Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 3 : Episode 18


__ADS_3

"....katakan aku ingin bertemu dengannya" suara kak Jester terdengar ketika aku baru tersadar dari pingsan ku


Aku membuka mataku dan terdiam sejenak untuk mengolah apa yang baru saja terjadi ketika itu, sejenak aku lupa sedang berada dimana dan sedang apa aku di rumah ini. Ketika aku mendengar suara pintu tertutup, aku melihat Selena berlari kecil mendekatiku.


"Selena.." celetukku ketika aku menatapnya, Selena terlihat begitu khawatir menatapku.


"Kamu baik - baik saja, Luna? Butuh sesuatu? Katakan padaku" tanya Selena terdengar lembut


"Apa... Yang terjadi?" tanyaku, Selena menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaanku.


"Kamu pingsan sesaat setelah Naomi pingsan, apa kamu lupa apa yang baru saja terjadi?" tanya Selena


Jawaban Selena saat itu membuatku tersadar tentang apa yang terjadi, ingatanku tentang pertengkaran kak Jester dengan Naomi dan juga tamparan Selena kepada Naomi membuatku langsung terjaga untuk segera melihat kondisi Naomi. Aku duduk dari tiduranku dan segera menggenggam kedua tangan Selena, aku takut hal buruk terjadi kepadanya ketika aku pingsan tadi.


"Selena, dimana Naomi?!" tanyaku panik, Selena langsung menunjuk arah belakangku.


Aku menoleh kebelakang dan aku dapati Naomi sedang terbaring di kasur tepat di sebelahku, sepertinya saat itu dia belum juga sadar dari pingsannya. Aku tahu beban berat yang sedang dia pikul, entah kenapa aku merasa jika selama ini Naomi selalu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa memilik kesempatan untuk mendapatkan bantuan orang lain.


Aku bisa bernafas lega karena sepertinya Naomi tertidur, mungkin dia lelah menangis dan juga pagi ini dia bangun sangat pagi. Perlahan aku kembali menatap Selena, ku tatap matanya dengan tajam karena aku masih marah dengan apa yang baru saja dia lakukan pada Naomi.


"Apa?" tanya Selena yang terdengar kesal padaku


"Kenapa kamu sejahat ini?! Aku tidak menyangka kamu akan sejahat ini, Selena!" jawabku dengan bentakan


"Luna, kamu gak kenal Naomi. Aku sudah mengenalnya cukup lama dan seperti itulah dia kalau sudah jatuh cinta sama seseorang, dia sering kali tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana mimpi" jawabnya


"Itu bukan alasan yang tepat untuk mengatakan jika kamu boleh menamparnya seperti itu!!" timpal ku dengan bentakan


"Terakhir kali aku terlambat untuk menyadarkannya... Dia sudah menyerahkan hal paling berharga pada orang yang salah..." celetuk Selena dengan suara yang sedih, aku terkejut dengan apa yang baru saja Selena katakan.


"Aa..apa maksudnya...?" tanyaku terbata


"Aku rasa kamu tahu apa yang aku katakan" jawab Selena dengan helaan nafas, aku terdiam lalu membuang muka.


Jawaban Selena tiba - tiba mengingatkanku pada pacar Naomi sebelum kak Jester, yaitu Daniel. Entah apa yang terjadi aku tidak tahu karena Selena juga enggan untuk menceritakannya secara lengkap, tapi aku sadar apa yang dilakukan Selena saat ini adalah bentuk dari pengalamannya bersama Naomi. Sahabat yang baik adalah orang yang selalu dengan lantang mengingatkan sahabatnya jika ada sesuatu yang salah sedang terjadi, bahkan berlaku keras pun dia akan lakukan demi menyadarkan sahabatnya itu.

__ADS_1


Itulah yang berubah dari Selena selama dua tahun ini, dia mungkin masih merasa bersalah karena tidak melalukan apa - apa ketika aku memilih jalan yang salah saat memutuskan untuk meninggalkan kak Jester. Mungkin hal yang sama terjadi antara dirinya dengan Naomi, meski aku tidak tahu bagaimana ceritanya namun dari jawaban Selena aku rasa dugaanku benar.


"Maaf... sepertinya aku sudah memahami apa yang kamu lakukan" celetukku ketika itu


"Aku... Tidak mau lagi melihat temanku salah memilih jalan ketika aku tahu dia salah... Meski aku harus kasar..." terdengar penuh penyesalan saat Selena mengatakannya, aku langsung mendekati dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih untuk menjadi pengingat bagi kami, kamu teman yang sangat baik" ucapku sembari memeluknya, perlahan tangan Selena pun membalas pelukanku.


Tidak lama aku mendengar bunyi rintihan Naomi, saat itu aku dan Selena langsung menoleh menatap Naomi yang masih terbaring di kasur. Perlahan mata Naomi pun terbuka, tidak lama air matanya kembali mengalir meski dia terlihat tidak sedang menangis.


"Naomi..." celetukku sembari merangkak mendekatinya, Selena berdiri dari duduknya kemudian memutari kasur untuk mendekati Naomi.


"Jester...~" gumam Naomi dan kemudian dia menangis kembali


Suaranya terdengar memilukan, bahkan setelah apa yang telah terjadi dia masih mengharapkan kak Jester untuk mendatanginya. Cinta yang begitu kuat ini, bagaimana cara untuk mendapatkannya? Aku bahkan sudah menyerah ketika keadaanku menjadi penghalang cintaku pada kak Jester, apa yang akan aku lakukan jika aku berada diposisi Naomi? Mungkin aku sudah sangat terpuruk dan tidak ingin lagi melanjutkan hidupku.


"Naomi, dengarkan aku..." celetuk Selena ketika itu, aku menoleh menatap Selena karena penasaran apa yang akan dia katakan kali ini. Tapi tidak dengan Naomi, dia masih menatap langit - langit kamar dengan tatapan kosong.


"Kak Jester didalam mimpi buruk mu sudah tersadar, dia menunggumu diruang keluarga dan berharap kamu segera menemuinya" ucap Selena meneruskan kalimatnya, perlahan Naomi menoleh menatap Selena.


"Be... benarkah, Selena?" tanya Naomi terbata, tapi aku mendengar besarnya harapan Naomi jika apa yang dikatakan Selena ada benar.


"Apa?" tanya Selena karena aku menatapnya terus - menerus.


"Kamu gak bohong kan?" tanyaku mencurigainya, Selena tertawa kecil lalu memberi gestur tangan agar aku ikut dengannya untuk mengejar Naomi.


Saat aku dan Selena keluar dari kamar, aku melihat Naomi berjalan masuk kedalam ruang keluarga. Aku berlari kecil untuk menguping pembicaraan keduanya, mungkin aku tidak sopan tapi menjaga hubungan kak Jester dan Naomi merupakan salah satu dari mimpi terakhir ku. Aku tidak akan membiarkan hubungan kak Jester dan Naomi kandas selama aku masih bisa melakukan sesuatu, aku hanya ingin ada keajaiban.


"Kamu... Mencari Ku..?" tanya Naomi pada kak Jester


Aku sempat mengintip mereka dan melihat kak Jester berdiri dihadapan Naomi dengan membawa kotak coklat berbentuk hati dan juga satu buket mawar merah, sepertinya apa yang dikatakan Selena benar... Kak Jester sudah sadar dari kesalahannya memandang Naomi, harapanku agar hubungan keduanya tidak kandas meningkat saat itu.


"Aku... Aku mungkin memang tidak bisa diandalkan, aku juga tidak bisa apa - apa. Tapi, aku akan selalu ada... Aku akan selalu di sisimu bahkan jika kamu anggap aku sebagai pengganggu... Aku akan tetap berada di dekatmu..." ucap kak Jester, setelah itu aku melihatnya tiba - tiba berlutut dihadapan Naomi.


"... Aku berjanji untuk itu... Maafkan aku, Naomi" terdengar menyesal ketika Naomi mengatakannya

__ADS_1


"Jester..." celetuk Naomi yang terdengar kaget dengan apa yang dilakukan kak Jester.


"Maaf aku jatuh cinta padamu, kamu... Hanya menganggap ku sebagai teman, kan? Kenapa kamu begitu baik padaku? Kenapa juga kamu begitu peduli padaku? Kenapa seakan kamu memberiku harapan? Aku tidak mengerti maumu, beritahu aku yang sebenarnya... Katakan kamu hanya menganggap ku sebagai teman..." ucap kak Jester


"Bodoh!! Aku tidak pernah menganggap mu hanya sebagai teman!! Aku sudah pernah katakan aku mencintaimu!! Sampai kapan kamu akan bersikap bodoh seperti ini terus?!!" dengan teriakan dan bentakan Naomi mengatakannya


Tidak ada keraguan lagi yang bisa menjadi celah untuk kak Jester meragukan cinta Naomi kepadanya, Naomi sudah tegas menyatakan cintanya. Butuh keberanian tinggi bagi wanita mengatakan hal itu kepada seorang pria, aku sendiri bahkan tidak pernah mengatakan jika aku mencintai kak Jester ketika kami dekat selama itu meski tidak ada keraguan sama sekali di hati atas cintaku pada kak Jester.


"Kalau benar yang kamu katakan.... Berikan aku bukti yang nyata bahwa kehadiranku bukan sebuah gangguan untukmu... Bahwa aku penting dalam hidupmu, agar aku bisa meyakinkan hatiku kalau pemikiranku tentang itu salah...." terdengar sedih kak Jester saat mengatakannya


Setelah perkataan kak Jester saat itu, Naomi tiba - tiba berlari menabrakkan tubuhnya ke badan kak Jester lalu memeluknya dengan erat. Keduanya saling berpelukan dalam posisi sama - sama berlutut, aku melihat mata kak Jester yang menunjukkan keterkejutannya atas apa yang Naomi lakukan saat itu.


Kak Jester... Mungkin jatuh cinta membuatmu merasakan ketakutan tersendiri dengan pengalaman pahit mu bersamaku, ketakutan untuk patah hati yang membuatmu begitu ingin melindungi diri secara berlebihan. Tapi sepertinya kesabaran dan juga kelembutan Naomi berhasil membuat hatimu yang sengaja kamu keraskan itu melunak, penerimaan cinta kak Jester kepada Naomi diterima dengan baik dan terasa begitu istimewa.


"Jester~!! Aku baru saja bermimpi buruk!! Kenapa lama sekali kamu datang untuk menyelamatkanku dari mimpi buruk ku?! Aku kesepian... Aku kehilangan semangatku... Aku.. Aku... Takut tidak terbangun dari mimpi buruk ku karena kamu tidak datang menolongku..." suara serak Naomi membuatku tahu jika air matanya pecah ketika itu, suara bentakannya mendadak terdengar begitu pilu terdengar. Aku dapat merasakan ketakutannya, ketakutan akan kehilangan kak Jester disisinya.


"Tolong aku... Aku tidak ingin lagi bertemu dengan Jester didalam mimpi buruk ku lagi..." pinta Naomi memelas


Perlahan kak Jester meletakkan sekotak coklat dan satu buket mawar merah itu dilantai, kemudian dia membalas pelukan Naomi seakan mereka sedang berusaha menguatkan hati mereka masing - masing.


Aku menyeka air mataku yang keluar, aku begitu terharu melihat kuatnya cinta mereka berdua. Meski kehadiranku mengganggu ketenangan keduanya, tapi pada akhirnya mereka akan kembali hadir satu sama lain untuk saling kembali menguatkan hati. Seperti inilah cinta, cinta yang seharusnya dirasakan oleh setiap manusia. Jangan seperti diriku, yang lari ketika masalah telam menimpa dan meninggalkan orang tulus dengan luka yang begitu dalam.


"Tidak apakah jika terus begini?" tanya Selena sedikit bergumam, suara ibanya kepadaku begitu terasa.


"Ya.. Tidak apa, meski aku bilang aku masih mencintainya.. Itu hanya akan membuatnya tertekan. Kalau itu bisa merusak rencanaku dalam satu bulan ini, maka lebih baik jika tetap seperti ini" jawabku dengan sedikit suara tawa, meski mungkin suara ini terdengar sedih ditelinga Selena.


"Kamu juga berhak bahagia... Jika kamu izinkan, biar aku yang menjelaskannya pada Naomi" timpal Selena terdengar sedih, padahal aku sudah tertawa kecil saat itu agar dia tidak perlu merasa iba padaku. Tapi mungkin hatiku tidak bisa berbohong, dan Selena tahu aku sedang berbohong jika aku baik - baik saja.


"Tidak, aku sudah puas seperti ini. Naomi sudah berkorban banyak untukku dan aku sudah tidak punya muka lagi untuk meminta lebih" ucapku menolak permintaan izinnya sembari berbalik dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang


Aku mendengar suara kaki Selena yang membuntuti ku, Entah kenapa saat itu aku merasa jika Selena sedang memikirkan sesuatu untuk tetap berbicara pada Naomi tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku menghela nafas lalu aku berhenti berjalan, langkah Selena pun tiba - tiba terhenti.


"Wanita akan sangat egois ketika dia jatuh cinta..." celetukku, aku terdiam beberapa saat dan menunggu responnya.


"Iya, aku tahu. Meski begini juga aku masih seorang wanita" sindir Selena saat itu, aku pun tertawa mendengar responnya yang mengarah pada rasa bencinya pada pria. Aku menoleh menatapnya sembari tersenyum, saat itu aku katakan...

__ADS_1


"Naomi sudah berkorban cukup banyak untukku, apapun yang kamu pikirkan sekarang... Hentikanlah, aku benar - benar sudah cukup dengan kondisi ini" aku mengucapkannya selembut mungkin dan menunjukkan jika aku benar - benar sudah puas dengan apa yang terjadi.


"Kamu sejak kapan jadi cenayang yang bisa membaca pikiranku?" tanya Selena dengan nada kesal, aku tertawa mendengar pertanyaannya sembari kembali berjalan menuju dapur.


__ADS_2