Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 35


__ADS_3

Aku mendapatkan pandangan baru tentang hidup, tentang bernyanyi, dan tentang hubungan antar manusia setelah perjalananku bersama kak Justin. Hari berlalu cukup cepat bagiku karena aku begitu menikmati hari minggu ku itu, kini aku harus menjalani rutinitas ku. Berangkat sekolah bersama kak Jester, berkumpul bersama Selena dan Alvin di dalam kelas, di jam istirahat kali ini aku tidak bertemu dengan pangeranku untuk pertama kalinya.


Aku mengajak Selena dan tanpa ajakan Alvin sengaja membuntuti kami, aku ingin segera mendaftar menjadi penyanyi utama sekolah. Aku, Selena dan Alvin mencari ruang osis di area sekolah namun... ahahaha, kami tersesat. Sekolah ini sangat luas dengan berbagai fasilitasnya. Akhirnya... aku mencari kak Jester dan bersama pangeranku aku mendaftar di ruang osis.


Setelah mendaftar dan menuliskan identitas siswaku, aku langsung dipanggil oleh guru pembina paduan suara bernama Pak Mike. Ketika itu pak Mike langsung mengenaliku karena kegiatanku bernyanyi bersama kak Jester, kak Luke, kak Harry dan kak Justin di tonton juga oleh pak Mike, dia memintaku untuk segera bernyanyi di hadapannya saat itu.


Aku membawakan dua lagu untuk aku perdengarkan kepada pak Mike dan dia mengatakan jika aku memiliki bakat bernyanyi, aku begitu senang mendapatkan pujian itu dan rasa senang ku seakan menular pada kak Jester dan Selena. Alvin? aku akan mengingat dengan baik ekspresi datarnya itu ketika aku mendapatkan pujian dari guru, awas aja kamu minta bantuan ku.


Aku mendapatkan daftar jadwal diadakannya audisi, ketika memberikan jadwal itu pak Mike secara terang - terangan jika dia mendukungku untuk menang. Aku sangat paham jika banyak tatapan cemburu dan iri padaku, namun dengan adanya pangeranku di sisiku saat itu mereka tidak berani melakukan apapun kepadaku. Aaa~ senangnya bisa melakukan banyak hal dengan bebas seperti ini :)


Siang pun berganti sore, aku pulang bersama kak Jester menuju rumah keluarga Parker untuk menunggu ayah selesai bekerja. Disana aku menghabiskan sisa waktuku mengobrol bersama Selena, di titik inilah aku benar - benar melupakan jika aku adalah anak perempuan dengan penyakit kronis didalam tubuhku.


Mungkin benar kata dokter Ellie dan dokter Richard, jika obat terbaik adalah pikiran kita sendiri. Meski obat - obatan saat itu menjadi faktor utama aku dapat menahan segala rasa sakit dan nyeri tubuhku, namun aku begitu menikmati hari - hariku dengan senyuman dan tujuan hidup yang jelas. Dimana tujuan hidup inilah yang sempat aku buang sejak mendapatkan vonis itu, aku kini bertahan hidup demi tujuan itu...


Namun ada satu hal yang tidak dapat membuatku seutuhnya melupakan tentang penyakitku...


Rambutku...


Mereka rontok dengan sangat ekstrim akhir - akhir ini....


Aku mengeluhkan hal itu kepada dokter Ellie, namun dia mengatakan itu adalah salah satu efek samping dari kemoterapi yang sedang aku jalani akhir - akhir ini.... aku sedih mendengarnya... dalam benakku berkata "Apa kak Jester akan meninggalkanku jika aku tidak memiliki sehelai rambut pun di kepalaku? bagaimana cara menjelaskannya hal ini pada kak Jester?"


Dengan sangat terpaksa aku memangkas habis rambutku....


Aku meneteskan air mataku begitu deras melihat rambut - rambut mulai berguguran dilantai kamarku... begitu pula ayah yang memotongnya dan ibu yang melihatnya...

__ADS_1


Sejenak aku teringat wanita idaman kak Jester yang pernah dia ucapkan ketika kak Luke memancingnya... rambut inilah yang membuat pangeranku tidak dapat mengalihkan pandangannya dariku... kini itu telah tiada....


Sejak hari itu untuk pertama kalinya aku mengenakan wig dengan model yang sama persis seperti rambut asliku selama ini, namun tidak hanya itu perubahan yang aku alami pada tubuhku pasca mengikuti semua terapi yang dijadwalkan itu.


Suatu hari di sekolah....


"Kamu terlihat semakin kurus dari hari ke hari, kamu sakit apa sebenarnya?" tanya Alvin ketika kami berada dikelas, aku begitu terkejut mendengar Alvin mengatakannya.


"Hah?! aku gak sakit apa - apa kok!" jawabku dengan sedikit bentakan


"Kamu perhatian banget ya, aku aja yang selalu bersama tidak merasakan apa - apa" timpal Selena mendukung perkataanku


"Tidak, aku tahu kamu menyadarinya Selena" ucap Alvin lagi sedikit menekan


Di koridor sekolah aku berpapasan dengan pangeranku, dia tersenyum menatapku dan berjalan mendekatiku. Aku diam menunggunya dekat denganku, tapi entah kenapa.... aku meneteskan air mataku ketika melihatnya berjalan mendekatiku. Air mata itu membuat kak Jester berlari mendekatiku dengan wajah panik, dia mungkin berpikir ada yang menyakitiku lagi.


"Luna?! kamu kenapa?! siapa yang membuatmu menangis?!" tanya kak Jester panik dengan menggenggam kedua bahuku dengan begitu erat


Tahukah apa yang membuatku menangis? senyuman pangeranku itu... aku kembali dihantui tentang kematianku yang mungkin saja sudah sangat dekat, bagaimana aku bisa tega meninggalkan senyuman itu begitu saja? melukai hatinya yang terasa begitu mencintaiku sangat dalam, apa aku sanggup mati dengan meninggalkan itu semua?


"Tidak apa kak, aku cuma terharu..." jawabku sembari mengusap air mataku yang tersisa di pipiku


"Be... benarkah? kamu... gak bohong kan?" tanya kak Jester memastikan keadaanku, aku menggelengkan kepalaku beberapa kali lalu kak Jester menghela nafasnya.


"Apa kamu mau ke studio?" tanya kak Jester padaku, aku menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Kak Jester pun menggandeng tanganku dan mengantarkan aku menuju ke ruang studio dimana audisi akan dimulai. Disana aku melihat beberapa peserta mulai dari kelas satu sampai kelas tiga begitu semangat untuk memulai audisi, kak Jester menepuk pundakku dan tersenyum padaku untuk memberi semangat dan dukungan moril.


"Baik, kita mulai saja ya. Kalian hanya harus bernyanyi apapun lagunya dengan pembawaan yang sesempurna mungkin, tunjukkan bakat kalian dan ingat bahwa yang terbaik yang akan menjadi penyanyi utama sekolah kita" ucap pak Mike ketika semua peserta sudah berkumpul di studio rekaman sekolah.


Satu demi satu siswa dan siswi masuk kedalam bilik rekaman yang berada didalam ruang rekaman sekolah, mereka bernyanyi disana dan tidak satupun dari kami yang dapat mendengar suara penyanyi didalam ruangan itu. Jantungku mendadak bergerak cukup cepat karena gugup, lalu... hal mengagetkanku pun terjadi...


Hidungku mengeluarkan darah....


"Jangan sekarang!!" teriakku dalam hati, aku berdiri dan keluar dari ruang studio itu.


Aku terus berlari sampai kamar mandi dan segera membasuh wajahku dengan air keran, beberapa kali basuhan aku pun mengangkat kepalaku untuk menatap wajahku dari pantulan cermin. Ketika itu riasan tebal yang selalu aku pakai untuk menutupi warna kulit pucat ku ikut luntur, aku mengeluarkan handphone dari saku rok ku dan aku mengirim chat kepada Selena untuk membawakan peralatan make up ku ke kamar mandi.


Tidak lama Selena terlihat berlari masuk kedalam kamar mandi itu dan segera menanyakan keadaanku, aku tersenyum dan mengatakan jika aku baik - baik saja. Selena memberikan aku peralatan make up, tidak ingin membuang waktu karena aku harus mengikuti audisi saat itu dengan segera aku mengaplikasikan foundation dan sedikit blush on pada wajahku.


Setelah aku merasa penampilan ku sempurna, aku dan Selena keluar dari kamar mandi dan aku dapati kak Jester menungguku di depan pintu masuk kamar mandi. Pangeranku terlihat sangat mengkhawatirkan ku dan tanpa banyak bicara aku berjalan mendekatinya lalu ku peluk tubuhnya dengan erat, dia pun sempat bertanya ada apa dan aku pun menjawab jika semua baik - baik saja.


Kami memutuskan untuk kembali ke ruang studio setelah mungkin satu menit penuh aku memeluknya dengan erat, sedangkan Selena mengatakan jika dia akan kembali ke kelas. Selena menitipkan pesan pada kak Jester agar tidak membuat aku kelelahan, saat itu aku pikir Selena mengatakan hal bodoh karena bisa saja kak Jester memikirkan hal aneh - aneh tentangku... tapi aku paham atas tindakan Selena itu, dia tidak ingin terjadi hal - hal yang buruk padaku.


Aku kembali ke studio dan ketika itu pak Mike mencariku, aku mengatakan jika aku pergi ke kamar kecil dan dengan perintah yang terkesan terburu - buru saat itu pak Mike memintaku segera masuk kedalam ruang rekaman. Disana aku memilih satu lagu yang sudah pernah aku nyanyikan sebelumnya dan juga dengan penjiwaan yang sudah aku pelajari sebelumnya...


Aku berharap lagu ini sampai padanya...


Pada pangeranku....


Dido - Thank You...

__ADS_1


__ADS_2