
"Itu kata kak Jester, bagaimana menurutmu?" tanyaku pada Selena ketika kami sudah pulang dari sekolah
Aku dan Selena berkumpul bersama di kamar Selena, sudah menjadi kebiasaan untukku setiap pulang sekolah akan berada dikamar ini. Meski kini aku tidak selalu menemani Selena disekolah, namun kedekatan kami tidak pernah berubah. Rumah keluarga Parker seperti rumah kedua bagiku, kehangatan sambutan tuan dan nyonya Parker juga selalu aku dapatkan setiap aku bertemu dengan mereka.
"Hmm... apa mungkin itu sejenis hipnotis?" tanya Selena
"Entahlah..." jawabku sembari menghela nafas
"Kenapa kamu bertanya tentang hal itu? aku pikir kamu sudah memutuskan untuk berada disisi kak Jester selamanya" timpal Selena
Perkataan Selena saat itu membuat aku kembali teringat kata - kata Alvin, aku tidak bisa terus bermimpi bahwa aku dan kak Jester akan baik - baik saja mengingat siapa aku sebenarnya. "Bagaimana kalau kak Jester tahu lalu meninggalkanku? atau bagaimana jika keluarga kak Jester menolak ku? apa yang harus aku lakukan ketika kebohonganku terbongkar?" semua pertanyaan itu terngiang di kepala tanpa jawaban.
"Luna, mungkin aku gak bisa memberi saran yang baik. Tapi jika aku harus mengatakan sesuatu..." celetuk Selena memecah keheningan kami, aku menoleh menatapnya namun aku masih saja terdiam.
"Bagaimana jika semua pemikiranmu itu salah?" tanya Selena sedikit menekan ku
"Salah? bagian mana?" aku pun bertanya balik karena aku bingung dengan pertanyaan Selena.
"Tentang kak Jester, keluarganya dan.... tentang penolakan mereka ketika kebohonganmu terbongkar, bagaimana jika mereka tidak seperti yang kamu bayangkan" jawabnya, aku termenung sejenak sebelum akhirnya kata - kata Alvin kembali menghantui pikiranku.
"Tapi kata Alvin..." aku refleks menutup mulut dengan kedua tanganku lalu menghentikan apa yang ingin aku katakan, seketika Selena terlihat mengernyitkan dahinya dan menatapku tajam.
"Alvin? kamu bicarakan hal ini sama Alvin?" tanya Selena terdengar heran dan sedikit marah, aku menggelengkan kepalaku beberapa kali sembari terus menutup mulut dengan kedua tanganku.
"Luna!! kamu curhat sama Alvin?!!" agak membentak Selena memaksaku untuk bicara
__ADS_1
Mana mungkin aku bisa cerita tentang penembakan Alvin kepadaku, entah karena malu atau apapun itu... aku tidak ingin Selena tahu jika Alvin menembak ku. Selena terus memaksaku namun aku tetap menolaknya, kamar Selena mendadak jadi heboh dengan teriakan Selena dan teriakan penolakan ku. Pada akhirnya kami pun tertawa bersama, meski Selena mengancam ku jika aku tetap curhat sama Alvin maka dia akan memarahiku seharian penuh.
Sore berganti malam dan aku pun pulang kerumah, di pelataran rumah aku melihat kak Justin dan ibu sedang mengobrol. Ketika menyadari kehadiranku, ibu dan kak Justin kompak berdiri dan mendekatiku yang baru saja turun dari mobil. Mereka berdua terlihat sangat mengkhawatirkan keadaanku, aku menjawab kekhawatiran mereka dengan senyum.
Aku, ayah, ibu dan kak Justin makan malam bersama, sebenarnya kak Justin menolaknya saat itu tapi aku memaksanya untuk menerima ajakan ayah. Kami makan malam bersama dengan canda tawa, aku benar - benar menikmati hari ini dengan bahagia. Kehangatan ini yang selalu memberi aku semangat untuk hidup, aku baru kembali mengenali siapa diriku hanya ketika malam hari disaat semuanya telah terlelap tidur.
Kadang.... aku berpikir seberapa jauh langkah ini bisa aku nikmati? apa besok aku masih bisa melihat matahari terbit dan terbenam? semua pertanyaan itu sering kali teringat setiap malam...
Aku harus melalui hariku - hari tersisa ku dengan baik!!
Sabtu pagi yang cerah, aku ke sekolah bersama pangeranku. Mengikuti pelajaran dengan baik, istirahat bersama pangeranku dan kembali ke kelasku setelah jam istirahat berakhir. Alvin? dia tetap saja seperti biasanya seakan tidak terjadi apapun diantara aku dan dia, sedangkan Selena terlihat lebih sering marah - marah sama Alvin. Mungkin karena dia masih kesal karena kejadian kemarin, atau memang karena dia ngeselin sih...
Ketika pulang sekolah, aku memberanikan diri untuk mengajak kak Jester pergi ke suatu tempat. Tempat itu adalah...
"Hah? kamu mau ke Festival Square sekarang?" tanya kak Jester yang terkejut dengan permintaanku, ketika itu aku dan kak Jester sudah berada didalam mobil tengah bersiap menuju rumah keluarga Parker.
"Bi... bisa kok bisa, apa kamu gak pamit dulu ke ayah ibu mu?" tanya kak Jester, aku pun segera mengeluarkan handphone milikku dan menelepon ibu dan tentu saja aku loud speker agar kak Jester tahu aku mendapatkan izin.
Sesuai dugaan ibu mengizinkanku, lalu dengan senyum terbaik yang aku miliki aku menatap wajah kak Jester yang terlihat memerah itu. Aku tahu dia malu karena kesannya aku meminta untuk pergi kencan, namun sebenarnya ada hal yang ingin aku buktikan disana... taman labirin.
Aku bukan orang yang percaya dengan mitos, tapi gara - gara Alvin kini aku mulai meragukan keberlanjutan hubunganku dengan kak Jester. Jika saja mitos itu benar, aku bisa saja menguatkan hatiku untuk mempertahankan hubungan ini meski semua pemikiran negatif menyerang mentalku. Ini lebih untuk diriku sendiri, aku membiarkan kak Jester tidak tahu apa tujuanku mengajaknya kesana.
Empat puluh menit aku menempuh perjalanan menuju Festival Square, mobil kak Jester pun terparkir sempura di tempat parkir taman bermain itu. Disana aku melihat tulisan FESTIVAL SQUARE yang berwarna selayaknya pelangi dengan font yang begitu besar dan terpajang di gerbang pintu masuk menuju area bermain, disana juga terlihat bianglala yang besar dengan lampu - lampu yang menghiasinya dan pastinya akan lebih indah ketika malam hari, ketika itu aku juga melihat roller coaster yang berjalan begitu cepat di relnya.
Aku turun dari mobil dan berlari mendekati gerbang, namun tiba - tiba aku teringat jika aku tidak sendiri. Aku menghentikan langkahku lalu memutar tubuhku untuk melihat kak Jester yang berjalan dibelakang berusaha mengejar ku. Tanpa sadar garis senyumku terangkat sangat tinggi, aku rasa aku tersenyum sangat manis kala itu dan aku katakan...
__ADS_1
"Terima kasih kak!" ucapku seketika, kak Jester terlihat kaget mendengar ucapan terima kasihku dan perlahan ekspresi itu hilang lalu kak Jester membalas senyumku.
"Tidak usah dipikirkan" timpalnya, aku pun kembali memutar tubuhku untuk menatap gerbang besar itu.
"Kapan kak Jester terakhir kesini?" tanyaku
"Entahlah... mungkin beberapa bulan yang lalu bersama Luke dan Harry" jawab kak Jester
"Bagus... berarti aku wanita pertama yang kesini bersamamu" timpal ku dengan suara yang aku buat sedikit menggodanya, sesuai dugaanku karena wajah kak Jester pun memerah dan dia mendadak menjadi panik"
"Hah?! aah ya.. yah... aku.. memang pertama kali sama kamu" ucapnya terbata lalu membuang muka untuk menutupi wajahnya yang memerah itu, aku tertawa kecil melihat tingkah imutnya itu.
"Kak boleh aku minta sesuatu?" pintaku padanya, perlahan kak Jester menatapku lalu menganggukkan kepalanya.
"Turuti semua keinginanku disini dengan senyuman, saat senja aku ingin kamu dan aku masuk ke taman labirin dan temui aku ditengah taman itu sebelum lonceng berbunyi semampu mu" ucapku, namun kak Jester hanya tersenyum kepadaku tanpa menjawab apa dia mau menuruti ku atau tidak.
"Apa... kamu keberatan kak?" tanyaku dengan nada sedih
"Tidak, aku rasa aku sudah melakukan permintaan pertamamu yaitu tersenyum" jawab kak Jester
Aku pun tertawa kecil karena merasa dikerjai pangeranku, lalu kak Jester berlari mendekatiku dan menarik ku menuju loket pembelian tiket. Jujur saja tarikan kak Jester membuatku merasa kesakitan, pinggulku terasa begitu nyeri dan kakiku hampir tidak dapat menahan beban tubuhku. Tapi semua aku tahan dengan sangat baik, aku hanya menguatkan tubuhku dengan cara terus mengucapkan kata dalam hati "Ayo tubuh kuatlah, kamu sedang berkencan dengan pangeran impianmu" secara berulang - ulang ketika aku merasa tidak sanggup untuk menahan rasa sakit.
Kak Jester membeli tiket terusan untuk dua orang yang berbentuk seperti gelang, dengan romantisnya pangeranku itu memasangkan tiket itu di pergelangan tanganku. Senyumnya dan tatapan matanya begitu hangat, Aaaaa~ aku merasa hatiku meleleh saat menatapnya.
"Apa kamu siap? kita akan menghabiskan sore ini dengan bersenang - senang" celetuk kak Jester setelah dia selesai memasangkan gelang tiket itu di pergelangan tanganku, tangannya yang hangat itu terus menggenggam tangan kananku.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu kak, karena ini adalah permintaanku" timpal ku lalu kak Jester mencium tanganku, seperti kisah dongeng di film - film disney~
"Kapanpun..." celetuknya lalu kembali menatap mataku, aku pun tersenyum semanis mungkin dan kami masuk kedalam area festival square untuk menikmati wahana yang ada disana.