Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 18


__ADS_3

Aku kembali berlari kecil menuju ruang tamu, disana aku melihat kak Jester yang sedang bermain dengan handphone miliknya. Menyadari kehadiranku, kak Jester langsung mengalihkan pandangannya menatapku. Dan bagian terlucu nya terjadi ketika itu...


Kak Jester berdiri tegak dengan wajah yang nampak begitu terkejut, dia menatapku dengan tajam juga dengan ekspresi wajah yang seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Seketika itu jujur saja aku kaget, dalam hatiku berkata "Apa ada yang salah denganku?"


"Can...tik...." gumam kak Jester yang aku tidak bisa dengar dari suaranya namun aku membaca dari gerak bibir nya.


Mendapat pujian dari pangeran impian tentu saja membuat hati senang sekaligus gugup dan pastinya salah tingkah, rasanya malu tapi aku bahagia.


Aku pastikan walau saat itu tidak ada cermin di depanku, namun aku yakin wajahku memerah. Aku memutar badanku agar kak Jester tidak terus - menerus menatapku dengan wajah seperti itu, namun di belakangku aku melihat ibu yang mengintip ku dari balik celah gorden yang menjadi penutup antara ruang tamu dengan ruang keluarga.


Senyumnya saat itu menandakan dia senang dengan penampilanku, tapi tatapan matanya... aku yakin ibu terharu, karena secara tidak sengaja aku sempat melihat ibu menyeka sesuatu di kantung matanya. Gestur tangan ibu memintaku untuk kembali menatap kak Jester, perlahan aku kembali menatapnya tapi kali ini dengan pandangan yang menunduk.


"Apa ada yang salah kak?" tanyaku terbata


"Ti..! Tidak!! semua sempurna, eeh maksudku semua bagus dan kamu terlihat cantik! eeh maksudnya bukan aku mau gombal! tapi eeh maksudku tapi itu benar cantik!" begitulah kurang lebih kak Jester menjawab pertanyaanku


Kutukanku berjalan maksimal ya....!! xixixixix... kegugupan kak Jester semakin membuatnya terlihat menggemaskan di depanku. Wajah salah tingkahnya juga sangat lucu.


Perlahan aku kembali mengangkat kepalaku untuk menatap wajah kak Jester, ku dapati wajahnya merah merona dengan ekspresi yang terlihat begitu senang. Aku tersenyum padanya dan kak Jester pun terduduk... iya benar, dia tiba - tiba terduduk lalu memegang dahinya. Aku pun berlari mendekatinya dan seketika itu kak Jester menundukkan kepalanya seakan menghindari bertatapan mata denganku, aku pun heran dengan sikapnya.


"Kak? kamu baik - baik saja?" tanyaku dengan khawatir


"Saat ini tolong jangan tersenyum padaku, tubuh dan jantungku sudah tidak mampu menahan perasaan aneh ini" jawab kak Jester

__ADS_1


Percayalah, aku juga sama gugupnya dengan dia. Bedanya aku lebih kuat dari pangeranku itu untuk menahan diri agar terlihat tetap tenang ditengah degup jantung yang tak beraturan.


Aku tertawa lalu aku menjulurkan tanganku untuk mengajak kak Jester berangkat, tanpa menatapku kak Jester menyambut tanganku dan kami pun bergandengan tangan. Genggaman tangannya begitu erat meremas tanganku, namun tetap terasa begitu nyaman. "Tanganku.... digenggam pangeranku~" dalam hatiku berkata


"Ayo berangkat" ajak ku padanya, kak Jester hanya menganggukkan kepalanya lalu berdiri kembali.


Kak Jester menarik ku keluar rumah namun aku menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang dan melihat wajah ibu yang masih tepat berada dibelakang gorden, senyum kami berbalas dan gerak bibir ibu mengatakan "Semoga kamu senang".


Aku menganggukkan kepalaku beberapa kali lalu kembali fokus menatap punggung kak Jester, didepan mobil kuning itu kak Jester membukakan aku pintu. Aku menatapnya dan kak Jester memberikan gestur tangan agar aku masuk kedalam dengan sopan, aku merasa seperti ratu... dan aku pun merasa tidak enak hati pada kak Jester.


Seperti mimpi namun ini nyata, kak Jester menjelma sosok pangeran yang sesungguhnya hari itu. Memperlakukanku seperti ratu yang begitu spesial baginya, bukankah pangeran hanya bersikap manis kepada ratunya bukan?!


"Tidak perlu seperti ini kak, aku..." belum selesai kalimatku, kak Jester memotongnya.


"Izinkan aku menjadikanmu ratuku meski hanya untuk malam ini" timpalnya dengan wajah yang terlihat begitu serius, aku pun terkejut dengan perkataannya.


"Hanya ada aku dan kamu malam ini, tolong taruh semua atribut yang melekat pada kita" timpalnya lagi


"Atribut?" tanyaku


"Siapa aku dan siapa kamu itu tidak penting untuk malam ini, hanya ada Jester dan Luna... aku ingin mengenalmu dengan baik" jawab kak Jester lalu kembali memberi gestur tangan agar aku menaiki mobil sport berwarna kuning itu


Saat itu aku hanya tidak ingin lupa akan siapa diriku ini, sangat mustahil bukan bisa bersama dengan pangeran yang kaya raya sedangkan aku hanyalah putri dari seorang sopir. Sejujurnya aku juga takut berharap, tetapi mimpiku tidak mungkin salah. Baiklah.... mungkin pangeranku ini makhluk yang spesial yang Tuhan kirimkan untukku dan akan menerima gadis miskin ini dengan penuh cinta.

__ADS_1


Aku tersenyum lalu menaiki mobil itu, kak Jester menutup pintu mobil perlahan ketika aku dan dia bertatapan mata memberi tanda jika aku sudah duduk dengan nyaman. Aku melihat kak Jester berlari kecil memutari mobil menuju ke kursi pengemudi, ketika itu aku sempatkan kembali melihat rumahku dan aku dapati ibu berdiri di teras rumah menatapku dengan tangan yang ibu arahkan terus menerus menyeka air matanya.


Tidak lama mobil pun mulai melaju pelan meninggalkan rumah, aku dan kak Jester untuk pertama kalinya bertemu hanya berdua... hanya ada kami... hanya ada kak Jester dan Luna... aku senang :)


Tapi malam itu menjadi kencan yang berjalan dengan tidak baik... meski pada akhirnya kami jadi saling mengerti akan kesenjangan kami...


Semua bermula ketika kami sampai ditempat kami akan makan malam bersama... kami berhenti disebuah gedung yang nampak begitu mewah, bahkan para waitresnya saja menggunakan tuksedo lengkap begitu terlihat formal. "Oh my ghost... serius kak?" tanyaku dalam hati ketika mobil yang kami naiki berhenti di depan lobby restoran elit itu.


Seketika aku perhatikan apa yang aku kenakan, gaun itu.. gaun yang bagiku sudah sangat mahal itu rasanya tidak cukup pantas untuk aku kenakan pada acara kencan malam itu. Aku melupakan satu poin penting bahwa yang akan berkencan denganku adalah salah satu dari keluarga Gates yang kaya raya itu. Berkencan di sebuah restoran elit pun tidak sama sekali terbayangkan olehku, mungkin karena memang aku merasa tidak akan pernah untuk bisa berada disana.


"Aaa... ayo Luna kita turun, aku sudah reservasi disini dan menu terbaiknya adalah The Rippers Pasta With Uni and Caviar" celetuk kak Jester ketika dia sedang sibuk untuk melepaskan sabuk pengamannya


"Hah? apa tadi? The Rapper? itu apa?" sontak aku bertanya keheranan, sejenak kami saling bertatapan mata dalam diam sampai seseorang membukakan pintu mobil untuk kami berdua.


Kak Jester pun turun dari mobil, tidak lama aku mulai disibukkan dengan sabuk pengaman yang tidak dapat aku lepaskan pengaitnya. Mengetahui aku kesulitan, kak Jester berlari memutari mobil dan hendak membantuku. Kak Jester berjongkok lalu melepaskan sabuk pengaman itu dari tubuhku.


Aku mengucapkan terima kasih dan kak Jester memberikan telapak tangannya untuk membantuku turun dari mobil, aku pun menyambut tangan kak Jester lalu aku turun ala putri raja. Ketika aku turun, kak Jester menggandengku untuk masuk kedalam restoran itu. Banyak pasang mata dari pelayan yang memberikan sambutannya begitu hangat pada kak Jester, senyum mereka semua terlihat begitu senang menyambut kedatangan kak Jester.


Kenapa aku bilang seperti itu? karena ketika aku melewati mereka, aku menyempatkan diri menatap sebuah cermin dan aku dapati mereka seakan saling bertanya pada rekan kerjanya siapa yang dibawa kak Jester saat itu. Rasa minder ku semakin menghujam mentalku, aku ingin segera pergi dari tempat itu karena pakaianku pun tidak sepantasnya berada disana.


Beberapa pengunjung lain juga memperhatikanku dari ujung kepala sampai kaki, entah apa benar yang aku dengar saat itu... tapi mereka berkata "Mau apa dia kesini?", "Siapa orang udik ini?", "Apa dia tidak salah menggunakan pakaiannya?", "mengganggu saja, dia pikir tempat apa ini"


"Kak... bisa kita pindah?" pintaku padanya, kak Jester menatapku.

__ADS_1


"Ta.. tapi... aku sudah reservasi, apa tempat ini jelek? kamu tidak suka dengan suasananya?" tanya kak Jester padaku, aku pun menggelengkan kepalaku.


Tentu saja tempat ini nyaman, arsitekturnya pun mengagumkan. Namun tatapan mereka kepadaku membuatku harus merasakan mual karena gugup dan tidak nyaman... aku pun dengan terpaksa menarik permintaanku dan ketika itu kami berada didepan pelayan yang memeriksa buku tamu, begitu kenalnya pelayan itu kepada kak Jester karena ketika melihat keberadaan kak Jester... pelayan itu tersenyum dan dengan fasih menyebut nama kak Jester seakan sudah sering melayani kak Jester, namun senyum itu hilang bersamaan dengan tatapan matanya menatapku.


__ADS_2