Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 4 : Episode 13


__ADS_3

Pesan terakhir...


Mungkin itu judul yang tepat untuk menggambarkan akhir dari buku Diary Luna ini...


Diary Luna akhirnya selesai meski aku yang terpaksa harus menyelesaikannya agar kisah hidup Luna tertulis dengan lengkap tanpa kurang satupun dengan sempurna dan tidak menggantung..


Semua dimulai ketika sudah satu minggu berlalu sejak hari pemakaman Luna dilaksanakan, aku dan Naomi menjalani hari - hariku seperti biasa. Aku juga sudah bisa menata hatiku dengan baik, hari - hariku selama ini juga berjalan normal dengan kuliah, berkumpul bersama teman - temanku, dan menjalani hari - heri penuh kemesraan bersama Naomi.


Mungkin sebagain teman - teman sudah merasakan jika aku telah melupakan Luna, tapi itu tidak benar.... Kadang disaat aku kesepian atau sedang menyendiri, aku teringat semua kenangan tentangnya. Hal yang tidak mungkin bisa aku ungkapkan kepada siapapun, terutama pada Naomi. Tentu saja... aku tidak akan sampai hati mengatakan padanya jika aku masih tidak mampu untuk melupakan wanita lain, Haah... itu akan jadi masalah, aku benarkan?


Satu minggu setelah hari pemakaman, ketika itu malam hari dan aku ingin mandi. Saat itu aku membuka lemari baju dan hendak mengambil salah satu baju ditengah tumpukan baju - bajuku yang lain, ketika tangan ini masuk diantara sela baju - baju itu aku merasakan sesuatu yang mengganjal mengenai tanganku. Aku meraih benda itu dan menariknya keluar, yang aku dapati adalah buku Diary Luna beserta sepucuk surat didalam buku itu dan hal itu membuatku termenung menatapnya.


"Sudah satu minggu ya..." gumamku


"Eeem Jess... ada apa?" tanya Naomi, aku menoleh menatap Naomi yang baru saja akan masuk kedalam kamar.


"Kamu menyimpan ini didalam tumpukan bajuku?" tanyaku padanya


"Iya... apa kamu tidak ingin melihat itu lagi? kamu memintaku untuk menyimpannya jadi aku simpan saja disana" jawab Naomi sedikit terbata, sepertinya dia khawatir aku kembali terpuruk karena kenanganku bersama Luna.


"Sebenarnya aku baru saja ingin bertanya tentang surat dan buku diary ini, kebetulan besok kita libur. Jadi aku ingin mengumpulkan teman - teman buat mengunjungi makam Luna" jawabku dengan tersenyum padanya, meski jujur saja aku sedih namun aku tidak menunjukkannya dihadapan Naomi agar dia tidak khawatir berlebihan padaku.


"Kamu tidak ingin.. berdua bersamaku aja kesana? mungkin kamu membutuhkan waktu untuk sendiri di makam Luna... kalau bersama teman - teman..." belum selesai Naomi berkata, aku memotongnya.


"Berbeda dengan buku diary, surat ini tidak hanya ditujukan padaku... aku tidak tahu apa isi dari surat ini namun aku yakin ada pesan Luna untukmu dan teman - teman yang lain" timpal ku sembari kembali menatap buku diary dan sepucuk surat itu, sempat terdiam beberapa saat aku kembali menatap Naomi dengan kembali tersenyum.


"Ayo kita kunjungi makam Luna bersama - sama, dia pernah bilang kalau dia takut akan segera dilupakan oleh teman - temannya ketika dia sudah dikuburkan" ucapku, Naomi pun membalas senyumku dengan helaan nafas yang terdengar.


"Baik, aku akan kabari teman - teman" Naomi pun menyetujui ideku, seketika itu aku teringat tentang permintaanku pada Sarah.


"Aaa aku baru ingat!! aku kan meminta Sarah untuk mencetak foto, apa dia sudah selesai dengan permintaanku ya?" tanyaku pada Naomi


"Aku bisa tanyakan itu nanti pada Sarah, yang terpenting sekarang adalah ayo kita makan malam dulu" jawabnya.


Kami pun melalui malam itu dengan canda tawa...


Malam pun berganti pagi yang terlihat cukup cerah, aku dan Naomi sudah siap untuk berangkat menuju makam Luna. Namun ketika itu teman - teman meminta untuk menjadikan rumah kami sebagai tempat berkumpul, jadi pada akhirnya aku dan Naomi harus berdiam diri didalam kamar menunggu kedatangan teman - teman yang lain. Ditengah obrolanku dengan Naomi, saat itu aku mendengar suara seseorang mengetuk pintu utama rumah.


"Teman - teman" celetukku sembari beranjak dari kasur dan segera berlari ke pintu depan


Hari ini aku mendapatkan kejutan baru dari Selena, itu terjadi saat aku membuka pintu rumah. Selena yang berada tepat didepan pintu menjadi orang pertama yang aku lihat, dia memangkas rambutnya cukup pendek saat itu dan seketika aku ingat penampilan itu ketika kami masih di SMA dulu. "Aaah iya... dia benar - benar adik kelasku dulu yang bersama dengan Luna kemana - mana" ucapku dalam hati.


"Kenapa pada kaget dengan penampilanku?" tanya Selena terdengar kesal, wajahnya pun terlihat masam menatapku.


"Maaf maaf, ayo masuk dulu" jawabku dengan sedikit tertawa


Aku mempersilahkan Selena, Luke, Harry, Justin, Grece, dan Sarah untuk masuk kedalam rumah, kami berkumpul di ruang keluarga dan disana Sarah mengeluarkan beberapa lembar foto yang dia cetak atas permintaanku. Dia membeberkan foto - foto itu diatas meja dan sepertinya menarik perhatian teman - teman, satu per satu dari mereka mengambil foto - foto itu dan melihat apa yang tergambar di setiap lembaran foto itu. Seketika itu aku merasakan aura kesedihan yang terasa begitu kental dari teman - teman, ruangan keluarga pun menjadi sunyi.


"Dengan kualitas kertas dan tinta terbaik plus aku sudah laminating foto - foto itu agar tintanya tidak luntur, sesuai permintaanmu Jester" celetuk Sarah ketika aku masih menatap teman - teman yang lain, perlahan aku mengalihkan pandanganku menatap Sarah.


"Terima kasih, aku memang bisa mengandalkan mu" pujiku padanya


"Buat apa foto - foto ini?" tanya Luke, aku menghela nafasku sejenak sebelum menjawab pertanyaan Luke.


"Tentang foto nanti juga kamu akan tahu, aku sengaja mengumpulkan kalian disini karena ada surat dan buku diary ini tidak dikhususkan untukku" jawabku


"Itu bukan sekedar buku diary, itu catatan harian Luna... kak, Luna ingin kamu membaca buku diary itu. Semua isi hatinya selama ini dia tuangkan semua dalam buku diary itu dan aku rasa... akan memalukan jika buku diary itu kamu baca didepan kami" timpal Selena, perkataan Selena manarik perhatianku karena sepertinya dia tahu isi dari diary ini.

__ADS_1


"Begitu ya... baiklah, berarti surat ini yang mungkin ditujukan pada kita semua" ucapku


"Kenapa kamu yakin surat itu juga untuk kami?" tanya Grece terlihat bingung, aku menatap surat itu dan terdiam sejenak.


"Di malam terakhir ketika aku bersama dengannya... Luna mengatakan kalau dia takut kita akan melupakannya saat dia sudah meninggal, jadi menurutku saat Luna menulis surat ini... pasti ada pesan yang juga ingin dia sampaikan pada kalian semua" jawabku


"Kamu masih peduli padanya, kak?" tanya Selena menekan ku, perlahan aku menatap mata Selena dengan senyuman.


Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku peduli padamu Luna, itulah mengapa aku selesaikan buku diary mu ini dengan baik. Aku harap kamu tidak mengganggu ku lagi dalam mimpi setelahnya.


"Aku.. peduli padanya, bagaimana dengan kalian?" aku balik bertanya pada mereka, secara bergantian aku menatap Luke, Harry, Grece, Justin, Naomi dan Sarah bergantian. Serentak mereka semua tersenyum, dengan sedikit suara tawa yang terdengar mereka satu per satu mengatakan kepeduliannya pada Luna.


"Aku peduli padanya, dia adalah sahabatku meski kami tidak punya cukup waktu untuk saling bertemu" jawab Naomi


"Aku punya kenangan tersendiri saat SMA dengan Luna, jadi tentu saja aku peduli padanya" timpal Luke


"Kenangan kita bersama Luna saat SMA sangat membekas bahkan sampai sekarang, sayang kita hanya sebentar bisa berkumpul kembali setelah lulus. Hei Jester, aku pasti peduli padanya" ucap Harry


"Jangan tanya aku, dia sahabatku sejak kami masih bayi dan tentu saja aku akan peduli padanya sampai kapan pun" terdengar kesal Selena mengatakannya, mungkin karena pertanyaanku yang bodoh tentang kepeduliannya terhadap Luna.


"Aku peduli aku peduli, aku pernah punya kenangan dengan Luna sejak di ajang pencarian bakat dan pertemuan kami sangat menyenangkan, benarkan sayang?" tanya Grece pada Justin, ketika itu Justin hanya tertawa menanggapi pertanyaan Grece.


Lihatlah Luna, kepergianmu memberikan kesan yang indah bahkan untuk si gorilla besar dan juga rubah sahabatku! Terimakasih Luna, inikah arti senyummu ketika tubuhmu tidak lagi bernafas? jika memang iya, aku ikut bahagia untuk kebahagiaan terakhirmu Luna.


Meski Justin saat itu tidak menanggapi apapun, tapi memang begitulah sosok Justin. Dia memang orang yang terlihat tidak peduli apapun namun sebenarnya Justin salah satu yang paling merasa kehilangan atas meninggalnya Luna, meski aku tidak tahu bagaimana perasaan Justin pada Luna sebenarnya... mungkin aku dan dia adalah orang yang sama - sama pernah mencintai Luna, jadi aku tahu apa yang ada didalam hatinya saat ini.


Satu per satu dari mereka telah mengutarakan bagaimana kenangan dan perasaan masing - masing terhadap Luna, saat ini begitu terasa sosok Luna mempunyai tempat tersendiri di hati kami masing - masing. Kepergian Luna untuk selamanya tidak akan membuat kami melupakan sosok Luna yang pernah hidup menemani hari - hari kami, bukankah ini yang pernah kamu inginkan Luna? kamu sudah berhasil sampai pada tujuanmu...


"Aku tidak mengenalnya, tapi aku merasakan kesedihan kalian semua karena kehilangan sosok Luna. Jujur saja aku akan berpura - pura untuk peduli" timpal Sarah terdengar kesal, kami pun serentak menatapnya.


Aku sempat melupakan sosok yang baru saja bergabung dengan lingkaran pertemanan kami... Ahaha, benar juga... Sarah bukan sosok yang selama ini bersama dengan kami, Luna.. apa dia termasuk orang yang kamu kenal? dia sekarang bergabung dengan lingkaran pertemanan kita karena menjadi pacar dari Luke, semoga kamu tidak keberatan.


"Selamat datang di circle kami, Sarah" terdengar senang Naomi menyambut Sarah, sambutan hangat dari orang yang pernah berseteru dengannya membuat Sarah terdiam sejenak lalu membuang muka mungkin karena malu.


"Te... terima kasih, aku harap aku tidak merepotkan kalian" agak terbata Sarah mengatakannya


"Baiklah, ayo kita berangkat" ajak ku pada mereka


Dua puluh menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke pemakaman tempat Luna di kebumikan, Selena saat itu menjadi pemandu kami untuk sampai di tempat Luna. Disalah satu batu nisan aku melihat foto Luna terpajang disana, senyum Luna difoto itu terasa seperti dia senang dengan kehadiranku... Aaah, aku terlalu berlebihan... tapi memang seperti itulah yang aku rasakan.


"Hai Luna" celetukku sembari duduk tepat didepan makam Luna


Suasana kami kembali diselimuti oleh kesedihan, tidak ada lagi rasa sakit hati didalam hatiku saat mengunjungi makamnya... aku hanya menyesali kenapa aku tidak mengetahui kondisimu secepat mungkin, aku begitu menyesali kebodohanku saat itu. Tapi aku telah berjanji untuk tidak menyesali semuanya, Luna... kamu adalah pembelajaran hidupku yang paling berharga...


"Maaf aku baru bisa mengunjungimu setelah satu minggu kamu dikuburkan, tapi disini aku ingin menunjukkan kepadamu jika kamu... tidak akan pernah dilupakan" celetukku


Lalu aku mengeluarkan semua foto - foto yang Sarah cetak dan aku tempelkan foto - foto itu dengan rapih di batu nisan itu, pada lembar terakhir foto yang aku tempel saat itu aku menatap wajah Luna di dalam bingkai foto dengan senyum.


"Semua check list mu sudah aku kerjakan dan ini adalah bukti - buktinya, aku centang semua ya" gumamku


Aku mengeluarkan note berwarna merah muda dimana Luna menuliskan semua impian terakhirnya, dengan ballpoint yang sudah aku siapkan ketika itu aku memberi centang pada semua impian Luna yang tidak sempat dia kerjakan. Ketika semua sudah selesai aku beri tanda centang, aku menutup note itu lalu menghela nafasku.


"Teman - teman... ayo kita dengar apa yang sudah Luna tulis dalam suratnya, aku sempat mengatakan jika surat ini tidak dikhususkan hanya untukku dan semoga itu benar" ucapku sembari menatap teman - teman yang berdiri tepat di belakangku, mereka semua mengangguk merespon perkataanku.


Aku mengeluarkan sepucuk surat yang sempat Luna tinggalkan dari dalam saku jaketku, perlahan aku membuka amplop berwarna merah muda itu dan mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop. Ketika aku membaca sebagian isinya, aku pun tertawa kecil sembari menggelengkan kepalaku beberapa kali.


"Ada apa, Jess?" tanya Naomi penasaran, aku kembali menoleh kebelakang untuk menatap teman - teman.

__ADS_1


"Aku benar, ini untuk kita semua... baiklah, dengarkan..." jawabku lalu kembali menatap secarik kertas yang Luna tulis itu.


***ISI SURAT***


Untuk : Kak Jester dan teman - teman


Dari : Luna Lincoln


Hai kak Jess, hum... aku berharap saat kamu membacanya, ada teman - teman disana. Jika ada, bacakan yang keras agar mereka juga mendengar apa yang sudah aku tulis ini.


Pertama, aku ucapkan terima kasih khususnya untuk Naomi. Hei... kamu wanita yang tangguh dan hatimu sangat kuat, setelah mendengar cerita tentang percintaanmu, keluargamu, dan penderitaanmu selama ini... aku merasa malu pada diriku. Tidak seperti aku, kamu masih harus mengalami penderitaan untuk kedepannya. Aku harap kamu tetap kuat seperti itu, percayalah pada kak Jester dan jaga komunikasi mu dengannya jangan seperti aku. Semangat!


Kedua, Selena.... kamu satu - satunya yang membuatku sulit untuk menerima kenyataan bahwa aku akan pergi begitu cepat meninggalkanmu. Kamu tidak pantas menderita seperti itu, seharusnya kamu tetap hidup bebas tidak terikat cinta rumit yang aku ikatkan secara paksa kepadamu. Maaf, aku harap kamu bisa memaafkan ku dan berhenti untuk mencintai kak Jester. AKU BERSUNGGUH - SUNGGUH.


Ketiga, kak Luke dan Kak Harry. Maaf ya aku sudah membuat kak Jester patah hati karena ku, aku tidak ingin melakukannya secara sengaja. Kalian tahukan seberapa cintanya aku pada kak Jester, aku bahkan pernah meminta bantuan kalian untuk memaksa kak Jester agar tidak ragu untuk mendekatiku. Itu kenangan yang lucu dan jika aku ingat kembali... sangat menyenangkan bisa bertemu dengan kalian. Terima kasih.


Keempat, kak Justin. Huh... aku dibuat kerepotan karena ulahmu, tapi syukurlah kamu bisa punya pacar secantik Grece. Aku turut bahagia untukmu, jangan kecewakan dia dan jangan sakiti dia. Aku percaya padamu akan membahagiakan Grece.


Kelima, Hai Grece cantik. Kita bertemu lagi setelah sekian lama, Hahaha... sungguh dunia tidak selebar daun kelor, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan produser ajang pencarian bakatku dulu. Saat bertemu denganmu lagi, aku sempat takut kamu menyadari aku adalah Lunar. Tapi sepertinya perubahan fisikku yang membuatmu lupa denganku, maaf aku mengecewakan kepercayaanmu kepadaku. Aku tidak bermaksud membuatmu kerepotan atas pengunduran diriku yang mendadak, aku hanya tiba - tiba merasa ada hal besar yang harus segera aku kejar disisa waktuku. Sekali lagi, maaf dan terima kasih sempat menjadi penggemarku yang paling antusias.


Keenam, Sarah... aku tidak sempat akrab denganmu tapi aku yakin jika aku mempunyai lebih banyak waktu, kita bisa berteman dengan baik. Maaf, aku tidak memiliki waktu itu untuk aku bagikan bersamamu. Jadi terima kasih dulu sudah mau membantu Naomi mengatasi masalahnya.


Ketujuh dan yang paling penting dalam surat ini, kak Jester.... aku bingung harus menulis apa karena banyak sekali hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi pertama aku ingin minta maaf padamu tentang semua yang telah kita alami, kedua aku ingin berterima kasih padamu sudah mau menemani hari - hari terakhirku. Kamu adalah alasan aku untuk mencoba sembuh dari penyakitku sejak pertama kita bertemu namun takdir sangat kejam padaku, percayalah... saat aku mengetahui penyakit yang aku idap, aku memutuskan untuk hidup sendiri dan tidak ingin berhubungan dengan siapapun itu.


Tapi begitu aneh... aku sudah membulatkan tekad untuk hidup sendiri, namun saat bertemu denganmu untuk pertama kali... aku malah tidak dapat hidup sendirian, pertemuan denganmu membuatku sadar ternyata manusia memang tidak bisa hidup sendiri. Awalnya aku hanya merasa kesepian, aku hanya ingin seseorang menyentuhku, namun lama - lama aku jatuh cinta pada kehangatanmu. Jujur aku tidak ingin berpisah, sampai kapanpun aku ingin kamu untuk tidak melepaskan ku... aku ingin mendekap mu dan aku tidak ingin ini berakhir.


Tapi... dihari aku tahu jika aku memang ditakdirkan untuk tidak dapat sembuh, aku pun berfikir bahwa hidup ini bukan hanya melakukan sesuatu untuk diri sendiri namun ada juga hidup untuk kebahagiaan orang lain dan itu akan membuat kita ikut bahagia. Aku ingin orang - orang di sekitarku semua bisa tersenyum, aku ingin hidup seperti itu. Mendukung orang kapanpun disaat mereka lelah, aku mencoba untuk hidup seperti itu disisa - sisa hariku.


Aku merasa berhasil dengan keinginan terakhirku untuk membuat orang - orang di sekitarku tersenyum lalu menyatukan kalian semua. Heii kalian.... saat menulis surat ini aku tahu aku tidak akan selamat, tapi meski aku mati... tolong ingatlah aku yang akan mati dengan senyuman tanpa penyesalan. Kak Jester, Naomi, Selena, kak Luke, kak Harry, kak Justin, Grece, dan Sarah, kita punya kenangan bersama mulai dari hal sepele sampai hal besar dan rasanya aneh dalam waktu satu bulan semua begitu membekas di hatiku.


Hei kalian.... bagaimana menurut kalian? apa aku berbekas di hati kalian?


Hei kak Jester... apa aku akan terus berbekas di hatimu?


Hei apa kalian akan terus mengingatku? bagaimana denganmu kak Jester?


Jangan lupakan aku ya, kalian harus berjanji untuk itu....


Untunglah kalian orang - orang yang terakhir aku temui... semoga kalian bisa terus berteman sebagai bentuk karya terakhirku di dunia ini, semoga impianku yang sebenarnya bisa tersampaikan di hati kalian masing - masing.


Terakhir.... kak Jester Gates.... Aku mencintaimu


Sangat mencintaimu...


Begitu mencintaimu...


Maaf tidak bisa menemanimu liburan di Paris...


Maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk selalu menemanimu...


Maaf sudah selalu bersikap seenaknya kepadamu...


Aku benar - benar meminta maaf atas semuanya....


Terima kasih.... dan.... Sayonara...


NB: Naomi.... aku sudah menggunakan kata yang tepat kan?

__ADS_1


********************************


__ADS_2