
Aku dan Selena menyiapkan makan malam untuk kami di dapur yang menjadi satu dengan ruang makan, saat itu tidak banyak yang bisa aku lakukan karena bahan - bahan yang ada pun sudah habis terpakai untuk menu sarapan kami. Karena itu aku hanya sedikit merubah konsep sarapan yang sudah tersedia dan dingin itu menjadi lebih hangat dan terlihat seperti sebuah menu untuk makan malam. Yaah... Tidak terlalu berhasil sebenarnya, tapi karena hari juga sudah sore... Apa lagi yang bisa dilakukan? Kami pun sepertinya lupa untuk makan seharian ini, setelah apa yang kami semua alami... wajar jika rasa lapar tertutupi dengan semua kesedihan yang baru saja menimpa kami semua.
Kami mengobrol hal - hal yang lucu dan menyenangkan untuk membangun suasana agar ketika kak Jester dan Naomi datang, kami semua tidak saling merasa canggung. Aku begitu menantikan dimana kami bisa duduk berempat tanpa rasa marah, sedih, bersalah, atau apapun itu yang membuat hati merasa tidak nyaman, aku ingin kami bisa melangkah maju untuk mempererat pertemanan kami.
Tinggal satu menu lagi yang sedang aku buat ketika kak Jester dan Naomi masuk kedalam ruang makan itu, aku menatap wajah kak Jester yang terlihat menyesal dan Naomi yang tersenyum menatapku. Aku membalas senyum Naomi dan saat itu aku menatap kak Jester juga dengan senyum terbaikku, aku melihat bibirnya sedikit bergerak dan hendak mengatakan sesuatu yang mungkin sulit untuk dia katakan.
"Luna.. Aku..." perkataan kak Jester segera aku potong karena aku tahu apa yang akan dia katakan saat itu, aku langsung mengangkat tanganku dan memberinya gestur agar dia tidak perlu untuk mengatakannya.
"Tidak perlu minta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Kita lupakan semuanya, satu bulan ini aku ingin kita membangun momen bersama yang menyenangkan" tegas aku mengatakannya, namun sepertinya apa yang aku sampaikan membuat Naomi tidak senang
Saat itu Naomi terlihat kehilangan senyumnya dan menatapku dengan wajah kesal, aku sempat mengolah kembali kata - kataku yang mungkin membuat Naomi tiba - tiba sebel padaku. Sampai pada akhirnya Naomi berkata..
"Aku tetap tidak akan biarkan kamu merencanakan apapun untuk merebutnya dariku!" ucap Naomi dengan nada kesal, aku mau ketawa saat mendengar perkataan Naomi saat itu.
Aku jadi berniat lebih menggodanya lagi, sepertinya untuk kali ini akan lucu.
"Kata pepatah cinta tumbuh dari makanan turun ke perut dan menyebar ke hati, kamu tidak bisa mengganggu rencana pertamaku untuk merebutnya darimu" aku mengatakannya dengan suara sinis, aku pun tidak lupa untuk tersenyum dengan sinis seakan aku benar - benar akan melakukannya.
Tapi seketika itu aku tersadar akan buruknya selera humorku, terakhir kali yang aku ingat ketika mengerjai kak Jester adalah kekacauan di kencan pertama kami. Aku saat itu ingin segera menarik perkataanku dengan mengatakan jika aku bercanda, tapi Naomi dengan penuh amarahnya langsung menatap wajah kak Jester seraya berkata...
"Jester jangan makan dulu!! Aku akan masak dan kamu harus tunggu masakanku selesai!!" bentak Naomi dengan raut wajah juteknya
Aku terkejut dengan respon Naomi, candaan ku diterima olehnya dengan baik. Disaat itu kak Jester juga merespon dengan hal yang membuatku merasa geli, wajahnya terlihat berat hati untuk menerima permintaan Naomi untuk tidak memakan hasil dari masakanku dan Selena.
__ADS_1
"Eeeh.. Gini, aku lapar Naomi... Jadi tidak bisakah..." belum selesai kalimat kak Jester, Naomi memotongnya.
"Tidak!! Sekali tidak ya tidak!!" timpal Naomi kembali dengan bentakan, rasa usil ku kembali terpancing karena respon mereka yang sepertinya menerima candaan ku.
"Hohoho... Tapi semua bahan sudah aku pakai habis, tidak ada lagi yang bisa kamu masak" timpal ku dengan ejekan
Ejekan ku diabaikannya begitu saja, Naomi berjalan cepat mendekati Selena yang sejak tadi hanya diam didekat meja makan setelah dia menata beberapa piring untuk makan malam kami di atas meja makan itu. Aku melihat Naomi mengambil beberapa piring masakanku lalu membawanya kembali ke dapur, dia menghidupkan kompor dan memasak kembali masakan yang sebenarnya sudah sedikit gosong itu karena telah dimasak dua kali.
"Loh... Loh Naomi!! Engga boleh!! Itu harus dimasak persis lima belas menit!! Kalau tidak cita rasanya..." belum selesai aku berbicara, Naomi menoleh menatapku dengan senyum sinis nya.
"Rasa gosong itu akan menjadi cita rasa yang akan Jester ingat dari masakanku" timpal Naomi terdengar begitu sombongnya seakan dia sudah memenangkan pertempuran diantara kami
Aku terpancing emosi saat itu, lalu dengan paksaan aku berusaha merebut piring itu agar Naomi tidak kembali memasak makanan itu. Aku mengganggu dia memasak dan Naomi terus berusaha agar tetap dapat memasak kembali masakan itu, aku dan dia saling serang kata - kata dan sedikit dorong - dorongan. Jika ingin membayangkan pertengkaran antara aku dan Naomi, mungkin seperti dua ekor kucing yang sedang berebut wilayah kekuasaan.
Ditengah pertengkaran ku dengan Naomi saat itu, kami melihat Selena mencuri kesempatan didalam kesempitan untuk menyuapi kak Jester dengan masakan yang tersisa di atas meja makan. Kompak aku dan Naomi menatap Selena lalu kami meneriakinya dengan kata yang sama, yaitu....
"Selena!!! Beraninya kamu mencuri kesempatan!!"
Tapi Selena membalas bentakan kami dengan juluran lidahnya seakan dia mengatakan dia yang memenangkan pertempuran makan malam kali ini, aku dan Naomi kompak berlari mendekati Selena dan kak Jester dengan wajah penuh amarah. Mungkin karena aku dan Naomi begitu terbawa suasana sampai ekspresi kami terlihat berlebihan, ekspresi wajah kak Jester dan Selena nampak kaget. Disaat bersamaan kak Jester pun mundur beberapa langkah, tapi tidak dengan Selena yang terlihat panik dan tidak tahu mau melakukan apa.
Aku, Naomi, dan Selena tarik menarik piring yang dipegang oleh Selena, tidak lupa kami juga saling serang kata - kata. Ahahaha... Kami seperti ketiga istri kak Jester yang saling berebut perhatian suami kami, bisa dibayangkan? Aku tidak akan lupa kejadian itu. Kejadian dimana kami bisa bercanda begitu lepas tanpa kecanggungan sama sekali, aku sudah berhasil bukan? :)
Pada akhirnya kami baru selesai ribut setelah dapur sudah menjadi sangat kacau seperti baru saja terjadi angin ribut yang memporak porandakan dapur itu, kami bertiga terdiam menatap dapur yang sudah hampir tidak berbentuk karena makanan terlempar kesana - kesini, sampah - sampah berserakan, dan masakan yang mengeluarkan asap hitam karena gosong juga menjadi pemandangan di atas kompor.
__ADS_1
Dilantai kami melihat kak Jester terbaring lemas karena kelaparan, bayangkan saja dia tidak makan dari pagi sampai malam dan yang dia dapati malah kacaunya dapur di rumah. Tapi apa yang kami lakukan setelah itu? Kami bertiga tertawa terbahak - bahak entah apa yang sebenarnya kami tertawakan sore menjelang malam itu, pada akhirnya kak Jester pun memesankan makan malam untuk kami lewat aplikasi online.
Malam pun tiba, begitu pula dengan menu makan malam kami yang baru saja kami pesan. Kami makan bersama di ruang tengah karena ruang makan masih kacau balau, kami memutuskan untuk menutup dapur itu dan berniat membersihkannya di keesokan harinya.
Kami makan malam bersama dengan canda tawa dan obrolan ringan, suara tawa juga sesekali menghiasi obrolan kami. Aku tidak menyangka kami akan seakrab ini pada akhirnya, tapi harus diakui bahwa kami bisa sampai seperti ini karena pengorbanan besar Naomi untukku.
Beberapa menit berlalu dan kami pun terdiam sejenak karena kekenyangan, di ketenangan itu aku sebenarnya sedang gelisah. Aku tidak tahu harus berkata apa agar aku dapat keluar berdua dengan kak Jester menuju taman bermain festival square yang menjadi salah satu impian terakhirku, aku ingin menguji apa aku dan kak Jester akan kembali bertemu ditengah taman labirin setelah semua yang terjadi saat ini. Konon disana akan dipertemukan dengan jodohnya ketika dua sejoli bertemu di taman tengah labirin, dengan syarat yang menurutku begitu rumit tapi jika memang mitos itu bekerja maka semua akan berjalan dengan baik.
Dengan sangat baik... Seperti kejadian aku dan kak Jester yang bertemu di taman tengah itu sambil mengucapkan janji kami... Itu sudah sangat lama berlalu dan aku lupa dihalaman berapa aku menulisnya, tapi jika dibaca baik - baik maka aku sudah sempat untuk menuliskan kisahku saat itu.
Ooh... Aku menemukan foto kami, yaah.. Aku akan menyimpannya dan menempelkannya di halaman depan dari buku diary ini, berharap kak Jester akan mengingat ketika kami bertemu disana lalu mengucapkan janji cinta kami.
"Naomi... Aku minta izin padamu untuk besok, aku mau pinjam kak Jester" pintaku padanya, setelah lama berpikir dalam keheningan diruang tengah itu pada akhirnya terucap juga permintaanku padanya.
"Kamu... Mau bawa dia kemana...?" terbata Naomi mengatakannya, sepertinya Naomi keberatan saat itu untuk menerima permintaanku.
"Aku mau ajak dia ke festival square.... Ada yang harus kami selesaikan berdua disana.. Tapi kalau kamu tidak mengizinkannya, aku tidak akan memaksamu" jawabku mencoba memelas agar Naomi mau menerima permintaanku
Sejenak kami terdiam dan saling menatap, aku tahu Naomi begitu berat hati untuk menerima permintaanku. Perlahan Naomi menoleh menatap kak Jester, mereka saling bertatapan mata namun tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara. Kak Jester sepertinya kembali menyerahkan keputusan untuk menolak permintaanku ditangan Naomi, semoga kali ini apapun keputusan Naomi tidak akan membuat hubungan kami memburuk.
"Aku... Gak mau izinkan kamu... Tapi kalau mengingat janjiku, aku jadi gak punya pilihan kan?" dengan berat hati Naomi menerima permintaanku
Aku kembali dikejutkan dengan apa yang Naomi katakan, dia benar - benar menerima permintaan egoisku tanpa banyak pertimbangan. Mungkin sebagian orang akan berkata Naomi tidak mencintai kak Jester dengan sungguh - sungguh karena dia begitu mudahnya memberi ruang untukku, tapi bagiku tidak seperti itu... Naomi percaya padaku dan dia percaya pada kak Jester jika kami hanya akan menyelesaikan masa lalu kami yang terputus begitu saja tanpa akhir.
__ADS_1
Bagiku... Seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya maka dia tidak akan pantas untu bertemu dengan orang baru, karena masa lalu akan selalu mengganggu di kehidupan kedepannya.