
Sorak sorai penonton menyertai aku yang telah menyanyikan lagu dengan baik, sepertinya kehampaan dalam hatiku tidak mempengaruhi kemampuanku dalam bernyanyi. Ketika itu aku terengah - engah karena nafasku benar - benar habis, aku seperti baru saja berlari memutari lapangan. Tidak lama Aiko dan tuan West mendatangiku lalu bertanya apa aku baik - baik saja, aku tersenyum pada keduanya dan menjawab jika semua baik - baik saja.
Lampu - lampu mulai hidup kembali dimana aku dapat melihat penonton dan juga para juri dari panggung ini dengan jelas, setelah itu penampilanku pun dinilai oleh Grece, Yohan dan juga tuan Jhonson. Namun sayangnya aku tidak terlalu ingat apa yang mereka katakan, semua karena aku sedikit melamun saat itu. Aku baru tersadar ketika tepukan ringan Aiko pada bahuku terasa, dia memberikan semangat padaku dan mengatakan jika aku harus memanfaatkan waktu dengan baik untuk beristirahat.
Aku kembali berjalan menuju kebelakang panggung, saat itu Peter dan Manda sudah menungguku dari balik tirai penghubung panggung dengan ruang tunggu. Mereka berdua memuji penampilanku, namun sekali lagi... aku tidak ingat apa yang mereka katakan, aku hanya ingat saat aku mengucapkan terima kasih lalu kemudian aku berjalan mendekati sofa untuk duduk disana. Aku menumpu kepalaku dengan tangan yang aku letakkan di sandaran tangan sofa, lalu memejamkan mata setelahnya.
"Luna... kamu baik - baik saja?" tanya Manda padaku sembari mencoba memastikan suhu tubuhku dengan tangannya yang dia letakkan di beberapa bagian tubuhku
"Aku baik - baik saja" jawabku
"Kamu... sedikit panas, sepertinya kita harus mencarikan obat untukmu" ucap Manda lagi
"Aku akan coba carikan obat un..." belum selesai Peter berkata, aku memotongnya.
"Tidak perlu, aku kecapean aja. Biarkan aku tertidur sampai aku tampil nanti, tolong bangunkan kalau waktunya tiba ya..." pintaku pada mereka, baik Peter maupun Manda hanya mengangguk menerima permintaanku.
Aku memejamkan mataku dan entah apa yang terjadi saat itu aku lupa... yang aku ingat ada satu momen dimana terjadi keributan yang begitu terdengar di telingaku saat aku masih diantara sadar dan tidak. Aku yakin saat itu keributan yang terjadi saat itu sangat dekat denganku, atau mungkin bisa dibilang itu terjadi antara Manda, Peter, dan beberapa orang panitia.
Aku ingin sekali mencari tahu apa yang terjadi namun sayang aku tidak dapat membuka mataku, kedua mata ini terasa begitu berat untuk terbuka. Badanku juga tidak mampu aku gerakkan, aku seperti melayang dan tidak dapat merasakan anggota tubuhku dengan baik.
Ketika tersadar, aku sudah terbaring di kasur tandu dekat dengan sofa tempat aku duduk tadi. Ditemani dokter Alora, ayah, ibu dan Manda yang berkumpul di dekatku, Manda yang melihatku terbangun pertama kali saat itu. Manda pun berlari mendekatiku dengan derai air mata yang membasahi wajahnya, saat itu dengan panik dia berkata...
"Luna~! kamu baik - baik saja?!" tanya Manda padaku dengan panik, aku bingung dengan pertanyaan Manda saat itu.
"Pingsan? tidak.. tadi baru saja aku tertidur kan?" tanyaku dalam hati, aku masih terlihat ling - lung mungkin sampai dokter Alora langsung memeriksa kedua mataku dengan senternya lalu memintaku mengikuti arah cahaya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku lagi dalam hati.
"Luna sepertinya kamu harus segera pulang, tubuhmu saat ini sudah mencapai batasmu" celetuk dokter Alora dengan helaan nafas, aku terkejut mendengar perkataan dokter Alora yang tiba - tiba itu.
"Hah? gak... gak mungkin, ini tinggal satu langkah lagi..." timpal ku dengan suara serak, aku hampir tidak bisa berbicara saat itu dan aku kembali terkejut dengan keadaanku.
"Suaramu saja sudah tidak mampu keluar, gimana caranya kamu akan tampil?" bujuk dokter Alora, mendengar perkataan dokter Alora saat itu membuatku emosi.
__ADS_1
"Aku masih bisa tampil!! aku masih sanggup untuk itu!! jangan halangi aku!!" bentak ku padanya
"Luna... sabar sayang..." belum selesai ibu berkata, aku memotongnya.
"Sabar?!! aku sudah sabar sejak aku tahu aku mengidap leukimia!! sabar mana lagi yang ibu inginkan dariku?!! aku hanya butuh satu langkah lagi untuk menuntaskan keinginanku!!" bentak ku lalu aku pun beranjak dari kasurku untuk bersiap tampil, dengan segera ayah mencoba membantuku berdiri.
"Tidak usah! aku..." belum selesai berkata, aku tiba - tiba merasakan nyeri pada pinggulku sampai kedua kakiku terasa begitu lemas.
Untung saja saat itu ayah menumpu tubuhku, aku pun tidak sampai harus tersungkur. Namun rasa sakit yang aku rasakan saat itu membuatku tidak dapat menahannya, aku berteriak keras dan tangan ini meremas lengan ayah dengan sangat kuat. Ayah mendekap ku dengan erat dan membiarkan aku meremas lengan ayah sampai kukuku terasa menancap pada kulit lengan ayah, sampai beberapa saat rasa sakit itu mulai mereda.
"Sudah baikan, sayang?" tanya ayah padaku, aku mengangguk didalam dekapan tangan ayah.
"Dokter..." celetuk ibu saat itu terdengar begitu khawatir.
"Tidak ada pilihan lain, Luna sudah tidak sanggup lagi. Tubuhnya melemah secara drastis, tidak seperti sebelum - sebelumnya... kalian harus segera membawanya periksa ke kota" timpal dokter Alora
"Aku gak mau.... aku gak mau... aku harus selesaikan kompetisi ini agar tidak punya penyesalan lagi dalam hidupku..." gumamku dengan tangisan
"Gak mau.... aku ingin menyelesaikannya sampai akhir... tolong biarkan aku melakukannya, meski aku harus menggunakan kursi rodaku... itu tidak apa... tolong biarkan aku melakukannya" aku merengek pada ayahku sembari memukul - mukul punggungnya dengan tenaga yang tersisa, aku menangis terisak - isak saat itu.
Aku benar - benar tidak ingin semuanya berakhir seperti ini, aku ingin terus melangkah sampai titik akhir. Aku tidak ingin lagi hidup dalam penyesalan tiada berujung seperti yang sudah - sudah terjadi padaku, kali ini aku tidak ingin mengakhiri semuanya seperti ini.
"Ada satu obat yang bisa kamu gunakan, tapi ini hanya untuk dilakukan disaat darurat" celetuk dokter Alora ketika itu, serentak aku, ayah, ibu, dan Manda menoleh menatap dokter Alora.
Namun saat itu wajahnya terlihat sangat menyesal, aku tidak tahu kenapa tapi dokter Alora seperti menyesal sudah mengatakan cara terakhir untukku. Dokter Alora terdiam beberapa saat dan dia seperti ingin menarik lagi kata - katanya, aku tahu dia menyembunyikan sesuatu dariku entah apa itu. Namun jika itu adalah satu - satunya cara agar aku bisa meneruskan kompetisi ini, maka aku akan lakukan.
"Dokter... apa itu? kenapa diam?" tanyaku menekan dokter Alora, disaat itu dokter Alora memegang wajah dengan tangannya dan semakin terlihat jika dokter Alora menyesal.
"Dokter!! kenapa tiba - tiba terdiam?! apa dokter Alora tidak ingin memberitahuku?!" bentak ku padanya
"Sabar sayang, biarkan dokter Alora berpikir dulu" timpal ibu
__ADS_1
"Tidak ada waktu lagi bu! Peter sepertinya sudah akan selesai tampil! aku sudah tidak punya waktu lagi, jika memang ada satu cara lagi maka apapun itu aku akan lakukan!! aku tidak ingin menyesali apapun lagi dalam hidupku!!" bentak ku pada ibu
"Tapi berjanjilah padaku, kamu tidak akan menjadikan ini kebiasaan dan kamu juga akan segera periksa ke dokter Richard tentang kondisimu" ucap dokter Alora menekan ku
"Aku janji!" jawabku tegas tanpa keraguan sedikitpun.
"Ada pereda nyeri dosis tinggi yang bisa kamu gunakan, tapi ini dilarang digunakan dalam ilmu kedokteran untuk pasien sepertimu. Memberikan obat ini padamu sama saja dengan melanggar sumpah dokterku, jadi kamu harus paham dulu tentang ini Luna" ucap dokter Alora lagi dengan nada yang terdengar menekan ku, aku menganggukkan kepalaku beberapa kali.
"Aku akan segera kembali, kamu istirahatlah dulu" celetuk dokter Alora padaku sembari berbalik hendak pergi dari tempat itu
"Tapi aku tidak punya banyak waktu, dokter!" timpal ku dengan sedikit berteriak kepadanya, dokter Alora menoleh menatapku dengan senyumnya.
"Tidak akan lama, rumahku dekat dari sini" ucapnya lalu kembali berjalan meninggalkan kami
Tidak lama Peter masuk kedalam ruang tunggu peserta, Peter langsung menghampiriku lalu menanyakan keadaanku. Kakiku kembali tidak dapat digerakkan karena terasa nyeri ketika kaki ini bergerak bahkan sedikit saja, ketika diam seperti inipun nyeri itu hampir tidak tertahankan. Ayah dan Peter membantuku bangun dan membaringkan tubuhku di kasur tandu, setelah itu panitia memanggil Manda untuk tampil.
Manda mengatakan jika aku harus tetap semangat dan mendoakan kesembuhanku, aku tersenyum menatapnya lalu aku juga memberikan semangat padanya. Setelah Manda pergi menuju panggung, Peter saat itu mengatakan pada ayah jika lengannya terluka. Peter memanggil tim pertolongan pertama untuk merawat luka di lengan ayah yang disebabkan olehku, aku meminta maaf pada ayah namun ayah mengatakan jika itu bukanlah masalah.
Tidak lama panita mendekatiku, dia mengatakan jika lima menit lagi aku harus bersiap untuk tampil. Namun melihat kondisiku yang masih terbaring itu, panitia di hadapanku kini bingung harus bagaimana. Ketika itu Peter memberi saran jika dia akan tampil lagi, namun sayang ide itu ditolak oleh panita dengan mengatakan itu akan menjadi hal yang janggal untuk suatu kompetisi.
Pada akhirnya panitia memutuskan untuk melakukan istirahat sejenak yang seharusnya baru diadakan sesudah aku tampil untuk kedua kalinya, panitia itu segera berlari untuk memberi kabar pada Aiko dan tuan West sebagai MC. Entah apa yang terjadi setelahnya, namun sepertinya ide itu bisa bekerja dengan baik.
Tidak lama setelahnya, dokter Alora kembali menemui ku di ruang tunggu peserta dibelakang panggung itu. Dia duduk bersimpuh tepat disebelah kasur tandu dimana aku masih terbaring lemas, disaat bersamaan aku melihat Manda masuk kedalam ruang tunggu peserta dengan ekspresi khawatir.
"Luna... kamu tahu beban berat yang harus aku pikul untuk memberikanmu pain killer ini?" tanya dokter Alora padaku
"Aku paham dokter, aku berterima kasih jika ini bisa bekerja dengan baik" jawabku tegas
"Aku memberikan obat ini empat tablet, dua kamu minum sekarang dan dua lainnya... kamu minumlah ketika perjalananmu menuju ibukota sedang berlangsung namun rasa sakit itu kembali tidak bisa kamu tahan. Jangan biasakan meminum obat ini, karena ini akan menggerogoti organ dalammu dengan sangat cepat. Berjanjilah padaku kalau kamu hanya kali ini saja meminum obat ini" begitu menekan dokter Alora mengatakannya padaku
Tatapan tajam dokter Alora membuatku sangat memahami jika sebenarnya ini bukanlah obat yang bisa dikonsumsi begitu saja tanpa pengawasan dokter, aku semakin meyakini jika obat ini sebenarnya berbahaya untuk tubuhku yang sudah sangat lemah ini. Namun kami berdua tahu jika aku sudah tidak memiliki pilihan lain, aku pun menerima empat obat yang masih terbungkus itu dari tangan dokter Alora.
__ADS_1
"Aku berjanji dokter, aku hanya akan gunakan obat ini disaat terdesak" janjiku padanya