Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 36


__ADS_3

Setelah bernyanyi aku menarik nafasku panjang dan menghembuskannya perlahan, tatapan mataku pun kini tertuju pada pak Mike dari balik kaca. Dia tersenyum kepadaku, aku membalas senyumnya dan melepaskan headset yang menempel di telingaku lalu meletakkannya kembali di dudukannya. Perlahan aku keluar dari bilik rekaman dan aku lihat pak Mike berdiri dari duduknya sembari bertepuk tangan, dia kemudian mendekatiku lalu menepuk kedua pundakku dengan tatapan begitu bangga.


Berada di ruangan kedap suara dengan mic untuk bernyanyi, di luar ruangan teknisi musik dan vokal mengontrol agar suara menjadi indah didengar. Kental sekali dengan suasana rekaman penyanyi terkenal di luar sana bukan? Dan aku sudah berada dititik ini, satu per satu impianku terwujud.


Kak Justin lah sosok yang membantu impian - impianku terwujud, salah satunya adalah menjadi penyanyi. Tapi percayalah, pertemuanku dengan pangeranku juga ada andil kak Justin. Dan pangeranku sering menemaniku menjalani setiap aktivitasku.


"Kamu berkembang sangat pesat setelah penampilan pertamamu itu, pak Mike yakin kamu akan menjadi penyanyi utama sekolah" seru pak Mike kepadaku, aku tersipu malu dan membalas perkataannya dengan sebuah senyuman.


"Gimana pak? apa Luna memenangkan audisinya?" tanya kak Jester yang baru saja mendekati kami


"Pak Mike rasa iya, tapi ini tergantung dua juri lainnya. Rekaman ini akan pak Mike berikan pada juri lain dan voting pun dilakukan, pak Mike secara pribadi sudah menentukan pilihan" jawab pak Mike


"Kamu punya satu suara bahkan sebelum audisinya berakhir, selamat Luna. Aku bangga padamu!!" seru kak Jester padaku, aku mendekatkan tubuhku pada tubuhnya lalu memeluknya dengan erat sampai membuat kak Jester terkejut.


"Waaa! Luna!! ada guru disini!!" ucap kak Jester panik, aku menggelengkan kepalaku beberapa kali merespon perkataannya.


"Ka.. kamu kenapa? sejak tadi kamu... bersikap beda..." tanya kak Jester, aku pun tertawa kecil lalu melepaskan


pelukanku.


"Gak ada... aku hanya sedang... senang" jawabku lalu aku memberi salam pada pak Mike untuk undur diri dari studio


Setelah mendapatkan izin untuk meninggalkan studio, aku berbalik dan berjalan keluar diikuti oleh kak Jester. Aku tahu dia ingin terus memaksaku untuk menjawab keanehanku hari ini, tapi pangeranku benar - benar pengertian... dia tidak ingin memaksaku untuk bicara meski dia sangat ingin melakukannya. Dan jika dipaksa pun sebenarnya aku tidak paham kenapa aku begitu ingin terus menempel pada kak Jester....


Didepan kelasku aku mendengar guru sedang mengajar, aku pun menatap kak Jester yang masih mengikuti di belakangku. Hanya dengan tatapan mata, kak Jester paham jika aku ingin minta tolong padanya agar dia membantuku berbicara pada guru yang mengajar di dalam kelasku. Senyumnya terlihat manis menatapku, lalu tangannya kini mengarah pada ganggang pintu lalu membukanya perlahan.


Entahlah... meski penasaran tapi aku tidak punya keinginan untuk mengorek asal - usul kak Jester...


Aku kembali dikejutkan dengan sikap guru dihadapan kak Jester, guruku terlihat kaget ketika melihat yang membuka pintu kelas ditengah pelajaran tengah berlangsung adalah kak Jester....

__ADS_1


"Maaf pak, saya hanya punya keperluan untuk mengantar Luna kembali ke kelas karena dia tadi ikut audisi vokal" ucap kak Jester bersamaan dengan dia berjalan mendekati guru


"Ooh tentu - tentu, Luna segera kembali ke tempat duduk mu" ucap guruku, aku membungkukkan badanku di hadapannya sembari berjalan mendekati mejaku.


"Ada keperluan lagi Gates?" tanya guruku, dengan gelengan kepala dan senyuman kak Jester menjawab pertanyaan guru.


Kak Jester berbalik dan keluar kelas lalu menutup kembali pintu kelas, pelajaran pun dimulai kembali. Aku mengikuti pelajaran dengan rasa nyeri di seluruh sendiku, sakit yang sudah lama tidak pernah aku rasakan kini menggangguku kembali. Sepanjang hari aku merasakan tersiksa, tapi aku masih mampu bertahan sampai aku pulang.


Setelah diantar kak Jester ke rumah keluarga Parker, aku pun pingsan tepat ketika berada dikamar Selena. Mereka membawaku ke rumah sakit karena darah dari hidungku tidak kunjung berhenti sejak aku jatuh pingsan, aku kembali kehilangan momen - momenku selama beberapa minggu...


Untuk kesekian kalinya, mungkin akan sampai tidak terhingga jumlahnya bagiku untuk terbaring dirumah sakit seperti ini. Jangan ditanya lagi seberapa bosannya aku dengan keadaan ini, tetapi bahagia dan semangat yang telah ku ciptakan mampu membawaku mewujudkan impianku bukan? Aku harus kembali bersemangat, pangeranku itu bahkan belum menyatakan cintanya secara resmi kan?


Entah apa yang akan dipikirkan kak Jester kepadaku saat itu... hilang lagi selama hampir dua minggu... Ketika terbangun dari koma ku... aku bertanya dalam hati apakah kali ini kak Jester akan mengetahui keadaanku...


Selena dan kak Justin bekerja sama demi aku untuk membohongi kak Jester, kak Luke dan kak Harry yang berusaha mencariku, Selena bilang jika kak Jester sudah mulai meragukan perkataannya bahkan kak Justin. Beberapa kali kak Jester sengaja menunggu aku di depan rumahku, tapi yang didapatinya adalah rumah kosong tak berpenghuni karena ibu dan ayah menjagaku di rumah sakit sepanjang hari.


Hatiku terasa lega saat itu sampai di suatu hari dokter Richard dan dokter Ellie datang ke kamarku di rumah sakit...


"Ada pembengkakan pada limpa, kami khawatir hal ini akan membuat Luna tidak bisa menjalankan aktifitasnya lagi seperti biasa" ucap dokter Richard ketika dia berada di kamarku


"Hah...? apa...?" celetukku, aku seperti tersambar petir disiang bolong mendengar apa yang baru saja dokter Richard katakan.


"Luna... kamu istirahat dulu ya, fokus dulu sama penyembuhan..." timpal dokter Ellie


"Ta.. tapi tidak bisa, aku.. aku baru saja ikut audisi untuk menjadi penyanyi sekolah... aku... aku tidak ingin... ini berakhir... pangeranku juga mencariku... aku tidak ingin ini berakhir...." ucapku dengan air mata yang deras keluar dari kedua mataku...


Ibu pun mendekatiku dan memelukku dengan erat untuk menenangkan tangisanku, ruangan itu mendadak menjadi begitu sunyi dan hanya suara tangisanku yang begitu mendominasi ruangan itu...


"Dokter, apa yang harus dilakukan disaat seperti ini?" tanya ayahku memecahkan kesunyian

__ADS_1


"Cara paling efektif adalah segera menyembuhkan leukimia yang diderita Luna, selain itu pemeriksaan intensif juga perlu dilakukan untuk menjaga agar pembengkakan itu tidak semakin membesar. Dan yang paling utama adalah mengurangi aktifitas berat seperti berolahraga, hanya itu yang saat ini bisa dilakukan" jawab dokter Richard


"Tapi aku hanya ingin bersekolah! aku hanya ingin berkumpul bersama teman - temanku!! aku ingin menikmati hidupku diluar sana, bukan dikamar seharian seperti ini!!!" bentak ku pada para dokter itu


"Luna... kalau kamu bisa cepat sembuh, kamu bisa melakukan aktifitas rutin mu lagi" timpal dokter Ellie


"Tapi semua akan terlambat... semua akan berjalan tanpa aku... apa gunanya lagi ketika aku kembali tapi semua keadaan sudah berubah total?!!" ucapku


"Seminggu ini kamu cuma harus mengikuti semua terapi, setelah itu kamu bisa lihat hasilnya. Tidak selama yang kamu bayangkan kok, mau ya..?" bujuk dokter Ellie kepadaku


Aku hanyut dalam kesedihanku dan tangisanku, dengan gelengan kepala aku merespon bujukan dokter Ellie kepadaku. Aku begitu putus asa saat itu, aku hanya ingin tetap bersekolah dan mejalani hari - hariku seperti biasanya. Namun kini semua seakan hancur total, tepat pada hari itu... aku kembali kehilangan semangat untuk... hidup...


"Luna... makan ya..." bujuk Selena padaku sembari memberikan sesuap bubur kepadaku


Keesokan harinya setelah kunjungan dokter di kamarku, kini Selena yang menemani menghabiskan hari mingguku yang kelam itu. Aku menepis tangannya yang hendak menyuapiku, aku kembali terdiam dan hanyut dalam lamunanku.


"Luna~" ucap Selena mencoba kembali membujukku


"Buat apa... makan ataupun tidak... aku akan mati dalam waktu dekat..." timpal ku


"Luna!! kamu masih bisa sem..." belum selesai Selena berkata, aku memotongnya dengan penuh amarah


"Sembuh?!! aku sudah melakukan hal ini lebih dari empat tahun dan yang aku dapati adalah seperti ini!!! tahu apa kamu tentang aku?!! kamu hanya bisa bicara tanpa tahu apa yang sedang aku derita!!!" bentak ku padanya


Kami pun terdiam dengan saling menatap... Selena begitu terkejut dengan bentakanku dan aku pun tiba - tiba menyesali apa yang baru saja terjadi. Aku membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan sahabatku itu yang begitu peduli padaku, namun aku memang sedang dalam keadaan yang kacau. Emosiku tidak terkontrol...


"Maaf Selena... aku tidak bermaksud menyakiti hatimu dengan kata - kataku.. tolong jangan dimasukkan ke hati..." ucapku penuh penyesalan


"Kamu ingin berteriak padaku seperti apapun, aku tidak akan pernah memasukkannya ke hati. Yang kamu katakan itu benar, aku hanya orang yang bisa bicara tanpa pernah mengerti apa yang sedang kamu derita" ucap Selena, aku pun terkejut lalu menatap Selena namun yang aku dapati adalah sebuah senyum.

__ADS_1


"Aku cuma ingin kamu bahagia... meski hari ini akan menjadi hari terakhir kita, aku tidak peduli... aku cuma ingin kamu bisa bahagia... aku cuma bisa memberimu sebuah semangat agar kamu tetap berusaha untuk sembuh... jangan putus asa Luna~ semangat lah kembali seperti dulu..." dengan derai air mata Selena mengatakannya, aku pun tidak dapat lagi menahan air mataku.


Kami berpelukan dengan sangat erat, aku meluapkan segala emosiku dan semua kekecewaanku dengan tangisan dalam pelukan Selena. Entah kapan ini akan berakhir... apa aku akan mati? atau aku akan sembuh? aku tidak bisa merasakan akan kemana tubuhku ini, satu hal yang pasti... aku masih ingin bersama pangeranku...


__ADS_2