
Dear Diary....
Pagi ini adalah hari pertama aku akhirnya memutuskan untuk menulis kisah hidupku dalam sebuah buku diary yang aku beli bersama pangeranku mungkin sekitar empat bulan yang lalu, tepat satu hari setelah aku keluar dari rumah sakit dan memperbaiki hubunganku dengan pangeranku. Pagi ini juga aku kedatangan tamu yang tidak pernah aku akan duga akan datang, jantungku dibuat berdetak begitu cepat dan adrenalin ku juga dipacu dengan sangat kuat.
"Saya datang untuk menjenguk siswi kami bernama Luna Lincoln karena dia terpilih sebagai vokalis utama sekolah untuk dies natalis sekolah, ketidakhadirannya untuk waktu yang cukup lama membuat kami dewan guru merasa cemas" ucap pak Mike ketika mendatangi rumahku, hanya ada aku dan ibu ketika itu dirumah untuk menemui pak Mike yang datang kerumah secara tiba - tiba.
"Maafkan kami pak guru, Luna..." belum selesai ibu menimpali, pak Mike pun memberikan gestur tangan agar ibu tidak perlu untuk meminta maaf.
"Kami tahu, urusan pembagian warisan memang sangat membutuhkan konsentrasi dari keluarga besar. Jadi nyonya Lincoln tidak perlu terlalu dipikirkan, asal Luna baik - baik saja dan siap untuk kembali ke sekolah... itu sudah sangat membuat kami senang" timpal pak Mike
"Hah?! wa..." belum selesai ibu kaget dengan perkataan pak Mike, aku pun memotongnya
Yah tentu saja ibu terkejut dengan apa yang disampaikan pak Mike pagi itu, meski itu ide dari kak Justin untuk menutupi alasan sebenarnya mengapa aku tidak masuk sekolah untuk waktu yang lama namun aku belum satu kali pun membicarakan kebohongan ini kepada ibu dan ayah.
"I..Iyaa!! itu sangat merepotkan kami, mohon maaf pak Mike aku membuat sekolah khawatir!!" ucapku panik karena takut ibu akan mengatakan hal yang membuat pak Mike mengerti jika aku, kak Justin dan Selena membohongi sekolah, seketika aku mendapatkan tatapan mata tajam dari ibu.
"Baik nyonya Lincoln, aku pamit dulu dan Luna.. kehadiranmu disekolah sangat dinantikan" ucap pak Mike
Tidak lama pak Mike pun undur diri, aku dan ibu mengantar pak Mike sampai di pelataran rumah. Setelah memastikan pak Mike pergi seketika ibu langsung menjewer telingaku, aku pun meronta kesakitan karena ibu begitu keras menarik telingaku itu.
"Aaa...aaa... sakit...!! maaf bu!!" rintih ku kesakitan
"Ibu tidak pernah mengajari anak ibu untuk berbohong" ucap ibu memarahiku lalu melepaskan tangannya dari telingaku, aku menatap ibu dengan wajah penuh penyesalan.
"Maaf~ itu ide Selena dan kak Justin~" ucapku penuh penyesalan, suara helaan nafas ibu pun terdengar.
__ADS_1
"Kamu masih menutupi yang terjadi padamu?" tanya ibu padaku dengan nada yang terdengar begitu menekan, aku hanya terdiam dan menundukkan kepalaku. Lalu tangan hangat ibu mengelus pipiku dengan lembut, aku terkejut dan langsung mendongakkan kepalaku menatap wajah ibu yang tersenyum padaku.
"Kamu tidak bisa terus berbohong, meski ibu tidak marah padamu namun... kamu pasti sudah tahu jika berbohong maka akan membuat hidupmu lebih rumit dari yang seharusnya. Carilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenaran, hentikan semua kebohonganmu sesegera mungkin sayang" ucap ibu dengan nada yang terdengar begitu lembut di telingaku, aku tersenyum lalu menganggukkan kepalaku beberapa kali.
Di keesokan harinya aku pun sudah siap untuk pergi bersekolah, pagi itu setelah bersiap aku duduk di sofa yang berada diruang tamu rumah sembari memandangi layar handphoneku cukup lama sampai menarik perhatian ayah. Tangan besarnya tiba - tiba menyentuh kepalaku lalu mengelusnya dengan lembut, aku pun menoleh menatapnya dengan wajah sebal ku.
"Elusan ayah membuatku teringat jika aku tidak punya rambut!" celetukku dengan suara yang terdengar kesal pada ayah, namun ayah hanya menanggapinya dengan suara tawa lalu duduk di sebelahku.
"Sudah siap, sayang? Selena sudah sangat rindu padamu" tanya ayah, aku menghela nafas sejenak namun aku tidak mengatakan apa pun pada ayah sembari kembali menatap layar handphoneku.
"Kamu berharap tuan muda Gates datang menjemputmu?" tanya ayah lagi kali ini dengan sedikit menggodaku
"Aaa.. ti.. gak!! gak itu yang aku pikirkan!!" jawabku panik, aku malu karena ayah bisa menebak apa yang aku sesalkan pagi ini, suara tawa ayah pun terdengar begitu keras seakan puas menggodaku.
Mungkin memang masalahnya ada padaku, aku tidak pandai untuk menutupi apa yang aku inginkan, pikirkan dan tanyakan dalam hati. Aaa~ jadi orang yang sangat mudah ditebak itu tidak menyenangkan~
Aku berdiri dari dudukku untuk menjauh dari ayah namun tidak lama suara deru mesin yang begitu keras terdengar berhenti tepat di depan rumah, aku segera berlari menuju pelataran rumah untuk melihat siapa yang datang. Di depan rumah aku melihat mobil dua pintu berwarna kuning yang sudah sangat aku hafal siapa pengemudinya, tidak terasa garis senyumku terangkat ketika melihat mobil itu.
"Sepertinya tuan muda Gates tahu kamu akan ke sekolah hari ini" celetuk ayah yang berdiri di depan pintu utama rumah, aku sempat menoleh menatap ayah dengan wajah kesal ku namun lagi - lagi ayah hanya menanggapinya dengan suara tawa.
Kak Jester turun dari mobilnya lalu tersenyum ketika melihatku berdiri di pelataran rumah seakan sedang menunggunya, tidak lama dia berjalan mendekatiku dan kami pun terdiam saling tatap ketika jarak kami sudah dekat. Itu benar, kami hanya terdiam saling tatap untuk waktu yang tidak sebentar sampai suara deham ayah terdengar dan membuyarkan suasana yang terasa begitu romantis bagiku.
Kak Jester langsung berbalik dan menutup muka dengan kedua tangannya, sedangkan aku berjalan mendekati ayah dan memukul - mukul dadanya berubi - tubi. Ayah hanya berusaha menahan setiap pukulan ku dengan suara tawa yang terdengar begitu puas sudah menggoda dan merusak momen romantis ku dengan pangeranku. Kehebohan itu mengundang ibu yang sebelumnya sibuk di dapur untuk ikut andil menggodaku, sempat - sempatnya ibu berlari ke depan lalu bersama ayah menggodaku dan kak Jester.
Setelah semua suara tawa dan kehebohan di pelataran rumah, aku dan kak Jester pun berpamitan untuk berangkat sekolah. Aku berjalan mendekati mobil kak Jester dan kak Jester membukakan pintu untukku, didalam mobil itu aku menatap kak Jester dengan tajam. Mungkin dia risih dengan tatapanku itu, kemudian dia langsung menyentuh pipiku dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya kak Jester kepadaku
"Tidak, hanya saja ada pertanyaan untukmu... dari mana kamu tahu aku berangkat sekolah pagi ini?" tanyaku, lalu kak Jester menarik tangannya untuk bersiap mengemudi
"Justin pagi - pagi banget tadi chating aku dan mengatakan kalau kamu berangkat sekolah hari ini, jadi aku inisiatif aja buat jemput kamu" jawabnya lalu mobil kami pun beranjak menuju sekolah.
Setelah mendengar jawaban kak Jester ketika itu aku kembali berpikir tentang kak Justin, mengapa dia sepeka itu padaku? bahkan aku tidak pernah mengatakan padanya jika aku ingin dijemput lagi oleh kak Jester. Mungkin karena kita sudah bersama sejak kecil, atau memang seperti itulah kak Justin... namun semua pemikiranku tentang kak Justin buyar seketika saat kak Jester mengajakku mengobrol.
Dua puluh menit berlalu dan tibalah aku disekolah, aku dan kak Jester berpisah didepan kelasku. Ketika aku membuka pintu kelas, aku hanya melihat Alvin sedang duduk di mejaku. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya dikelas secepat ini, karena pada hari ini seharunya siswa - siswi langsung berkumpul di stadium sekolah untuk melaksanakan kegiatan olah raga. Aku? aku terbiasa meninggalkan pelajaran itu karena sejak awal aku beralasan jika aku tidak kuat untuk berolahraga.
"Hari ini ada praktek olahraga di stadium, teman - teman ada di stadium semua kecuali aku karena aku mengeluh sedang tidak enak badan" celetuknya ketika itu sembari berjalan mendekatiku yang masih terdiam dekat pintu masuk kelas
"Aku tahu, sekarang memang jam olahraga dan selalu seperti ini kan" timpal ku, lalu aku berjalan melewatinya untuk menuju kursi milikku
"Bagaimana keadaanmu? apa kamu sudah merasa sehat? Leukimia memang sering memberi kejutan tiba - tiba ya" celetuk Alvin lagi dan aku pun terkejut, aku tetap memunggungi dirinya dan dan berusaha untuk tidak terlihat kaget dengan celetukannya itu.
"Apa maksudmu? Leukimia? kamu ngelantur?" tanyaku berusaha untuk tetap menutupi penyakitku
"Luna, aku tahu penyakitmu dari hasil analisisku. Setelah menemukan bungkus obat yang sempat kamu jatuhkan dan mencari tahu obat apa itu, aku juga mencurigai jaket Selena yang bersimbah darah. Banyak yang tidak sadar jika itu adalah jaket milik Selena, namun aku terlalu pintar untuk dikelabui jika kamu yang menggunakan jaket itu untuk menampung darah yang mungkin kamu muntahkan atau mungkin karena kamu mimisan" jawabnya dengan nada datar
Aku sudah tidak mampu lagi untuk menahan kaget ku mendengar jawaban Alvin, aku segera berbalik untuk menatapnya namun ketika itu Alvin masih memunggungi ku. Aku mengernyitkan dahiku dan mencoba menerka apa yang sebenarnya diinginkan oleh Alvin, dia begitu niatnya mencari tahu tentangku dan alasan aku jarang masuk sekolah sampai sejauh itu.
"Apa kamu masih mau mengelak dari analisisku?" tanya Alvin menekan ku lalu berbalik untuk menatap mataku
"Apa yang kamu inginkan?" tanyaku dengan tekanan, aku benar - benar tidak bisa menerka apa yang dia inginkan dariku.
__ADS_1
"Aku ingin kamu jadi pacarku" jawabnya datar seakan itu bukanlah kalimat yang mungkin bisa membuatku terkejut setengah mati.