
"Aku ingin kamu jadi pacarku" tanpa ragu dan tanpa merasa malu atau apapun itu.... Alvin menembak ku begitu saja
Aku terkejut mendengar ucapannya sampai membuat bibirku tak dapat lagi berkata - kata, kami hanya saling tatap dan terdiam untuk beberapa saat. Aku dengan ekspresi terkejut ku dan Alvin tetap dengan ekspresi datarnya, jantungku pun berdetak kencang entah mengapa. Mungkin karena ini pengalaman pertamaku ditembak lawan jenis ku atau... karena aku marah padanya.
"Hah? apa katamu?" celetukku seakan menjadi hal yang sudah pasti diucapkan setiap orang ketika dia mendengar namun masih terkejut dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Seratus persen aku yakin kamu mendengar apa yang baru saja aku katakan, Luna" jawabnya datar, aku mengernyitkan dahiku dan ku tatap matanya sangat tajam untuk menunjukkan seberapa marahnya aku padanya.
"Baik, lalu menurutmu berapa persen aku akan menerima pernyataanmu?" tanyaku balik dan dengan nada yang menekan
"Nol persen jika aku melihat ekspresimu saat ini" jawabnya
"Apa yang kamu pikirkan? apa kamu punya rencana? apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanyaku lagi, Alvin pun menghela nafasnya lalu berjalan mendekatiku.
"Kemungkinan Jester menerimamu hanya dua puluh persen ketika kamu mengatakan kamu menderita leukimia, Gates itu keluarga terpandang dan tidak akan gegabah memilih menantu perempuannya" jawab Alvin dan aku pun kembali terkejut
"Ta... tapi kami saling cinta! dia... dia tidak akan meninggalkanku..." timpal ku
"Luna... Luna... kamu hidup di dunia nyata, tidak ada satupun orang tua yang begitu kaya raya ingin memiliki menantu dari kalangan bawah dan berpenyakit..." belum selesai Alvin bicara, entah kenapa tangan ini begitu ringannya menampar pipi Alvin dengan sangat keras.
Terlalu keras mungkin sampai - sampai kaca mata Alvin pun terlepas dan terlempar jauh, seketika itu mataku pun berkunang, tanganku bergetar hebat, air mataku pun menetes deras. Tidak... aku tidak marah karena apa yang Alvin katakan tentangku, tentang gadis miskin berpenyakitan yang mengharapkan cinta pangeran dari kerjaan yang begitu kaya raya... tapi aku marah karena Alvin baru saja membangunkan ku dari mimpi indahku...
"Tamparan dari bentuk luapan emosi karena sadar jika selama ini dirinya sudah hidup dalam dunia mimpi, aku bisa terima itu" celetuk Alvin lalu berjalan untuk mengambil kacamatanya yang terhempas, aku membuang muka untuk menghindari bertatapan mata dengan Alvin
"Apa kamu sudah mulai sadar? tidak semua dapat berjalan sesuai keinginan, tapi yang perlu kamu tahu... kamu punya pilihan untuk tetap merasa bahagia" ucapnya lagi sembari kembali berjalan mendekatiku, aku pun kembali menatap wajahnya dan aku dapati kaca dari kacamatanya retak karena ulahku.
"Aku tahu kenapa kamu terus berbohong, kamu tidak ingin mimpi indah bersama Jester berakhir. Tapi sayang sekali, kehadiranku bagai jam beker yang membangunkan mu dari mimpi indah mu. Kamu terbangun dan menghancurkan jam beker itu seperti kamu menamparku tadi, tapi kamu memang sudah saatnya untuk bangun dari mimpi - mimpimu" ucap Alvin
__ADS_1
"Apa... aku pernah.... jahat padamu?" tanyaku terbata, dengan gelengan kepala Alvin menjawab pertanyaanku
"Kenapa.... kenapa kamu sejahat ini... apa yang aku lakukan sampai kamu sejahat ini sama aku?!!" bentak ku padanya, lalu Alvin terdengar menghela nafasnya
"Aku terima kamu mengatakan jika aku jahat, tapi akan lebih jahat ketika aku sebagai orang yang suka padamu membiarkanmu terus hidup dalam mimpi kosong. Kamu akan tersakiti ketika kebohonganmu terbongkar, aku akan melihat kamu dicampakkan oleh Jester dan menurutmu... apa aku bisa senang jika itu terjadi?" ucap Alvin kembali menekan ku
Aku meremas kedua tanganku begitu kuat sampai membuat seluruh tubuhku bergetar, aku begitu emosi karena... karena apa yang dikatakan Alvin itu... benar. Aku memang terus berbohong agar mimpi - mimpi indahku bersama pangeranku tidak berakhir, kali ini... siapa yang sebenarnya sedang dibohongi? kak Jester? sekolah? atau aku? apakah aku sedang membohongi diri sendiri?
"Dari ekspresimu aku yakin kamu sudah benar - benar terbangun dari mimpimu, sekarang terserah padamu. Kamu bisa melanjutkan tidurmu dan bermimpi terus bersama pangeranmu sampai jam beker lainnya yang kembali membangunkan mu, atau kamu bangun sekarang dan terima kenyataan itu" celetuk Alvin lalu berjalan menuju kursinya, sedangkan aku masih terdiam di tempatku dengan pemikiranku
Perlahan aku berjalan menuju kursiku dan duduk disana, aku melamun mungkin hampir sembilan puluh menit penuh karena aku tidak sadar akan kehadiran Selena dan ketika Selena menepuk pundakku. Aku tersentak lalu menatap wajah Selena yang begitu khawatir padaku, dia bertanya aku kenapa namun aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Setelahnya aku mengikuti pelajaran dengan normal sampai tiba jam istirahat, seperti biasa kak Jester menjemput ku didepan kelas. Aku menatap wajahnya yang tersenyum itu dengan datar seakan tidak terjadi apapun, namun sebenarnya aku masih menyimpan berbagai pertanyaan yang baru saja aku pikirkan setelah berdua mengobrol bersama Alvin.
"Benarkah kamu akan meninggalkanku ketika kamu tahu aku penderita leukimia? apa benar jika rakyat jelata sepertiku pasti akan ditolak oleh keluarga kaya sepertimu? bagaimana jika kamu dan keluargamu tahu jika aku hanya..." belum selesai semua pemikiran itu, aku tiba - tiba tersadar dari lamunanku karena...
"Hah? apa? aah maaf kak..." jawabku sembari memutar badanku dan memunggunginya
"Apa aku berbuat salah?" tanya kak Jester padaku, aku kembali tersentak mendengar perkataannya dan sekejap kembali memutar tubuhku agar aku dapat menatap matanya.
"Aaa.. gak kok!! aku baik - baik saja dan aku tidak sedang marah" jawabku sedikit panik, perlahan tangan kak Jester memberi gestur agar kami bergandengan tangan untuk menuju ke kantin elit tempat biasa kami bersama bertemu kak Luke, kak Harry, dan kak Justin.
"Bisa kita.... ke tempat dimana hanya ada aku dan... kamu?" pintaku sembari menyambut tangannya itu, tangannya menggenggam tanganku begitu erat seakan dia tidak ingin kehilangan aku.
"Tentu... kita bisa beli beberapa makanan kecil dan..." belum selesai kak Jester berkata, aku memotongnya.
"Tidak perlu beli apapun, aku hanya ingin berdua denganmu" timpal ku sedikit memaksanya, aku melihatnya begitu terkejut dengan permintaanku.
__ADS_1
"Oooh.. Eeeh, baiklah... mau ke taman mini golf? disana hanya ada sedikit orang dan ada tempat nyaman untuk mengobrol" ucap kak Jester, aku hanya menganggukkan kepalaku lalu kak Jester mulai menarik ku untuk menuju ke taman mini golf sekolah.
Tempat dimana aku pertama kali berhasil mendapatkan informasi tentang tipe wanita idaman pangeranku, tempat semua kisah cintaku bersama kak Jester dimulai, tempat aku berhasil masuk dalam lingkaran pertemanannya untuk pertama kali, tempat pertama kali aku.... tertidur dalam mimpi - mimpi indah bersama pangeranku...
Sesampainya disebuah gazebo dekat dengan taman mini golf sekolah, aku dan dan kak Jester duduk berhadapan. Wajah kak Jester begitu menampakkan rasa khawatir dan takut melihatku yang menatapnya tajam namun dengan ekspresi datar ku, aku tahu kenapa dia seperti itu... mungkin dia sedang berpikir aku akan mengatakan sesuatu yang intinya aku ingin mengakhiri hubungan ini...
"Lu.. Luna... benarkah... aku tidak melakukan kesalahan?" tanyanya memecahkan keheningan diantara kami
"Tidak... aku tidak sedang ingin menghakimi atau marah padamu kak" jawabku
"La... lalu kenapa?" tanyanya lagi terbata
"Katakan padaku kak... apa yang mungkin bisa membuatmu membenciku?" tanyaku padanya dengan nada menekan agar kak Jester mau bicara jujur padaku, aku melihat kak Jester mengernyitkan dahinya mungkin sedang mencari alasan mengapa aku bertanya seperti itu.
"Tidak perlu kamu tahu alasan kenapa aku bertanya seperti ini, karena aku bukan ingin membuatmu untuk membenciku. Aku hanya ingin tahu agar aku bisa menghindari apa yang mungkin kamu benci" ucapku dengan nada yang tegas mencoba untuk meyakinkannya agar kak Jester tidak ragu untuk menjawab pertanyaanku
"Aku... tidak mungkin bisa membencimu, meski kamu menikam ku sekalipun... aku yakin aku tidak akan bisa membencimu...." jawab kak Jester
"Kenapa?" tanyaku
"Karena... ketika aku membenci seseorang... aku lebih memilih untuk melupakan dan menyimpannya dalam hati yang terdalam, aku tidak ingin mengingat apapun lagi tentangnya" jawab kak Jester
"Bagaimana caranya?" tanyaku
"Aku akan mengurung diriku dalam kamar dan aku terus mencuci otakku agar aku melupakan orang itu dan hilang dari ingatanku, akan ada satu titik dimana aku akan benar - benar melupakan orang itu meskipun suatu saat aku bertemu kembali dengannya. Dan jika itu terjadi padamu.... aku mungkin tidak akan membencimu karena aku... akan melupakan semua kenangan diantara kita..." jawab kak Jester
Terdengar sedih saat kak Jester mengatakannya, namun aku dapat memahami jika apa yang baru saja kak Jester katakan itu adalah hal yang serius dan sedikit menakutkan. Benarkah orang bisa melakukan itu? melenyapkan kenangan yang pernah terjadi? aku... tidak tahu apa itu benar, namun... aku tidak ingin itu terjadi padaku....
__ADS_1