
"Ke... kenapa kamu tiba - tiba berkata begitu?" tanya kak Justin, aku merasa bersalah padanya karena ucapanku membuatnya terjatuh dari kusen jendela.
Malam yang dipenuhi dengan beberapa hal yang membuatku terlalu banyak berfikir, untunglah aku memiliki kak Justin ketika sedang berada dirumah. Cinta.....! serumit ini kah tentang jatuh cinta dan mencintai itu? sepertinya hari - hariku juga semakin penuh warna baik suka dan duka.
"Ti.. tidak ada sih, cuma bertanya aja" jawabku, lalu kak Justin berdiri untuk duduk kembali di kusen jendela dengan helaan nafas yang begitu terdengar.
"Apa ada sesuatu antara kamu dan Jester? kamu kepikiran apa tentang Jester?" tanya kak Justin
Lagi dan lagi kak Justin menebak apa yang aku pikirkan meski tidak menyiratkan apapun, "kenapa dia bisa sepeka ini padaku? lama - lama kamu menyeramkan kak Justin" ucapku dalam hati.
"Eeh... engga, gak ada sih... hanya saja, Selena memberiku pertanyaan sulit yang membuat aku berpikir keras tentang hubunganku dengan kak Jester kedepannya" jawabku dengan nada sedih
"Apa itu?" tanya kak Justin, aku terdiam menatap kak Justin untuk beberapa saat.
"Selena bilang... kesalahan terbesar manusia adalah ketika kita takut akan melakukan kesalahan, apa itu tepat untuk hubunganku dengan kak Jester?" tanyaku setelah kami terdiam saling menatap untuk beberapa saat
"Apa yang kamu takutkan?" tanya kak Justin lagi seakan sedang memastikan sesuatu dariku yang tidak aku pahami apa yang ada didalam kepalanya.
"Aku bimbang untuk memilih meninggalkan kak Jester karena kondisi kesehatanku, atau aku biarkan saja tetap seperti ini sampai akhir aku ma...ti..." jawabku dengan sedih, namun kak Justin menanggapi kesedihanku dengan senyum khasnya.
"Luna... kita semua pasti akan mati, tidak peduli cepat atau lambat. Jadi jika boleh aku saran, teruskan lah... kalian saling mencintai kan? kenapa tidak menikmati hidup dengan semaksimal mungkin?" ucap kak Justin dengan lembut, aku pun termenung menatapnya.
Menikmati hidup?! Sebuah kalimat indah sepertinya jika saja aku bukanlah gadis dengan penyakit yang bersarang di tubuhku. Tunggu... kenapa sepertinya akhir - akhir ini tubuhku jarang merasakan sakit? apa mungkin karena obat - obatan yang sudah aku konsumsi kembali, atau malah karena aku bahagia sejak bertemu kak Jester seperti kata dokter Ellie?
"Kamu sedang mencoba untuk sembuh, pengobatan dan terapi juga sedang kamu kerjakan. Kamu pasti akan sembuh, buang semua pikiran buruk mu dan nikmati semua prosesmu" kak Justin pun meneruskan kalimatnya lalu berjalan mendekatiku, dia mengelus kepalaku dengan lembut dengan senyumnya.
"Semoga kamu bisa bahagia, aku akan sangat senang jika kamu terus pertahankan senyumanmu itu" dengan lembut kak Justin mengatakannya, aku pun balas senyumannya.
"Aku akan berusaha demi kak Jester" ucapku dengan tegas, suara tawa kak Justin pun terdengar.
Kak Justin berbalik dan menutup jendela kamar lalu keluar dari kamarku, aku mulai menutup kedua mataku untuk tidur dan terbangun keesokan paginya. Menjalani rutinitas pagiku dengan semangat karena aku tahu kak Jester akan menjemput ku, sesuai dugaan saat itu ketika aku selesai bersiap ke sekolah aku melihat mobil dua pintu berwarna kuning berhenti tepat didepan rumah.
Aku berangkat sekolah bersama kak Jester dan berpisah didepan kelasku, disana aku melihat Selena sedang mengobrol bersama Alvin. Tampaknya mereka cukup akrab akhir - akhir ini, apa mereka saling jatuh cinta? aku pun mendekati mereka dengan niat untuk menggoda keduanya, namun ketika aku mendekati mereka tiba - tiba Selena memegang kedua tanganku dengan antusias.
__ADS_1
"Kamu akan menjadi vokalis utama sekolah?" tanyanya dengan antusias
"Hah?! apaan?!" tanyaku bingung
Kemudian Selena menarik lenganku agar aku mengikutinya hingga sampai di ruangan yang terdapat layar besar dan menampilkan kegiatanku bersama kak Jester, kak Luke, kak Harry dan kak Justin ketika kami berlatih band di ruang musik sekolah, aku terkejut ternyata penampilan kami direkam oleh seseorang dan ditampilkan ditempat seperti itu.
"Aa... apa - apaan ini?" tanyaku sedikit panik
"Itu rekaman kegiatan siswa disekolah kita, di setiap ruang kegiatan siswa ada kamera yang merekam dan menampilkan kegiatan kita semua lalu menampilkannya disini. Itu sudah jadi rahasia umum bagi siswa yang bersekolah disini, apa kamu tidak tahu?" tanya Alvin padaku, aku menatap Alvin yang ternyata sudah berdiri di belakangku.
"Hah?! kenapa aku tidak tahu tentang itu?!!" tanyaku panik
"Itu tidak masuk akal, putra Gates pasti sudah memberitahumu lebih dulu sebelum kalian tampilkan?" timpal Alvin masih dengan nada datarnya
Aku pun berlari hendak menuju kelas kak Jester namun ditengah jalan aku baru ingat jika aku tidak tahu dimana kelas kak Jester, aku pun ingin bertanya pada kakak kelas yang melewati ku tapi aku takut kejadian dengan kak Natalie akan terulang.
"Lagi apa disini?" terdengar suara yang tidak asing di telingaku, aku pun segera memutar badanku dan ternyata benar
"Kak Harry!" sapaku padanya
"Dimana kelas kak Jester?" tanyaku, lalu kak Harry menunjuk pintu kelas tepat disebelah kiriku.
"Kamu sudah tepat berada didepannya" jawab kak Harry dengan sedikit suara tawa, aku pun dibuat malu dengan pertanyaanku sendiri.
Kak Harry berjalan dan membuka pintu itu, lalu dengan lantangnya dia berkata....
"Hei Jester!! Putri bulan mencari mu!!" seru kak Harry begitu heboh
Seisi kelas langsung menyoraki ku dan kak Jester, saat itu kak Jester pun marah - marah pada kak Harry karena sudah membuat keributan yang tidak perlu. Aku malu ketika itu, tapi jika dipikir kembali maka... itu seperti menutup peluang siswi lain mengincar kak Jester. Aku benar kan? :)
"Aa.. ada apa Luna? Kenapa kamu mencariku?" tanya kak Jester ditengah hingar bingarnya kelas menyoraki kami
Aku menarik lengan kak Jester dan membawanya menjauhi kelas, disebuah taman aku berhenti melangkah lalu aku berbalik dan menatap kak Jester dengan wajah masam ku. Kak Jester pun panik melihatku berwajah masam seperti itu, lalu dia mencoba untuk membujukku agar aku tidak marah padanya.
__ADS_1
"Ke.. kenapa? apa aku berbuat hal salah?! maaf ya, aku akan lakukan apapun agar kamu tidak jadi marah padaku!!" ucapnya ketika itu, aku sedikit memiringkan kepalaku namun masih menatapnya dengan serius.
"Kenapa kak Jester menampilkan perform kita kemarin?!" tanyaku agak marah
"Ooh.. itu ya, itu bukan aku tapi Justin" jawab kak Jester, aku pun tersadar alasan kenapa kak Justin semalam mengatakan jika hari ini aku akan mengetahui mengapa hari minggu ini aku harus ikut dengannya ke kota sebelah.
Luna..Luna.. bodohnya aku yang tidak mencari informasi lebih dulu sebelum menuduh kak Jester, jadi malu kan dibuatnya.
"Apa kamu bermasalah dengan itu? aku bisa minta tim kegiatan siswa untuk menghentikan memutar perform kita" ucap kak Jester menawarkan ku solusi, aku terdiam menatap mata pangeranku itu.
"Kak.... apa menurutmu... suaraku bagus?" tanyaku kepadanya, kak Jester menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan begitu semangat.
"Apa kamu senang jika aku jadi penyanyi?" tanyaku lagi padanya, lagi - lagi kak Jester menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan semangat.
"Kamu akan semakin menyukaiku ketika aku menjadi penyanyi?" tanyaku lagi menggodanya, wajah pangeranku pun memerah lalu dia dengan segera membuang muka untuk menghindari bertatapan mata denganku.
"Te....tentu... saja!! aku... aku menyukaimu... apapun itu..." gumam kak Jester, aku tertawa mendengar gumam nya.
"Katakan kamu suka padaku dan ingin aku jadi pacarmu~" ucapku dengan nada manja, seketika kak Jester menatapku dengan ekspresi terkejutnya dan mundur beberapa langkah sembari menempelkan tangan di dadanya.
"Hah?!! ke... kenapa?!" tanyanya padaku dengan wajahnya yang memerah itu, aku tersenyum manis menatapnya.
"Kapan kamu mau menembak ku? apa benar kamu suka padaku?" tanyaku lagi kali ini nadaku sedikit aku naikkan agar semakin mendesaknya, aku merasa semakin tidak memiliki waktu... aku ingin segera memperjelas status kami...
"Aaa...aku.... beri aku waktu Luna!! kamu juga belum terlalu mengenalku kan?!! ke... kenapa terburu - buru!!" jawabnya dengan panik, aku menghela nafas lalu kembali menatapnya dengan serius.
"Sampai kapan?" tanyaku kesal, kak Jester kembali membuang muka.
"Aaa... aku..." belum selesai kak Jester berkata, aku memotongnya.
"Sampai kapan?!" agak membentak aku mengatakannya
"IYa! iya... tidak akan lama, setidaknya sampai ujian semester satu selesai dilaksanakan" jawabnya, lalu aku memberinya jari kelingkingku untuk mengikat janji diantara kami.
__ADS_1
"Janji?" aku mengajaknya untuk mengikat janji diantara kami, perlahan jari kelingkingnya melingkar di jari kelingkingku dengan kuat.
"Janji" gumamnya, aku tahu dia sedang menahan perasaan malunya setelah aku mengejar agar dia segera memperjelas hubungan diantara kami.