Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 4 : Episode 4


__ADS_3

Sempat terdiam sejenak aku dan papa duduk dipojok dari salah satu cafe yang dekat dengan rumah sakit tempat Luna dirawat, papa terlihat menikmati hidangan yang dia pesan sedangkan aku hanya menatapnya tanpa menyentuh sama sekali makanan di depanku itu. Aku tidak begitu yakin dengan apa yang aku butuhkan saat ini, entah itu sosok yang menenangkan ku atau sosok yang selalu ada disebelah untuk mendukungku. Karena bagiku keduanya memiliki peran yang berbeda disaat seperti ini, aku harus segera menentukannya sekarang.


Perlahan aku menatap wajah papa dengan tajam sampai membuat papa terlihat heran menatapku, tidak biasanya aku merasa butuh seseorang untuk menolongku. Aku sudah terbiasa mengerjakan apapun sendiri dengan tangan ini, namun semua berubah sejak aku bersama Naomi. Aku menjadi sosok yang selalu membutuhkan orang lain untuk membantuku, apa itu baik atau tidak... aku tidak tahu...


"Papa... aku butuh papa disini" celetukku, dan yaah... respon papa sesuai dengan apa yang aku bayangkan ketika itu. Dia kaget mendengar ku memintanya untuk mendampingiku, aku selalu dididik papa untuk menjadi personal yang mandiri.


"Kenapa? tumben kamu minta ditemani..." tanya papa terdengar keheranan dengan permintaanku, aku membuang mukaku karena aku yakin papa akan kecewa padaku yang tidak mandiri ini.


"Aku... sering kali kehilangan kendali atas emosiku... tapi saat ini yang bisa aku mintai pertolongan sebagai sandaranku cuma papa..." jawabku terbata


"Bagaimana dengan nona Naomi, apa dia tidak bisa menjadi sandaranmu?" tanya papa menekan ku, yaah.. pertanyaan itu tentu akan papa tanyakan mengingat Naomi sudah menawarkan dirinya untuk mendampingiku tapi aku tolak.


"Keberadaannya memang selalu menenangkan ku, namun... aku punya alasan untuk tidak meminta bantuannya... bukan, ini bukan karena Luna, tapi.. ada sesuatu yang sangat... Menggangguku... dan aku tidak ingin bermasalah dengan itu sekarang" jawabku tegas


"Baik, papa mengerti" timpal papa tegas, dia menerima permintaanku tanpa pikir panjang...


"Papa langsung setuju?!!" tanyaku kaget, ketika itu papa tersenyum menatapku lalu berkata hal yang keren bagiku...


"Mana ada seorang papa yang tega melihat anaknya menderita? jika kamu membutuhkan papa, sebagai seorang ayah sudah menjadi kewajibanku buat mendampingi anaknya. Karena sebesar apapun dirimu, di mataku kamu tetaplah anak kecil bagi papa. Ahahaha..." jawab papa lalu dia pun tertawa begitu keras, aku sempat tertegun karena kata - kata keren papa saat itu... aku ingin suatu saat menjadi sepertinya...


"Sial... papa selalu keren di mataku, apa aku bisa menjadi seorang ayah seperti papa?" gumamku ditengah suara tawa papa


Ketika itu papa mengatakan dia lelah dan ingin istirahat, aku pun menyarankannya untuk tinggal di kamarku namun papa tidak setuju. Papa memilih untuk membuka satu kamar lagi meski harus terpisah dua lantai dariku, ketika aku bertanya kenapa saat itu papa mengatakan agar papa bisa berkomunikasi sama Naomi dengan bebas. Papa bilang dia memiliki janji sama Naomi untuk selalu memberi update kondisiku dan Luna setiap saat, Haah... Naomi selalu saja berlebihan.


Aku mengisi hari - hariku di Paris bersama papa, entah kenapa selama itu aku bisa menjaga hatiku dengan baik. Ya.. aku sering sedih, tapi itu tidak pernah berlarut karena sosok papa di sebelahku. Papa selalu memintaku untuk mengeluarkan semua apa yang menjadi isi didalam kepalaku, ketika aku mengungkapkannya... saat itu aku merasa lega, aku beruntung ada papa disini.

__ADS_1


Tidak hanya itu, sesekali papa memintaku untuk selalu menghubungi Naomi walau itu hanya basa - basi. Ide itu berhasil, seringkali aku merasa lebih baik setelah komunikasi singkat ku dengan Naomi. Semua itu aku lalui selama dua hari, karena selama itu pula Luna juga belum sadar dari komanya. Jika aku ingat - ingat... berarti ini adalah hari keempat sejak aku berada di paris, begitu pula dengan Luna jatuh dalam komanya.


Di hari keempat pada malam hari itu ketika aku dan papa pulang dari rumah sakit setelah menjenguk Luna, ternyata Luna membuka matanya. Aaah tidak... tidak seperti itu, tepat tengah malam dihari yang sama ternyata Luna sempat membuka matanya. Begitulah informasi yang aku dapatkan dari pihak rumah sakit, sayangnya saat itu aku sudah tertidur di hotel.


Aku terbangun di pagi buta ketika itu karena sebuah telepon masuk di ponselku, masih dengan mata yang terasa begitu berat untuk terbuka aku langsung mengangkat telepon itu. Aku mendapat berita jika Luna sadar dari komanya, seketika itu mata yang terasa berat untuk terbuka langsung menjadi sulit untuk kembali terpejam. Aku kaget, senang, dan juga... sedih tentunya, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan saat bertemu dengannya. Setelah mengetahui semua kebohongannya, pasti semuanya akan terasa canggung kan?


Aku bersiap lalu berlari menuju depan lobby hotel untuk mencegat taksi, beruntungnya aku langsung bertemu satu taksi yang sudah menunggu disana. Segera aku menaikinya dan meminta sopir untuk mengantarku ke rumah sakit, tidak butuh waktu yang lama sampai aku tiba didepan rumah sakit. Aku segera berlari kembali menuju ruang informasi dan menanyakan kamar Luna, aku yakin dia sudah dipindahkan dari ruang isolasi karena dia sudah sadar dari komanya.


Setelah mendapatkan nomor kamarnya, kakiku mulai ragu untuk melangkah menuju kamar Luna. Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak tahu harus berkata apa saat kami bertatapan mata. Dia pun pasti merasakan hal sama denganku, aku memikirkan hal itu seraya berjalan menuju kamar Luna.


Sampailah aku tepat didepan kamarnya yang tertutup itu, tangan ini gemetaran saat memegang ganggang pintu itu. "Haruskah aku temui pagi - pagi begini? atau aku temui dia siang nanti saja? apa dia mau bertemu denganku? bagaimana kalau dia menolak kehadiranku karena semua kebohongannya sudah terbongkar? apa yang harus aku katakan saat bertemu dengannya?" begitu lah kira - kira isi kepalaku.


Setelah dia beberapa saat, pada akhirnya aku mengetuk pintu kamar itu dan menarik ganggang pintu untuk membukanya secara perlahan. Dari celah pintu yang terbuka itu aku melihat Luna berbaring di brankar yang sedikit dia tegakkan sandarannya agar tubuhnya bisa sedikit lebih tegak, tatapan matanya tertuju pada sebuah televisi yang ada didepannya. Entah apa yang dia tonton ketika itu, yang pasti aku.... melihatnya tertawa kecil dan senyumnya yang merekah... dia tetap... mempesona di mataku...


Tidak lama keberadaan ku pun dirasakan oleh Luna, dia menoleh menatapku dan ketika itulah aku membuka pintu lebih lebar lagi agar dapat masuk ke dalamnya. Aku terdiam mematung ketika mata kami saling bertatapan, begitu pun Luna yang memasang raut wajah datar menatapku. Seperti dugaanku sebelumnya, ini akan terasa begitu canggung baik untukku dan untuk Luna sekalipun. Namun... Luna tetaplah Luna... dia tiba - tiba tersenyum padaku dan berkata...


"Masuklah kak... mau sampai kapan kamu berdiam diri disana?" ucapnya lagi seakan sedang menyindirku yang masih juga mematung didepan pintu masuk, aku tersadar dari lamunanku dan semua pemikiranku yang berlebihan itu.


Aku berjalan masuk bersamaan dengan tatapan mata Luna yang kembali menatap layar televisi dengan acara humor Charlie Chaplin, acara humor hitam putih entah tahun berapa itu sudah ditayangkan. Hal remeh seperti itu saja sudah bisa membuat Luna tertawa terbahak - bahak, membuat aku semakin yakin Luna memikul beban berat yang mungkin tidak akan pernah bisa aku tanggung sendiri. Tapi Luna bisa... dia bisa menanggung semua itu, bagaimana mungkin? apa aku yang terlalu lemah, atau malah Luna yang lebih kuat dari apa yang bisa aku bayangkan? aku tidak tahu...


Aku tarik kursi yang tersedia disana agar aku bisa duduk tepat disebelah brankar Luna, disana aku hanya duduk dan terdiam dengan tatapan mata yang terus tertunduk. Otakku benar - benar membeku dan tidak bisa memikirkan apapun selain hal - hal yang aku sebutkan tadi, lamunanku buyar ketika suara helaan nafas berat Luna terdengar.


"Kamu jenguk aku cuma buat diam - diaman seperti ini?" tanyanya kembali memecah keheningan diantara kami


"Kenapa... kamu tidak katakan lebih awal?" tanyaku menekannya meski aku yakin dia merasakan kesedihanku setelah mengetahui tentang penyakitnya itu, kembali aku mendengar Luna menghela nafasnya.

__ADS_1


"Karena dulu kamu mencintaiku..." ucapnya menjawab pertanyaanku...


Ketika itu otakku langsung bekerja begitu saja, didalamnya aku bertanya - tanya "Apa? apa yang baru saja dia katakan? apa hubungannya antara aku mencintainya dengan dia membohongiku akan keadaannya?! dia sedang bercanda denganku?!! dia senang mempermainkan ku?!!" begitu lah isi didalam kepalaku, aku emosi saat itu setelah mendengar jawaban itu namun aku menahannya dengan sangat baik seraya berkata...


"Apa... maksudmu..?" tanyaku terbata, aku kesulitan untuk tidak meluapkan amarahku padanya.


Mata kami bertemu ketika itu karena aku berhasil memberanikan diri untuk menatapnya, setelah sebelumnya aku hanya bisa tertunduk namun saat ini berbeda. Emosi yang meluap karena jawaban tidak masuk akal Luna yang membuatku berani untuk menatapnya, setidaknya itu yang aku rasakan sebelum pada akhirnya aku membaca buku harian Luna tentang kejadian ini.


"Cintamu yang membuatku tidak berani untuk berkata jujur padamu... aku pun sudah jatuh cinta terlalu dalam padamu dan ketika aku memikirkan tentang umurku yang tidak panjang, hatiku terasa begitu sesak..." belum selesai dia berkata, aku pun memotongnya dengan begitu emosional.


"Lalu kamu berpikir aku tidak sakit hati dengan caramu meninggalkanku dulu?!! kenapa kamu kembali padaku jika memang kamu berpikir seperti itu?!! kenapa tidak kamu katakan saja sejak awal ini akan terjadi?!! Kenapa?!!" bentak ku, aku kembali kehilangan pengendalian diriku saat itu... maafkan aku, Luna...


"Maafkan aku..." tersenyum Luna menimpali amarahku dan... yaaah, hatiku remuk mendengar permintaan maafnya... seketika itu aku hancur, aku menyesal sudah memperlakukannya begitu buruk belakangan ini...


Aku kembali terdiam terpaku menatap wajahnya yang tersenyum dengan tulus di depanku, aku tidak tahu harus berkata apa lagi dan haruskah aku tetap marah padanya dengan semua yang pernah dia lakukan padaku? kenapa jadi aku yang merasa jahat padanya? haruskah aku meminta maaf padanya? tapi atas dasar apa? ketika itu semua pertanyaan tadi berdengung di kepalaku sepanjang hari...


"Dulu aku berpikir jika kamu segera membenciku maka kamu tidak perlu jatuh cinta terlalu dalam padaku yang akan membawamu terpuruk bersamaku... aku ingin kamu segera meninggalkanku yang tenggelam semakin dalam di palung cinta kita karena terpisahkan oleh keadaanku, itu yang membuatku berpikir untuk membuatmu membenciku" ucap Luna dengan senyumannya itu


"Aku pun mengejar mimpiku yang pernah aku katakan padamu dulu... aku ingin menjadi seorang penyanyi dan fokus mengejar impianku itu agar aku dapat melupakanmu dan aku berhasil... aku menjadi finalis di ajang pencarian bakat dan itulah pencapaian terbesarku dalam hidup... Aku seharusnya sangat senang ketika aku mencapai final dan hanya harus mengalahkan dua orang lagi, namun..." Luna pun menggantung ceritanya, sejenak dia terdiam namun kini matanya menatap layar televisi yang masih menampilkan acara humor tapi dia tidak lagi tertawa dengan acara itu.


"Di Ribuan mata penonton yang melihatku saat itu, sorak sorai mereka memanggil namaku, suara gemuruh penonton menanti ku keluar menuju panggung... semua ketenaran itu... semua tabur bintang yang menyelimuti ku itu... aku merasakan kehampaan... hatiku hampa dan perasaan senang yang seharusnya aku dapatkan... semua kosong.. aku kesepian ditengah keramaian... pencapaianku itu terasa semu di hatiku..." begitulah kata Luna melanjutkan ceritanya, ketika itu dia kembali menatapku dengan mata yang berkaca - kaca....


"...Berpisah darimu membuatku mengerti betapa indahnya saat aku bersamamu dan selalu aku ingat semua kenang - kenangan itu..." ucapnya lagi namun sekali lagi Luna menghentikan kalimatnya, dia menarik nafas panjang untuk menahan tangisnya. Aku tahu... aku tahu dia ingin menangis ketika itu, aku begitu merasakan kepedihan hatinya saat mengungkapkan semua isi hatinya di hadapanku.


"... Saat itulah aku menyadari ternyata yang aku butuhkan dalam hidupku itu cuma kamu... sekalinya dicintai dan mencintai seseorang, membuat tidak mungkin lagi untuk melupakannya... hatiku selalu memikirkan mu dan cintaku padamu malah semakin dalam.. maafkan aku karena telah mencintaimu sedalam ini..." dengan senyuman ketika Luna mengatakannya, tapi air mata yang menggenang di matanya tidak bisa membohongiku kalau dia merasakan kepedihan yang sangat dalam.

__ADS_1


Dia terlihat kuat diluar, namun begitu rapuh didalam... aku tahu saat itu dia mencoba untuk tidak menangis di depanku, tapi manusia tetap memiliki batasannya untuk menahan semua kesedihan. Begitu pun denganku... tidak bisa dipungkiri aku pernah mencintainya sampai membuatku merasa gila saat berjauhan dengannya, semua yang berbau Luna selalu membuatku gugup dan semua itu karena besarnya cintaku padanya... Dan sekarang ketika aku mendengar semua yang dia pendam selama ini, rasa cinta itu kembali tumbuh didalam hatiku...


Aku begitu mengingat perasaan cintaku padanya dulu yang pernah layu sebelum berkembang... Yaa... dia lah sosok yang pernah aku cintai begitu dalam... Luna Lincoln...


__ADS_2