
Kak Justin terlihat terkejut mendengar apa yang baru saja aku katakan padanya, matanya terlihat membesar menatapku. Senyum yang biasanya selalu menemani hari - hariku mendadak menghilang, kini hanya ada ekspresi seakan tidak mau mempercayai apa yang baru saja aku katakan. Sejenak aku melihatnya membuang muka dan terlihat jika kak Justin sedang menata hati atau mungkin kalimat yang ingin dia sampaikan padaku, tapi bagiku... apapun yang sedang kak Justin usahakan untuk mengubah keputusanku adalah hal yang sia - sia.
"Luna, kamu tahu darimana jika..." belum selesai kak Justin berkata, aku segera menimpali perkataannya. Aku tahu kearah mana pertanyaan kak Justin, mungkin karena aku sudah bosan mendengar pertanyaan umum yang terkesan basa - basi itu.
"Aku sudah mendengarnya langsung!! aku menguping pembicaraan dokter Ellie, dokter Richard, ayah dan ibu!! apa yang dia katakan sekarang sudah sangat berdampak untukku!! aku sudah tidak bisa merasakan kakiku, keduanya kebas sepanjang hari!! itu tidak penting untuk saat ini!! berhenti untuk mencoba menceramahi ku!!!" bentak ku padanya dengan sangat emosional, meski air mataku juga terus mengalir membasahi pipi.
"Luna... tenang dulu, oke?" ucap kak Justin, suaranya yang lembut dan menenangkan itu entah mengapa begitu terasa dingin di telingaku.
Untuk sejenak kami berdua terdiam, aku menundukkan kepalaku dan membiarkan setiap tetesan air mata jatuh membasahi selimut dan kedua tanganku yang mengepal itu. Aku sudah benar - benar dalam kondisi yang tidak mampu lagi untuk berpikir secara jernih, entah mengapa aku merasa... ini adalah titik terendah dalam hidupku dan mungkin umurku juga sudah tidak akan lama lagi...
"Mau mencoba untuk berjalan?" tanya kak Justin memecahkan keheningan diantara kami, aku yang mendengar tawarannya itu merasa terkejut lalu tatapanku pun beralih menatap wajah kak Justin.
"Hah? apa?" tanyaku padanya
"Kita coba untuk memastikan apa benar kamu lumpuh, aku tetap merasa jika itu hanya pemikiran bawah sadar mu. Luna, mentalmu sedang terpuruk lalu mendengar kabar buruk seperti itu. Bisa jadi kebas nya kakimu hanya ada didalam pikiranmu saja" jawab kak Justin sembari menjulurkan tangannya untuk membantuku berdiri dari kasur, sejenak aku terpaku menatap kak Justin hingga senyum kak Justin seolah mendorongku untuk melakukannya.
Aku menatap kedua kakiku yang berada dibalik selimut, perlahan aku menyingkap selimut dan aku pandangi kedua kakiku yang terlihat banyak lebam - lebam disana. Sudah bukan pemandangan baru melihat kulit putihku tiba - tiba muncul lebam - lebam seperti itu tanpa sebab, sejak menderita leukimia... aku sering melihat kulitku lebam - lebam tanpa sebab.
Aku mencoba untuk menggeser kedua kakiku namun tidak ada pergerakan sedikit pun, hanya sesekali jempol dan beberapa jari - jari kaki bergerak seperti kejang. Aku pun kembali ingin menangis menatap kak Justin, tapi senyum kak Justin ketika itu membuat aku ingin terus mencobanya. Hingga akhirnya aku berhasil menggerakkan kaki kiriku untuk turun dari kasur, bersamaan dengan itu tangan kak Justin mengelus kepalaku dan mengatakan jika aku hebat.
Sedikit demi sedikit aku sudah berhasil menggeser kedua kakiku turun dari kasur, kini aku duduk di pinggir kasur dan bersiap untuk berdiri menopang tubuh dengan kedua kakiku yang terasa kebas itu. Kak Justin melepaskan botol infus dari dudukannya dan bersiap untuk menumpu tubuhku, dengan aba - aba dari kak Justin aku pun mencoba berdiri dan berhasil.
Aku tersenyum karena apa yang kak Justin katakan benar, itu hanya ada dalam pikiranku saja. Ternyata kakiku masih mampu untuk menumpu berat tubuhku... yah walau tentu saja berat badanku tidak terlalu membebani kakiku, aku memiliki tinggi 170 centimeter dan berat badan hanya 49 kilogram... bisa dibayangkan kan seberapa kurusnya aku saat ini..
"Kak aku bisa berdiri!!" seruku pada kak Justin
"Bagus! ayo se..." belum selesai kalimat kak Justin, saat itu kakiku terasa begitu lemas dan tidak bertenaga...
__ADS_1
Kakiku tertekuk sendiri dan membuatku hampir terjatuh ke lantai, untung saja kak Justin langsung menangkap tubuhku. Aku merasakan sakit yang luar biasa ketika itu, ada rasa sakit seperti tersayat - sayat pada pinggul dan itu membuatku berteriak keras sembari tangan kananku meremas pundak kak Justin dengan sangat kuat.
Kak Justin mendekap tubuhku dengan erat seakan membiarkan aku untuk melampiaskan rasa sakit ku padanya, merasa mendapatkan izin untuk melampiaskan rasa sakit yang aku derita... tangan kiriku kini mulai memukul punggung kak Justin bertubi - tubi... hingga beberapa saat akhirnya rasa sakit itu perlahan mereda...
Aku mengatur nafasku yang terengah - engah itu dan aku kembali menangis... betapa cengengnya aku. aku merasakan tepukkan lembut tangan kak Justin di punggungku, kak Justin tahu bagaimana cara menenangkan ku. Perlahan tangisanku mereda, meski aku masih merasa sangat sedih dan kecewa pada diriku sendiri. Aku kini menjadi wanita lumpuh, apa lagi yang bisa dilakukan oleh orang sepertiku?
"Kamu lihat kak... aku tidak berbohong tentang kondisiku..." celetukku sembari perlahan melepaskan pelukanku padanya, begitu pula kak Justin.
"Tolong aku untuk pergi dari hidup kak Jester... dia tidak pantas mendapatkan wanita sepertiku, aku hanya akan membebani hidupnya yang sempurna itu" ucapku lagi, lalu kak Justin membopongku untuk kembali merebahkan tubuhku di kasur.
Aku dan kak Justin sama - sama terdiam untuk beberapa saat, aku terbaring di kasur sedangkan kak Justin berdiri bersandar pada kasur tepat disebelah kepalaku. Aku menatap wajah kak Justin yang seakan sedang berpikir dengan keras, entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Apa kamu tahu yang lebih menyakitkan dari rasa sakit yang baru saja kamu rasakan?" tanya kak Justin tiba - tiba memecahkan keheningan diantara kami
"Apa?" tanyaku
"Luna... begitu kamu meninggalkan Jester, maka hatimu akan segera meronta. Kamu akan merasakan sakit dua kali lipat dari apa yang pernah kamu rasakan, percaya padaku karena aku pernah merasakannya" tegas kak Justin mengatakannya padaku, kini kami saling bertatapan mata dan dari tatapan mata itu aku merasa jika kak Justin sedang berbicara hal yang serius denganku.
"Kamu... pernah patah hati, kak? kapan...?" tanyaku terbata...
"Saat... kamu mengatakan jika kamu jatuh cinta pada pria yang muncul dalam mimpimu..." jawab kak Justin
Seperti tersambar petir disiang bolong, aku menatapnya dan membatu. "Hah..? apa yang dia katakan? aku pasti salah dengarkan... ya aku yakin aku salah dengar" ucapku dalam hati, aku menampar pelan pipi kak Justin untuk memastikan jika dia adalah kak Justin yang aku kenal dan ini bukanlah sebuah mimpi disiang bolong.
"Kak... Justin... ini benar - benar kamu... kan?" tanyaku terbata, aku masih tidak mampu untuk mencerna apa yang baru saja aku dengar darinya.
"Ini Justin yang kamu kenal, Justin yang selama ini menemanimu dan tahu segalanya tentangmu. Aku tahu kamu pasti terkejut, tapi memang inilah kenyataan jika aku memang... jatuh cinta padamu sejak dulu..." jawab kak Justin, sekejap aku palingkan pandanganku untuk menatap kaca jendela. Melihat cahaya lampu gedung - gedung yang menghiasi malam, aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
__ADS_1
"Luna..." belum selesai kalimat kak Justin, aku langsung memotongnya.
"Diam!!" bentak ku padanya
"Aku tidak bisa diam, aku..."
"Diam kataku!!"
"Luna dengarkan aa..."
"Diam!! Diam!! Diam!!!"
Seketika ruangan kamarku menjadi sunyi, aku kembali meneteskan air mataku karena aku begitu emosional ketika membentak kak Justin. Aku mencoba untuk menata kembali hati dan pikiranku, mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Kamu membenciku?" celetuk kak Justin dan celetukan itu membuatku tersentak, namun aku masih terdiam dan tidak ingin menatap wajahnya.
"Aku tahu ini akan terjadi ketika aku mengutarakan apa yang aku pikirkan tentangmu, tapi jika kamu sudah membulatkan tekat untuk menjauhi Jester... apa alasanmu tetap menolak ku?" kak Justin pun melanjutkan perkataannya, aku menoleh menatapnya dengan penuh amarah meski air mata terus membasahi wajahku.
"Aku minta kamu diam!!" bentak ku padanya
"Aku memang tidak punya apa - apa dan yang aku bisa tawarkan padamu hanya waktu, perasaan, masa depan dan hidupku. Aku tidak punya hidup yang luar biasa dan kamu tahu itu, tapi aku akan memberikan kamu segalanya. Jika memang pada akhirnya kamu memilih untuk hidup sendiri, setidaknya izinkan aku terlibat dalam hidupmu" suara lembut kak Justin terasa menusuk hatiku ketika dia mengatakannya
"Kamu gak ngerti kak!! kamu tidak akan pernah bisa mengerti!! Meminta kak Jester menemani sisa - sisa waktuku saja aku tidak mampu, apa lagi membiarkan kamu yang menemani sisa - sisa waktuku kak!!" bentak ku padanya, kak Justin menggenggam kedua tanganku lalu tatapan matanya seolah berusaha untuk meyakinkanku.
"Aku baik - baik saja! aku tidak akan keberatan, karena bisa menemanimu hingga akhir adalah hal yang aku inginkan!! jadi, biarkan aku melakukannya!!" ucap kak Justin memaksaku, aku menggelengkan kepalaku beberapa kali menolak permintaannya.
"Aku yang tidak akan sanggup... rasa sayangku kepadamu... lebih besar daripada rasa sayangku pada kak Jester... aku akan semakin kesulitan untuk hidup sesuai yang aku inginkan, yaitu hidup sendiri tanpa memiliki ikatan dengan siapapun agar tidak ada satupun orang yang sedih ketika aku mati" timpal ku pada kak Justin
__ADS_1