Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
season 3 : episode 14


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk membuat Ratatouille sebagai menu makan malam, aku mengajarkan cara membuatnya ke Naomi. Ketika itu aku ingin langsung membuat untuk empat porsi, namun Naomi menolak dan mengatakan jika porsi untuk kak Jester harus dari tangan Naomi sendiri. Aku dan Selena dilarang untuk ikut campur menyiapkan porsi untuk kak Jester, meski terdengar aneh tapi aku tahu kenapa Naomi bersikeras ingin menyiapkan sendiri porsi untuk kak Jester.


Ada pepatah entah darimana yang aku tahu berbunyi kalau cinta tumbuh dari makanan turun ke perut dan menyebar ke hati, mungkin Naomi meyakini pepatah itu atau karena dia memang hanya ingin menyiapkan segala sesuatu untuk kak Jester. Aku pun hanya tertawa menanggapi keinginan Naomi yang begitu kuat itu, lalu aku demonstrasikan cara membuatnya langsung didepan Naomi.


Empat puluh menit berlalu, ratatouille kami pun siap namun itu hanya untuk tiga orang. Setelah yakin sudah memahami cara membuatnya, Naomi memintaku untuk menjadi pengawas ketika dia memasakkan ratatouille untuk kak Jester. Aku duduk didepannya dan mengawasinya dengan sungguh - sungguh, beberapa kali Naomi hampir salah memproses masakannya namun karena bakatnya dalam hal memasak memang bagus jadi semua berjalan lancar.


Ditengah proses memasak itu, aku mendengar suara deru mesin mobil yang dekat dengan rumah. "Aah... kak Jester sudah pulang, masakan Naomi masih butuh proses" ucapku dalam hati, aku berinisiatif untuk membukankan pintu dan menyambut kak Jester. Namun ketika aku beranjak dari tempat dudukku, Naomi berlari mendekatiku dan menahan ku langkahku dengan tarikan tangan di lengan.


"Biar aku saja" seru Naomi yang tersenyum menatapku


"Eeh... tapi masakanmu..." timpal ku sambil menoleh menatap kompor yang masih menyala


"Ini tidak akan lama, aku harap kamu bisa menjaganya supaya gak gosong" ucap Naomi terdengar senang, aku balas senyumnya sembari menganggukkan kepala.


Setelah itu Naomi berlari keluar dari dapur yang menyatu dengan ruang makan menuju pintu utama rumah, aku berjalan memutari partisi dapur untuk mengecilkan api agar saus buatan Naomi tidak gosong. Saat itu Selena terlihat berjalan mendekatiku dan duduk di kursi yang ada di hadapanku, senyumnya merekah menatapku namun tatapan matanya terlihat sedang menggoda.


"Apa?" tanyaku dengan nada kesal, Selena tertawa kecil lalu mengatakan..


"Sepertinya rencanamu berjalan dengan baik, apa kamu senang?" tanyanya


"Senang? heem... agak sulit untuk mengatakan senang, tapi aku puas dengan yang terjadi" jawabku


Tidak lama terdengar suara pintu yang tertutup dengan sangat keras, suara keras itu menarik perhatianku dan Selena ketika itu. Aku menoleh menatap Selena dan kami saling tatap tanpa mengatakan apapun, tapi Selena paham apa yang aku ingin dia lakukan saat itu.

__ADS_1


Selena beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari ruang makan, entah apa yang terjadi tapi aku tidak mungkin meninggalkan kompor dalam keadaan menyala seperti ini. Tapi pada akhirnya rasa penasaranku mengalahkan semua pemikiranku tentang masakan kami, aku mematikan kompor itu lalu berjalan hendak keluar dari ruang makan. Disaat itu aku melihat Naomi berjalan menuju kamar dengan kepala tertunduk dan terdengar suara pintu terbuka lalu kembali tertutup agak keras, "Apa yang terjadi?" tanyaku dalam hati.


Didepan pintu masuk ruang makan aku melihat Selena diam berdiri menatap pintu kamar yang sudah tertutup itu, aku berjalan mendekati Selena lalu aku tepuk pundaknya dengan lembut karena sepertinya Selena sedang melamun saat itu.


"Apa yang terjadi?" tanyaku padanya, aku begitu khawatir setelah melihat Naomi yang tertunduk dan pintu ruang keluarga yang terkunci.


"Gak tahu, kak Jester tiba - tiba membanting pintu dan menguncinya. Sedangkan Naomi mendadak sedih lalu sekarang dia dikamar" jawab Selena terdengar bingung, aku tersenyum mendengar jawaban Selena ketika itu.


Melihat aku tersenyum membuat Selena menatapku dengan tajam, namun aku mengabaikan tatapan tajamnya dengan berbalik dan hendak kembali ke dapur untuk melanjutkan masakan Naomi yang dia tinggal begitu saja. Aku yakin Selena menyimpan banyak pertanyaan setelah melihat senyumku, tapi sebenarnya aku tersenyum karena aku bingung harus berekspresi seperti apa disaat seperti ini.


Tanpa diberitahu pun aku tahu apa yang terjadi pada kak Jester dan Naomi saat ini, semua karena kehadiranku... kak Jester menjadi orang yang emosinya sering tidak terkontrol, sedangkan Naomi terlalu polos untuk menangani percintaannya. Melihat Naomi seperti melihat aku yang dulu, aku sering kali tidak tahu apa harus aku lakukan ketika aku dan kak Jester mengalami masalah.


Aku hanya bisa berlari menghindar lalu menangis, tidak pernah satupun permasalahanku dengan kak Jester bisa aku selesaikan. Semua selalu selesai begitu saja, karena kak Jester... selalu mengalah untukku... Apakah itu baik? tidak... itu tidak akan pernah berjalan dengan baik karena masalah yang tidak diselesaikan hanya akan menjadi bola salju yang semakin membesar dari hari ke hari.


Ditengah aktifitas memasak ku untuk melanjutkan masakan Naomi, Aku memikirkan cara apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Naomi dan kak Jester. Aku tidak ingin hubungan mereka berakhir kandas seperti hubunganku dengan kak Jester, saat ini aku seperti melihat diriku sendiri pada diri Naomi. Dia... mempresentasikan hatiku yang dulu, ketika hanya bisa lari dari masalah dan kak Jester juga seakan tidak berkembang setelah dua tahun berlalu. Dia benar - benar kak Jester yang saat itu aku sebut dia dengan kata... pangeranku..


"Jika kamu jujur, maka masalah ini tidak akan menjadi serumit ini" celetuk Selena memecah keheningan diantara kami, aku hanya diam sambil menikmati suapan pertamaku.


"Ini enak... Naomi memang berbakat, hanya aku beri resep dan dia bisa membuatnya dengan sempurna" ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan kami, aku menatapnya dan dia terlihat sangat kesal.


"Luna!! aku serius!!" agak membentak Selena mengatakannya padaku, kekesalannya aku balas dengan sebuah senyuman.


"Aku tidak bisa jujur sekarang, aku tidak ingin merusak momen kita" timpal ku setenang mungkin, perlahan Selena membuang muka untuk menghindari bertatapan mata denganku.

__ADS_1


"Perjanjian kita terdengar seperti mission impossible mengingat betapa eratnya hubungan kak Jester dan Naomi, maaf ya aku membebani mu seperti itu" ucapku penuh penyesalan, kami kembali terdiam dan menyantap Ratatouille itu.


"Aku cuma bersyukur satu hal" celetukku memecah keheningan, perkataanku saat itu sepertinya menarik perhatian Selena.


"Apa itu?" tanya Selena penasaran, kami kembali bertatapan mata dan aku sedikit tertawa saat itu.


"Aku bersyukur kamu bergerak karena perjanjian kita, jika tidak aku yakin kamu sudah melukai hatimu sangat dalam saat mengetahui kak Jester dan Naomi menjadi sepasang kekasih sekarang. Rasa bersalahku akan semakin besar kepadamu" jawabku, tapi ketika aku tertawa kecil saat itu Selena hanya diam dengan wajah datar terus menatapku.


Melihatnya tidak merespon suara tawaku membuatku berpikir tentang apa yang terjadi, sejenak aku terdiam dan terus aku tatap mata Selena mencoba untuk mengorek lebih dalam apa yang sebenarnya ingin Selena katakan padaku didalam kebisuannya. Sejenak aku merasa jika perkataanku yang sempat aku tertawakan itu adalah hal yang salah, aku merasa.... Selena benar - benar jatuh cinta pada kak Jester...


"Selena... jangan bilang kamu..." ucapku mencoba memastikan apa dugaanku benar atau salah, jujur aku akan sangat terkejut jika dugaanku benar.


"Saat mengikat janji aku memang bergerak atas dasar janjiku padamu, tapi saat ini.... aku jatuh cinta padanya" timpal Selena, sontak jawaban Selena membuatku kaget.


Aku tidak menyangka dia akan benar - benar jatuh cinta sama kak Jester, padahal aku mengenalnya sebagai sosok yang tidak menyukai pria. Didalam kepalaku mulai timbul berbagai macam pertanyaan, tapi dari semua pertanyaan itu hanya satu yang paling membuat aku penasaran. "Sejak kapan Selena jatuh cinta pada kak Jester?" tanyaku dalam hati


"Hentikan Selena! kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri!" tegas aku katakan itu padanya, aku menggenggam tangan Selena di atas meja dengan sangat kuat agar dia tersadar jika apa yang dia rasakan hanya akan berujung pada kekecewaan. Tapi tanganku ditepis olehnya, setelah itu aku mendengarnya menghela nafas.


"Aku merubah penampilanku, merubah caraku bersikap, dan merubah cara bicaraku agar seperti dirimu dengan sangat terpaksa dan berat hati. Tapi ketika aku bertemu dengannya, aku terbiasa untuk menjadi dirimu. Kelembutannya saat menatapku, caranya bersikap di depanku, dan ketika dia berbicara padaku... aku jadi memahami kenapa kamu begitu mencintainya" timpal Selena terdengar sedih, begitu pula denganku yang melihat sahabatku jatuh kedalam jurang yang disebut cinta.


"Tapi aku sadar kenapa dia menerimaku begitu saja, kak Jester hanya merasa terbiasa dengan sikapmu padanya dulu yang kembali dia dapatkan dariku. Tidak ada sama sekali sosok Selena didalam hatinya, aku sadar itu tanpa harus kamu peringatkan" dengan helaan nafas Selena mengatakannya


Untuk sejenak kami kembali terdiam dan dia menatapku seakan berharap aku akan membantunya mendapatkan kak Jester dari Naomi, tapi keputusanku sudah bulat untuk mendukung Naomi dan kak Jester. Mungkin baginya kedekatan kami akan membuat aku berpihak padanya, tapi maaf Selena... aku tidak bisa...

__ADS_1


"Maaf Selena... aku akan di pihak Naomi..." agak terbata aku mengucapkannya, aku melhat Selena terkejut mendengar jawabanku.


Mungkin memang bukan itu jawaban yang ingin Selena dengar dariku, aku pun takut Selena akan marah padaku ketika itu. Tapi aku tidak bisa melakukan apa yang Selena inginkan, karena kak Jester dan Naomi... sangat serasi di mataku.


__ADS_2