Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 4 : Episode 3


__ADS_3

Aku berjalan keluar untuk menjenguk Luna yang berada diruangan isolasi dengan pengawasan ketat dari tim dokter, aku hanya bisa menatapnya dari balik kaca. Ketika itu aku melihat Luna terbaring diatas kasur rumah sakit dengan berbagai alat - alat medis yang menempel dibeberapa bagian tubuhnya, tubuh kecil Luna terkulai tak berdaya, kepalanya tak lagi tertutup wig yang biasa menghiasinya selama ini, rambut Luna benar - benar tak terlihat sehelaipun, dan wajahnya pun kini terlihat sangat pucat.


Selama ini dia selalu menutupi hal - hal itu dengan sangat baik, sampai aku tidak pernah menyadarinya. "Benarkah kamu sudah seperti ini sejak SMA dulu? kenapa aku tidak pernah menyadarinya?" tanyaku dalam hati, namun seakan hati nuraniku membantahnya dengan berkata "Bukankah dulu kejadian dengan Natalie saat itu Luna sudah menunjukkan tanda - tanda keanehan? bukan Luna yang hebat dengan bohongnya, tapi aku yang tidak pernah peka".


Aku membenturkan dahiku di kaca tepat dihadapanku dimana aku dapat melihat Luna yang terbaring, hati nuraniku benar tentangku. Aku memang bodoh, akulah masalah dalam hubunganku dengan Luna dulu. Seharusnya yang patut disalahkan adalah aku, bukan melimpahkan semua kegagalanku padanya. Luna sudah berkali - kali menunjukkan gelagat anehnya, tapi aku... aku yang dulu mengatakan jika mencintanya malah tidak peka sama sekali...


"Bagaimana bisa aku mengatakan aku cinta padanya padahal sedikitpun aku tidak memahami tentangnya? betapa bodohnya aku..." gumamku ketika itu


Aku merasakan kuatnya tekad Luna untuk mewujudkan impian - impian terakhirnya, wajahnya yang pucat pasi itu mempertegas jika Luna sudah berjuang cukup keras dan memaksa tubuhnya. Aku menghela nafasku lalu beranjak pergi dari tempat itu, aku harus kembali ke hotel untuk membersihkan diri dengan semua noda darah yang masih menempel pada baju dan celanaku.


Di hotel tempat kami menginap saat itu aku segera menuju restoran untuk setidaknya memasukkan beberapa makanan kedalam mulutku, semua aku lakukan agar kondisi kesehatanku tidak menurun karena disini hanya ada aku yang harus menjaga Luna. Namun setelah mengambil beberapa jenis makanan, tangan ini tetap enggan untuk menyentuhnya. Rasa tanggung jawabku kepada Luna yang akhirnya bisa memaksa tangan memasukkan makanan kedalam mulut dengan paksa, begitu pula aku juga paksa mulut ini untuk menelan setiap makanan yang masuk meski terasa seret dileher.


Pada akhirnya aku berhasil menyelesaikan sarapanku meski terasa menyiksa, kini aku segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Aku kembali mengguyur tubuh ini dengan shower untuk menata hatiku yang terasa hancur, dalam benakku berkata "Kenapa Luna tidak langsung jujur saja padaku? ini semua salahmu, karena kamu tidak jujur! semua salahmu, Luna!!" kembali aku salahkan Luna, semua itu karena aku seorang pengecut yang tidak mengakui kesalahanku sendiri.


Hampir satu jam aku mengguyur tubuhku sampai membuatnya mengkerut, namun aku masih juga tidak dapat menata hatiku yang hancur itu. Aku selesaikan mandiku dan segera ku keringkan tubuh ini, setelah berpakaian aku pun membaringkan tubuh ini diatas kasur. Mataku menatap langit - langit kamar hotel dan kembali melamun, didalam kepalaku teringat perkataan dokter yang bilang Luna selama ini menopang kesehatannya dengan obat - obatan dosis tinggi untuk menggapai sesuatu didalam hidupnya.


"Apa kamu masih bisa melanjutkan perjalanan ini?" gumamku dan tidak terasa aku tertidur dengan air mata yang mengalir.


Beberapa jam berlalu, ketika membuka mata aku melihat langit dari balik kaca jendela kamar hotel sudah sedikit gelap tanda jika sore telah menggantikan pagi. Dengan awan mendung yang menyelimuti langit sore ini, seakan menggambarkan suasana hatiku. Perlahan aku beranjak dari kasur dan hendak menjenguk Luna meski hanya bisa menatapnya dari balik kaca, dengan menggunakan taksi aku berangkat menuju rumah sakit tempat Luna dirawat.


Setelah membayar biaya taksi, aku segera beranjak keluar lalu aku langkahkan kaki ini menuju kamar Luna. Dari balik kaca aku masih melihatnya terbaring dengan posisi yang sama, tidak ada tanda - tanda dia bergerak semalaman ini.


"Bangunlah Luna... aku janji akan menemanimu menyelesaikan semua impianmu..."gumamku, tanganku menyentuh kaca itu dan berharap aku bisa menyentuhmu kali ini meski itu mustahil.


Aku menempelkan dahi dan meratapi semua penyesalanku, hatiku begitu sedih dan kalut melihatmu masih terbaring lemas seperti itu. Aku rasa aku akan menunggumu disini sampai kamu bangun, tapi itu semua tidak aku lakukan karena seseorang tiba - tiba membantingku dengan keras. Dia menarik lenganku dan menempelkanya dibahu, saat itu orang itu membantingku ke lantai seakan kami sedang berlatih judo.


"Arrghh!!! apa - apaan?!!!" bentakku dengan rintih kesakitan, jujur saja itu benar - benar menyakitkan dan aku tidak bohong.


Sosok itu adalah.. papa, yaa.. papa ku William Gates tiba - tiba datang ke Paris entah apa tujuannya. Kapan dia datang dan untuk apa juga dia datang, sempat didalam hati bertanya "Kenapa papa tahu aku disini?" tapi pertanyaan itu langsung aku bantah mengingat aku baru saja menggunakan kartu kredit keluarga untuk membayar rumah sakit Luna, tentu saja papa akan menerima notifikasinya.


"Papa?!! apa yang papa lakukan disini?!" tanyaku yang masih terbaring kesakitan di lantai


"Aku kesini secara khusus untuk menghajar tukang selingkuh!!" jawab papa dengan bentakan


Aku terkejut dengan jawaban papa sampai membuatku membatu, tatapan mata kami bertemu ketika itu. Namun aku yakin papa tahu aku bingung dengan apa yang baru saja dia katakan, sejenak papa mengalihkan perhatiannya menatap Luna dari balik kaca.


"Dia... wanita yang pernah datang menemui kami kan?" tanya papa sedikit terbata, sepertinya papa mencoba mengingat sosok Luna yang kini sangat berbeda dengan apa yang papa tahu.


Aku berdiri lalu kembali menempelkan dahiku dikaca, kembali aku pandangi Luna yang masih terbaring dengan berbagai alat medis yang menempel pada tubuhnya.


"Iya... dia Luna, papa ingat? kita baru saja membicarakan tentangnya ketika aku kabur dari rumah" jawabku


"Tentu papa ingat, tapi ada apa dengannya? papa sampai kesulitan untuk mengingatnya" tanya papa terdengar heran, aku menghela nafasku sejenak sebelum menjawab pertanyaan papa.

__ADS_1


"Ceritanya panjang papa..." jawabku menggantung


"Kamu ingin cerita ke papa mu ini?" tanya papa seakan papa ingin menjadi tempatku untuk meluapkan semua isi hatiku, aku tahu papa sangat paham tentang kesedihanku.


Aku hanya menatapnya dalam diam, entah ekspresi seperti apa yang aku tampakkan dihadapan papa saat itu. Karena tanpa banyak tanya, saat itu papa seakan sedang mencari tempat untuk kami bisa mengobrol dengan nyaman. Sempat papa menoleh kanan kiri sebelum pada akhirnya kami kembali saling bertatapan mata, lalu aku katakan..


"Kita butuh tempat yang lebih nyaman, aku ingin mendengar pendapat papa tentang apa yang harus aku lakukan" ucapku


Ketika itu papa langsung memberi gestur tangan agar aku mengikutinya, kami keluar dari rumah sakit dan berjalan agak jauh dari rumah sakit menuju sebuah kafe yang sepertinya papa sudah sangat hafal tentang kafe ini. Kami duduk di pojokan kafe saling bertatapan, kami terdiam beberapa saat setelah memilih beberapa menu untuk menemani kami mengobrol.


"Baiklah nak, katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku pikir kamu sedang berselingkuh karena aku menerima notif pembayaran rumah sakit di Paris lewat kartu kredit milikmu" celetuk papa memecah keheningan, aku menatap papa dengan kesal dan jujur saja aku tidak percaya papa memiliki pemikiran seperti itu padaku.


"Selingkuh mana yang menjadikan rumah sakit sebagai tempat kencan mereka, papa?" tanyaku dengan nada kesal, papa hanya membuang muka dengan raut wajah tanpa dosa.


"Papa benar - benar berpikir aku berselingkuh dirumah sakit?!!!" bentakku ketika itu


"Sudah kau cerita saja apa yang terjadi, dasar anak bodoh!!" papa balik membentakku, dengan raut wajah kesal aku menatap papa yang sepertinya malu sudah menuduhku yang tidak - tidak namun tidak mau disalahkan.


"Haah... aku mau cerita semua dari awal, mungkin akan membosankan tapi... hatiku benar - benar hancur saat ini... aku butuh kebijaksanaan papa.." dengan helaan nafas aku katakan itu


Aku mulai menceritakan semuanya dari awal kami SMA sampai baru - baru saja yang terjadi antara aku dan Luna, tidak ada sedikitpun yang aku lewatkan agar papa bisa menilainya secara obyektif. Aku membutuhkan pandangan dari kacamata orang lain agar aku tidak salah dalam melangkah, jujur saja aku sudah sangat bingung dengan semua pemikiranku sendiri.


"Aku mengerti dan sangat memahami apa yang kamu pikirkan" celetuk papa ketika aku sudah selesai bercerita, kami sempat terdiam sebentar saat aku menundukkan kepalaku.


"Ingatlah nak, kamu adalah calon suami nona Naomi. Tapi dia memberikanmu jalan untuk menuntaskan masa lalumu dengan Luna, menurut papa... nona Naomi sudah sangat berbesar hati, jadi saat ini kamu hanya perlu menuntaskan semua masa lalumu. Lakukanlah nak dengan penuh tanggung jawab, tapi kamu harus ingat ada nona Naomi yang menunggumu" ucap papa meneruskan nasihatnya


Nasihat papa ketika itu seakan menjawab pertanyaanku tentang pantaskah aku masih memikirkan Luna ketika ada Naomi yang menjadi kekasihku saat ini, aku yang sekarang tidak akan pantas untuk menjadi pendamping Naomi bagaimana pun caranya karena masa lalu masih mengganggu hati dan pikiranku. Aku saat ini sudah mendapatkan kembali jalan yang harus aku tempuh, semuanya untuk menuntaskan hutang masa laluku.


"Aku mengerti, papa" timpalku, aku segera mengeluarkan ponsel dari saku celanaku dan menelepon Naomi. Tidak lama, Naomi pun mengangkat teleponku.


***


"Ya, Jess... gimana? ada apa?" tanya Naomi terdengar panik


"Naomi... ada yang harus aku bicarakan padamu" jawabku ragu, aku tidak yakin dia akan menerima ideku ini.


"Gini... aku tahu ini akan terdengar konyol untuk dibicarakan denganmu, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu tanpa persetujuanmu..." ucapku, ketika itu aku mendengar suara tawa kecil Naomi dari balik telepon dan membuatku heran.


"Kenapa... kamu tertawa?" tanyaku heran


"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan padaku, jujur aja aku sempat berpikiran aneh - aneh saat mendengar kamu ingin mengatakan sesuatu padaku" jawab Naomi yang masih dengan suara tawa kecilnya


"Aneh - aneh apaan?" tanyaku penasaran, tawa Naomi berangsur menghilang dan terdengar dia menghela nafas.

__ADS_1


"Aku... sempat berpikir kalau kamu jatuh cinta lagi sama Luna dan ingin meninggalkanku... Aaa~ sudahlah, aku terlalu banyak berpikiran buruk" jawab Naomi, aku paham... dia sedang terbakar api cemburu seketika saat aku mengatakan ingin membicarakan sesuatu padanya.


"Tidak... tidak terpikirkan sedikitpun aku akan meninggalkanmu" timpalku mencoba untuk menenangkannya dengan kata - kataku, andai saja aku dekat dengannya saat ini aku sudah memeluknya agar dia yakin aku mencintainya.


"Kamu ingin menemani Luna disana sampai dia sehat? atau ada sesuatu hal lagi yang mungkin tidak terpikirkan olehku, Jess?" tanya Naomi terdengar tenang


"Sebenarnya... aku ingin menyelesaikan masa laluku, seperti halnya Luna... aku tidak ingin ada penyesalan dalam hidupku, aku membutuhkan izinmu dan..." belum selesai aku berbicara, Naomi memotongnya.


"Aku mengerti dan aku memberimu ijin... tapi, Jess... aku mengkhawatirkanmu..." timpal Naomi terdengar begitu cemas, aku pun kembali terheran dengan apa yang Naomi katakan.


"Kenapa dengan aku? yang keadaannya tidak baik - baik saja itu Luna dan bukan aku" tanyaku bingung, Naomi terdengar menghela nafas lagi


"Bagaimana bisa aku tidak khawatir sama keadaanmu, Jess... penolakan Luna dulu saja membuatmu terpuruk sampai harus ditemani Luke dan Harry untuk bangkit, lalu sekarang kamu harus dihadapkan dengan keadaan Luna yang berjuang antara hidup dan mati. Sekarang katakan, bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkanmu tentang itu?" jawab Naomi dengan suara yang terdengar begitu lembut


"Aku baik - baik saja, Naomi.." timpalku


"Kamu selalu mengatakan seperti itu, tapi maaf aku tidak percaya kamu untuk masalah ini... aku bisa merasakan rasa sakit di hatimu, Jess... aku akan kesana untuk mendampingimu" dengan tegas Naomi mengatakannya


"Tidak usah, aku pastikan aku baik - baik saja" tolakku juga dengan tegas


"Kita pernah sepakat untuk melalui semua masalah secara bersama - sama dan..." belum selesai Naomi berkata, aku memotongnya karena entah kenapa emosiku tiba - tiba memuncak.


"Aku baik - baik saja!" timpalku dengan bentakan, Naomi pun terdiam dan ketika itu aku menyesal sudah membentaknya...


"Maaf.. aku tidak bermaksud membentakmu.. aku.." belum selesai aku meminta maaf, Naomi memotongnya.


"Tidak apa... aku paham, Luna ingin berdua denganmu... disana.." timpal Naomi dengan suara yang terdengar tenang.


"Naomi... ada papa disini, aku akan meminta papa untuk mendampingiku... jadi kamu tidak usah khawatir" ucapku


"Hah?! papa disana?!!!" tanya Naomi dengan nada kaget


"I..iya.. papa disini" jawabku terbata karena aku pun kaget mendengar Naomi yang tiba - tiba berteriak


"Berikan handphone mu ke papa, aku mau bicara sama papa!" pinta Naomi dengan paksaan, aku menatap papa yang ada didepanku. Sejenak aku terdiam sampai papa memberi gestur mata, aku pun memberikan ponselku dan dengan gerak bibir aku sebut nama Naomi kepada papa.


***


Papa dan Naomi pun saling berbicara didalam telepon, entah apa yang sedang mereka bicarakan aku juga tidak terlalu memperhatikan apa yang papa katakan pada Naomi. Tidak lama papa menutup telepon mereka, saat mengembalikan handphone itu aku pun bertanya...


"Apa yang Naomi dan papa bicarakan? kenapa tadi papa tertawa?" tanyaku menekan papa


"Kamu punya istri yang sangat baik dan perhatian, nak" jawab papa lalu kembali tertawa, aku pun tersenyum mendengar pujian papa untuk Naomi.

__ADS_1


"Aku tahu..." timpalku.


__ADS_2