Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 52


__ADS_3

"Katakan saja apapun yang kamu pikirkan, aku akan pertimbangkan baik - baik" ucapku lagi meneruskan perkataanku sebelumnya, namun Alvin masih terdiam meski aku sudah memaksanya bicara.


Sejenak kami sama - sama terdiam hingga ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya suara detak jam, angin AC, dan suara lalu lintas yang sedikit - sedikit terasa berdengung di telingaku. Mungkin kesunyian itu berlangsung hampir lima menit, sampai akhirnya Alvin terdengar menghela nafas.


"Bagaimana rasanya kesunyian tadi?" tanya Alvin, aku mengernyitkan dahiku dan menatap Alvin dengan tajam.


"Apa maksudmu? kamu sengaja mendiamkan ku dari tadi?" tanyaku dengan nada yang sedikit marah padanya, tatapan mata Alvin beralih ke langit - langit kamar seakan dia sedang memikirkan sesuatu.


"Aku sengaja agar kamu bisa memahami apa arti kesepian meski itu hanya sekejap, kehilangan cinta karena kebodohan diri sendiri itu sama saja menjebloskan diri ke dasar jurang bernama kesepian. Apa kamu merasa mampu mengatasi itu?" tanya Alvin padaku


"Aku tidak perlu ceramah mu!! aku lebih mengerti apa yang sedang aku pilih sebagai tujuan hidupku daripada kamu!! kalau kamu mau bantu, bantu saja tanpa menceramahi ku!!" bentak ku padanya, lalu dia menatapku dengan tajam. Kini wajahnya memiliki ekspresi tidak seperti biasanya, aku tahu jika dia.... marah...


"Apa yang kamu inginkan?" tegas Alvin bertanya seperti itu, aku semakin emosi dibuatnya.


"Kamu pikir dengan menanyaiku apa yang aku inginkan akan membantuku?!! Hidup bukan sekedar serial musical dimana kamu bernyanyi sebuah lagu lalu mimpi akan menjadi kenyataan secara ajaib!! Lupakan apa yang aku inginkan!! katakan saja apa yang bisa aku lakukan!!" bentak ku padanya begitu emosi, tidak lama Selena membuka pintu kamarku dengan wajah khawatir.


Aku dan Alvin terdiam sejenak, perlahan aku membuang muka untuk menata hatiku kembali. Aku mendengar suara langkah kaki Selena mendekat, lalu dengan segera aku tatap Selena dengan senyumanku seakan aku ingin dia tahu jika aku baik - baik saja.


"Lu.. Luna? kalian baik - baik... saja? apa dia membuatmu marah?" tanya Selena kepadaku dengan suara yang sangat terasa jika dia sedang mengkhawatirkan ku, aku tertawa kecil lalu menghela nafasku.


"Semua baik - baik saja, Selena. Biarkan aku bicara dengannya, kami belum selesai membahas apa yang perlu kami bahas" jawabku padanya


"Tapi..." belum selesai Selena berkata, aku memotongnya.


"Aku mohon~" timpal ku


Dari raut wajahnya aku merasakan Selena sangat berat hati untuk memenuhi permintaanku, namun pada akhirnya dia menuruti permintaanku. Perlahan aku melihat dia kembali melangkah menuju pintu keluar, aku dan Alvin terus terdiam sampai suara pintu kamarku terdengar ditutup dengan rapat.


"Lebih baik aku tiada saat ini juga, aku sudah terlalu sering berpikir seperti itu setiap harus kembali dan kembali kerumah sakit ini...aku terus berpikir kenapa aku harus hidup jika pada akhirnya hanya akan menjadi seorang yang berpenyakitan seperti ini..." gumamku dan aku kini tidak mampu untuk menahan air mataku lagi, air mata itu mengalir deras dan jatuh melewati pipiku hingga terus menetes membasahi selimutku.


"Apa... apa yang bisa diharapkan dari gadis lumpuh sepertiku? tidak akan ada... yang ada hanya aku akan membebani banyak orang dengan kondisiku..." gumamku lagi, tangisanku semakin menjadi - jadi sampai tangan Alvin terasa menyentuh tanganku dan menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


"Kehidupan itu adalah serangkaian kejadian, kamu tidak akan pernah tahu apa, kenapa, kapan, dan bagaimana kehidupan ini akan berjalan. yang perlu kamu lakukan hanya memanfaatkan kesempatan dan mendapatkan keberuntungan, lalu menikmati kehidupan yang sudah kamu perjuangkan" ucap Alvin dan perkataannya membuatku terpana menatapnya


"Aku bertanya tentang apa yang kamu inginkan karena aku hanya ingin memastikan jika apa yang aku pikirkan tidak salah" ucapnya lagi, aku terdiam sejenak dan perlahan aku menundukkan kepalaku menatap kedua tanganku yang mengepal itu.


"Aku... ingin kak Jester bahagia meski tanpaku, dia harus terbiasa tanpaku karena mungkin kemarin adalah hari terakhirku bisa bergerak. Saat ini aku sudah tidak mampu merasakan kakiku... semua mimpi indahku... sudah berakhir sekarang, kini hanya ada aku dan kenyataan..." gumamku


"Selena adalah orang yang tepat untuk menggantikan mu" celetuk Alvin tiba - tiba, aku tersentak ketikan mendengar apa yang baru saja Alvin katakan.


"Apa?! kenapa?!?" tanyaku sembari menatapnya dengan tajam.


"Suatu sore ketika kamu tidak masuk sekolah, aku pulang telat karena aku di bully oleh kakak kelas. Aku hendak kembali ke kelasku untuk mengambil tas milikku, namun ketika itu didalam kelas aku melihat Jester dan Selena menempelkan beberapa balon dan hiasan lainnya untuk menyambut kedatanganmu disekolah" jawab Alvin, aku terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang sebenarnya ingin Alvin sampaikan.


"Itu tepat satu hari ketika kami semua teman - temanmu mendengar jika kamu terpilih menjadi vokalis utama sekolah, Jester ingin memberi kejutan kecil di kelas kita seorang diri. Aku tidak tahu apa yang Selena lakukan hingga dia yang awalnya sudah pulang, harus kembali ke dalam kelas. Disana aku mendengar jika Selena berkata..." Alvin menggantung kalimatnya sejenak, aku tahu apa yang sedang dia lakukan... dia menunggu responku mendengar ceritanya.


"Apa yang Selena katakan?" tanyaku datar


"Sepertinya baik - baik saja jika aku katakan ini dengan jujur, baiklah. Selena berkata jika dia ingin mendapatkan satu pria seperti Jester untuk menjadi pasangannya" jawab Alvin


Jujur saja aku terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar dari Alvin, "Selena berharap mendapatkan pria seperti pangeranku? bukankah kamu membenci pria, Selena? benarkah kamu mulai menyukai pria seperti pangeranku?" tanyaku dalam hati


"Baik... aku mengerti, itu bisa menjadikan pertimbanganku..." gumamku


"Cara agar Jester meninggalkanmu itu cukup mudah, kamu hanya harus membuatnya benci kepadaku" celetuk Alvin


"Membenciku? tapi... aku tidak ingin dia membenciku..." timpal ku, lalu entah kenapa suara helaan nafas Alvin membuatku kaget dan menakuti ku.


"Tidak akan mungkin Jester meninggalkanmu jika dia tidak membencimu, jika kamu ingin meninggalkannya maka sudah dapat dipastikan kamu akan dibencinya meski bukan itu yang kamu inginkan" jawab Alvin, aku terdiam dan meratapi kebodohanku.


"Apa kamu yakin akan meninggalkannya?" tanya Alvin memastikan apa aku masih tetap pada keinginanku, aku hanya terdiam sejenak sampai terdengar suara pintu kamar terbuka.


Seketika kepalaku menatap siapa yang membuka pintu kamarku, aku melihat kak Jester dan Selena di pintu itu dan kak Jester menatapku dengan raut wajah bingung. Mungkin karena dia melihatku hanya berdua saja dikamar bersama seorang pria, atau mungkin karena melihat wajahku berderai air mata.

__ADS_1


"Dia datang, mungkin kita selesaikan dulu pembicaraan ini sampai disini" bisik Alvin kepadaku


Lalu Alvin berdiri, berbalik, lalu berjalan mendekati kak Jester. Dia memberi salam dengan cara menundukkan badannya sejenak tanpa kata, lalu dia berjalan keluar melewati kak Jester. Merasa suasana canggung begitu terasa, Selena tiba - tiba mengatakan jika dia akan mengantar Alvin untuk pulang. Sehingga tersisa lah aku dan kak Jester di kamarku, langkah kak Jester mendekatiku berbanding lurus dengan kepalaku yang semakin menunduk kembali menatap kedua tanganku yang mengepal.


"Luna... siapa tadi? apa dia membuatmu.... menangis?" tanya kak Jester padaku ketika dia berada tepat di sebelahku, aku menggelengkan kepalaku untuk merespon pertanyaannya.


"Dia adik kelasmu dan teman sekelas ku, aku menangis bukan karena dia... tapi ini karena pemikiranku sendiri, dia hanya datang kemari untuk mendengarkan setiap curhatan ku" jawabku


"Be... begitu ya... tapi... aku juga bisa menjadi pendengarmu, aku tahu sangat membosankan jika terus berada dikamar... jadi kamu bisa panggil aku untuk menemanimu disini..." ucap kak Jester, aku kemudian tertawa kecil mendengar perkataannya itu.


"Kenapa kamu tertawa? apa aku... mengatakan hal yang lucu?" tanya kak Jester padaku, aku menghela nafas lalu menatap langit - langit kamarku.


"Tidak... aku tertawa karena... aku sangat merasakan api kecemburuanmu, apa kamu cemburu padanya kak?" tanyaku padanya


"Ti... tidak!! aku tidak cemburu padanya!! hanya saja aku... tidak suka kamu mengandalkan pria lain..." jawab kak Jester


Pangeranku yang sedang cemburu itu... lucu, wajahnya tiba - tiba memerah ketika aku menatap matanya dengan senyumku. Dia kemudian memutar badan dan menghindari bertatapan mata denganku, setelahnya kami pun mengobrol penuh canda tawa. Hingga menjelang malam, kak Jester mendapat telepon dari tuan William.


Setelah itu dia pun berpamitan pulang dan tersisa lah aku sendiri, namun kesendirianku tidak berlangsung lama karena ayah, ibu dan kak Justin datang menjengukku. Senyum khas kak Justin pun terlihat ketika dia baru masuk ke dalam kamar, namun seperti kak Justin pada umumnya... dia sangat tahu apa yang membuatku tidak dapat membalas senyumannya.


"Kamu baik - baik saja?" tanyanya padaku, aku menggelengkan kepalaku beberapa kali.


Tidak lama seorang perawat datang ke kamarku dan memanggil ayah dan ibu, merasa memiliki kesempatan untuk bicara berdua dengan kak Justin saat itu aku segera memberinya tanda jika dia tidak boleh kemana - mana. Kak Justin mengangguk dan tetap berada di sebelahku sampai ayah dan ibu keluar dari kamarku, dengan segera kak Justin duduk di dekatku dan menatapku masih dengan senyumnya.


"Ada apa?" tanya kak Justin padaku


"Aku ingin meninggalkan kak Jester, aku ingin minta bantuanmu agar rencanaku berjalan lancar" jawabku dengan penuh keyakinan dan perkataan itu membuat ekspresi wajah kak Justin pun berubah menjadi kaget.


"Luna, apa yang baru saja kamu katakan?! kamu sadar apa yang baru saja...." belum selesai kak Justin berkata, aku memotongnya.


"Aku sudah bertekad untuk itu!!" bentak ku padanya, kak Justin pun menghela nafasnya.

__ADS_1


"Oke, kenapa?" tanya kak Justin seakan tidak terpengaruh dengan emosinya aku


"Aku... aku akan lumpuh kak...." jawabku dan air mataku pun kembali berderai...


__ADS_2