
Sore berganti malam yang cerah disebuah cluster perumahan mewah, terlihat salah satu rumah yang begitu menarik perhatian karena terdapat beberapa aksen khas budaya jepang sebagai hiasan rumah tersebut. Masih tetap diruang yang sama dan dengan posisi yang sama, Naomi dan Jester terlihat sedang membaca buku dairy milik Luna. Saat itu keduanya terdiam setelah Jester membacakan kalimat terakhir yang tertulis didalam buku dairy itu, Jester membuka lembar demi lembar mencoba mencari tulisan Luna yang lain namun ketika itu usahanya terhenti bersamaan dengan Naomi yang berkata...
"Bukankah setelah ini dia..." celetuk Naomi namun dia menggantung perkataannya sejenak, Naomi tidak tega untuk meneruskan kalimatnya.
"Dia mati" timpal Jester terdengar ketus
"Jess!!" bentak Naomi, ketika itu Jester pun melempar buku diary itu keatas meja yang berada dihadapan mereka.
"Kenyataannya ketika itu dia memang mati kan?" ucap Jester lagi
"Kamu... masih marah?" tanya Naomi
"Tidak, buat apa aku marah? marah padanya tidak akan berguna" jawab Jester masih terdengar ketus, Naomi pun menghela nafasnya.
"Jess... apa lagi salah Luna sama kamu? kenapa kamu masih marah sama dia setelah tahu apa yang selama ini dia sembunyikan? tidak kah kamu merasa... kasihan padanya? dia mencintaimu sampai mengorbankan segalanya, hanya demi kamu" dengan nada yang terdengar lembut Naomi mengatakannya, sejenak Jester terdiam seakan dia sedang memikirkan apa yang Naomi katakan.
"Mungkin ada benarnya..." celetuk Jester memecah keheningan, Naomi pun tersenyum ketika itu.
"Sudah aku duga kamu..." belum selesai Naomi berkata, Jester memotong perkataan Naomi.
"Sudah aku duga seharusnya aku tidak perlu repot - repot seperti itu" timpal Jester dengan tegas seraya dia berdiri dari duduknya.
"Jess!! tunggu! apa maksudmu?" agak marah Naomi bertanya, namun Jester tidak menghiraukannya dan berjalan hendak keluar dari ruang keluarga.
"Jess!! tunggu!! kamu kenapa sih?!" bentak Naomi seraya berlari dan menahan langkah Jester dengan cara menarik lengannya, Jester menghela nafas lalu menoleh menatap Naomi yang berdiri dibelakangnya.
"Naomi.... setelah aku membaca apa yang Luna rasakan selama ini, aku memang merasa sedih dan kasihan padanya. Namun pada akhirnya dia..." Jester menggantung kalimatnya dan tatapan matanya terlihat begitu sedih.
"Dia... kenapa?" tanya Naomi penasaran, ketika itu Jester mengalihkan pandangannya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam.
"Kita sebaiknya istirahat, besok ada ujian kan?" ucap Jester mengalihkan pembicaraan, Naomi pun menatap Jester dengan wajah juteknya.
"Aaa~ kamu mengalihkan pembicaraan!! apa yang baru saja mau kamu katakan?!" Naomi pun memaksa Jester untuk meneruskan kalimatnya, Jester tertawa seraya membelai kepala Naomi dengan lembut.
"Kita akan bicarakan ini lain kali, sekarang kita istirahat dulu" jawab Jester lalu dia menarik tangan Naomi dan mengajaknya ke kamar.
Waktu pun berlalu hingga tengah malam, ketika itu angin berhembus cukup kencang dan menciptakan beberapa suara - suara dedaunan berterbangan yang cukup banyak. Di dalam kamar Jester yang saat itu sedang tidur terlihat tidak tenang, beberapa kali dia terlihat gelisah dengan kaki dan tangan yang sering bergerak sampai membangunkan Naomi yang tidur disebelahnya. Perlahan Naomi menepuk pipi Jester dan membangunkannya, Jester yang saat itu sudah terlelap pun terkejut.
"Hah? hah... hah... ya Naomi? kenapa?" tanya Jester dengan nafas yang terengah - engah
"Jess... kamu gelisah, apa ada masalah?" tanya balik Naomi dengan suara yang terdengar serak
"Ooh benarkah? maaf aku mengganggu tidurmu, itu tidak akan terjadi lagi" jawab Jester, setelahnya Naomi pun kembali tidur meninggalkan Jester yang saat itu duduk dipinggir kasur.
__ADS_1
Sejenak Jester terdiam saat dia duduk di pinggir kasur, dikamar yang gelap saat itu matanya terus Jester arahkan kelantai. Nafasnya masih terengah - engah seakan dia baru saja lari maraton, perlahan Jester berdiri dan berjalan keluar dari kamar. Dia berjalan dengan gontai menuju ruang keluarga, disana Jester menatap buku diary milik Luna yang sebelumnya dia lempar keatas meja.
Perlahan Jester mendekati sofa dan duduk disana, tangannya pun meraih buku diary itu lalu membuka lembaran pertama didalam buku itu. Sebuah foto menampilkan gambar Luna sedang duduk bersama Jester dengan latar air mancur dan hiasan bunga berbentuk hati yang menjadi satu dengan kursi membuat Jester terpaku menatapnya, dengan tangan yang terlihat bergetar Jester mengambil foto itu agar dapat melihatnya lebih dekat.
"Benarkah.... kamu sudah sakit sejak hari ini...?" gumam Jester menatap wajah Luna yang tersenyum bahagia saat itu, tidak ada tanda - tanda jika Luna sudah sakit ketika foto itu diambil saat mereka masih SMA dulu.
"Kenapa kamu tidak katakan saja? setidaknya.... aku bisa menemanimu sampai..." Jester menggantung kata - katanya, lalu dia menghela nafas.
"Tidak ada guna menyesali yang sudah terjadi, benarkan.... Luna?" gumam Jester lagi
Kemudian Jester merebahkan tubuhnya di sofa dengan tangan yang masih menggenggam foto itu, matanya terus menatap wajah Luna sampai Jester pun tertidur di sofa....
Ketika itu Jester bermimpi...
Jester berdiri ditengah taman labirin yang berada di festival square seorang diri, dia melihat air mancur yang begitu indah dengan lampu - lampu yang menghiasinya. Tidak jauh dari sana Jester juga melihat sebuah kursi taman yang memiliki hiasan bunga berbentuk hati dibelakangnya, sejenak Jester termenung melihat sekeliling dan dia pun bingung kenapa dirinya berada disana padahal seingatnya dia sedang tidur di sofa ruang keluarga.
"Kenapa aku bisa sampai disini?" gumam Jester kebingungan, ketika itu Jester pun memutar penuh badannya untuk memperhatikan sekelilingnya.
Ketika tatapan matanya kembali di kursi taman itu, Jester melihat Luna sedang berdiri tepat didepan kursi taman. Mata mereka saling bertatapan dan ketika itu Jester mendapati sosok Luna yang berada di rumah sakit ketika mereka ada di Paris, masih mengenakan baju rumah sakit dengan kepalanya yang botak. Raut wajahnya saat itu terlihat sedih, kecewa dan murung
"Luna..." gumam Jester
Luna tidak mengatakan apapun, dia diam dan terus menatap Jester seperti itu. Hal itu membuat Jester pun kebingungan, dia mencoba untuk mendekati Luna namun seberapa pun langkah kakinya melangkah untuk mendekat saat itu Lune terlihat malah semakin menjauh.
"Kenapa kamu datang lagi?!! apa kamu masih tidak puas menyakitiku?!! kenapa kamu harus datang lagi bahkan ketika kamu sudah mati?!!" bentak Jester begitu emosional, Luna bergeming... dia terus menatap Jester dan hanya diam saja seperti itu.
"Apa lagi sekarang...? apa lagi yang kamu inginkan dariku...? berhenti menyiksaku, apa kamu tahu.... seberapa berat beban hati ini? Semua karena mu!!!" terdengar pilu ketika Jester mengatakannya, tidak lama terdengar sebuah benda terjatuh.
Jester yang mendengar suara benda itu pun akhirnya menoleh mencari sumber suara, ketika itu tepat diantara dirinya dan Luna berdiri terlihat buku diary berwarna merah muda dengan hiasan nya berwarna emas di rerumputan. Jester menatap buku itu untuk beberapa saat lalu perlahan tatapan mata Jester kembali beralih menatap Luna, masih dengan ekspresi yang sama Luna menatap Jester.
"Kamu.... ingin aku membacanya...? aku sudah lakukan itu jika itu yang kamu mau..." ucap Jester terbata, tidak lama Luna menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kamu mau apa? aku tidak mengerti... bicaralah dan minta seperti biasanya..." ucap Jester lagi, namun Luna tidak menjawab apapun.
Tidak lama buku itu pun terbuka sampai di akhir tulisan Luna, melihat buku itu terbuka membuat Jester mengalihkan pandangannya kembali menatap buku itu. Sejenak Jester terdiam menatap akhir dari tulisan Luna, ketika itu dalam benaknya pun berpikir jika Luna ingin Jester untuk meneruskan ceritanya.
"Kamu ingin aku... melanjutkan diary itu?" tanya Jester, saat itu Luna tersenyum dan Jester pun terbangun dari mimpinya.
Jester tersentak hingga membuatnya terjatuh dari sofa bersama dengan foto dan juga buku diary milik Luna, ketika itu dengan ekspresi kebingungan Jester menatap sekelilingnya dan mulai menyadari jika dirinya baru saja bermimpi. Setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, tatapan matanya pun teralihkan pada buku diary yang berada dihadapannya.
"Haruskah...?" gumam Jester ketika itu, dengan helaan nafas ketika itu Jester pun beranjak berjalan menuju Buffett dibawah televisi untuk mencari sebuah ballpoint didalam laci.
Setelah mendapatkan ballpoint itu, Jester bersiap untuk menulis dan melanjutkan cerita Luna di buku diary itu. duduk bersila diatas tatami empuk dengan sebuah meja dihadapannya, Jester sudah siap untuk meneruskan cerita Luna. Tidak lupa foto antara dirinya dan Luna saat itu Jester letakkan bersandar pada vas bunga sehingga dia bisa merasakan kehadiran Luna ketika akan menulis.
__ADS_1
"Ini yang kamu inginkan kan, Luna?" gumam Jester, perlahan tangannya pun mulai menuliskan kata pertamanya.
***EPISODE KE DEPAN AKAN MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI JESTER GATES***
Hai Jester Gates yang menulis...
Hari ini tepat dua minggu setelah Luna meninggal dunia dan meninggalkan buku diary ini kepadaku, aku mendapatkan buku ini dari Naomi... Naomi diberi oleh ayah dan ibu Luna... aaah apa yang sedang aku tulis ini? aku tidak pandai dalam hal menulis seperti ini, jadi mungkin akan sangat berbeda hasilnya dengan tulisan sebelumnya.
Tapi... ada satu hal yang membuatku bingung, sebenarnya untuk apa aku menulis di buku ini? kepada siapa juga aku ingin tujukan cerita ini? Haaah... tentu saja ini karena permintaan Luna, bahkan setelah dia meninggal pun dia masih saja merepotkan ku.
Aku mulai saja... darimana sebaiknya aku menulisnya? Hmmm... akan lebih baik ketika kami baru tiba di Paris, Ya... tentu saja, semua cerita tentang Luna dan aku lebih baik ditulis ketika kami baru sampai di Paris dan sudah tiba di hotel.
Kami berpisah di lift karena kamar kami terpisah satu lantai... Sempurna, aku akan mulai dari saat itu.
Aku berjalan di koridor hotel untuk menuju kamarku, setelah masuk kedalamnya aku pun segera meletakkan barang - barang ku pada tempatnya. Aku memutuskan untuk mandi agar dapat menata hati dan pikiranku serta melunturkan rasa lelah yang aku rasakan setelah enam belas jam perjalanan dengan pesawat ekonomi menuju Paris.
Ditengah guyuran air shower ketika itu, aku berpikir tentang banyak hal. Terutama tentang permintaan Naomi kepadaku... dia ingin aku menuruti apapun permintaan Luna di Paris, "Apa - apaan Naomi itu? apa yang sebenarnya Naomi pikirkan?" tanyaku dalam hati.
Dia dengan sadar merelakan pacarnya berduaan dengan wanita lain untuk liburan diluar negeri, sebuah sikap yang tidak mungkin dilakukan oleh wanita manapun. Meski aku harus akui jika mengorbankan diri demi orang lain bukanlah sesuatu yang baru dari diri Naomi, tapi ini sudah sangat berlebihan
Aku juga menerka - nerka apa yang sebenarnya sedang terjadi di belakangku ketika aku dan Luna sedang dalam perjalanan ke Paris, bagaimana mungkin enam belas jam bisa merubah cara pandang Luke dan Harry terhadap Luna? mereka seperti orang asing bagiku, tidak pernah aku bayangkan Luke dan Harry akan melunak pada Luna.
Beberapa menit pun berlalu, aku menyudahi mengguyur tubuh dengan shower. Setelah mengeringkan diri aku pun keluar dari kamar mandi, tidak lama ponselku pun berdering tanpa pesan masuk. Lewat aplikasi ChatMe Naomi mengirimi aku pesan singkat beserta sebuah foto, aku membukanya dan melihat raut wajah ngambek Naomi yang sedang rebahan di kasur kamar kami. Dia juga menulis "Aku merindukanmu tidur di sebelahku"
"Kamu yang memintaku pergi dan kamu pula yang ngambek karena aku pergi... Haah.." gumamku ketika itu, aku pun membalasnya dengan tulisan...
"Setelah ini kita tidak akan terpisah lagi" jawabku lewat ChatMe
Setelahnya aku bersiap untuk menunggu Luna di lobby hotel sesuai janji kami, tidak butuh waktu lama untukku bersiap. Aku yakin Luna pasti belum selesai dengan persiapannya, biasakan wanita pasti lebih lama bersiap dibanding pria.
Di lobby aku menunggu Luna, tapi hampir empat puluh menit berlalu Luna belum juga datang. Aku pun merasa gelisah ketika itu, pikiran buruk membuatku ingin menyusul Luna ke kamarnya namun saat itu aku tidak dapat mengakses ke lantai dimana kamar Luna berada.
Masih di lobby hotel aku berjalan mendekati resepsionis dan meminta bantuannya, setelah memberi tahu kepentinganku aku pun mendapatkan akses untuk menuju ke lantai kamar Luna bersama seorang penjaga hotel. Ketika pintu lift terbuka, penjaga hotel mempersilahkan aku untuk menuju ke kamar Luna. Di koridor itu aku mencari nomor kamar Luna dan tentu saja ku temukan dengan mudah, aku pun mengetuk pintu kamar itu beberapa kali.
Dimulai dengan ketukan ringan sampai akhirnya tangan ini semakin keras mengetuk pintu itu, namun Luna belum juga menjawabnya. Ada perasaan panik tersendiri yang menghantui pikiran dan hatiku, "Ada yang tidak beres" ucapku dalam hati.
Aku berlari kembali menuju lift hotel untuk menemui resepsionis dan meminta bantuannya lagi, aku katakan pada mereka jika Luna tidak juga kunjung menjawab ketukan pintu kamar meski aku sudah mencobanya berulang kali. Resepsionis ketika itu menyarankan agar aku mencoba meneleponnya, namun aku baru teringat kalau aku tidak pernah sekalipun meminta nomor ponselnya selama ini. Aku katakan kalau aku tidak punya nomor telepon pribadinya, sempat aku dicurigai oleh mereka namun pada akhirnya mereka sendiri yang mencoba menghubungi kamar Luna lewat telepon di resepsionis. Tapi hasilnya tetap sama, Luna tidak menjawab telepon itu.
Perasaan khawatirku pun tersampaikan kepada penjaga hotel dan juga resepsionis, mereka mengatakan akan mendampingiku untuk membuka kamar Luna. Tanpa keraguan sedikitpun aku menyetujui saran mereka, lalu aku, seorang penjaga hotel, dan satu orang dari resepsionis berjalan bersama menuju kamar Luna.
Sesampainya disana seorang resepsionis mencoba mengetuk pintu kamar berulang kali, karena masih tidak ada jawaban apapun ketika itu resepsionis dan penjaga hotel saling berdiskusi untuk memutuskan apa mereka akan membukanya atau tidak. Tidak lama kedua pekerja hotel itu memutuskan untuk membuka pintu kamar Luna, seraya tangannya mengetuk pintu seorang penjaga hotel perlahan membuka pintu kamar itu.
Ketika pintu kamar terbuka lebar hal yang membuatku dan kedua pekerja hotel itu kaget adalah sebuah tetesan darah yang menetes dari meja hingga dekat dengan kasur yang terhalang oleh tembok. "Luna ada dibalik tembok!" dengan panik aku katakan itu dalam hati, aku pun berlari untuk mencari ujung dari tetesan darah itu dan yang aku dapati adalah...
__ADS_1
Luna terkapar dilantai sebelah kasur dengan tangan memegang ganggang telepon, tepat disebelah pipinya aku melihat darah yang begitu banyak seakan Luna baru saja memuntahkannya bersamaan. Tubuhku bergetar hebat melihat kondisi Luna yang terasa begitu.... mengenaskan....