
Setelah sarapan bersama dengan ayah dan ibu, aku pun sudah siap untuk berangkat sekolah. Tapi ketika aku hendak naik kedalam mobil Selena... aku mendengar suara deru mesin mobil mendekati rumahku, mobil dua pintu berwarna kuning berhenti tepat didepan pagar rumahku.
"Kak Jester?" celetukku ketika mobil itu mematikan mesinnya
Benar saja yang datang pagi itu kak Jester, dia keluar dari mobil dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya namun dengan wajah terkejut, lalu kak Jester berjalan masuk kedalam pagar dan mendekati ayahku yang berdiri disebelah mobil Selena.
"Selamat pagi tuan Lincoln..." sapa kak Jester kepada ayah
"Pagi tuan muda Gates, apa tuan muda ingin bertemu Luna?" tanya ayahku dengan nada heran, bagaimana pun kami akan segera bertemu di sekolah kan.
"Eeh gi..gini.. tuan Lincoln, jika di izinkan... aku ingin antar jemput Luna mulai hari ini" jawab kak Jester, aku pun terkejut dengan permintaannya.
Rumah kami bertolak belakang, aku ke selatan dari sekolah dan rumah kak Jester menuju utara dari sekolah. Bagaimanapun kami tidak mungkin jika berangkat bersama, kecuali kak Jester berangkat jauh lebih pagi dari biasanya. Seperti dugaanku, ayah terlihat bingung harus menerima atau menolak.
"Luna, bagaimana menurutmu?" tanya ayahku seakan melemparkan bola panas penolakan itu kepadaku, aku tersentak lalu ku pandangi wajah kak Jester yang terlihat sangat berharap aku menerimanya.
"Kak, rumah kita bertolak belakang. Kamu akan kerepotan jika menjemput ku setiap pagi" tolak ku dengan alasan yang masuk akal
"Aku tahu, tapi terbukti aku datang tepat waktu kan?" berusaha meyakinkan kak Jester mengatakannya
Ternyata pangeranku ini benar - benar serius dengan ucapannya untuk ingin mengenalku lebih jauh. Aku terharu akan usahanya, tapi...... konyol sekali tindakannya kali ini.
"Tapi ini bukan masalah waktu, tapi efisiensinya gak ada kak" jawabku masih berusaha menolak permintaan kak Jester, tapi kak Jester tetap memaksaku dengan memberikan gestur memohon padaku.
"Haah~ aku gak punya pilihan kan?" tanyaku pada kak Jester, dengan suara tawa kecil kak Jester menjawab pertanyaanku.
Itu menjadi awal aku berangkat sekolah bersama pangeranku, meski masih merasa berat hati namun aku mencoba untuk membiasakan diri. Menaiki mobil dua pintu menuju sekolah, menjadi pusat perhatian siswa - siswi disana, dan menjadi bahan olok - olok Selena setiap kami bertemu dikelas.
"Apa kak Jester membawamu ke sekolah dengan kuda putihnya?" tanya Selena padaku dengan sindiran
"Dia membawa kuda berwana kuning, iiih~ udah donk jangan begitu terus padaku" jawabku dengan kesal, wajah jutek ku pun aku nampak kan didepannya.
"Eeh sebentar lagi mau ujian semester, apa kamu gak mau ikut lomba nyanyi?" tanya Selena padaku
"Lomba nyanyi? emang ada?" tanyaku padanya
__ADS_1
Yah, aku bisa dan sangat suka bernyanyi.. bisa dibilang suaraku lumayan bagus, setidaknya itu yang dikatakan oleh orang terdekatku termasuk Selena. Mungkin karena itu Selena menawarkan aku untuk mengikuti lomba menyanyi.
"Ada, disini akan diadakan pemilihan ketua osis tepat seminggu sebelum ujian semester dilaksanakan dan sebagai pemeriahnya maka diadakan lah lomba - lomba. Beberapa kandidat juga sudah berkampanye, ada tetanggamu juga loh" jawab Selena menjelaskan padaku, aku melipat tanganku di meja lalu menaruh kepala diatas kedua tanganku yang terlipat itu.
"Engga tertarik~" jawabku tegas
"Pangeranmu ada di tim sukses tetanggamu itu loo~" bujuk Selena kepadaku, entah kenapa mendadak api semangatku berkobar
"Apa yang bisa aku bantu untuk pangeranku?!" seruku pada Selena, dia pun tertawa dan tiba - tiba alarm di handphoneku berdering.
"Apa itu?" tanya Selena, aku menghela nafasku lalu mematikan alarm itu.
"Sudah waktunya..." jawabku sembari merogoh tas sekolahku
Aku mengeluarkan air minum kemasan dan enam jenis obat yang harus aku konsumsi pagi itu, aku segera membuka seluruh obat - obatan itu dari bungkusnya lalu bersiap untuk meminumnya dalam waktu bersamaan. Penuh semangat aku melakukan aktivitas terbaruku dan mungkin akan menjadi rutinitas untuk selanjutnya. Setelah meminumnya, tidak lama terdengar suara yang asing dari belakang dekat kami.
"Itu obat yang banyak... kamu sakit apa?" tanya Alvin tiba - tiba dari belakangku, aku pun terkejut sampai harus menatap kebelakang dengan wajah terkejut.
"Eeh Luna, kenalkan teman sekelas kita Alvin yang kemarin memanggil kak Jester untuk menolong mu dari kak Coralia sama kak Ayara" ucap Selena memperkenalkan Alvin kepadaku
"Tidak usah dipikirkan, aku tahu kemarin hubunganmu dengan kak Jester sedang ada masalah sampai - sampai kamu melupakanku yang jelas - jelas membantumu" timpal Alvin, entah kenapa aku mendadak kesal padanya.
Sungguh orang baru yang menyebalkan ya!! Kalau saja bukan teman Selena, aku pasti tidak ingin berteman dengannya.
"Kamu mau minta sesuatu dariku sebagai balas budi pertolonganmu itu?" tanyaku padanya dengan nada kesal
"Kalau bisa sih, tapi tentu aku tidak akan memaksa jika kamu mau menolaknya" jawab Alvin terdengar memaksaku, aku menghela nafas sejenak lalu bersiap untuk mendengarkan permintaannya.
"Apa?" tanyaku dengan nada terpaksa dan sepertinya dia tidak segan - segan untuk mengutarakan apa yang bisa aku perbuat untuk membalas budinya.
"Aku dari keluarga yang tidak kaya, aku disini karena prestasiku di SMP ku sebelumnya dan mendapatkan beasiswa. Jadi disini aku sama sepertimu menjadi korban bully, terus beberapa siswa disini baik kakak kelas maupun sekelas..." belum selesai Alvin berkata, aku memotongnya.
"Duuh disingkat aja deh, kamu butuh apa dari aku? mengatakan ke kak Jester untuk melindungi mu juga?" tanyaku kesal
"Aku ingin menjadi temanmu, dengan begitu aku akan dianggap sebagai anak yang dibawah perlindungan putra Gates itu" jawab Alvin tegas tanpa keraguan sedikit pun, aku terkejut lalu menatap Selena namun Selena hanya tersenyum kecut membalas tatapanku itu.
__ADS_1
"Itu ide yang sempurna, karena jika kamu katakan ke putra Gates pun pasti dia tidak akan mau melakukan hal repot seperti melindungi ku. Menjadi teman kalian maka akan mengatakan kepada pembully ku secara tidak langsung jika aku akan dilindungi oleh kalian" ucap Alvin masih dengan ketegasannya
Benar - benar pandai memanfaatkan situasi, tapi aku kesal.. tidak hanya memanfaatkan ku tetapi dia juga memanfaatkan pangeranku. Manusia tipe apa sih dia ini?
"Ya ampun... kamu seenaknya sendiri ya" timpal ku pasrah
"Aku tidak masalah jika kamu tidak mau, meski aku yang membantumu ketika kak Coralia dan kak Ayara..." ucapan Alvin pun aku potong
"Iya iyaa! aaah kamu ngeselin, tapi jangan buat aku dan Selena kerepotan" timpal ku, Alvin hanya mengacungkan jempolnya dengan wajah datar.
Tidak lama guru pun datang untuk mengajar, aku mendengarkan guru - guru pengajar dengan sangat baik sampai jam istirahat sekolah. Aku mengajak Selena untuk ke kantin bersama, namun ketika itu kak Luke dan kak Harry datang menjemput ku lalu mengatakan jika Jester menungguku lagi di kantin tempat siswa - siswi elite biasa berkumpul.
Akhirnya aku meninggalkan Selena dan ikut kak Luke dan kak Harry, saat itu aku mengatakan kepada mereka jika aku tidak mau dijemput seperti itu. Namun mereka mengatakan jika ini semua demi keselamatanku, mereka bilang jika kak Jester memerintahkan untuk selalu mengawasi ku dan jangan sampai ada yang berani menyentuhku seperti kejadian saat kak Coralia dan kak Ayara menyeret ku.
Meski aku merasakan ini sudah berlebihan, nyatanya aku memang tidak bisa membantah perkataan kak Luke dan kak Harry. Lalu kami bertiga pun terdiam sepanjang perjalanan, aku merasakan tatapan mata kakak - kakak kelas kepadaku begitu ketakutan saat melihatku. Aku rasa ini efek dari tersebarnya berita jika aku ini pacar kak Jester, aku semakin bertanya - tanya tentang siapa sebenarnya kak Jester.
Sesampainya di kantin elit itu, aku melihat kak Jester dan kak Justin yang sedang berbicara dengan wajah yang terlihat begitu serius. Ketika kak Jester melihatku, wajahnya memerah dengan senyum yang terlihat senang dengan kehadiranku. Aku membalas senyumnya lalu ketika dekat dengannya, aku langsung duduk disebelahnya tanpa mengatakan apapun.
"A..ada apa? apa kamu sedang kesal?" tanya kak Jester padaku, aku pun menggelengkan kepalaku beberapa kali.
"Dia tidak suka dengan caramu menjemputnya" timpal kak Justin dengan suara tawanya, kak Jester dan aku pun terkejut dengan perkataan kak Justin.
Darimana kak Justin tahu isi hatiku? aku cukup kaget karena hanya dengan kehadiranku yang berwajah masam itu, kak Justin langsung tepat menebak kenapa aku terlihat kesal. Kak Jester pun segera menatapku dengan wajah menyesal, sedangkan aku berusaha agar kak Jester tidak menganggap perkataan kak Justin itu tepat.
"Benarkah? aku cuma tidak ingin ada yang menyakitimu" ucap kak Jester padaku.
"Eeh tidak, aku tidak berkata seperti itu. Aku cuma sedang lelah aja, kak Justin! jangan berkata yang enggak - enggak" bantahku. Kak Justin hanya tertawa menanggapi kesalnya aku, sedang kan kak Jester pun terdiam mungkin sedang berpikir tentang ucapan kak Justin dan bantahanku.
"Hei Luna, ada lomba menyanyi yang akan dilaksankan sebentar lagi. Aku bilang ke Jester jika kamu ingin menjadi penyanyi, jadi sekarang adalah kesempatanmu untuk bersinar" celetuk kak Justin
"Hah?! gak! gak mau! aku ini.." belum selesai aku berkata, kak Jester memotong ku.
"Aku akan menjadi sponsor mu untuk membantumu menggapai cita - citamu, ayo berjuang bersama" timpal kak Jester dengan semangat, aku menoleh menatap mata kak Jester yang terlihat berbinar itu.
Satu per satu impianku menemukan jalannya... memang tidak semuanya langsung berjalan mulus namun kemanapun aku melangkah, selalu saja aku akan kembali menemukan jalan untuk menggapai semua harapanku. Apakah kata Selena benar tentang kuatnya harapanku? jika aku berharap sembuh demi bisa menemani kak Jester selamanya... apakah itu akan berhasil? aku akan mencobanya...
__ADS_1