi rumah keluarga Gates. Aku malu ketika Selena terlihat begitu senang dengan apa yang aku alami kemarin, senyumnya memang terlihat menggodaku namun tatapan matanya terlihat begitu bahagia.


"Aaa~ jangan menggodaku terus, aku malu" pintaku padanya, kami pun tertawa bersama - sama.


"Lalu gimana rencanamu kedepannya?" tanya Selena, aku menatap langit - langit kamar dan berfikir tentang rencanaku.


"Hmm... aku akan mencintainya sepanjang aku masih hidup" jawabku lalu tertawa kecil, namun Selena menanggapi jawabanku dengan wajah kesalnya.


"Loh kenapa? apa aku salah?" tanyaku setelah melihat ekspresi Selena, dia membuang muka menandakan seberapa marah dia padaku saat itu


"Selena~ jangan ngambek donk, apa yang salah dari jawabanku?" tanyaku lagi, seketika kini tatapan matanya menatapku dengan mata yang berkaca.


"Berobat lah!" bentaknya, aku pun terdiam.


"Kamu sudah mendapatkan cintamu, kini berusahalah sembuh untuk dirinya!! itu yang ingin aku dengar darimu!!" bentaknya lagi begitu marah padaku, aku tersenyum lalu menghela nafas sejenak.


"Aku tidak akan bisa sembuh..." ucapku menimpali perkataan Selena, jawaban itu membuat emosi Selena memuncak dan dia pun melemparkan bantal tepat di wajahku.


Entahlah, tetapi keyakinanku untuk sembuh memang sangat kecil. Aku tidak pernah berharap lebih akan itu, tapi kehadiran kak Jester memang mengembalikan semangat hidupku. Itu mengapa aku hanya berfikir akan mencintainya dalam sisa hidupku. Dan aku akan berjuang untuk bertahan lebih lama lagi jika aku mampu, meski aku... tidak yakin.


"Apa kamu masih tidak memahami arti dari harapan?!! apa kurang jelas jika harapanmu satu per satu sudah mulai terkabul?!! kenapa tidak berharap akan kesembuhanmu kali ini?!!!" bentaknya lagi, tidak lama bunyi ketukan pintu terdengar dan ibu Selena membuka pintu kamar itu.


"Selena, ada Naomi dibawah. Apa aku suruh dia kesini aja?' tanya ibu Selena, tatapan mata Selena pun beralih kepadaku dengan senyuman di garis bibirnya.


"Apa kamu ingin bertemu dengannya? aku yakin kalian bisa berteman dengan baik" terdengar antusias Selena mengatakannya, namun aku menggelengkan kepalaku untuk menolaknya.


Aku bahagia sekali dengan kedekatan Selena dan Naomi, misi ku berhasil. Xixixixi.. ternyata kue coklat mampu membuat dua musuh menjadi sahabat. Semoga persahabatan kalian akan selamanya terjalin dengan baik, aku bangga padamu Selena.


"Bukan aku gak mau... tapi aku malu untuk bertemu dengannya" ucapku

__ADS_1


"Tidak apa! ayo aku kenalkan kamu dengannya, dia anak yang baik kok!" ucap Selena lalu menarik lenganku untuk diajak keluar kamar menemui Naomi, namun disaat bersamaan handphone ku berdering tanda ada telepon masuk.


Selena melepaskan genggaman tangannya lalu aku pun mendekati handphone milikku yang aku letakkan di kasur Selena, aku menatap layar itu dan melihat siapa yang meneleponku.


Dilayar tertulis "Pangeranku", aku pun tiba - tiba panik dan detak jantungku berdetak tidak normal. Sikapku saat itu menarik perhatian Selena, dia berjalan mendekatiku dan ikut menatap layar handphoneku.


"Ciiee pangerannya nyariin...." goda Selena kepadaku, aku pun menatap Selena dengan wajah jutek ku sembari jariku menggeser layar handphone itu untuk mengangkat telepon dari kak Jester.


***


"Iya... hallo" sapaku, bersamaan dengan sapaanku itu Selena mendekatkan kupingnya ke kupingku untuk ikut mendengarkan pembicaraan kami.


"Aaa... halo, anu ini Jester yang sedang berbicara" jawabnya, aku tersenyum dengan suara tawa kecil yang menyertai


"Ooh kak Jester... ada apa?" tanyaku sedikit dengan nada menggodanya


"Loh? apa kamu... tidak menyimpan nomorku?" tanyanya terdengar sedih, aku pun tertawa mendengar pertanyaan itu.


"Simpan kok, kenapa?" tanyaku


"Aaa anu... kenapa kamu bilang ooh, aku pikir kamu tidak..." belum selesai kak Jester berkata, aku memotong.


Tidak lama seakan kak Jester meninggalkan handphonenya meski tidak menutup telepon, di balik telepon aku mendengar teriakan kesakitan seorang pria entah siapa itu yang merintih kesakitan. Lalu sepertinya mereka bertengkar hebat selama beberapa detik, aku dan Selena pun saling tatap dengan wajah heran.


"Aah iya iya... lalu ada apa Luna?" tanya kak Jester setelah sebelumnya sempat menghilang dari balik telepon.


"Hmmm... ada apa ya? aku gak tahu, kan kak Jester yang meneleponku" jawabku bingung


Lagi - lagi kak Jester seakan menghilang dari balik telepon, terdengar teriakannya yang menjauh dari handphone miliknya. Entah apa yang terjadi padanya saat itu, namun aku dan Selena pun tertawa bersama. Tidak lama suara deham seorang pria terdengar, "Kak Luke?" tanyaku dalam hati


"Woi putri bulan, ini Luke. Aku ingin mengatakan..." belum selesai kalimat kak Luke, aku kembali mendengar kak Luke dan kak Jester bertengkar.


"Aah Luna ini Jester! jadi begini, maukah ketemu restoran bersamaku kita menuju malam makan?" tanya kak Jester dan aku pun bengong mendengar kalimat kak Jester.


Kami sempat terdiam sejenak dan tidak saling berkata satu sama lain sampai tiba - tiba kak Jester berteriak pada kak Luke "Apa yang baru saja aku katakan, dasar gorila bodoh!!" mereka pun bertengkar hebat lagi lalu menutup teleponnya.


***


"Pangeranmu itu kenapa?" tanya Selena bingung, aku tertawa sembari menelepon balik kak Jester

__ADS_1


***


"Aaa anu.. iya halo Luna, tadi sinyalnya jelek jadi terputus deh!! beneran aku tidak bohong!" ucap kak Jester ketika teleponnya terangkat


"Iya gapapa kok, boleh aku bertanya?" timpal ku dengan sedikit suara tawa yang memang sudah tidak mampu aku tahan.


"Eeh... tanya apa?" ucap kak Jester terdengar penasaran


"Aku ingin makan malam bersamamu, jika boleh nanti malam bisakah temui aku di rumah jam delapan? tempatnya terserah kak Jester saja" pintaku padanya, walau sebenarnya itu adalah permintaan kak Jester kepadaku... Xixixi,


dia imut kan :)


"Tentu!! aku akan datang tepat pada pukul delapan malam!!! aku tidak akan membuatmu menunggu! pastikan kamu jangan makan, karena aku akan membawamu ke restoran terbaik di kota ini!!" ucap kak Jester dengan penuh semangat, aku membalas semangatnya dengan suara tawa semanis mungkin


"Baiklah~ sampai jumpa nanti malam kak" ucapku lalu menutup teleponnya


***


Aku menoleh menatap Selena dengan senyuman terbaik yang mungkin tidak pernah Selena lihat digaris bibirku, mata Selena pun berbinar melihatku tersenyum lepas. Kami saling berpelukan dan melompat bersama - sama, kebahagiaanku seakan menular pada Selena.


"Selamat ya~ kencan pertama, aah bahagianya~" celetuk Selena terdengar senang


"Makasih~ semoga aku berhasil dalam kencan pertamaku" timpal ku


"Duh Duuh anak muda ya kalau jatuh cinta, lupa sama orang disekitarnya" celetuk ibu Selena dan kami pun tersadar akan kehadiran ibu Selena disana, kami bertiga pun tertawa.


"Selena aku harus pulang dulu, aku ingin berpenampilan semenarik mungkin" ucapku pada Selena untuk berpamitan, Selena pun nampak kecewa dengan keputusanku.


Aku bersemangat sekali saat itu atau bahkan terlalu bersemangat, ayolah.. aku akan berkencan dengan pangeran impianku. Bagaimana mungkin aku bisa untuk tidak bersemangat.


"Tapi... itukan masih jam delapan malam, sedangkan sekarang masih jam sepuluh pagi. Masih banyak waktu..." ucap Selena terdengar kecewa


"Aku harus bersiap Selena, ini kencan pertamaku~ aku ingin tampil sebaik mungkin karena..." aku menggantungkan kalimatku untuk menarik perhatiannya, Selena pun mengernyitkan dahinya.


"Karena sainganku secantik kak Natalie~" aku melanjutkan kalimatku lalu tertawa, seketika Selena pun ikut tertawa bersamaku.


Setelah berpamitan kepada Selena dan ibunya, aku berjalan menuju ruang tamu rumah keluarga Parker diantar oleh Selena. di ruang tamu ketika itu aku berpapasan dengan Naomi dan untuk pertama kalinya aku begitu dekat dengannya, namun sayang... rasa minder ku terlalu kuat merasuki hati sampai - sampai aku harus memalsukan namaku. Aku tidak banyak bicara kepada Naomi meski dia banyak bertanya padaku menunjukkan ketertarikannya untuk berteman, pembicaraan itu selesai ketika ayahku memanggil dari pelataran rumah.


Wajah Naomi terlihat kaget melihat ayahku yang seorang supir pribadi memanggil namaku, meski dia tidak bertanya apapun namun senyumnya ketika aku undur diri masih terlihat di bibirnya. "Aku akan tanyakan respon Naomi nanti pada Selena" dalam hati aku mengatakannya sembari berjalan mendekati ayah, aku pun masuk mobil Selena dan diantar pulang oleh ayah.

__ADS_1


__ADS_2