Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 41


__ADS_3

Perlahan mataku terbuka dan ku dapati sebuah langit - langit yang sangat tidak asing bagiku "Disini lagi..." ucapku dalam hati, namun kali ini ada yang berbeda. Aku tidak mampu untuk menggerakkan tubuhku, bahkan hanya sekedar menoleh saja aku tidak mampu. Mendadak aku menjadi panik dan aku mendengar suara pengukur detak jantung berbunyi keras...


Tiiit Tiiit Tiiit...


Begitu bunyinya kira - kira dan itu sangat menggangguku...


Tidak lama aku mendengar kepanikan beberapa orang yang terdengar ada dalam satu ruangan denganku, samar - samar aku melihat wajah beberapa orang mendekatiku dan menatap wajahku. "Siapa? ayah? ibu?" ucapku namun tidak satupun diantara mereka yang menimpali perkataanku...


"Hei!! aku bicara denganmu!! jawab aku!!!" bentak ku saat itu


Namun percuma mereka seakan tidak mendengar ku berbicara "Ada apa ini? apa aku masih koma? Tolong!! tolong aku!!" aku kembali berteriak namun mereka masih dilanda kepanikan sampai beberapa orang yang semula aku lihat seakan berganti dan menyentuh beberapa bagian tubuhku....


Seketika pandanganku yang buram itu kembali menghitam dan aku tidak mengingat apapun lagi... hanya ada rasa takut jika aku mengingat kejadian itu, aku takut.... takut untuk sendiri... tidak adakah yang bisa menemaniku?


"AAAAAAaaaaaaa!!!!!" teriakku begitu keras sampai aku terduduk dari tidurku di kasur rumah sakit


"Luna! kamu kenapa?!!" teriak ibu sembari berlari mendekatiku dan memelukku


Aku menatap wajah ibuku yang terlihat sangat khawatir itu lalu aku pun menangis terisak - isak, pelukan erat ibu yang melingkar di kepalaku dan menempelkannya di dadanya membuat aku semakin menyesali semua yang menimpaku. Aku menghentak - hentakkan kakiku di kasur untuk meluapkan segala penyesalan atas hidupku yang begitu malang... aku sudah kehabisan semua kata - kata yang bisa aku ucapkan untuk menggambarkan seberapa sengsaranya aku...


"Sudah... sudah sayang... ibu tahu kamu marah..." ucapan ibu pun aku potong


"Kenapa!! kenapa aku harus hidup?!!! kapan ini akan berakhir?!!!" bentak ku, pelukan ibu pun semakin erat


"Iya... sabar sayang... maafkan ibu dan ayah yang membawa kamu ke dunia ini ya, maafkan kami...." ucap ibu dengan suara seraknya karena ibu menangis begitu pilu penuh penyesalan....


Tahukah jika itu adalah kalimat pertama ibu yang begitu menghunjam hatiku hingga saat ini, nafasku pun sesak setelah ibu mengucapkannya. Jangankan menjadi anak yang berbakti, aku hanya menjadi anak yang selalu merepotkan kedua orang tua yang begitu mencintai dan menyayangiku... tidak hanya itu, aku juga hanya bisa mengeluh sepanjang hari... anak macam apa aku ini...


Jika boleh memilih untuk memutar takdir, aku sungguh tidak ingin dilahirkan.. bukan aku tidak bersyukur, namun menjadi beban bagi orang tua itu sangat menyedihkan bukan? Walau tidak ada keluhan apapun dari kedua orang tuaku dengan kondisiku. Mereka selalu memperlakukanku seperti anugrah dari Tuhan yang mereka miliki.


Lalu tentang satu kata 'SABAR'..... sampai kapan aku harus mendengarkan kata penguat itu? yang bahkan aku pun merasa tidak lagi kuat untuk melanjutkan hidupku. Aku lelah... sangat lelah... sungguh teramat sangat lelah.


Tidak Luna... tidak boleh..! jika ayah dan ibu sudah berjuang sejauh ini, bukankah aku harus memberikan yang terbaik yang juga aku mampu lakukan?! Aaaargh.... kenapa harus aku?:(


"Maaf... maaf ibu aku sudah berkata begitu..." semakin terisak - isak lah tangisanku meminta maaf pada ibu

__ADS_1


"Tidak apa sayang... ibu sangat mengerti, jika ibu jadi kamu pun pasti ibu tidak akan mampu... kamu anak yang kuat, sangat kuat... sabar ya sayang..." ucap ibu menimpali perkataanku...


Kami berdua pun berpelukan dan tangisan itu tidak juga kunjung berhenti sampai ayah masuk ke dalam kamar, aku dan ibu menatap wajah ayah yang berusaha terlihat tersenyum itu menatapku sembari membawa buket bunga mawar merah dan sekotak coklat. Aku tahu beban yang dipikul di setiap bahunya, aku tahu seberapa berat itu dan aku hanya bisa menangis, mengeluh dan menyerah...


Tahukah jika aku ingin pelukan ini menghadirkan kebahagiaan ? berada dalam pelukan ayah dan ibu dengan keadaan ini menimbulkan dua rasa dalam hatiku.... yaitu tenang dan sedih. Ayah... ibu.... jika aku gagal dan pergi meninggalkan kalian untuk selamanya, aku mohon jangan pernah bersedih akan itu. Itu karena aku tidak akan lagi mengalami rasa sakit lagi dalam tubuhku. :( :(


"Ayah... maafkan aku sudah merepotkan mu..." celetukku lalu aku kembali menangis terisak


Ayah langsung berlari mendekatiku dengan air mata yang terlihat membasahi kedua pipinya... pelukan hangat ayah terasa begitu menenangkan hatiku. Perlahan emosiku yang meluap - luap itu mereda, memang tidak ada hal yang lebih menenangkan ku dibanding pelukan dari kedua orangtuaku... bukankah itu suatu keberuntungan ditengah malangnya hidupku?


Perlahan ayah kembali merebahkan tubuhku di kasur, lalu ayah mengganti bunga yang sudah terlihat layu dalam vas dekat kasurku. Setelah selesai, ayah membuka kotak coklat yang terlihat mahal itu dan menyuapiku. Suara tawa ibu melihat betapa manjanya aku kepada ayah membuat suasana haru itu mencair, tanpa kata apapun aku dan ayah tiba - tiba terbawa suara tawa ibu.


Tepat tengah malam, aku tidak dapat tidur. Dari dalam kamar yang berada dilantai enam itu aku dapat dengan leluasa menatap langit dan gemerlap lampu gedung - gedung pencakar langit, aku melamun dan memikirkan tentang hubunganku dengan kak Jester. Ditengah lamunanku itu, suara ibu memecahkan keheningan kamar pada tengah malam.


"Ada apa, sayang?" tanya ibu padaku, aku sedikit tersentak lalu mengalihkan pandanganku menatap mata ibu


"Eeh... gak ada bu, aku cuma.... gak bisa.... tidur..." jawabku terbata, namun mungkin ibu dapat mengetahui jika aku sedang berbohong


"Ibu tahu kamu sedang memikirkan sesuatu, mau berbagi sama ibu apa yang sedang kamu pikirkan?" ucap ibu dengan lembut, aku menghela nafas lalu kembali menatap langit dari balik kaca jendela kamarku.


Perlahan ibu beranjak dari tidurannya di kasur yang terdapat didalam kamar lalu berjalan mendekatiku, kemudian ibu duduk di sebelahku yang masih terbaring di kasur. Tangannya yang hangat dan lembut itu kemudian menyentuh kulit kepalaku yang tidak ada satu helai rambut pun disana, dengan lembut ibu mengusap kepalaku lalu suara helaan nafasnya pun terdengar.


iyaa... pengobatan yang menyakitkan itu juga membuatku kehilangan seluruh rambut yang menempel di kepalaku... itulah mengapa bersekolah aku menggunakan wig. Lalu bisa dipahami kan mengapa aku sampai menyerah untuk berjuang?


"Ada apa dengan putra keluarga Gates? apa kalian bertengkar?" tanya ibu, aku menggelengkan kepalaku lalu kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Aku... mengatakan padanya jika aku tidak ingin lagi berhubungan dengannya.." jawabku


"Kenapa kamu katakan itu? apa kamu sudah tidak mencintainya?" tanya ibuku lagi, tidak terasa aku meneteskan air mataku ketika mendengar pertanyaan ibu.


"Aku... tidak tahu... aku benci dengan sikap arogannya tapi aku membohongi diriku sendiri jika aku mengatakan kalau aku sudah tidak mencintainya... aku bingung bu..." jawabku terbata karena aku berusaha untuk menahan tangisku


"Apa yang terjadi, coba cerita sama ibu" timpal ibu


Aku pun tanpa sadar menceritakan semua yang terjadi antara aku dan kak Jester, sebenarnya aku tidak ingin menambah beban pikiran receh ini kepada ibu namun entah kenapa aku seakan sudah tidak kuat lagi menahan kebimbanganku tentang percintaanku ini. Ibu mendengarkan semua ceritaku dengan begitu seksama, hingga beberapa menit berlalu dan ceritaku pun selesai.

__ADS_1


"Baik.... ibu paham apa yang terjadi diantara kalian... ibu punya dua kesimpulan" celetuk ibu ketika ceritaku sudah selesai, perlahan tatapanku pun beralih menatap wajah ibu yang tersenyum kepadaku.


"Kesimpulan?" tanyaku heran, ibu menganggukkan kepala beberapa kali lalu jari telunjuknya dia angkat seakan ibu sudah siap untuk menunjukkan hasil kesimpulan pertamanya.


"Pertama, semua kekacauan ini karena salah Luna Lincoln..." jawab ibuku dengan begitu tegas


"Hah?! aku? kenapa aku bu?!" ucapku heran dan sedikit ada rasa tersinggung, namun ibu hanya tertawa kecil menanggapi suara tinggi ku.


"Karena kamu membohongi putra Gates, dia sepertinya sangat mencintaimu. Jadi katakan saja ketika kalian berjauhan meski itu hanya satu hari saja maka akan membuatnya gelisah sepanjang hari. Bagaimana menurutmu jika kamu ada di posisinya?" tanya ibuku dengan suara yang terdengar menggodaku, aku pun memasang wajah masam mendengar pertanyaan itu.


"Aku tetap tidak akan memukul kak Justin!" jawabku sedikit membentak, ibu kembali menertawai ku.


"Mungkin pangeranmu itu bukanlah tipe pria yang bisa menahan ego ketika dia sudah tidak mampu membendung rasa rindunya, jika memang seperti itu... siapa coba yang membuatnya menahan beban rindu itu kalau bukan anak cantik ibu ini?" tanya ibu lagi masih dengan nada yang menggoda, aku pun terdiam seribu bahasa.


"Jika kamu mencintainya, kamu harus mulai bisa jujur pada hatimu dan berhenti untuk terus membohonginya. Dengan begitu kalian bisa terus bergandengan tangan menghadapi semua ujian cinta kalian berdua" ucap ibu kali ini dengan nada yang terdengar begitu serius, aku mengernyitkan dahiku karena aku tidak menyetujui perkataan ibu kali ini.


"Aku tidak bisa melakukan itu! rindu saja tidak bisa dia emban, apa lagi menghadapi kematianku!" ucapku dengan sedikit bentakan


"Lalu apa bedanya dengan sikapmu sekarang, cantik? dia akan semakin tersakiti karena seakan kamu menolak cintanya mentah - mentah bahkan kalian belum saling memulai" timpal ibu dengan lembut, aku kembali dibuat membisu dengan perkataan ibu.


"Kedua, ini tentang perkataan ibu sejak kamu masih kecil... jadi mungkin ini yang menyebabkan kamu terlalu keras pada putra Gates..." celetuk ibu dengan nada yang terdengar sedih, aku pun mengernyitkan dahiku karena tidak mengerti apa yang sebenarnya ibu katakan.


"Tentang perkataan ibu agar kamu berhati - hati dengan orang kaya, semua itu bermula ketika ayahmu belum bekerja sebagai supir di keluarga Parker. Ayah adalah seorang manajer di salah satu perusahan terkenal milik keluarga Gates, namun karena satu kesalahan kecil... ayah sampai dipermalukan dan dipecat dari pekerjaannya, sampai - sampai... ayah tidak dapat melamar ke semua perusahaan..." ucap ibu, aku pun terkejut mendengar cerita ibu.


"Ayah pernah bekerja untuk tuan William?!" ucapku dengan nada terkejut


"Tidak... bukan untuk tuan William, tapi langsung ke induk perusahaan keluarga Gates. Ibu tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga mereka sampai tuan William menjauh dari keluarga besarnya, tapi itu benar - benar terjadi jauh sebelum kamu lahir" jawab ibu, aku pun membuang muka ketika mendengar jawaban itu.


"Berarti keputusanku tepat untuk... meninggalkan kak Jester..." celetukku sedih, helaan nafas ibu pun terdengar seketika.


"Keluarga besar Gates di pimpin oleh Arthur Gates yang menjadi ayah bagi tiga orang anak bernama Andrews Gates, William Gates, dan Phillips Gates. Ayah cerita pada ibu jika ayah bertemu dengan William Gates dan ternyata dia lebih hangat dibanding dengan dua saudaranya, memang unik... tapi sebagai orang yang pernah berhubungan langsung dengan semua keluarga Gates, tentu ayah bisa menilai dengan baik" timpal ibu


"Apa maksudnya.... itu?" tanyaku bingung


"Ayah cerita pada ibu setelah kalian hendak pulang dari rumah tuan William, Tuan William menahan langkah ayah dan berkata jika tuan William sangat mengharapkan kamu bisa mengubah sikap arogan Jester. Tuan William sangat khawatir dengan sikap yang ditunjukkan Jester akhir - akhir ini, karena itu tuan William meminta kamu untuk menjadi temannya" jawab ibu, aku pun terkejut menatap wajah ibu.

__ADS_1


__ADS_2