Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 37


__ADS_3

Keesokan paginya... tepat pada hari senin, tanggal pada kalender pun menunjukkan warna merah. Kak Justin menawarkan diri untuk menjadi penjagaku hari itu dikamar rumah sakit menggantikan ibu yang kini harus bekerja paruh waktu, di kamar itu kami hanya saling berdiam diri untuk waktu yang tidak sebentar.


Mungkin karena kak Justin tahu jika aku sedang dalam mood paling jelek sepanjang hidup, atau dia hanya tidak ingin memaksaku bicara karena aku terlihat seperti sebuah boneka yang hanya berbaring terdiam menatap langit - langit kamar rumah sakit. Entah apa yang merasuki ku ketika itu, aku begitu ingin untuk memulai obrolan dengannya setelah sekian lama kami saling terdiam.


"Apa kak Jester mencariku?" tanyaku memecah kebisuan, hanya suara helaan nafas yang aku dengar ketika itu dari kak Justin.


"Kenapa tidak menjawab ku? apa ada sesuatu?" tanyaku lagi


"Jester mencari mu dan dia begitu emosional karena tidak puas dengan jawabanku" jawab kak Justin


Merepotkan orang - orang terdekatku membuat hatiku tidak nyaman, bisa apa aku dengan kondisiku yang seperti ini? Ingin rasanya memberi kebahagian pada mereka, tetapi malah beban yang selalu aku berikan. Sungguh gadis berpenyakitan yang tidak berguna! :(


"Apa yang kak Jester lakukan padamu?" tanyaku lagi, helaan nafas kembali terdengar dari kak Justin.


"Dia hanya ngomel saja, aku pun cuma mendengarkan setiap perkataannya. Tidak ada hal lain" jawabnya


"Benarkah?" tanyaku mencoba memastikan


"Kamu berpikir apa sampai tidak mempercayaiku?" tanya balik kak Justin kepadaku begitu menekan, aku pun terdiam sejenak lalu entah kenapa aku teringat mimpiku ketika aku dan kak Justin liburan di kota sebelah untuk melihat bunga sakura.


Sebuah mimpi dimana aku melihat dua orang bertengkar hebat tepat di depan mataku namun aku tidak dapat melakukan apapun, dan ketika aku terjaga saat itu aku hanya melihat kak Jester duduk didepan pintu masuk kamar hotel menatapku tajam.


"Aku berpikir tentang... kejadian ketika kita dijemput kak Jester karena kita ketinggalan kereta, aku bermimpi dua orang bertengkar hebat tepat didepan mataku namun aku tidak dapat melakukan apapun untuk melerainya" celetuk aku memecah keheningan kamar


"Kamu berpikir jika aku dan Jester bertengkar hebat kali ini?" tanya kak Justin, mendengar jawaban itu aku segera mengangkat kasurku agar tubuhku terduduk bersandar pada kasur untuk menatap wajah kak Justin.


"Kali ini? jadi waktu itu bukan sebuah mimpi?!" tanyaku dengan wajah yang begitu terkejut menatap kak Justin.


"Tidak, bukan itu maksudku. Kamu salah mengartikan perkataanku, Luna" timpalnya datar


"Kak!! jujur sama aku!!" bentak ku padanya

__ADS_1


"Apa yang kamu tahu tentang Jester? tentang hatinya?" tanya kak Justin padaku, aku pun bingung dengar pertanyaan itu.


Yang aku tahu? aku bahkan baru menyadari bahwa banyak yang tidak aku tahu dari kak Jester, selain dia pangeran dalam mimpiku itu. Oooh Luna..... bodoh sekali kamu sampai tidak banyak mengetahui tentang pangeranmu itu.


"Apa maksudmu kak?" tanyaku kebingungan


"Suatu saat kamu akan memahaminya, untuk saat ini biarkan pertanyaanku menjadi misteri untukmu. Segeralah sembuh dan kembali ke sekolah, dia menantimu dalam gelisah nya" jawabnya lalu tersenyum padaku


"Aku.... mungkin akan segera meninggalkan kak Jester..." celetuk aku ketika itu, kata - kataku membuat senyum kak Justin menghilang dan begitu terkejut namun dia tidak berkata apapun seakan memintaku untuk melanjutkan apa yang sedang aku pikirkan pagi itu.


Aku menghela nafasku lalu menatap langit cerah dari balik kaca jendela kamar, sejenak aku teringat semua kenang - kenanganku bersama kak Jester baik yang menyenangkan bahkan sampai yang membuatku sedih. Saat itu air mataku mendadak mengalir deras keluar dari mataku, jujur aku begitu tidak ikhlas dengan semuanya... aku sudah tidak mampu lagi membayangkan akan kehilangan semua yang sudah aku gapai akhir - akhir ini.


Ingin untuk tidak menangis tapi mengapa sesulit itu? cengeng sekali aku ini, Luna..... bagaimana jika kak Jester pada akhirnya tahu tentang kondisimu? Apa sudah siap kamu untuk menguatkan hatinya yang bahkan menguatkan hatimu sendiri saja kamu tidak mampu.


Aku... pada akhirnya lebih sering memberi penghakiman kepada diriku sendiri karena keadaanku yang memburuk.


"Aku sudah dengar dan sangat paham kenapa kamu berpikiran seperti itu, apa kamu tahu kalau kamu punya pilihan lain?" tanya kak Justin kepadaku, perlahan aku menoleh menatap kak Justin yang berdiri dan mendekatiku.


"Pilihan untuk jujur kepadanya dan biarkan dia memilih untuk menemanimu atau pergi darimu, apa pernah kamu berpikir seperti itu?" tanya kak Justin kepadaku


"Aku pernah berpikir untuk memberitahunya tentang penyakitku... tapi, aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan jika...." aku menggantungkan kalimatku dan terdiam sejenak sampai kak Justin yang meneruskan kalimat itu.


"Dia akan meninggalkanmu? apa bedanya? kamu juga akan meninggalkannya" ucapnya menimpali kalimatku yang sempat aku gantung, aku menatap matanya dalam diam dan mencoba mencari apa yang salah dari pemikiran kak Justin namun aku tidak dapat menemukannya.


Kak Justin benar... jika aku memang berniat meninggalkan kak Jester, maka dengan cara jujur pun mungkin kami akan segera berpisah. Nyatanya aku bukan tidak ingin meninggalkannya, namun aku hanya takut untuk memulai hari dimana aku dan pangeranku tidak akan lagi bersama untuk selamanya.


"Kamu benar... aku cuma takut untuk memulai..." timpal ku dengan suara sedihku, tangan lembut kak Justin pun mengelus rambut palsuku.


"Jika kamu takut, itu berarti hatimu tidak siap untuk menyudahi kisah indah mu. Kamu tidak harus melakukannya sesuai dengan pemikiranmu, kamu harus mulai jujur pada hatimu" ucap kak Justin begitu lembut


"Jujur... pada hati?" tanyaku dengan sedikit memiringkan kepalaku menatapnya

__ADS_1


"Setiap kamu berpikir terlalu berat, hatimu terus berteriak untuk mengatakan jika bukan itu yang sebenarnya kamu inginkan. Rasakan setiap jeritan hatimu ketika kamu berpikiran sesuatu yang membuatmu sedih, jujur pada hatimu jika yang kamu inginkan adalah tetap bersama Jester" jawabnya dengan senyum khas kak Justin kepadaku, aku membalas senyumnya.


"Terima kasih kak buat kata - katanya... aku akan mencoba untuk lebih jujur pada hatiku.." timpal ku


Kami pun tertawa bersama, setelahnya kami menghabiskan waktu dengan obrolan ringan. Lagi - lagi ucapan kak Justin menghipnotis ku, tanpa terasa kak Justin menyuapiku dan aku pun membuka mulutku untuk memakan makanan itu. Suapan demi suapan tanpa aku sadari telah aku kunyah dengan baik tanpa sadar, suara tawa kak Justin yang membuatku tersadar jika aku baru saja makan dengan begitu lahapnya.


Aku kesal padanya, aku pun mengomel dengan sangat cepat seperti rapper namun kak Justin hanya menanggapi semua omelanku dengan tawa. Tidak terasa pagi berganti sore, ibu pun menggantikan kak Justin untuk menjagaku. Sore hari itu hanya aku habiskan selayaknya pasien sakit tak berdaya, tidur, bangun, mendapat kunjungan dokter, dan minum obat lalu kembali tidur...


Seminggu penuh aku menghabiskan hari - hariku di kamar rumah sakit, kak Justin dan Selena silih berganti menjengukku dan kini aku pun dinyatakan boleh untuk rawat jalan. Sesampainya dirumah pada sore hari aku disambut kak Justin yang menungguku didepan pintu utama rumah, aku langsung mengarahkan kakiku menuju kamar yang sangat aku rindukan lalu merebahkan tubuhku di kasurku.


"Gimana keadaanmu?" tanya kak Justin yang membawa beberapa tas milikku masuk kedalam kamarku, aku menoleh menatap kak Justin yang sibuk menata kembali barang - barang ku.


"Lumayan, masih sering sakit di bagian pinggul kebawah" jawabku lalu kembali membenamkan kepalaku di bantal


"Apa kamu sudah putuskan akan kamu bawa kemana hubunganmu dengan Jester?" tanya kak Justin, aku pun terkejut dengan pertanyaan itu.


Jarang - jarang kak Justin mempertanyakan tentang hubunganku dengan kak Jester, selama ini aku yang selalu memulai obrolan tentang hubungan kami namun kali ini pasti ada sesuatu yang terjadi sampai kak Justin mempertanyakan hal ini. Aku duduk di kasur menatap kak Justin yang masih sibuk mengeluarkan barang - barang dari koperku untuk diletakkan kembali pada tempatnya.


"Kenapa tiba - tiba kak Justin bertanya tentang hal itu?" tanyaku, kak Justin pun menghentikan aktifitasnya lalu menatapku.


"Karena Jester terlihat terpuruk, sudah dua minggu ini kamu tidak hadir dan kamu juga melewatkan ujian semester. Untung keluarga temanmu meminta izin khusus agar kamu bisa segera ikut ujian susulan ketika kamu sudah kembali bersekolah" jawabnya


"Apa alasan yang kamu katakan ke kak Jester?" tanyaku lagi, kak Justin pun menghela nafasnya sejenak lalu kembali menata barang - barang dalam koperku.


"Aku dan temanmu itu bilang kalau kamu sedang berada di luar negeri untuk menghadiri pemakaman nenekmu, dia tidak percaya dan memaksaku dan Selena untuk memberitahu negara mana yang kamu tuju. Yaah... dengan jet pribadi miliknya, pergi keluar negeri bagai kita jalan - jalan ke kota sebelah" jawab kak Justin bersamaan dengan selesainya dia mengeluarkan semua isi dalam koperku.


"Kak, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku, sejenak kami terdiam dan kak Justin menatapku begitu dalam.


"Tentang hati aku tidak punya jawaban yang pasti, tapi jika itu tentang ujian susulan maka kamu harus segera belajar" celetuknya memecah keheningan kami


Aku pun marah dengan jawaban itu, namun kak Justin malah menertawai ke kemarahanku. Dengan susah payah kak Justin mencoba membujukku agar aku tidak lagi marah - marah padanya, pada akhirnya untuk kesekian kalinya aku luluh juga padanya.

__ADS_1


__ADS_2