
Setelah aku ucapkan permintaan maafku yang dengan tulus, aku pun tersenyum padanya. Senyum tulus yang aku tampakkan sepertinya membuat kak Jester tidak mampu lagi untuk berkata - kata, dia hanya terpaku menatapku dengan tatapan mata penuh kesedihan dan kekecewaan. Aku menarik nafasku dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan, ini adalah saat yang tepat untuk aku curahkan semua apa yang telah lama aku sembunyikan darinya.
"Dulu... aku berpikir jika kamu segera membenciku maka kamu tidak akan terlalu dalam jatuh cinta padaku yang akan membawamu semakin terpuruk bersamaku... aku ingin kamu segera meninggalkanku yang semakin tenggelam dalam palung cinta kita yang terpisahkan oleh keadaan, karena itulah aku berpikir untuk membuatmu agar membenciku" masih tersenyum aku katakan itu seraya terus menatap mata kak Jester
"Aku pun mengejar mimpiku yang pernah aku katakan padamu dulu... aku ingin menjadi penyanyi dan fokus untuk mengejar impian itu agar aku dapat melupakanmu dan kamu tahu? aku berhasil... aku menjadi finalis ajang pencarian bakat dan itulah pencapaian terbesar dalam hidupku... aku seharusnya sangat senang ketika aku mencapai final dan tinggal mengalahkan dua orang pesaing lagi, namun..." aku menggantung perkataanku dengan helaan nafas yang terasa begitu berat di dada, lalu aku mengalihkan pandanganku menatap layar televisi yang masih menyala.
Entah kenapa aku bisa membayangkan aku berada dilayar televisi itu, aku sedang berdiri diatas panggung dengan Grece, tuan Jhonson dan Yohan menjadi juri. Penonton bersorak memangil namaku, mereka sudah tidak sabar untuk melihat penampilanku yang akan mengantarkan aku menjadi juara mengalahkan Manda dan Peter. Aku bisa melihat diriku berdiri dengan tegapnya menatap semua penggemar, senyumku merekah... aku melihat diriku seperti itu dilayar televisi tepat di hadapanku, meski itu hanyalah imajinasiku.
"Di ribuan mata penonton yang melihatku saat itu, sorak sorai mereka memanggil namaku, suara gemuruh penonton menanti ku keluar menuju atas panggung... semua ketenaran itu.... semua tabur bintang yang menyelimuti ku saat itu... aku... merasakan kehampaan. Hatiku hampa dan perasaan senang yang seharusnya aku dapatkan, semua kosong. Aku kesepian ditengah keramaian, pencapaian ku terasa begitu semu didalam hatiku" kembali aku ingin menangis ketika itu, tapi aku dapat menahan air mata sejauh ini.
Aku kembali menarik nafasku dalam - dalam lalu aku alihkan pandangan mata ini untuk menatap mata pangeranku yang terlihat berkaca - kaca itu, hatiku hancur... aku tidak ingin membuatnya menangis, aku tidak ingin ini terjadi... ini lah yang selama dua tahun ini selalu aku hindari, tapi kali ini aku harus hadapi ini untuk mendapatkan maafnya.
"Berpisah darimu membuatku mengerti betapa indahnya saat aku bersamamu dan selalu aku ingat semua kenangan - kenangan itu..." aku tidak kuasa untuk menahan tangisanku sampai membuatku tidak dapat melanjutkan kalimatku, aku kembali menarik nafasku seraya jari - jari ini saling mencubit kedua tanganku.
"Saat itulah aku menyadari ternyata yang aku butuhkan dalam hidupku itu cuma kamu... sekalinya dicintai dan mencintai seseorang, membuat tidak mungkin lagi untuk melupakannya.... hatiku selalu memikirkan mu dan cintaku padamu malah semakin dalam... maafkan aku karena telah mencintaimu selama ini..." ucapku lalu kembali aku tarik garis senyumku yang terasa semakin berat ini, perlahan kak Jester menundukkan kepalanya.
"Lalu aku harus gimana? apa yang seharusnya aku lakukan sekarang disaat kamu seperti ini?!! aku bingung harus melakukan apa untukmu, sekarang katakan saja dengan jujur.... kamu mau aku bagaimana disaat seperti ini? katakan saja... aku pasti akan melakukannya untukmu... jangan ada rahasia - rahasia lagi diantara kita... aku tidak ingin terus hidup dalam penyesalanku..." ucap kak Jester
Sesuatu yang sangat aku takut untuk mendengarnya akhirnya harus aku dengarkan, suara serak kak Jester dan gemetaran ketika mengucapkannya membuatku menyadari kini kak Jester sedang menangis karena aku. Hatiku kembali terasa teriris harus melihat kak Jester sedih karena keadaanku, hal ini yang dulu membuatku yakin jika apa yang aku pilih adalah hal yang paling benar meski pada akhirnya aku menyesalinya.
"Aku... ingin istirahat... bisa tinggalkan aku...." celetukku dengan senyuman terbaik yang bisa aku berikan dihadapannya, kak Jester tersentak dan mengangkat kepalanya untuk menatapku.
"Kamu... mengusirku...?" tanya kak Jester terbata, air matanya dapat aku lihat mengalir deras membasahi wajahnya.
"Tidak kak... aku hanya sedang tidak enak badan, mungkin efek samping obat yang aku terima dan sekarang... aku merasakan ngantuk..." jawabku masih dengan senyuman itu
Perlahan kak Jester menyeka air matanya lalu berdiri dan berbalik untuk keluar dari kamarku, sebelum dia benar - benar keluar ketika itu aku berusaha menghentikannya dengan mengatakan...
__ADS_1
"Kak.." celetukku dan aku masih terus menatapnya dengan senyum, kak Jester menoleh menatapku namun dia hanya diam saja.
"Bisa... kamu bawakan gitar kemari saat kamu menjengukku lagi?" pintaku padanya, sempat terdiam beberapa saat kak Jester pun membuka pintu kamar lalu mengatakan..
"Iya" jawabnya singkat, lalu dia pun menutup pintu kamar.
Aku... merasa lega karena pada akhirnya aku tidak perlu lagi menahan air mata ini, air mata itu tiba - tiba mengalir begitu deras dari kedua mataku. Aku biarkan saja mereka membasahi wajah dan bahkan menetes membasahi bajuku, tanganku meremas sprei kasur ini dengan sangat kuat dan tubuhku terasa bergetar hebat. Sepertinya aku sudah terlalu memaksa tubuh ini untuk bersikap kuat dihadapan kak Jester, namun pada akhirnya aku harus sadar diri jika aku hanyalah gadis cengeng yang mudah tersentuh hatinya.
"Maafkan aku..." gumamku ketika itu berkali - kali sembari terus menatap pintu kamar seakan kak Jester masih berada disana, tidak lama aku menutup wajah dengan kedua tanganku dengan tangisanku yang terasa memilukan.
Aku membiarkan hari ini berlalu begitu saja, tiduran didalam kamarku dengan suara - suara khas yang menemaniku. Wangi kaporit juga sudah tidak menganggu hidung ini, sepertinya antara aku dan kaporit juga sudah saling mengenal dengan sangat baik. Hanya televisi yang menghiburku sepanjang hari, meski tidak dapat aku pungkiri aku selalu menangis sepanjang hari sampai kelelahan dan aku pun tertidur.
Tidak ada hal lainnya yang aku lakukan hingga pada akhirnya malam pun berganti...
Hari kedua...
Hari ini... aku berharap kak Jester benar - benar datang dengan membawa sebuah gitar bersamanya, aku ingin menyanyikan lagu terakhirku yang tidak aku nyanyikan ketika di audisi pencarian bakat dulu. Lagu itu adalah... All I Ask dari Adele, sebuah lagu yang mengingatkanku pada kak Jester dengan liriknya yang sangat menyentuh hatiku seakan lagu itu mencerminkan kisahku bersama kak Jester.
Jika aku ingat kembali... lagu itu adalah lagu yang Grece pilihkan untukku ketika aku akan tampil di final, aku tidak mampu untuk menyanyikannya dan memutuskan untuk mundur. Tidak... bukan, aku tidak boleh berbohong lagi. Aku memutuskan mundur karena teringat akan pangeranku, ya benar... karena lagu itu mengingatkanku pada pangeranku yaitu kak Jester.
Tepat pukul sembilan pagi ketika aku sedang mencoba memakan sarapan yang diberikan oleh rumah sakit padaku, aku masih duduk bersandar pada kasur yang agak aku tegakkan dengan sebuah meja lipat di depanku yang menyatu dengan kasur. Namun tidak bisa aku makan makanan itu karena mulut ini terasa begitu asam, aku hanya melamun menatap jendela kaca yang membuatku dapat melihat langit cerah di Paris hari ini.
Suara ketukan pintu kamar menyadarkan ku dari lamunan, perlahan aku menoleh menatap pintu itu bersamaan dengan ganggang yang berputar. Perlahan pintu itu terbuka dan dari celah yang terbuka itu wajah kak Jester terlihat, tapi saat itu aku tidak fokus pada wajahnya karena ada sesuatu yang menarik datang bersama kak Jester.
Ya.. sebuah tas gitar yang kak Jester bawa bersamanya, dia benar - benar menuruti apa yang aku pinta darinya. Aku tahu dia harus membeli gitar itu karena kami berada sangat jauh dari rumah, tidak mungkin juga seseorang akan meminjaminya sebuah gitar. Pengorbanan yang dilakukan kak Jester membuat hatiku kembali tersentuh, dia benar - benar pria yang baik. :)
"Aaaa~ terima kasih! Tunggu... aku harus bersiap dulu" ucapku ketika kak Jester sudah masuk dan menutup pintu kamar
__ADS_1
Aku mendorong meja makan itu agar kembali terlipat lalu aku ingin merapihkan rambutku, namun... aku terdiam sejenak ketika menyentuh kepalaku, aku lupa aku rambutku kembali rontok belakangan ini. Senyumku mendadak hilang dari wajah dan kak Jester pun memahami apa yang aku rasakan ketika itu, dia agak berlari mendekatiku lalu berkata...
"Eeh Luna, tidak usah terlalu dipikirkan..." celetuk kak Jester
"Aaaa~ dokter tidak mengizinkan aku pakai rambut palsu, aku akan terlihat jelek kalau begini di penampilan terakhirku~" begitu sedih hatiku ketika mengatakannya, aku pun menatap kak Jester berharap dia mau memberikan aku wig yang bisa aku gunakan.
Namun saat itu kak Jester malah tersenyum padaku, entah apa yang dia pikirkan ketika itu karena ini pertama kalinya setelah aku menyakitinya... aku mendapatkan tatapan mata yang begitu lembut dan senyum yang begitu manis darinya. Jika aku ingat lagi ke belakang... hanya ada tatapan penuh amarah, kekesalan, dan juga seakan dia jijik terhadapku. Aku tersenyum membalas senyumannya meski kami hanya saling terdiam beberapa saat, seketika itu aku pun tercetus kan sebuah ide...
"Hei.. hei kak, rekam penampilanku dong pakai handphone mu" pintaku padanya
Sebuah penampilan terakhirku ingin aku abadikan di handphone kak Jester, berharap jika dia merindukan sosokku maka video itu akan menemaninya. Ahaha... apa - apaan pemikiranku ini, tentu saja dia tidak akan merindukanku kan? Di hatinya sudah ada Naomi yang akan menemani hari - hari kak Jester, tentu saja aku tidak memiliki tempat lagi. Tapi... aku berharap kenangan yang bisa aku berikan ini akan berguna untuknya, entah apapun keadaannya saat itu.
Kak Jester mengeluarkan handphone dari saku celananya lalu menyandarkan handphone itu disebuah vas bunga yang terdapat di meja dekat dengan televisi, agak lama kak Jester memposisikan handphone itu agar kameranya dapat menangkap gambarku dan kursi yang berada tepat disebelah kanan dari tempatku bersandar pada kasur.
Setelah mendapatkan posisi yang baik, kak Jester kembali berjalan mendekatiku lalu duduk di kursi dekat denganku. Dia mengeluarkan gitar dari tas lalu jari jemarinya dengan lihai memainkan beberapa nada untuk memastikan jika nada yang keluar tidak fals, aku pun tersenyum menatapnya ketika kak Jester masih disibukkan dengan gitar itu.
"Di penampilan terakhirku... aku sudah menyanyikan dua lagu dan tinggal satu lagu lagi yang tidak dapat aku nyanyikan saat itu..." celetukku memecah keheningan diantara kami ketika kak Jester masih disibukkan dengan gitar itu.
"Lagu apa itu?" tanya kak Jester penasaran
"Lagu dari Adele... dengan judul, All I Ask.." jawabku terbata, aku mencoba memancingnya apa dia memiliki perasaan yang sama denganku ketika aku berikan judul lagu yang akan kita mainkan bersama pagi ini.
Aktifitas kak Jester terhenti lalu dia menatapku dengan wajah terkejut, entah apa yang ada didalam pikirannya ketika itu. Tapi sepertinya harapanku terkabul, kak Jester memiliki pemikiran yang sama denganku ketika mendengar lagu All I Ask itu. Setidaknya dengan lagu ini, perasaanku bisa tersampaikan padanya dengan sangat baik.
"Nama panggung yang aku gunakan saat itu adalah Lunar, aku menggunakan nama itu karena aku merasa seperti bulan yang terlihat indah saat malam tapi aku tidak bisa terlihat indah kalau hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Aku membutuhkan sinar matahari agar bisa terlihat indah, tapi sayangnya aku sudah kehilangan sinar matahariku... aku katakan itu pada Grece dan dia langsung memilihkan lagu itu dengan alasan aku pasti bisa menyanyikannya dengan baik jika aku melibatkan perasaan cinta... pada sang matahariku..." ucapku meneruskan kalimat sebelumnya, kak Jester pun langsung membuang muka menghindari bertatapan mata denganku.
"Kak... apa kamu bisa mengiringi aku dengan gitar itu?" tanyaku seraya tatapan mata ini aku arahkan pada kamera
__ADS_1
"Aku akan lakukan yang terbaik" jawab kak Jester, aku menarik nafas dan siap untuk menyanyikan lagu itu sebaik mungkin.