
Di hari yang sama setelah mendengar dari kak Justin jika kak Jester terpuruk karenaku, aku meminta kak Justin mengantarkan aku kerumah kak Jester. Aku benar - benar merasa bersalah, karena sikap dan pemikiran pendekku... kak Jester menjadi korban jahatnya pikiranku.
Tidak lama setelah bersiap, dengan menggunakan pakaian kedua terbaik yang pernah aku miliki saat itu aku dan kak Justin pun pergi menggunakan sepeda motor kak Justin menuju rumah kak Jester. Dengan sepeda motor itu aku dan kak Justin menghabiskan waktu lebih dari lima puluh menitan untuk sampai didepan pagar rumah keluarga Gates yang megah itu, seperti biasa aku dan kak Justin didatangi satpam penjaga rumah.
"Siapa dan ada keperluan apa?" tanya satpam itu kepadaku
"Aa.. aku..." belum selesai aku menjawab, tiba - tiba kak Justin menimpali
"Justin teman Jester" timpal kak Justin sembari membuka helm yang dia gunakan
Seakan sudah sangat mengenal kak Justin, satpam itu langsung berlari masuk kembali ke dalam posnya dan membuka pintu yang terlihat terbuka sendiri itu. Aku pun dibuat heran dengan apa yang baru saja terjadi "Hah? kak Justin sudah sangat dikenal dirumah ini?" tanyaku dalam hati.
"Aku biasa kesini pakai taksi online, jadi penjaga rumah gak sadar aku yang datang karena helm ini" celetuk kak Justin sembari mengenakan kembali helm miliknya
"Kamu... bisa baca apa yang aku pikirkan kak?" tanyaku dengan sindiran, namun kak Justin hanya tertawa sembari kembali menarik gas untuk masuk menuju pelataran rumah itu.
Memangnya ekspresi wajahku ini sulit untuk berbohong ya, sampai - sampai kak Justin dengan mudahnya menebak isi kepalaku.
Didepan pelataran rumah itu aku melihat pintu utama terbuka dan tidak lama aku melihat kak Luke dan kak Harry keluar dari rumah, melihat aku dan kak Justin datang saat itu ekspresi kak Luke terlihat begitu marah padaku. Aku turun dari sepeda motor kak Justin dan tidak lama bahuku diremas sangat keras lalu ditariknya dengan sangat kasar hingga tubuhku berbalik, disaat itu tangan kak Luke langsung meremas kerah bajuku dan mengangkatnya cukup tinggi sampai kakiku tidak menapak ditanah.
"Apa yang kamu lakukan disini?!! kurang kamu buat temanku itu sakit hati?!!!" bentaknya padaku
"Luke!!!!" bentak kak Justin lalu segera mencoba melepaskan tangan kak Luke dari kerah bajuku
"Hei Luke, Jester bisa marah kalau tahu kamu lakukan itu pada Luna" timpal kak Harry
"Apa peduliku?!! dia ini yang..." belum selesai kak Luke membentak, tiba - tiba terdengar suara maskulin yang sudah tidak asing bagiku terdengar
"Luke!" bentak tuan William
Tatapan mata kami semua kini beralih menatap tuan dan nyonya Gates, dengan segera kak Luke menurunkan aku dan melepaskan tangannya dari kerah bajuku.
__ADS_1
Bisa dibayangkan tubuh ringkihku ini diangkat oleh kak Luke yang berpostur seperti gorilla itu sesuai dengan julukannya, huuuft... rasanya seperti akan diterbangkan dengan mudahnya.
"Ada apa ini? kenapa kamu kasar pada wanita, Luke?" tanya nyonya Marrie
"Dia yang membuat Jester seperti itu, mana mungkin aku bisa memaafkannya?!!" penuh amarah kak Luke menjawab pertanyaan nyonya Marrie, aku langsung menundukkan pandanganku dengan penuh perasaan bersalah.
Bagaimana ini? bagaimana jika orangtua kak Jester mengusirku dan tidak mengijinkanku lagi untuk bersama kak Jester? aku cemas dan takut, tapi.... memang semua ini karenaku.
"Tapi kamu tetap tidak boleh kasar begitu" timpal nyonya Marrie
"Luna Lincoln, ada apa kemari?" tanya tuan William, aku terlalu takut untuk menjawabnya ketika itu dan hanya terdiam sampai kak Justin yang menjawab pertanyaan tuan William.
"Tuan Will, Luna ingin menemui Jester. Tolong di izinkan" timpal kak Justin
"Buat apa?!! pergi kau!!" bentak kak Luke seketika dan seakan dia akan berbuat kasar lagi padaku, namun kak Justin langsung menghalangi langkah kak Luke untuk mendekatiku.
"Ssstt!! diam! Luna, kamu ada keperluan apa sama anak kami?" tanya nyonya Marrie
"Jester saat ini tidak dapat ditemui, dia mengurung diri didalam kamar" timpal tuan William saat itu
"Aku minta maaf dengan semua yang terjadi... tapi tolong izinkan aku untuk mencoba bicara padanya" aku pun kembali memohon izin pada kedua orangtua kak Jester, helaan nafas berat tuan William begitu terdengar setelah aku memaksanya untuk mengizinkanku menemui kak Jester.
"Kemarilah" ajak tuan William padaku
Tidak hanya aku, aku juga merasa jika nyonya Marrie, kak Luke dan kak Harry terkejut dengan ajakan tuan William kepadaku. Aku mengangkat badanku dan aku tatap mata tuan William untuk memastikan jika dia benar - benar memberiku izin untuk bertemu dengan kak Jester.
"Kenapa diam? apa kamu tidak mendengar ajakanku?" tanya tuan Willam padaku
"Aaa.. i..iya tuan William.." timpalku
Aku pun berjalan menaiki anak tangga mendekati tuan William, dari pelataran rumah itu aku mengikuti tuan William di belakang untuk masuk kedalam rumah. Sebuah rumah yang besar dan mewah dengan desain arsitektur yang membuatku berdecak kagum "rumah orang kaya memang mengesankan" ucapku dalam hati.
__ADS_1
Aku terus berjalan menyusuri lorong yang luas hingga sampai disebuah pintu kamar yang tertutup rapat, sebuah pintu dengan kayu yang terlihat kokoh dan juga ukiran - ukiran khas gaya kerajaan inggris kembali membuatku kagum. "pintu kamar saja seperti ini? wow..." ucapku dalam hati.
"Disini kamar Jester, aku sudah mencoba untuk membuka dan mengetoknya namun Jester tetap bersikukuh tidak ingin bertemu dengan siapapun" celetuk tuan William, aku sedikit tersentak karena tadi sempat sedikit melamun.
"Aaa.. i.. iya tuan William, boleh aku coba untuk memanggilnya?" tanyaku
Tuan William memberikan izin dengan memberikan gestur tangannya, aku pun berdiri tepat didepan pintu kamar kak Jester dan perlahan tanganku mengetuk pintu itu dengan pelan. Beberapa kali aku lakukan itu namun tidak ada satupun suara terdengar jika ada orang didalamnya, aku menoleh menatap tuan William dan dari gestur kepalanya seakan tuan William mengizinkan aku untuk memanggil nama kak Jester.
"Kak Jester..." ucapku sembari mengetuk pintu kamar
Seketika aku mendengar suara sesuatu yang terjatuh, aku pun kaget begitu pula dengan tuan William saat aku menoleh menatap wajahnya. Kami dalam diam saling tatap seakan mencoba untuk saling bertanya tentang asal usul suara yang baru saja kami dengar itu, namun kami tidak tahu suara benda apa yang jatuh itu.
"Kak Jester..? kamu baik - baik saja?" tanyaku lagi ketika aku kembali menatap pintu yang tertutup itu, tanganku kembali mengetuk pintu itu beberapa kali.
Tidak lama pintu itu terbuka dengan sangat keras dan aku dapati kak Jester yang berpenampilan lusuh berdiri dihadapanku kini, dia nampak begitu terkejut melihat kehadiranku disana dan suara jatuh yang baru saja kami dengar.... mungkin itu suara jatuh kak Jester karena aku melihat dahinya memerah seperti memar yang baru saja dia alami.
"Lu... Luna?" ucapnya terbata ketika melihatku
"Ha.. hai kak Jester..." timpalku
"Ke... kenapa kamu disini?! dan Waa!! tunggu sebentar!!!" ucapnya panik lalu menutup kembali pintu kamar itu dengan sangat keras.
Aku terkejut karena posisiku benar - benar sangat dekat dengan pintu, ketika itu refleks aku menyentuh hidungku karena aku merasa jika hidungku baru saja terkena pintu itu. Suara tawa kecil tuan William pun terdengar sampai membuatku menoleh menatapnya, senyumnya terlihat lega menatapku seakan senang dengan kehadiranku untuk menemui kak Jester.
"Aku serahkan sisanya padamu" celetuk tuan William padaku lalu dia pergi meninggalkan aku di koridor depan kamar kak Jester.
Tidak lama pintu kembali terbuka dan aku melihat kak Jester sudah rapi seperti biasa aku melihatnya, rambut ala pemeran Harry Potter dan juga kaca mata entah apa itu minus atau plus aku kurang tahu yang selalu menemani wajahnya. Senyumnya terlihat sedikit merekah menatapku, matanya berbinar seakan dia baru saja menemukan hal yang berharga dihadapannya.
Aku? ahaha... aku menangis menatapnya... air mataku tiba - tiba menetes tak terbendung dan aku menabrakkan badanku ke badan kak Jester, tidak lama aku merasakan kedua tangannya melingkar dikedua bahu memelukku begitu erat.
"Ma...maaf...." gumamku padanya...
__ADS_1